Seratus kali mengunci Jia Xu
Di samping, Dong Min hanya bisa tersenyum kecut, namun Cheng Yun tak memberinya muka sedikit pun. "Tersenyum, tersenyum, apa yang kau tertawakan? Aku memang mau percaya pada mereka bertiga, tapi bukan berarti aku percaya padamu. Keluargamu tak akan kuusik, tapi aku beri kau waktu satu hari. Besok, pada saat yang sama, aku ingin mendengar saran darimu, bagaimana caranya membuatku yakin untuk menyerahkan pasukan Xiliang padamu."
Wajah Dong Min makin muram. "Aku orang kasar, mana mungkin bisa memikirkan cara seperti itu. Lebih baik Anda saja yang memerintahkan, apa yang harus aku lakukan, aku akan laksanakan."
Cheng Yun memutar bola matanya, "Aku ini sedang memberimu kesempatan, supaya kau bisa minta bantuan pada orang cerdas. Kalau memang kau benar-benar ingin tunduk padaku, kau akan mencari orang pintar untuk mengajarimu caranya; kalau kau tak sungguh-sungguh, kau bisa mencari orang cerdas untuk membantumu melarikan diri dariku, bukankah itu bagus?"
Selesai berkata, ia pun berdiri, bersiap pulang bersama Cheng Zi dan Tian Yu. "Besok pagi, kalian semua laksanakan tugas masing-masing. Redakan masalah malam ini, jangan sampai menimbulkan kekacauan."
"Orang cerdas..." Dong Min menggaruk kepala, "Zhong Ming, menurutmu apa yang harus kulakukan?"
Duan Wei hanya bisa tersenyum masam. Dari mana pun dilihat, ia jelas bukan orang cerdas seperti yang dimaksud Cheng Yun, tapi karena sudah berteman beberapa tahun, ia tak tega menolak, lalu memberinya sebuah saran yang setengah hati. "Di pasukan Xiliang kita ada satu orang yang sangat cerdas. Kalau kau bisa mendapat saran darinya, menurutku itu jalan terbaik."
Dong Min seperti melihat secercah harapan. Tanpa Dong Zhuo yang melindungi di depan, ia hanya bisa bergantung pada Cheng Yun. Dia tak punya nama sebesar Dong Zhuo, bahkan jika ingin membalas dendam atas kematiannya pun, tak akan ada yang mendengarkan; semua orang pasti punya rencana masing-masing. Daripada menunggu situasi makin gawat, lebih baik sekarang, atas nama adik Dong Zhuo, membawa pasukan Xiliang tunduk pada Cheng Yun untuk mengumpulkan jasa, supaya hari esok masih bisa dijalani.
Dengan penuh harap, ia bertanya pada Duan Wei, "Siapakah orang berbakat itu? Kakak sampai tak pernah memperhatikan? Ataukah dia pernah menyinggung perasaanmu?"
Duan Wei menggeleng pelan, "Itu aku tak tahu. Yang jelas dia memang pandai bersembunyi. Aku juga baru sadar kebolehannya secara tak sengaja. Suatu kali saat kita dalam bahaya membasmi perampok, dialah yang penuh akal: banjir, batu menggelinding, serangan api, semua taktik dikeluarkan. Kita hanya kehilangan beberapa prajurit tak penting, musuh malah musnah total. Padahal sehari sebelumnya, kita adalah pihak lemah yang dikepung!"
Dong Min makin kagum mendengarnya, buru-buru bertanya, "Sekarang dia di mana? Cepat beritahu aku, supaya aku bisa menemuinya!"
Duan Wei mengangkat tangan, "Jangan terburu-buru. Jam segini kau pasti akan ditolak mentah-mentah. Istirahat saja dulu malam ini, besok pagi baru pergi menemuinya."
Melihat Dong Min masih ingin terus menyeretnya, Duan Wei menghela napas, "Ngapain juga terburu-buru? Panglima sudah bilang kau diberi waktu satu hari. Berangkat besok pagi pasti sempat. Lagi pula, kalau niatmu memang tulus, masa Panglima masih akan mempermasalahkan jaminanmu yang satu itu?"
