Bab 21 Sup Kambing
"Satu tael perak saja," tawar Xue Ranjing.
Satu tael perak setara dengan satu kuan koin, yaitu seribu keping uang tembaga.
"Baiklah," jawab pemilik toko dengan enggan, "Karena kalian kenal baik dengan Pendeta Yuan Yun, aku tak akan mengambil untung darimu, sisa mutiara kecil-kecil itu juga serahkan padaku, kutawar tiga ratus koin tembaga."
Pemilik toko mengacungkan tiga jarinya.
Begitu mendengar kata "baiklah", Xue Ranjing merasa dirinya sudah rugi, tapi karena sudah terlanjur bicara, ia tak bisa menarik kembali ucapannya.
Namun untuk mutiara kecil-kecil itu, tak bisa ia biarkan terlalu murah, "Yang kuning ini bentuknya lonjong dan sangat mulus, bagaimana kalau kutawar lima ratus koin untuk semuanya?"
"Setuju," jawab pemilik toko sambil tersenyum lebar, "Akan segera aku ambilkan peraknya."
"Aku mau delapan qian perak," lanjut Xue Ranjing cepat, "Sisanya pakai uang tembaga saja."
Perak mudah disimpan, uang tembaga enak dipakai, jadi pas sekali.
"Baiklah," jawab pemilik toko seraya mengambil timbangan untuk menakar perak.
Dengan uang tembaga yang berat tergenggam erat di pelukannya, Xue Ranjing meninggalkan toko perhiasan, memandang sekeliling, dan akhirnya merasa percaya diri.
Jiang beringsut pelan di belakangnya, masih terpana. Ia tak pernah tahu putrinya ternyata begitu cakap.
"Ayo, Kakak ajak kalian makan enak," katanya sambil menggandeng tangan Xue Rantian.
Tatapan Xue Rantian pun berubah, awalnya takut, lalu penasaran, kini berubah jadi penuh kekaguman.
Xue Ranjing membawa mereka masuk ke sebuah kedai sup kambing.
Di Da Yuan, orang-orang memang suka makan daging kambing. Kedai-kedai ini umumnya cukup makmur, banjir baru saja surut, mereka pun segera membuka kembali kedainya. Tapi soal ramai atau tidak, itu lain cerita.
"Ran, sudah," Jiang menarik lengannya lagi, berbisik, "Kita makan saja di pinggir jalan, seadanya."
Benar bahwa mutiara tadi laku dijual dan dapat uang, namun uang sangat berguna, tak boleh dihambur-hamburkan begitu saja.
"Tenang saja, Ibu, aku ada cara cari uang," Xue Ranjing membalas sambil menarik ibunya masuk.
Dulu ia tak suka makan daging kambing, tak tahan dengan bau prengusnya, rasanya seperti masuk ke kandang kambing.
Tapi setelah beberapa hari hidup susah, ia kelaparan luar biasa, kini mencium aroma daging kambing saja sudah terasa sangat menggoda.
Ternyata benar, orang yang suka pilih-pilih makanan itu karena belum pernah benar-benar kelaparan.
"Mau pesan apa?" pelayan menyambut, menatap mereka yang berpakaian lusuh dengan sikap agak dingin.
"Berapa harga semangkuk sup kambing?" tanya Xue Ranjing.
"Tiga puluh koin tembaga," jawab pelayan dengan suara keras, seolah ingin mengusir mereka.
Xue Ranjing menghitung dalam hati, "Tiga mangkuk sup kambing, ya."
Ia kini paham nilai uang di sini. Satu tael perak setara seribu koin tembaga, kira-kira sama dengan tiga ratus yuan. Jadi satu koin tembaga nilainya sekitar tiga ratus perak.
Satu mangkuk sup kambing tiga puluh koin tembaga, berarti sembilan yuan, cukup masuk akal.
"Aku tidak usah, kalian saja yang makan," Jiang berusaha menahan, ingin agar kedua putrinya berbagi satu mangkuk saja.
"Tambah enam roti daging," Xue Ranjing memotong ucapan ibunya, "Berapa harga satu roti daging?"
"Lima belas koin," jawab pelayan, kini mulai ramah karena melihat mereka benar-benar memesan, tapi masih curiga apakah mereka punya uang. "Tapi, Nyonya, di sini bayar dulu baru makanan dihidangkan."
Xue Ranjing tak banyak bicara, langsung menghitung dan menyerahkan uang tembaga, "Ini, seratus delapan puluh koin, cepat ya."
"Siap!" Pelayan langsung sumringah melihat mereka benar-benar punya uang, lalu berlalu sambil bernyanyi kecil.
Tak lama kemudian, sup kambing panas mengepul dan roti daging pun tersaji di meja.
Xue Ranjing memandang, sup kambing itu tampak kental dan putih bersih, di dalamnya ada potongan daging kambing besar, ditaburi daun bawang hijau, menguarkan aroma sedap—benar-benar menggugah selera.