65 Pertemuan dengan Orang Lama
Pertemuan dengan Orang Lama
Tak lama kemudian mereka tiba di depan sebuah kamar pertapaan. Seorang biksu muda melangkah maju, mengetuk pintu, lalu berseru, “Paman Biksu Jingcheng, ada tamu yang ingin berkunjung.”
Tidak lama suara dari dalam terdengar, “Yuanfang, persilakan tamu masuk.”
Mendengar suara itu, mata Cui Wan memancarkan sedikit keraguan. Pasalnya, suara itu terdengar terlalu muda, jauh dari bayangannya tentang suara tua dan serak. Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, ia sudah dituntun masuk oleh Murong.
Isi kamar pertapaan itu sangat sederhana. Dinding bata abu-abu tak dihias apa pun. Ruangan kosong itu hanya berisi sebuah meja dengan pelita minyak di atasnya, dua bangku panjang, dan sebuah ranjang kayu yang sangat seadanya. Di atas ranjang itu, seorang biksu bertubuh ramping duduk bersila, dengan gulungan kitab suci di tangan yang belum sempat diletakkan, memandang lurus pada mereka yang masuk.
Cui Wan terkejut melihat biksu yang disebut Murong sebagai “maha guru”. Tak mengherankan ia bereaksi demikian, sebab sang maha guru itu tampak sangat muda, kira-kira baru dua puluhan tahun. Parasnya bersih dan rupawan, benar-benar menonjol. Selain Murong yang memang berwajah elok, biksu muda ini adalah salah satu pria paling tampan yang pernah Cui Wan temui, meski itu hanya penilaian permukaan.
Kesan pertama bertemu dengannya adalah kesucian dan kejernihan, seperti pemandangan gunung sunyi selepas hujan, begitu tenang dan bening hingga membuat hati terasa bersih. Sorot matanya seperti bintang dan lautan, memuat keluasan semesta, membuat siapa pun ingin menghormati dan memujanya.
Melihat Cui Wan yang terpaku menatap Maha Guru Jingcheng, Murong menaikkan suara, memanggil biksu di ranjang, “Maha Guru Jingcheng!”
“Murong, semoga kau dalam keadaan baik,” Jingcheng menyatukan kedua tangan, membungkuk kecil pada Murong.
Saat itu juga Cui Wan sadar dari lamunannya, dan membungkuk memberi hormat pada Jingcheng.
Murong menggeser bangku ke sisi meja lalu duduk, menarik Cui Wan untuk duduk juga. “Maha Guru Jingcheng, apakah akhir-akhir ini Anda punya waktu luang?”
Jingcheng mengangguk pelan. “Tidak ada halangan.”
“Kalau begitu, bolehkah saya meminta bantuan Anda?” Murong langsung to the point.
Jingcheng menatap Cui Wan, lalu kembali mengangguk pelan. “Silakan katakan.”
“Maha Guru, Wanwan ini orang Han, dan kelak akan tinggal di Yan. Saya ingin memohon Anda mengajarinya bahasa Xianbei.”
Mendengar itu, Jingcheng menatap Cui Wan dengan sorot mata yang sedikit terguncang. Dua kata itu seperti mengetuk syarafnya, membuat kenangan masa silam melintas sekilas.
Namun, baik Murong maupun Cui Wan tidak menyadari kegelisahan sesaat itu.
Pada saat itu, biksu muda Yuanfang kembali ke kamar membawa perlengkapan teh, menuangkan teh untuk Murong dan Cui Wan.
Cui Wan menerima cangkir teh, mengangguk pada biksu muda itu sebagai tanda terima kasih.
Tatapan Jingcheng tanpa sadar tertuju pada Cui Wan. Kenangan itu sudah terlalu lama berlalu, dan karena peristiwa setelahnya, ia sempat menolak mengingat masa kecilnya. Namun, kini kenangan itu begitu mudah tersingkap kembali. Ia jelas mengenali gadis di hadapannya. Meski kini ia telah sangat berbeda dari gadis kecil masa silam, jika diperhatikan, kemiripan di wajah masih tampak jelas.
Keningnya berkerut tipis. Setelah Tuan Cui dan anaknya menyingkir ke selatan, mereka tak pernah lagi mengirim kabar. Awalnya, ia dan ayahnya mengira karena perjalanan sulit dan komunikasi susah. Pasti mereka menunggu hingga benar-benar menetap baru akan mengirim berita. Hitung-hitung, mungkin setengah tahun baru ada kabar. Meski hati cemas, mereka tak berpikir buruk.
