Bab 126 Orang Kaya Baru
"Kau tidak percaya?" Zhao Yuanyin menyadari bahwa gadis itu tampaknya meragukan hal semacam ini.
"Tidak, kok," Xue Ranxiang menggelengkan kepalanya. "Aku tidak meminta jimat penenang jiwa atau semacamnya."
Aku percaya, kok. Bahkan sekarang aku mulai meragukan hakikat kehidupanku.
Namun, jika dipikir-pikir lagi, mungkin saat aku pertama kali berpindah ke tubuh ini, Zhao Yuanyin menggunakan semacam jimat penarik jiwa itu padaku, sehingga aku bisa cepat sadar?
Cukup ajaib juga.
Tetapi, ini juga bukan hal yang aneh. Aku saja bisa berpindah jiwa, memiliki sistem, dan kemampuan istimewa; jadi, tidak mengherankan jika di dunia ini ada hal-hal ajaib seperti itu.
Ia segera meyakinkan dirinya sendiri.
Mengenai mengapa tidak ada orang yang pernah membicarakannya dan tempat ini tampak normal-normal saja, mungkin karena daerah ini terpencil. Selain itu, untuk mendapatkan jimat atau mantra semacam itu membutuhkan biaya yang sangat mahal, sehingga orang-orang di kota kecil ini tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut.
Zhao Yuanyin meletakkan sumpitnya dengan perlahan.
Xue Ranxiang mengira semua ini akan segera berakhir.
"Ikutlah denganku," ucap Zhao Yuanyin, kata-katanya sangat mengejutkan.
Ia mengeluarkan sapu tangan, menyeka bibirnya dengan gerakan yang anggun dan berwibawa.
"Ikut denganmu?" Xue Ranxiang tercengang.
Siapa pun, tolong katakan padaku, apa sebenarnya yang diinginkan pria ini?
Apakah sekarang masih sempat bagiku untuk melarikan diri?
"Ya, ikut aku ke Kota Kekaisaran," Zhao Yuanyin mengangguk mantap.
Xue Ranxiang diam-diam menarik napas. Ia memang harus pergi ke Kota Kekaisaran, tetapi tentu saja bukan bersama pemuda ini.
Mengikutinya?
Kecuali jika otakku sudah tidak waras, aku tidak akan mau ikut dengannya. Dia bisa saja sewaktu-waktu menempelkan belati ke leherku. Jika suatu hari dia sedang dalam suasana hati yang buruk, nyawaku pasti melayang.
"Aku tidak mau. Aku tidak mengenalmu, untuk apa aku harus ikut denganmu?" Xue Ranxiang menolak dengan tegas.
"Kau tahu, ini bukan sesuatu yang bisa kau putuskan sendiri," Zhao Yuanyin bangkit berdiri dan bersiap melangkah keluar.
"Aku tidak mau!" Xue Ranxiang meninggikan suaranya. "Ini adalah tempat kelahiranku. Ibu dan adikku ada di sini, dan kami sudah susah payah mendapatkan pekerjaan ini. Jika kami pergi..."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Cukup ikuti aku dengan tenang, aku bisa memberimu lima ratus tael perak setiap bulan. Ibumu dan adikmu juga boleh ikut bersama kita," Zhao Yuanyin menatap ke kejauhan. Ucapannya terdengar hangat, seolah sedang berdiskusi, namun sebenarnya tidak memberikan ruang untuk dibantah.
Saat berbicara tadi, ia sudah mengambil keputusan. Entah Xue Ranxiang adalah orang suruhan Zhao Yuanyun atau bukan, lebih baik salah tangkap daripada membiarkannya lolos.
Lima ratus tael! Banyak sekali!
Dasar orang kaya! Benar-benar murah hati!
Jika saja tidak ada ancaman terhadap nyawanya, Xue Ranxiang pasti sudah melompat kegirangan dan ikut dengannya.
Namun, sebanyak apa pun uangnya, nyawa jauh lebih penting. Ia harus mengutamakan keselamatan dirinya terlebih dahulu.
Ia memperhatikan Zhao Yuanyin sambil menimbang-nimbang, seberapa besar peluang kemenangannya jika ia menggunakan ilmu bela diri yang ia pelajari di kehidupan sebelumnya untuk melawan pria itu?
Belati itu masih tergeletak di atas meja.
Jika ia bisa dengan cepat merebut belati itu dan balik menodongkannya ke leher pria itu untuk memaksanya melepaskan mereka bertiga, apakah itu akan berhasil?
Jika berhasil, mungkin tidak masalah. Namun, jika gagal, ia mungkin akan dicincang hingga berkeping-keping.
Masalahnya, bahkan jika ia berhasil, ia tidak mungkin tetap tinggal di tempat ini, dan mencari penghasilan selanjutnya akan menjadi masalah besar.
Siapa sebenarnya orang ini yang tiba-tiba muncul entah dari mana? Benar-benar gila.
Menjengkelkan sekali.
"Kau tidak perlu berpikir cara untuk melawanku. Kau harus tahu situasi; kau bukan tandinganku," Zhao Yuanyin dengan tenang mengambil belati itu dan menyimpannya. "Ayo berangkat."
Begitu kata-katanya selesai, suasana di luar tiba-tiba menjadi kacau balau, suara teriakan perang membahana.
Zhao Yuanyin mengerutkan kening, baru saja hendak bertanya ke luar.
"Brak!"
Pengawal tadi terlempar masuk ke dalam ruangan bersamaan dengan pintu yang hancur.
"Tuan... Pasukan Dongyue... telah menembus pertahanan..." Pengawal itu sangat setia, ia meninggalkan pesan tersebut, memuntahkan seteguk darah, lalu kepalanya terkulai lemas dan tewas seketika.