Bab 40: Orang-Orang Ini
Pada putaran sebelumnya, katak itu muncul hingga menghilang selama total tiga menit lima belas detik. Kali ini hanya empat puluh tujuh detik. Mengapa waktunya jadi lebih singkat? Apakah karena katak itu terluka sehingga pergi lebih awal? Jika memang begitu, itu berarti Shen Mo telah memberikan waktu tambahan dua setengah menit bagi semua orang untuk bernapas lega.
Suasana dalam gua sempat hening, ketegangan yang membatu perlahan mereda. Orang-orang yang terpendam di dalam lumpur mulai mengangkat kepala dengan hati-hati, sementara mereka yang bersembunyi di dalam rumah siput juga perlahan merangkak keluar. Semua orang menoleh ke kiri dan kanan, saling mencari kepastian—
Sekeliling tampak tenang. Tidak ada katak, tidak ada bola emas.
…Apakah mereka sudah benar-benar aman?
Tan Xiao menjadi orang pertama yang berdiri, matanya menyapu sekeliling. “Bola itu di mana? Kalau sekarang kita menemukan bolanya, masih dihitung nggak?”
“Barusan waktu katak itu menggali ke dalam lumpur, bolanya juga ikut terkubur,” sahut seorang pemuda di samping Bro Hui.
Tan Xiao mengenal pemuda itu, tubuhnya tinggi kurus seperti Bro Hui, kepala kecil, telinga besar, tangan dan kaki panjang, sehingga dijuluki Monyet. Ada lagi satu orang bertubuh pendek, dijuluki Si Kepala Batu.
Tan Xiao memanjangkan leher mencari-cari, lalu bertanya heran, “Si Kepala Batu ke mana?”
Wajah Bro Hui dan Monyet seketika berubah suram. Tan Xiao pun baru menyadari kebodohannya bertanya demikian, ekspresinya jadi kaku.
Di saat seperti ini, jika seseorang tidak lagi terlihat, selain dimakan katak, apa lagi penyebabnya?
Dan bukan hanya Si Kepala Batu yang jadi korban. Seorang wanita paruh baya tidak kuasa menahan tangis dan berkata, “Andai saja aku tidak keluar dari rumah siput, untuk apa pula mencari bola? Bukankah itu sama saja dengan mengantar nyawa… Kalau saja bukan demi membantu kalian mencari bola, suamiku tidak akan mati…”
Di sisi lain, seorang pria gemuk menimpali, “Kataknya muncul secepat itu, mana sempat menghindar! Katanya kerjasama, padahal cuma supaya kalian bisa jadi pahlawan sementara yang lain dijadikan umpan!”
Perkataan itu sungguh kejam.
Bai Youwei menatap mereka dengan dingin, alisnya terangkat, sorot matanya gelap. Orang-orang ini...
Saat ia dalam bahaya, para pecundang itu hanya berpura-pura tidur! Kalau mereka mati di sini, memang sudah pantas, tak layak menyalahkan orang lain!
“Apa otak kalian penuh kotoran?!” Tan Xiao melompat marah dan memaki, “Gua mati-matian cari bola itu supaya bisa jadi pahlawan?! Coba ulangi omonganmu tadi kalau berani!”
Si gemuk diam membisu, wanita itu terisak pelan.
Tan Xiao makin emosi, menunjuk mereka dan berkata, “Masih bilang demi bantu kami cari bola! Kalau nggak cari bola, kalian pikir bisa keluar dari sini hidup-hidup?! Gua kasih tahu! Tanpa bola, kita semua bakal mati di sini! Siap-siap aja mati!”
Ia melihat Pak Cheng Wei di sudut masih bergumam, rasa kesalnya memuncak dan ia membentak, “Hei, Kakek! Ngomong apa sih dari tadi?! Apa kau juga merasa kematian mereka salah kami? Hah?!”
Pak Cheng terkejut, buru-buru melambaikan tangan, “Tidak, tidak! Ini... memang harus ada yang jadi korban, karena kemunculan katak kali ini terlalu tiba-tiba. Rencana kita sebelumnya sudah sangat matang, seharusnya tidak ada masalah. Jika mau mencari siapa yang salah, mestinya katak dan permainan ini yang bertanggung jawab. Kehilangan orang yang kita sayangi wajar membuat emosi tidak stabil, itu bisa dimaklumi, bisa dipahami...”
Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan pelan, “Tadi aku sedang menghitung waktu. Kali ini katak muncul lebih cepat, pergi juga lebih cepat, jadi aku ingin menghitung-hitung…”
“Terus, sudah ketemu belum hasilnya?” Tan Xiao bertanya tak sabar.
Pak Cheng menggeleng malu, “Be...belum…”
Dahi Tan Xiao mengerut makin dalam, “Katanya guru!”
Pak Cheng menjawab, “Saya guru bahasa.”
Tan Xiao langsung kehabisan kata-kata.
Pada saat itu, Shen Mo yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, “Kali ini katak memang muncul sangat cepat. Kalau nanti juga begitu, rencana semula kita tidak akan berlaku lagi.”
Nada suaranya tenang, dingin, sama sekali tidak peduli pada kemarahan yang ditujukan padanya barusan.
Tan Xiao menggaruk-garuk kepala, kesal, “Katak ini seperti orang gila, siapa yang tahu kapan dia mau cepat, kapan dia mau lambat!”