Namun, belum sempat mereka menyusul ke selatan, justru keluarganya sendiri yang tertimpa bencana. Ia pun jatuh miskin, hidup sebatang kara, mengemis di jalan, berebut makanan dengan anjing. Jika bukan karena gurunya yang menemukan dan membawanya, mungkin kini ia hanyalah segumpal tanah di kuburan.
Lalu, bagaimana dengan dia? Kenapa kini ia berada di sini? Tatapan Jingcheng pada Cui Wan menjadi rumit, namun sorot matanya kini sudah bukan seperti dulu yang mudah terbaca. Bagi orang lain, ia adalah seseorang yang telah melampaui delapan penderitaan dunia, tak lagi terikat suka, duka, marah, maupun benci.
“Setiap siang, antara jam dua belas hingga empat sore, kau bisa datang menemuiku di sini,” suaranya datar dan tenang.
“Terima kasih, Maha Guru.” Murong menyatukan tangan memberi hormat, Cui Wan pun mengikuti.
Keluar dari Biara Longgang, Cui Wan baru bertanya pada Murong, “Fenghuang, siapa sebenarnya Maha Guru Jingcheng itu...?”
Murong paham maksud Cui Wan dan menjelaskan, “Maha Guru Jingcheng adalah murid dari Maha Guru Fotucheng. Saat Maha Guru Fotucheng yang sudah berusia sembilan puluh tahun mengembara ke selatan, ia bertemu dengan Jingcheng kecil yang waktu itu mengemis di jalan. Tak tega melihat anak kecil berebut makan dengan anjing, beliau membawanya serta. Mungkin ini memang takdir, Jingcheng sangat cerdas, terutama dalam memahami ajaran Buddha, hingga membuat Maha Guru Fotucheng pun terpesona dan yakin telah menemukan penerus. Ketika Maha Guru Fotucheng masih ada, aku beberapa kali berbincang dengan Maha Guru Jingcheng, dan banyak sekali manfaat yang kuperoleh dari ucapannya. Meski masih muda, posisinya di Yan sangat tinggi, pengikutnya banyak. Suatu hari nanti, ia bisa saja menjadi Maha Guru Fotucheng berikutnya, atau bahkan melampaui beliau, karena usianya masih sangat muda...”
Semakin lama bercerita, pandangan Murong pada pegunungan yang jauh menjadi semakin dalam, seolah terbenam dalam pikirannya sendiri. Cui Wan tak mengganggunya, hanya memandanginya dalam diam.
...
Dalam perjalanan kembali ke kota, Cui Wan tiba-tiba melihat sosok yang familiar. Genggaman tangannya pada tali kekang kuda mengencang. Belakangan ini ia memang sengaja melupakan beberapa hal dan orang. Paman dan keponakan dari keluarga Lu memang datang ke Yan sebagai utusan, jadi bertemu mereka di Gaocheng adalah hal yang wajar. Namun ia tidak ingin bertemu lagi, baik dengan kakaknya seayah maupun Lu Zichen yang punya perasaan khusus padanya.
Namun, takdir kadang bermain aneh. Suatu hari, sepulang belajar dengan Maha Guru Jingcheng, di gerbang timur istana, ia berpapasan dengan paman dan keponakan keluarga Lu yang baru saja keluar dari istana.
Lu Zichen langsung maju dan menarik tali kekang kudanya, berteriak, “Runxue!”
Cui Wan sama sekali tidak ingin mengakui Lu Zichen dan yang lain. Ditambah lagi ia berpakaian ala gadis Xianbei, ia pun berencana berpura-pura sebagai gadis Xianbei, menghardik dengan bahasa Xianbei yang baru dipelajari agar ia melepaskan tali kekang. Saat ia tak juga melepas, Cui Wan menjepit perut kuda dengan kedua kakinya hingga kuda itu berdiri, membuat lawannya mundur ketakutan.
“Runxue! Apa yang kau lakukan?!” Lu Zichen mundur beberapa langkah, wajahnya berganti-ganti antara pucat dan merah, sorot matanya kini berubah dari gembira menjadi marah menatap Cui Wan.
Cui Wan tak menoleh sedikit pun, ia mencabut cambuk merah dari pinggangnya, menatap Lu Zichen dengan kemarahan, lalu sekali cambuk, ia melesat masuk ke dalam istana.
Lu Zichen menatap punggung Cui Wan yang menjauh, ekspresinya masih diliputi kebingungan dan keterkejutan. Ia yakin seratus persen, gadis di atas kuda itu pasti Cui Wan. Ia bahkan akan mengenalinya meski sudah berubah total, apalagi sekarang hanya berbeda pakaian. Yang membuatnya ragu adalah sikap dan perlakuan Cui Wan. Jika ia tidak mengenalnya sejak lama, ia pasti mengira gadis itu benar-benar gadis Xianbei yang congkak dan keras kepala. Sorot matanya pada Lu Zichen begitu tinggi hati dan asing, membuat Lu Zichen sulit menerima kenyataan dan sempat meragukan, apakah dia benar-benar Runxue.
