Babak 75: Terkunci
“Tapi...” Ibu Jiang masih ingin bicara lagi.
“Ibu, sudahlah, jangan ‘tapi’ lagi.” Xue Ranxiang mengusap matanya, “Tidurlah cepat, besok masih banyak urusan. Percayalah padaku.”
Ibu Jiang terpaksa mengiyakan, meski hatinya tetap penuh kecemasan.
Keesokan paginya, sejak dini hari.
Xue Ranxiang merebus ikan dan udang kecil sisa kemarin dengan air garam di dalam kamar, dijadikan sarapan.
Tak ada pilihan lain, ruangannya terlalu sempit, tak bisa memasak lauk, bila menumis pasti asapnya langsung memenuhi kamar, belum makan sudah keburu tersedak.
Setelah sarapan dan mencuci tangan, ia berencana pergi sendiri ke kota, mencari tahu apakah bisa lebih dulu mendapatkan tempat tinggal, baru nanti kembali menjemput Ibu Jiang dan Xue Rantian.
Namun saat hendak membuka pintu, sesuatu yang aneh terjadi—pintu tak bisa dibuka.
“Hah?” Xue Ranxiang heran, ia menarik-narik pintu kayu itu sekuat tenaga.
Pintu bergetar, tapi tak juga terbuka. Ia mengintip lewat celah pintu, dan ternyata benar saja, ada gembok besi besar di luar.
Entah siapa yang memasang gembok kuningan dari luar sehingga pintu terkunci rapat. Apa-apaan lagi ini?
“Apa maksudnya ini?” Wajah Ibu Jiang langsung pucat menatap Xue Ranxiang.
Xue Ranxiang mengerutkan kening, hendak bertanya, tapi bertanya pada siapa?
“Ada orang di luar? Siapa yang mengunci pintu? Cepat buka!” Ia menarik-narik pintu beberapa kali, tapi tetap tak bergerak. Kesal, ia menendang pintu keras-keras.
“Ya, ya, sebentar!” jawab seseorang dari luar.
Yang membuat ketiga ibu dan anak itu terkejut, yang datang ternyata Xue Bicheng, paman ketiga dari keluarga Xue.
Ini benar-benar aneh. Selama ini ia selalu mengaku sebagai orang terpelajar, jarang mau ikut campur urusan keluarga. Kalau sampai bicara pun biasanya dipaksa oleh Ibu Jiang, lantas kenapa sekarang ia malah mengunci mereka dari luar?
“Paman Ketiga, apa maksudmu ini?” Ibu Jiang bertanya lewat celah pintu.
Xue Bicheng yang selalu tampak bersih dan rapi berdiri di depan pintu sambil tersenyum, “Biar Xiangxiang yang bicara. Kalau kamu yang bicara, tidak berlaku.”
“Apa yang Paman mau?” Xue Ranxiang berkata dengan nada kesal.
Jangan-jangan paman ketiganya ingin menyekap mereka untuk mengancam? Apa lagi maunya keluarga ini?
“Kamu sendiri tahu, Paman Ketiga ini orang seperti apa.” Xue Bicheng menyilangkan tangan di belakang punggung, berusaha menampilkan kesan berwibawa dan berpendidikan.
Xue Ranxiang hanya mendengus pelan, belajar tak seberapa, tapi gaya sok terpelajar sudah dapat nilai sepuluh.
Melihat Xue Ranxiang diam saja, Xue Bicheng melanjutkan, “Pamanmu ini orang terpelajar, punya wawasan, pikirannya tajam, kamu harus akui itu, ya kan?”
“Ya, aku akui,” jawab Xue Ranxiang dengan nada sinis, “Kalau siswa tingkat dasar juga boleh disebut orang terpelajar.”
“Kenapa tidak? Banyak orang yang mendambakan jadi siswa tingkat dasar saja tak mampu.” Xue Bicheng berbicara dengan nada tenang, “Dulu Pamanmu ini...”
“Cukup lah,” potong Xue Ranxiang tak sabar, “Langsung saja, kenapa Paman mengurung kami di dalam?”
Paman ketiganya ini, pasti ada apa-apanya.
“Baik, akan aku jelaskan.” Xue Bicheng tidak mempermasalahkan sikapnya, “Sekarang kami mencurigai dua ekor ayam itu kalian bertiga yang mencuri. Jadi kalian harus memberi ganti rugi. Kalau tidak, kalian tidak boleh keluar dari kamar.”
Kali ini ia bicara to the point, langsung mengungkap sebab-akibatnya.
“Huh, hanya karena Paman mencurigai? Katanya orang terpelajar, tak tahu kalau menuduh orang itu harus ada bukti?” Xue Ranxiang menatapnya tajam lewat celah pintu.
Ia memang masih terlalu polos dalam memahami manusia. Awalnya ia pikir tanpa bukti, keluarga aneh ini tak akan punya alasan untuk bicara, tak menyangka ternyata mereka bisa sebegitu tak tahu malu dan berlaku semaunya.