Bab Seratus Lima Puluh Empat: Kembali! (Tambahan untuk Burung Biru 01, Bagian 2 dari 2, Bab Dua Puluh Lima)
Keesokan harinya, sebuah video muncul di internet. Seseorang berpakaian hitam bergerak lincah di tengah hujan peluru, sementara peluru-peluru itu sama sekali tidak mampu melukai tubuhnya. Gerakannya saat menepis bazoka dengan satu telapak tangan tampak begitu mendominasi dan luar biasa. Puncaknya, telapak tangan orang tersebut memancarkan energi pedang yang membentang menyatu dengan langit dan bumi, menebas segala hal yang ada. Namun, karena rekamannya terlalu kabur, wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas.
Video tersebut dengan cepat menyebar di jaringan internet berbagai negara, memicu gelombang diskusi yang sengit. Sebagian orang menganggapnya palsu, sementara yang lain meyakini kebenarannya. Perdebatan terus berlanjut dan semakin memanas, hingga akhirnya para ahli turun tangan menyatakan bahwa video tersebut adalah rekayasa belaka yang sengaja dibuat oleh seseorang demi menarik perhatian publik.
Dalam semalam, video-video di internet lenyap begitu saja. Kendati demikian, beberapa orang telah kadung menyimpannya dan mulai menyebarkannya dalam lingkup kecil. Ada yang percaya, ada pula yang tidak. Sekalipun gambarnya buram, video itu tampak begitu nyata. Seorang pria dengan kekuatan bagaikan dewa dan iblis benar-benar eksis.
Para pemikir yang memahami tingkat teknologi dunia saat ini sangat menyadari bahwa mustahil untuk menciptakan video yang begitu realistis. Hanya ada satu kemungkinan: video itu asli. Mereka terus-menerus memutar ulang video tersebut.
Presiden Negara M bahkan segera mengadakan rapat darurat di Gedung Putih. Seluruh agenda rapat kali ini berpusat pada satu orang saja. Para petinggi berkumpul untuk menonton video tersebut bersama-sama. Sebagian pejabat bersikap acuh tak acuh dan meyakini dalam hati bahwa video itu palsu.
"Video ini asli! Rekaman ini ditemukan di dalam mobil yang terbelah dua di luar pangkalan Kalajengking Merah, tempat Mayor Jenderal Hans Kennedy berada!"
Presiden Negara M dengan cepat berdiri dan menyatakan hal tersebut dengan ekspresi muram. Sosok di dalam video itu memberikannya ancaman nyata—sebuah ancaman bagi negara adidaya nomor satu di bola bumi ini.
"Aku telah mengerahkan orang untuk menganalisisnya. Orang ini seharusnya adalah Dewa Pedang yang ada dalam legenda Negara Hua! Konon, Dewa Pedang Negara Hua mampu membuat sembilan wilayah membeku hanya dengan satu tebasan pedang, dan merenggut nyawa musuh dari jarak ribuan mil!"
Begitu Presiden M selesai berbicara, seisi ruangan jatuh dalam keheningan total. Tidak seorang pun tahu harus berkata apa. Tatapan mereka tertuju tajam pada layar video. Yang tadinya diragukan kebenarannya, kini setelah diketahui keasliannya, membuat telapak tangan mereka mulai mengeluarkan keringat dingin.
Mengerikan, benar-benar sangat mengerikan.
Energi pedang itu tidak dapat dihancurkan dan memusnahkan segalanya. Pertahanan fisiknya pun sangat mencengangkan, bahkan senjata berat seperti bazoka tidak mampu melukainya. Sorot mata orang-orang di ruangan itu berbinar tajam memancarkan kilau dingin. Hanya karena seorang manusia, mereka merasakan ancaman sebesar ini.
Mereka mulai berunding dan berdiskusi secara intensif hingga akhirnya memutuskan tiga rencana:
Pertama, jika bertemu dengan pria berpakaiaam hitam dalam video tersebut, lakukan segala cara untuk menariknya ke pihak mereka dengan biaya berapapun.
Kedua, jika gagal merekrutnya, ia harus dimusnahkan dengan segala cara. Jika bazoka saja tidak bisa melukainya, masih ada rudal, meriam anti-tank, dan senjata berat seperti rudal antarbenua.
Ketiga, mengirimkan sejumlah besar agen rahasia ke Negara Z untuk mencuri teknik kultivasi Dewa Pedang tersebut.
