Bagian 065: Pernikahan Agung (1)
Tiga orang berjalan perlahan di sepanjang jalan menuju gerbang sekolah, cuaca hangat dengan angin sepoi-sepoi, sinar matahari menembus dedaunan dan menciptakan bayangan yang bergerak di sepanjang trotoar. Mereka hendak menuju asrama, dan suasana di sekitar gerbang sekolah sangat ramai. Sepanjang perjalanan, mereka melewati banyak orang, namun jarak mereka terlalu jauh, sehingga suara obrolan hanya terdengar samar. Di antara keramaian itu, mereka bertiga, yang tampak berbeda dari yang lain, berjalan dengan langkah ringan.
Di antara mereka, ada satu yang sangat ceria, dengan suara tinggi dan selalu tertawa. Ia sering mengeluarkan kalimat-kalimat lucu, membuat dua temannya tertawa tanpa henti. Tawa mereka begitu riang, seolah-olah tidak ada beban di kepala, dan mereka benar-benar menikmati kebersamaan. Namun, setelah tawa yang panjang, salah satu dari mereka mengeluh soal tugas rumah yang belum selesai, mengingatkan bahwa besok adalah batas waktu pengumpulan, dan mereka harus kembali ke asrama untuk menyelesaikan pekerjaan. Sambil mengeluh, mereka tetap tertawa, namun akhirnya berpisah di depan gerbang asrama. Dua orang masuk ke asrama mereka, sementara satu lagi menuju ke gedung lain.
Di sepanjang koridor asrama, mereka mendengar suara-suara dari kamar lain, dan di sudut ruangan, seseorang sedang menunduk di atas laptop, mengerjakan tugas dengan penuh konsentrasi. Di sisi lain, ada yang sedang mencuci pakaian dan bercakap-cakap. Suasana di asrama sangat hidup, penuh dengan energi muda dan semangat belajar. Namun, di tengah-tengah kegembiraan itu, ada juga yang merasa tertekan oleh tugas-tugas yang menumpuk.
Tugas-tugas yang menumpuk membuat beberapa orang merasa terbebani, terutama bagi mereka yang belum selesai mengerjakannya. Namun, ada juga yang sudah terbiasa dengan tekanan itu, mereka menjalani hari-hari dengan senyum dan semangat. Di antara mereka, ada seorang gadis yang selalu terlihat tenang dan tidak pernah mengeluh, meski tugasnya belum selesai. Ia hanya tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, nanti juga selesai." Sikapnya yang santai membuat teman-temannya merasa tenang, dan mereka pun ikut tertawa.
Gadis itu sebenarnya sangat suka membaca novel, ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan, mencari novel-novel baru untuk dibaca. Sambil membaca, ia kadang-kadang tertawa sendiri, teringat akan cerita lucu yang pernah ia baca. Ia sering berpikir, mengapa hidupnya tidak semenyenangkan tokoh-tokoh di novel? Tapi ia tahu, kehidupan nyata tidak selalu seperti cerita dalam buku, dan ia belajar menerima kenyataan.
Hari itu, setelah pulang dari perpustakaan, ia merasa sedikit lelah. Ia berjalan menuju asrama, melewati taman yang penuh bunga. Ia berhenti sejenak, mengagumi bunga-bunga yang bermekaran, lalu duduk di bangku taman. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga ke sekitarnya. Ia menutup matanya, membiarkan pikirannya melayang, membayangkan dirinya sebagai tokoh utama dalam sebuah novel.
Ketika ia membuka mata, ia melihat seorang teman duduk di sebelahnya. Teman itu bertanya, "Sudah selesai tugasnya?" Ia menggeleng, lalu tertawa. "Belum, aku baru saja selesai membaca novel." Temannya juga tertawa, lalu mengajak untuk kembali ke asrama bersama. Mereka berjalan beriringan, membicarakan novel yang baru saja dibaca.