Baru setelah itu Dong Min bisa sedikit tenang. Duan Wei bersama Hu Zhen dan Zhang Ji pun meninggalkan tempat itu menuju perkemahan pasukan Xiliang yang memang tak jauh dari Taman Barat. Dong Min yang bimbang, akhirnya mau tak mau ikut mereka kembali ke kemah.
Pasukan Dong Zhuo hanya mengirimkan mata-mata untuk menyampaikan informasi saat Huang Zhong dan yang lain membawa pasukan keluar, tak ada yang keluar kemah mencari berita. Maka kabar kematian Dong Zhuo dan para jenderal Dong Zhuo yang hampir habis ditumpas belum sampai ke telinga mereka.
Keempatnya kembali ke kemah, masing-masing beristirahat. Keesokan paginya, Dong Min sudah tak sabar membangunkan Hu Zhen, Zhang Ji, dan Duan Wei. Mereka berempat mengumpulkan pasukan, memeriksa barisan, menyampaikan perintah: mulai saat ini, pasukan Xiliang dan pasukan Taman Barat menjadi sekutu, dilarang saling mengusik. Semua perwira dan kepala pasukan menerima perintah itu.
Dong Min, masih gelisah, langsung menarik Duan Wei. Duan Wei sampai hampir muntah darah, buru-buru memberitahukan keberadaan orang itu, yang ternyata telah dipindahkan Dong Zhuo menjadi staf di Kantor Prefektur Henan, membantu urusan administrasi. Dong Min pun segera menuju kantor itu. Dalam hati, Duan Wei hanya bisa diam-diam berdoa tiga detik untuknya, "Sudah kuberitahu orangnya, kalau dia tak mau membantumu, itu bukan urusanku!"
Dong Zhuo, tak lebih hebat dari Ding Yuan, juga hanya bisa mengandalkan orang lain mengurus administrasi, sendiri hanya bertugas menandatangani dan memberi cap.
Saat Dong Min tiba di Kantor Prefektur Henan, para pegawai baru saja absen pagi. Dong Min langsung menarik salah satu di antaranya dan bertanya, "Apakah kau melihat Jia Xu dari Wuwei?"
Orang itu terkejut, melihat rupa Dong Min, menduga ia adik Dong Zhuo, tak berani marah, menjawab dengan sopan, "Pembantu Jia selalu datang tepat waktu. Kalau absen sudah dimulai, pasti dia ada. Tapi di mana persisnya, saya kurang tahu. Anda bisa coba cari ke ruang kerja di dalam."
Dong Min langsung menerobos masuk. Para penjaga pun tak ada yang berani menahan. Siapa pula yang berani menghalangi keluarga Dong yang bertubuh tambun ini? Kalau mengamuk, siapa yang bisa menahan?
Dua hari terakhir, kelopak mata Jia Xu terus berkedut. Ia merasa akan ada peristiwa besar, tapi tak bisa menebaknya. Kini ia bekerja sebagai pembantu Prefektur Henan di bawah Dong Zhuo, pangkat tak besar, tak kecil. Semua berita hanya datang dari mata-mata Dong Zhuo. Kabar tewasnya Dong Zhuo pun belum tersebar, jadi ia sama sekali belum mengetahuinya.
Melihat Dong Min masuk dengan penuh amarah, Jia Xu hanya bisa meringis, lalu berdiri memberi hormat, "Salam hormat, Jenderal. Ada keperluan apa Anda datang ke kantor pagi ini?"
Dong Min melirik sekeliling. Saat itu hanya ada Jia Xu di dalam. "Kau adalah Jia Xu dari Wuwei, kan? Cepat bantu aku mencari cara bagaimana mendapatkan kepercayaan Panglima!"
Jia Xu sempat tertegun. "Betul, itu saya. Tapi maksud Jenderal mendapatkan kepercayaan Panglima itu bagaimana? Bukankah soal seperti ini sebaiknya Anda rundingkan dengan Tuan Prefek?"
Wajah Dong Min seketika merah padam. "Kakakku kemarin... melakukan kesalahan, sudah... dihukum mati di tempat. Kini pasukan Xiliang tanpa pemimpin. Aku hanya bisa menggantungkan harapan pada Panglima, tapi Panglima bilang ia tak percaya padaku. Ia menyuruhku mencari orang pintar untuk bertanya bagaimana caranya mendapat kepercayaannya."
