Bab 138: Selimut Hijau
Halaman (1/3)
Kelima orang itu memandangi bunga masing-masing dengan perasaan gelisah.
Pandangan mereka sesekali beralih ke bunga milik Bai Youwei dan Shen Mo. Teratai putih yang suci dan bunga peony yang anggun tertancap hampir tanpa cacat di dalam vas kaca, menciptakan kontras yang tajam dengan bunga-bunga lainnya.
Suasana terasa mencekam.
Kecemasan, ketidaksabaran, kecemburuan, dan rasa tidak tenang menyelimuti orang-orang ini, seperti jaring tak kasat mata yang menjerat hingga menyesakkan napas.
Baru setelah ada orang lain yang kembali dari arah hutan—mereka yang membawa bunga dengan kondisi yang jauh lebih layu—kabut mendung di mata kelima orang tadi sedikit menipis.
Di antara rombongan ketiga yang kembali, bunga milik Zhang Qi tampak sangat menonjol.
Ia membawa kaktus yang masih segar bugar, dengan bunga berwarna kuning keemasan yang mekar di puncaknya. Berkat nutrisi dari seluruh bagian kaktus, bunga itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda layu.
Namun, tangan Zhang Qi pun menjadi penuh luka tusukan duri dan berlumuran darah.
Bai Youwei menduga bahwa Zhang Qi pasti bertemu dengan seseorang di tengah jalan saat kembali, menyadari bahwa bunga orang tersebut mulai layu, dan akhirnya menemukan cara ini. Bisa dibilang itu adalah kecerdasan yang muncul dalam situasi mendesak.
Selain milik Zhang Qi, bunga dari rombongan ketiga semuanya layu hingga tidak berbentuk lagi, beberapa bahkan sudah tidak bisa dikenali jenisnya.
Sama sekali tidak perlu membandingkan. Hanya dengan sekali lirik, peringkat kualitasnya langsung terlihat—
Dua posisi teratas sudah pasti milik Bai Youwei dan Shen Mo, diikuti oleh lima orang dari rombongan kedua. Bunga Zhang Qi dipastikan masuk sepuluh besar. Dengan begitu, hanya tersisa dua kuota lagi...
Pengawas berkata dengan nada riang, "Kalau begitu, silakan kalian masukkan pilihan kalian ke dalam vas yang kosong."
Zhang Qi menancapkan bunganya ke vas nomor delapan.
Halaman (2/3)
Sepuluh vas yang tersisa masih kosong melompong.
Orang-orang itu menggenggam erat bunga di tangan mereka, sangat sadar bahwa begitu mereka menancapkannya, mereka akan segera menghadapi hasil eliminasi.
Tereliminasi dalam permainan boneka ini tidak akan berakhir dengan baik.
Beberapa orang sudah mulai gemetar ketakutan...
Sudut bibir Pengawas semakin terangkat. Dengan sabar, ia kembali mengingatkan, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, silakan masukkan pilihan kalian ke dalam vas."
Tetap tidak ada yang bergerak.
Wu Lili merasa panik. Matanya terus melirik ke arah bunga orang lain, diam-diam membandingkan apakah ia masih bisa mendapatkan posisi sepuluh besar.
Bunga di tangannya sudah layu, nyaris tidak bisa mempertahankan bentuk mekarnya, dan warnanya pun tampak kusam dan buruk. Tentu saja, bunga milik orang lain pun tidak jauh lebih baik.
Ia menggigit bibir, memaksakan diri mengangkat bunganya, bersiap untuk menancapkannya ke vas—
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur! Tangan itu menyambar bunganya dengan kasar dan menariknya dengan brutal!
Kelopak bunga yang layu itu hancur berantakan!
Ekspresi Wu Lili seketika berubah kacau. Dengan marah, ia menoleh dan memprotes, "Bibi He! Apa yang kau lakukan?!"
Wanita paruh baya yang dipanggil Bibi He itu sama sekali tidak memedulikannya. Ia dengan gerakan cepat menancapkan bunganya sendiri ke dalam vas!
Wu Lili sangat murka hingga ingin mengangkat tangan untuk membanting vas milik wanita itu! Namun, ia mendapati bahwa begitu vas telah berisi bunga, area tersebut tidak bisa disentuh lagi, seolah-olah terhalang oleh pelindung transparan!
Halaman (3/3)
Kejadian itu berlangsung terlalu cepat, membuat semua orang tertegun.
Wu Lili mengertakkan gigi, hatinya dipenuhi rasa dendam! Dengan satu tangan, ia menancapkan tangkai bunganya yang sudah tak berhelai daun ke dalam vas, lalu mengangkat dahan pohon yang ia gunakan sebagai tongkat dan memukulkannya dengan keras ke arah orang lain!
Situasi di tempat kejadian seketika menjadi kacau! Teriakan dan makian bersahut-sahutan!
Ada yang menghindar, ada yang membalas serangan. Pria pemalas, wanita bermulut tajam, pasien yang lemah, hingga orang tua dan muda yang licik di pulau itu, kini semuanya berubah menjadi musuh bebuyutan! Mereka saling menyerang seolah nyawa mereka dipertaruhkan!
Vas-vas kaca yang belum terisi bunga pecah berantakan di sana-sini!
Dahan pohon milik Wu Lili entah sudah dirampas oleh siapa. Ia meringkuk di tanah dengan wajah babak belur, matanya berkunang-kunang dan telinganya berdenging. Seluruh tubuhnya terasa sakit luar biasa, seolah sedetik lagi ia akan tewas dihajar habis-habisan!
Namun, pukulan dan tendangan itu tiba-tiba berhenti dalam sekejap.
Ia membuka mata dan melihat hamparan rumput yang tadinya hijau segar kini tergulung naik seperti karpet, memperlihatkan tanah lembap di bawahnya serta akar-akar yang gemuk.
Akar itu tumbuh putih pucat seperti daging.
Pada daging itu, terdapat celah berwarna merah menyala yang terbuka lebar.
Di dalam celah itu, tumbuh gigi-geligi yang sangat rapat.
Di antara gigi-gigi tajam tersebut, tampak satu per satu orang yang tertelan hidup-hidup...