“Tuan muda…” Lu Fang pun mendekat, memanggilnya. Saat ini banyak orang melihat, termasuk utusan dari Qin, kelakuan seperti itu sungguh tidak pantas.
Lu Zichen menarik kembali tatapannya, berusaha menahan gejolak di hati. Namun, bayangan gadis berbaju merah di atas kuda itu masih membekas dalam benaknya.
Di sisi lain, dalam benak utusan Qin, Zhang Wen’an, juga masih terbayang sekilas pertemuan itu. Wajah gadis Xianbei yang sangat dikenalnya membuat ia memunculkan dugaan yang mungkin terdengar mustahil. Ia menenangkan diri, lalu melangkah maju, memberi hormat pada Lu Zichen, “Tuan Lu, bolehkah saya tahu apa yang baru saja terjadi? Perlu bantuan saya?”
Lu Zichen jelas tak percaya orang di hadapannya begitu peduli. Kejadian barusan sudah membuatnya kesal, apalagi harus bicara dengan orang yang menurutnya punya niat buruk. Ia pun hanya mendengus dingin dan membalikkan badan.
“Zichen, jangan bersikap kurang ajar!” Lu Andao, pamannya, juga tidak tahu apa maksud Zhang Wen’an, tapi ia pun enggan membiarkan orang itu banyak tahu soal mereka. Ia segera menegur, menyudahi pembicaraan.
Lu Zichen berpaling, setengah hati membalas hormat pada Zhang Wen’an.
Lu Andao tidak lagi menegur Lu Zichen, namun berbalik pada Zhang Wen’an, “Maafkan kelancangan keponakan saya, semoga Tuan Zhang memaklumi.”
Zhang Wen’an sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Lu Zichen. Ia menggeleng ringan, “Tuan Lu terlalu sopan. Saya hanya ingin membantu. Tadi saya penasaran, bagaimana bisa Tuan Lu bersitegang dengan gadis Xianbei itu? Mungkin Tuan Lu salah orang.”
Lu Andao melihat Zhang Wen’an masih menyinggung soal Runxue, hatinya pun dipenuhi kecurigaan. Kenapa orang ini begitu tertarik pada Runxue? Namun, ia tidak mengungkapkannya, hanya berkata seadanya, “Zichen salah orang saja.”
Sampai di situ, Zhang Wen’an pun tidak bisa lagi mendesak. Ia mengangguk, tanda mengerti.
Kedua pihak saling berpamitan, seolah-olah semua baik-baik saja, padahal masing-masing menyimpan pikiran sendiri. Begitu tiba di penginapan, mereka segera memerintahkan orang untuk mencari tahu siapa gadis berbaju merah itu.
Namun, saat identitas gadis berbaju merah itu sampai ke tangan mereka, kedua pihak sama-sama mengernyitkan dahi.
Informasi yang mereka dapatkan sangat minim. Hanya diketahui bahwa gadis itu adalah kekasih yang sangat disayangi Raja Yan, Murong Chong, selebihnya tidak ada sama sekali, bahkan nama pun tidak diketahui.
Pihak Zhang Wen’an masih dalam tahap curiga dan tak begitu bernafsu mencari tahu segala hal tentang gadis itu. Jika benar-benar ingin tahu siapa dia, cara paling mudah adalah bertemu langsung dan bertanya sendiri.
Sedangkan di pihak Lu Andao, setelah tahu bahwa Cui Wan kini menjadi selir kesayangan Murong Chong, Lu Zichen sangat marah, berkali-kali melampiaskan kemarahannya. Sementara Lu Andao mulai berpikir bagaimana memanfaatkan status Cui Wan sekarang demi tujuan misi mereka. Baginya, terlepas dari bagaimana Cui Wan bisa berada di sisi Murong Chong, ia tetaplah berasal dari keluarga Lu, ibunya pun masih berada di sana. Jika mereka memintanya, Cui Wan pasti akan membantu. Bahkan, justru lebih baik jika hubungan mereka tidak diketahui siapa pun.
Catatan Penulis: Baiklah, di sini identitas Maha Guru Jingcheng akhirnya terungkap, dia adalah si gendut kecil dari Keluarga Lu waktu itu, Lu Sengbao!
Namun, Lu Sengbao sendiri tidak ingin Wanwan tahu siapa dirinya, karena kini ia sudah berstatus biksu. Tapi, perannya ke depan masih akan sangat penting.