Wajah Jia Xu langsung pucat. Dong Zhuo mati begitu saja? Padahal dia pejabat tinggi negara, Prefek Henan, Jenderal Depan, bahkan tanpa pengadilan langsung dieksekusi? Ini pasti ada konspirasi besar.
Ekspresi Jia Xu berubah canggung, "Saya ini cuma pegawai kecil, mana pantas dianggap orang cerdas, Jenderal salah orang. Kalau mau mendapat kepercayaan Panglima, sebaiknya tanya para penasehat atau penasihat militer bawahannya, mereka pasti lebih tahu keinginan Panglima dibandingkan kita."
Dong Min tampak ragu. "Begitukah? Tapi meski aku menanyakan pada mereka, belum tentu mereka mau memberiku saran, aku pun tak kenal dekat dengan mereka."
Dalam hati Jia Xu mendengus, aku juga tak kenal kau! Tapi ia tetap menggoda, "Tentu saja mereka akan membantu. Coba pikir, kalau Panglima memang ingin kau mendapat kepercayaannya, pasti ia memerlukan bantuanmu. Kemungkinan besar, para penasehatnya juga akan bekerja sama denganmu, mana mungkin menolak niat baikmu? Asal kau sungguh-sungguh, pasti bisa mendapat jawabannya."
Dong Min tiba-tiba merasa tercerahkan, tersenyum lebar, "Wen He memang benar, pantas saja Zhong Ming menyebutmu orang cerdas. Bagaimana kalau kau saja jadi sekretarisku ke depannya?"
Jia Xu berpura-pura terkejut, "Terima kasih Jenderal atas kepercayaannya, saya tak tahu harus membalas bagaimana. Tapi sebaiknya Jenderal segera menemui para penasehat Panglima, selesaikan urusan ini secepatnya, itu yang terbaik."
Dong Min mengangguk-angguk, segera berbalik pergi. Jia Xu mengusap wajahnya, berkemas, bersiap melarikan diri. Belum sempat keluar, tiba-tiba seorang lelaki kekar menghadang di pintu. "Kau yang bernama Jia Xu, Wen He?"
Jia Xu merendahkan suara, "Oh, Tuan sedang mencari Sekretaris Jia? Sayang sekali, Sekretaris Jia baru saja pergi bersama Jenderal Dong Min, Anda masih sempat mengejar, perlu saya tunjukkan arahnya? Ke sana jalannya."
Lelaki kekar itu hanya menyilangkan tangan, membiarkan Jia Xu berakting. Jia Xu sadar tak bisa mengelak, menghela napas, "Siapa Tuan sebenarnya? Ada urusan apa mencari saya?"
Lelaki kekar itu tertawa, "Tuan muda kami bilang, harus mengundang Wen He datang ke rumah, kalau mau menemukanmu, pagi-pagi cukup awasi Dong Min, pasti ketemu. Benar saja, kau akhirnya ketahuan juga. Masih mau menipuku? Aku lihat jelas Dong Min keluar sendirian!"
Lelaki kekar itu adalah Guan Hai. Semalam, saat Cheng Yun pulang, hal pertama yang ia lakukan adalah membangunkan Guan Hai yang sedang tidur, memintanya pagi-pagi mengawasi Dong Min dan mencari Jia Xu, bahkan mengingatkan agar jangan tertipu, lebih baik salah undang daripada melewatkan, Guan Hai pun mengingat baik-baik perintah itu. "Sekalipun kau licik seperti siluman, tetap harus tunduk pada tuan muda kami."
Jia Xu pun menyerah. Apa apesnya hari ini, kejadian buruk tiada henti: tuan mati, belum jelas duduk perkaranya, seluruh kekuasaan malah "diberikan" langsung pada orang luar oleh adiknya. Ia sendiri hanya ingin hidup tenang, kenapa tak boleh? Mau dipaksa juga, baiklah, kalian memang licik, kalian menang. Aku ikut saja, bukankah begitu?