Bab 41: Dia Tidak Mengatakan
Begitu menyebut kata katak, suasana seolah langsung menemui jalan buntu. Untuk beberapa saat, tak seorang pun bicara, gua itu sunyi senyap. Namun, meski tanpa kata-kata, waktu tetap berlalu tanpa suara. Tak lama lagi bola emas akan muncul dan memberitahu mereka bahwa putaran permainan berikutnya akan segera dimulai, dan nyawa mereka pun kembali digantung di ambang hidup dan mati.
Dalam keheningan itu, Kakak Hui mengamati Shen Mo dan Tan Xiao. Perlahan, tatapannya berubah menjadi ragu. “Hei, kalian berdua jangan-jangan mulai ciut, ya?”
“Kalau kamu berani, kenapa tidak kamu saja yang maju?!” Tan Xiao menatapnya dengan dingin.
Kakak Hui tersentak, namun segera pulih dan mendengus pelan. “Aku sih mau saja maju,” ia melirik Shen Mo, “sayangnya aku tak selincah dan sehebat seseorang di sini.”
Di antara mereka, hanya Shen Mo yang mampu melukai katak itu secara nyata.
“Yang mampu harus bekerja lebih keras, sobat. Maaf ya, putaran berikutnya kamu yang maju lagi,” Kakak Hui tersenyum miring, ucapannya penuh percaya diri.
Tan Xiao tidak menyukai sikap Kakak Hui, namun saat ini memang hanya Shen Mo yang bisa diandalkan. Maka dengan setia ia menepuk bahu Shen Mo. “Putaran berikutnya aku akan membantumu!”
Wajah Shen Mo tetap datar, tanpa ekspresi.
Ia menggenggam pisau kecil, mengelap lendir di atasnya dengan lumpur dan air. Bau amis dingin yang menyebar itu tak berbeda dengan aroma katak biasa.
“Lapisan kulit katak sangat tipis, mudah terluka, tapi ototnya tebal. Pisau hanya bisa menusuk sedalam tertentu. Kalau ingin mengulur waktu dengan cara melukai katak, kita harus mencari titik lemahnya yang lain.” Setelah berkata demikian, ia mengangkat matanya perlahan. Sorot matanya yang hitam gelap seolah membawa tekanan, membuat orang lain tanpa sadar ingin menurut. Itulah wibawa yang tumbuh dari profesinya.
“Kita lakukan seperti sebelumnya. Begitu bola berhenti, segera bergerak. Yang takut mati, tetaplah di dalam cangkang siput. Tapi ingat, cangkang itu tak akan melindungi kalian selamanya.”
Wajah semua orang tampak suram.
“Kalau katak itu muncul tiba-tiba seperti tadi, bagaimana?” seseorang bergumam pelan.
Itulah yang paling ditakutkan semua orang. Katak itu muncul begitu cepat, tanpa peringatan, dan langsung menelan siapa saja dengan mulut lebarnya. Tak ada waktu untuk lari, apalagi mencari bola.
“Itu tidak akan terjadi lagi.”
Suara tiba-tiba terdengar. Semua orang mengenali suara itu milik Zhang Hua. Mereka menoleh ke arah suara, mendapati Zhang Hua tetap berdiam di dalam cangkang siputnya, tampak tidak berniat keluar. Dari dalam cangkang ia berkata pelan, “Tadi katak itu tidak mendapat serangga, jadi lapar, makanya putaran tadi ia muncul lebih cepat daripada sebelumnya. Untuk berikutnya…”
Ia terdiam sejenak, seperti tengah menghitung sesuatu. Lalu ia berkata lirih, “Kita sudah berkurang beberapa orang, jadi lain kali tidak akan seperti itu.”
Penjelasan itu terasa tidak nyaman, namun masuk akal.
Guru Cheng kembali bicara, “Saya juga rasa katak itu tidak akan tiba-tiba muncul lagi. Ia telah terluka, pasti jadi kurang gesit, bahkan mungkin tidak muncul sama sekali di putaran selanjutnya! Jangan biarkan kegagalan satu kali membuat kita gentar! Kita harus tetap maju, jangan pernah menyerah!”
Ucapan guru itu kerap membuat orang mendengus, namun tak urung menumbuhkan harapan.
Benar juga. Katak itu sudah terluka, siapa tahu ia ketakutan dan tak berani keluar lagi? Seberapapun besarnya, ia tetap seekor katak yang penakut.
Kakak Hui meludah dan menggeram, “Sialan, kita coba lagi saja! Masa sih bola itu susah sekali ditemukan?!”
Ekspresi yang lain bermacam-macam, ada yang tampak nekat, ada pula yang masih ragu.
Bai Youwei memandang ke arah cangkang siput tempat Zhang Hua bersembunyi, dalam hati penuh pertimbangan. Zhang Hua bukan orang berhati hangat, kenapa ia membantu Shen Mo membujuk semua orang untuk mencari bola bersama? Apa semata-mata karena tak tahan melihat sikap acuh para peserta lain sehingga merasa perlu bicara?
…Tidak. Jika ia memang setulus itu, tadi pasti sudah memberitahu cara menuntaskan permainan.
Tapi nyatanya ia tidak melakukannya.
Tentu saja, Bai Youwei pun tidak.