Di dunia ini tidak ada dinding yang tidak dapat ditembus. Pergerakan Negara M dengan cepat terdeteksi oleh dua kekuatan besar lainnya, yaitu Negara E dan Negara Hua.
Negara-negara kecil lainnya pun satu per satu mengetahui berita tentang kebangkitan Dewa Pedang, yang tebasan pedangnya mampu menembus langit dan bumi serta merenggut nyawa dari jarak ribuan mil. Mereka berbondong-bondong mengirimkan orang menyusup ke Negara Hua untuk melacak keberadaan sang Dewa Pedang, bahkan mengerahkan banyak agen rahasia ke sana demi mencuri kitab rahasia kultivasinya.
Hanya dengan satu orang, seluruh dunia dibuat terguncang! Di daftar peringkat kekuatan utama dunia, kelompok Kalajengking Merah lenyap, digantikan oleh Dewa Pedang.
Satu orang mewakili satu kekuatan!
Banyak pihak yang merasa tidak paham, tetapi setelah menyaksikan video tersebut, semuanya terdiam seribu bahasa. Sosok yang menyerupai dewa sekaligus iblis itu membuat hati mereka bergetar ketakutan.
...
"Xiao Anzi!"
Sosok Liu Xu muncul di dalam Ruang Belajar Kekaisaran. Ia mengambil jubah naga dari Cincin Bintang Langit, mengenakannya dengan rapi, lalu memanggil. Ia ingin mengetahui apakah dalam waktu lima hari, ketujuh jenderal besar dan para penguasa kota dari berbagai wilayah telah datang semuanya.
"Pelayan menghadap Yang Mulia! Hidup Yang Mulia, beribu-ribu tahun, beribu-ribu tahun!" Xiao Anzi senantiasa berjaga di luar, menanti titah Liu Xu. Mendengar suara tersebut, ia dengan cepat memasuki ruangan, berlutut dengan kedua belah lutut di lantai, dan memanggil dengan penuh hormat.
"Bangkitlah!" Liu Xu memancarkan wibawa yang begitu pekat dan berkata dengan nada datar, lalu bertanya, "Xiao Anzi, dari ketujuh jenderal besar dan para penguasa kota, berapa orang yang telah tiba?"
"Melapor kepada Yang Mulia, dari tujuh jenderal besar, hanya Jenderal Besar Zhenyuan dan Pangeran Jing yang datang. Dari lima puluh kota, ada dua puluh penguasa kota yang telah tiba," jawab Xiao Anzi dengan penuh takzim.
"Sepertinya bilah algojoku harus diasah kembali!"
Mendengar perkataan Xiao Anzi, ekspresi Liu Xu tampak tenang, sementara gumaman tipis meluncur dari bibirnya. Ia akan menunggu tiga hari lagi. Jika masih ada penguasa kota atau jenderal besar yang tidak datang, ia pasti akan mengerahkan pasukan besar untuk menumpas dan menaklukkan mereka.
"Sampaikan kabar bahwa aku telah keluar dari pengasingan kepada para menteri tercinta!" perintah Liu Xu kepada Xiao Anzi sesudahnya.
"Pelayan mematuhi titah!" Xiao Anzi membungkuk dan mundur dengan cepat. Begitu keluar dari Ruang Belajar Kekaisaran, ia baru membalikkan badan dan pergi.
Dua puluh menit kemudian, seluruh pejabat sipil dan militer telah mengetahui berita bahwa Liu Xu telah keluar dari pengasingan. Para menteri berbondong-bondong bergegas menuju istana kekaisaran. Di antara mereka terdapat kakek dari pihak ibu Pangeran Jing, yaitu Jenderal Besar Zhenyuan, serta Bai Qi, Zhou Cang, Zhao Yun, Xiang Yu, dan yang lainnya.
Jenderal Besar Zhenyuan mengenakan baju zirah berwarna emas gelap. Meskipun usianya telah melampaui enam puluh tahun, ia tampak seperti pria berusia sekitar empat puluh tahun, memancarkan wibawa yang kuat. Dengan ekspresi suram, tatapannya yang penuh ketidakpuasan tertuju kepada Bai Qi, Zhou Cang, Zhao Yun, dan yang lainnya, mengingat kekuasaan militer di tangannya direbut begitu ia tiba di ibu kota kekaisaran. Hatinya dipenuhi amarah, dan ia bertekad menghadap langsung Sang Kaisar untuk meminta penjelasan.