Di asrama, suasana semakin ramai. Ada yang baru pulang dari kelas, ada yang sedang memasak di dapur, dan ada yang sibuk dengan tugas masing-masing. Gadis itu duduk di meja belajarnya, membuka laptop dan mulai mengerjakan tugas. Ia menulis dengan cepat, namun sesekali berhenti untuk mengingat kembali cerita novel yang baru saja dibaca. Ia merasa, kehidupan di asrama tidak jauh berbeda dengan kehidupan dalam novel: penuh dengan suka dan duka, tawa dan tangis, serta persahabatan yang tulus.
Malam semakin larut, dan suara di asrama mulai mereda. Gadis itu menyelesaikan tugasnya, lalu menutup laptop dan bersiap tidur. Ia merenung, betapa beruntungnya ia memiliki teman-teman yang baik dan lingkungan yang mendukung. Ia berjanji pada dirinya sendiri, besok akan lebih semangat, akan menyelesaikan tugas lebih cepat, dan akan mencari novel baru untuk dibaca.
Ketika ia hendak tidur, ia mendengar suara tawa dari kamar sebelah. Ia tersenyum, merasa bahwa hidupnya penuh warna. Ia tahu, tidak semua masalah akan selesai dengan mudah, namun ia percaya bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk belajar dan menikmati hidup.
Pagi harinya, asrama kembali ramai. Semua orang bersiap menuju kelas, membawa buku dan perlengkapan belajar. Gadis itu berjalan bersama teman-temannya, melewati taman yang masih dipenuhi embun pagi. Mereka saling menyemangati, berbagi cerita dan pengalaman.
Di kelas, suasana sangat hidup. Dosen masuk dan memulai pelajaran, sementara para mahasiswa mendengarkan dengan penuh perhatian. Ada yang mencatat dengan serius, ada yang diam-diam membaca novel di bawah meja, dan ada yang sesekali mengobrol dengan teman di sebelahnya. Gadis itu duduk di barisan tengah, berusaha fokus pada pelajaran, meski pikirannya kadang melayang ke dunia novel yang ia sukai.
Setelah pelajaran selesai, mereka kembali ke asrama. Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan tugas, novel yang sedang dibaca, dan rencana akhir pekan. Gadis itu merasa hidupnya penuh dengan kebahagiaan sederhana. Ia tahu, tidak semua orang memahami passion-nya terhadap novel, namun ia tidak peduli. Ia ingin menikmati hidup dengan caranya sendiri, membaca novel, belajar, dan bercanda bersama teman-teman.
Hari-hari berlalu, dan gadis itu semakin terbiasa dengan rutinitas. Ia belajar membagi waktu antara tugas dan hobi, menjaga keseimbangan agar tidak terlalu tertekan. Ia percaya, dengan kerja keras dan semangat, ia bisa menjalani kehidupan mahasiswa dengan baik.
Namun, suatu hari, saat ia sedang membaca novel di taman, seorang senior datang dan memberinya tugas tambahan. Gadis itu sempat panik, namun segera mengingatkan dirinya bahwa ia pernah melewati situasi yang lebih sulit. Ia menerima tugas itu dengan senyum, lalu kembali ke asrama untuk mengerjakannya.
Di malam hari, setelah tugas selesai, ia duduk di tepi jendela, memandang langit bertabur bintang. Ia merasa, hidupnya memang tidak selalu mudah, namun setiap tantangan adalah pelajaran berharga. Ia bersyukur atas semua pengalaman, dan berharap suatu saat bisa menulis novel tentang kehidupannya sendiri.
Di antara suara tawa dan obrolan, ia mendengar seorang teman mengeluh, "Kenapa tugas ini tidak pernah selesai, ya?" Gadis itu tersenyum, lalu menjawab, "Santai saja, besok pasti selesai." Temannya tertawa, dan mereka pun mengakhiri hari dengan perasaan lega.
Begitulah kehidupan di asrama, penuh dengan warna, tantangan, dan kebahagiaan sederhana. Gadis itu yakin, selama ada semangat dan teman-teman yang mendukung, ia bisa melewati semua dengan baik. Meski kadang merasa lelah, ia selalu menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, seperti membaca novel, bercanda, dan menikmati bunga di taman.
Ia percaya, hidup adalah novel yang belum selesai, dan setiap hari adalah bab baru yang layak untuk dijalani.