Bab Seratus Lima Puluh: Menambah Kasih Sayang
"Kebahagiaan apa yang harus aku syukuri?" Xue Ranxiang mengangkat alisnya sebelah, lalu menyilangkan kakinya.
Ini benar-benar peribahasa tentang duduk santai di rumah namun tiba-tiba tertimpa masalah tanpa alasan yang jelas.
"Hari ini, keluarga dari pihak ibuku datang untuk melamar atas nama Chun-ge." Nyonya Huang tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan menepuk bahu Xue Ranxiang. "Bibi Ketiga katakan padamu, Chun-ge itu keponakan dari pihak keluargaku. Aku melihatnya tumbuh besar dari kecil. Meskipun anak itu biasanya pendiam, hatinya sangat baik. Kelak setelah kalian menikah, dia pasti akan memperlakukanmu dengan baik."
Nyonya Jiang saat ini juga baru masuk ke dalam rumah. Dia tidak berbicara, melainkan menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum duduk di tempat yang tidak jauh dari Xue Ranxiang.
"Besan, duduklah di sini bersamaku," sapa Nyonya Tua Huang dengan antusias. "Jika perjodohan ini jadi, kedua keluarga kita akan menjadi semakin akrab."
"Soal jadi atau tidaknya, itu masih harus melihat kehendak Xiang-er kami," ucap Nyonya Jiang sambil tersenyum. Sifat kasarnya yang biasa terlihat kini lenyap, membuatnya tampak cukup berwibawa.
"Nenek, Nenek juga tahu kan, aku dan He Zhencheng sudah bertunangan," kata Xue Ranxiang perlahan.
Setelah sekian lama, He Zhencheng akhirnya bisa berguna sebagai tameng pelindung.
"Aku juga tahu soal itu," ujar Nyonya Tua Huang tanpa memberi kesempatan kepada Nyonya Jiang untuk berbicara. "Bukankah anak keluarga He itu juga pergi ke daerah perbatasan?
Kali ini dia tidak pulang, pastinya dia bernasib sama seperti anakku, mati di sana. Lihatlah cucuku ini, sama sekali tidak kalah bagusnya dari pemuda keluarga He itu, jadi tidak usah berpikir yang macam-macam lagi."
"Jika He Zhencheng benar-benar mengalami kecelakaan, kenapa tidak ada orang yang datang mengantarkan uang santunan kematian?" Xue Ranxiang sama sekali tidak mempercayai omong kosong wanita tua itu.
"Uang santunan hanya diberikan jika jasadnya berhasil ditemukan. Kalau tidak ditemukan, itu hanya dianggap hilang," jawab Nyonya Tua Huang dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu, aku akan menunggunya kembali." Xue Ranxiang menggoyangkan kakinya yang disilangkan.
"Urusan ini bukan wewenangmu untuk menentukan. Meskipun ayahmu sudah tiada, kau masih punya paman, bibi, dan nenekmu. Pernikahan seorang gadis harus diputuskan oleh para tetua di dalam keluarga," ucap Nyonya Tua Huang yang sama sekali tidak memedulikan pendapat gadis itu, lalu menoleh kepada Nyonya Jiang. "Besan, apa katamu?"
"Mengenai keluarga He, kita belum tahu pasti bagaimana keadaannya. Bagaimanapun juga, pertunangan mereka dulu diatur oleh ayah dan ibu, ditentukan oleh ayah Xiang-xiang. Kalian semua tahu itu," kata Nyonya Jiang sambil melirik Xue Ranxiang. Melihat putrinya itu tampak keberatan, dia lantas berkata, "Lebih baik kita tunggu beberapa hari lagi. Kabar saat ini belum tentu akurat."
Jujur saja, dia sendiri pun sebenarnya meremehkan keponakan dari keluarga Nyonya Huang itu. Sudah bermuka bopeng, jalannya pincang pula.
Xiang-xiang-nya sekarang memiliki kemampuan yang hebat, bagaimana mungkin Nyonya Huang berniat mencarikan jodoh seperti itu untuk putrinya?
Namun, karena ada orang luar di tempat ini, dia menahan diri untuk tidak meledakkan kemarahannya.
Setelah orang-orang yang memiliki niat terselubung itu akhirnya pergi, dia harus menginterogasi Nyonya Huang secara baik-baik mengenai apa sebenarnya maksud di balik semua ini.
"Ibu, Chun-er kami sudah tidak bisa menunggu lagi," kata Nyonya Huang sambil menarik tangan Nyonya Jiang. "Ibu tahu sendiri, adikku baru saja berpulang, dan Chun-er masih berada dalam masa berkabung. Sesuai adat istiadat di tempat kita, Chun-er harus menikah dalam waktu seratus hari, kalau tidak, dia harus menunggu tiga tahun lagi. Usia Chun-er sekarang sudah enam belas tahun, jika harus menunggu tiga tahun lagi usianya akan menjadi sembilan belas tahun. Bagaimana mungkin dia masih bisa mendapatkan gadis?"
Para pemuda di negeri Dayuan sudah bisa menikah pada usia lima belas tahun. Usia Huang Chun yang sudah menginjak enam belas tahun berarti telah melewati satu tahun. Jika harus ditunda tiga tahun lagi, ditambah kondisinya yang pincang, pada saat itu mungkin dia hanya bisa memperistri seorang janda muda.
"Itu tetap harus dipikirkan baik-baik. Hanya saja, Xiang-xiang kita tidak terburu-buru. Bagaimana kalau kita tanyakan pada keluarga lain saja?" Wajah Nyonya Jiang menjadi suram, meski nada bicaranya masih terdengar sopan.
Dia sebenarnya sangat ingin mendaratkan tamparan keras di wajah Nyonya Huang. Soal Huang Chun yang sudah tidak sabar menikah, apa urusannya dengan keluarga mereka?
Demi keluarga asal-usulnya, Nyonya Huang benar-benar sudah hilang akal sehat. Bagaimana bisa dia berani mengincar Xiang-xiang yang sekarang memiliki kemampuan hebat sebesar itu?