"Hamba Xiang Yu (Zhao Yun, Zhou Cang, Liu Jing....) menghadap Yang Mulia! Hidup Yang Mulia, beribu-ribu tahun, beribu-ribu tahun!"
Beberapa orang itu memasuki ruangan belajar dan langsung bersujud dengan cepat. Jenderal Besar Zhenyuan dan mantan pangeran kedua, Pangeran Jing Liu Yong, mendongak menatap Liu Xu, dan hati mereka pun bergetar hebat. Mereka dapat merasakan wibawa yang begitu pekat memancar dari tubuh Liu Xu—wibawa yang begitu agung dan luar biasa, membuat seseorang merasa tidak memiliki keberanian untuk melawan.
Sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benak mereka: seorang penguasa sejati terlahir dengan takdirnya. Hanya dengan cara seperti inilah wibawa yang maha dahsyat dapat ditempa dalam waktu yang begitu singkat.
"Bangkitlah, para menteri tercinta!" ucap Liu Xu dengan nada datar, sementara tatapannya beralih mengamati Jenderal Besar Zhenyuan dan Pangeran Jing. Ia mengira pangeran kedua itu telah tewas dalam pemberontakan Yan Nantian, tetapi tak disangka ia masih hidup.
"Jenderal Besar Zhenyuan, mengapa engkau tidak bangkit?" Zhao Yun, Xiang Yu, dan yang lainnya bangkit dengan cepat, sementara Jenderal Besar Zhenyuan tetap berlutut di lantai. Liu Xu bertanya dengan dingin.
"Yang Mulia, Anda berutang penjelasan kepada menteri tua ini!" Pandangan mata Wu Wudi, Jenderal Besar Zhenyuan, menatap lurus ke arah Liu Xu, lalu berkata dengan suara berat. Tubuhnya tetap berlutut di tanah tanpa bergeming sedikit pun. Ia setia kepada Dinasti Han dan istana kekaisaran, namun tindakan Kaisar menarik kembali kekuasaan militernya membuat hatinya tidak puas dan memicu pertentangan di dalam dirinya.
"Lancang! Beraninya bersikap tidak sopan kepada Yang Mulia!"
Sebelum Liu Xu sempat berbicara, ucapan Wu Wudi telanjur memancing kemarahan Zhao Yun, Xiang Yu, Li Yuanba, dan yang lainnya. Aura dahsyat dari tubuh mereka menekan ke arah Wu Wudi, seketika menindihnya hingga tersungkur merangkak di lantai, tidak mampu bergerak sama sekali.
"Mohon ampun, Yang Mulia! Jenderal Besar Zhenyuan hanya sedang bingung sesaat!" Ximen Jiang buru-buru angkat bicara.
"Mohon ampun, Yang Mulia! Kakek hamba sudah lanjut usia, beliau hanya khilaf sesaat!" Liu Yong ikut bersujud di atas tanah memohon ampun. Di dalam hatinya bercampur aduk antara rasa takut dan kegembiraan. Ia takut Liu Xu dalam kemarahannya akan mengeksekusi sang kakek, namun ia juga merasa gembira karena hanya dengan mengandalkan auranya saja, Liu Xu mampu menindih kakeknya yang berada di puncak pendekar tingkat pertama.
Orang ini pasti seorang jenderal bela diri yang tiada tandingannya. Dinasti Han pasti akan bangkit dan tidak lagi bergantung pada kekuatan eksternal, melainkan menggunakan kekuatan sejati untuk menggentarkan segala penjuru dunia.
Sedikit pun ia tidak merasa tidak puas atas naiknya Liu Xu sebagai kaisar. Jika tidak, ia tidak akan datang sendiri untuk menyelamatkan kaisar tatkala melihat suar api menyala. Dibandingkan dengan takhta kekaisaran, ia lebih mencintai medan perang, memperluas wilayah demi Dinasti Han.
Ada arak, diminum bersama saudara setongkrongan dalam tegukan besar; ada daging, disantap bersama saudara dalam gigitan besar.
Bertarung, bertarung, bertarung, bertarung hingga ujung dunia dan akhir masa, menumpahkan setiap tetes darah terakhir demi Dinasti Han.
Itulah impian Liu Yong.