Bab 76: Terima Kasih
Setelah mempertimbangkan berkali-kali, akhirnya Tu Dan memutuskan untuk menceritakan tentang permainan itu—
Hari itu, ia sedang mengajar di kelas ketika tiba-tiba bel berbunyi. Lalu, kepala sekolah berlari di lorong, memanggil semua orang untuk segera turun ke bawah, katanya telah terjadi sesuatu dan semua orang harus segera mengungsi.
Ia segera membawa para murid ke lapangan untuk berkumpul. Matahari sangat terik, para siswa tidak tahu apa yang sedang terjadi, mereka terus-menerus mengeluh.
Sambil menenangkan murid-muridnya, ia juga bertanya pada guru lain tentang apa yang sedang terjadi.
Kabar yang beredar, di pusat kota muncul kabut putih yang memangsa manusia, menyebar dengan sangat cepat, semua instansi sedang mengatur evakuasi orang-orang.
Mereka menunggu sekolah mengatur kendaraan untuk mengangkut para murid. Setelah sekian lama, beberapa bus akhirnya datang, tapi sebelum sempat naik, kejadian itu pun terjadi...
Termasuk dirinya, ada 36 guru dan murid yang tiba-tiba berada di atas sebuah roda raksasa.
Di roda itu, terdapat 36 kursi. Mereka terikat di kursi, pinggang, kaki, serta telapak kaki dibelenggu rantai, dan ada lingkaran logam aneh di leher mereka.
Ini adalah sebuah permainan bernama "Kuis Keberuntungan". Aturannya sangat sederhana, ada 36 soal, jika salah menjawab akan langsung mati, jika benar akan lanjut ke babak berikutnya, dan jika semua soal terjawab, maka permainan selesai.
Dari 36 orang, berkat usahanya, akhirnya hanya 17 yang selamat.
Namun, saat dalam perjalanan menuju tempat pengungsian, mereka tersesat ke dalam permainan memetik jamur, dan kembali kehilangan empat murid...
Tu Dan menceritakan semuanya secara gamblang.
Pada awalnya, ia merasa enggan saat menceritakan, namun ketika semua telah diceritakan, hatinya mendadak terasa jauh lebih ringan.
Tu Dan merasa lega, menghela napas, lalu berkata, "Tidak ada rahasia dalam menyelesaikan permainan ini, selama bekerja sama dengan baik dengan rekan tim, memilih soal yang sesuai dengan kemampuan masing-masing, peluang menjawab dengan benar akan sangat besar. Tapi kalau tanpa rekan tim... benar-benar hanya bisa mengandalkan keberuntungan, sesuai dengan nama permainannya, Kuis Keberuntungan."
Setelah selesai bicara, ia menatap orang-orang di ruangan itu, tersenyum tipis dan berkata, "Hanya itu yang saya tahu. Semoga bisa membantu kalian. Kalau begitu... silakan lanjutkan, saya tak ingin mengganggu."
Ia pun berbalik dan membuka pintu.
"Bu Tu," panggil Bai Youwei dengan nada pelan dan santai.
Tu Dan menoleh ke arah Bai Youwei.
Ia mulai menyadari, bahwa "gadis kecil cacat" di kelompok ini ternyata bukan sekadar sosok yang harus dilindungi dan dirawat, justru sebaliknya, posisinya sangat dominan, bahkan mungkin melebihi pria yang selalu diam itu.
"Bola emas katak, bagaimana cara menghitung titik pasti yang harus dilalui? Apakah Anda atau murid Anda yang bisa menghitung?" tanya Bai Youwei padanya.
Tu Dan sempat tertegun, lalu tersenyum tipis dan menjawab lembut, "Memang agak rumit, kami akan coba pikirkan lagi..."
Bai Youwei langsung memotong, "Kalau tidak bisa menghitung, perhatikan saja bagian dalam cangkang siput."
Tu Dan kembali terdiam.
Bai Youwei berkata lagi, "Semakin sering siput dipukul, saat tenggelam air lumpur akan masuk ke bagian lebih tinggi dan lebih kotor. Kalian cukup memilih siput dengan bagian dalam cangkang paling kotor, kemungkinan berhasil... sekitar dua puluh lima persen. Coba saja beberapa kali, pasti ada yang benar."
Tu Dan memandang Bai Youwei, hatinya dipenuhi perasaan campur aduk... ada keterkejutan, kehangatan, juga rasa malu entah dari mana.
Ia membuka mulutnya, tapi dari sekian banyak perasaan, akhirnya hanya terucap dua kata,
"Terima kasih."
Reaksi Bai Youwei jauh lebih dingin. Dengan malas menopang dagu, ia berkata, "Sama-sama."
...
Tu Dan pun pergi.
Begitu suara langkahnya menghilang di lantai atas, Shen Mo menatap Bai Youwei dengan senyum samar, "Kupikir kau akan memaksa dia mengungkapkan alat bantu, baru mau mengajari dia cara lolos dari permainan."
Permainan katak itu tak jauh dari Yangzhou. Selama Tu Dan cukup berani, ia bisa saja membawa murid-muridnya ke sana. Meski ada risiko, namun jika bisa mendapatkan lumpur yang mampu menyembuhkan segala luka luar, risiko itu layak dicoba.
Bai Youwei mengajarkan cara lolos pada Tu Dan, sama saja dengan menyerahkan lumpur itu ke tangannya.
"Tak perlu ditanyakan lagi," Bai Youwei menghela napas pelan, "...huh, daripada orang mengira aku mau berebut mainan dengan anak-anak, rasanya terlalu memalukan."