Bab 111: Jalan Menuju Akhir
Halaman (1/3)
Jarak menuju pintu keluar kian dekat, sementara jumlah boneka di belakang mereka semakin bertambah.
Ada ratusan Shen Mo, ratusan Bai Youwei, ratusan Tan Xiao, Cheng Weicai, Zhang Tianyang, Chen Hui, Yang Yi...
Setelah menyobek satu lagi poster, cermin memantulkan wajah boneka dirinya sendiri. Zhang Tianyang menyobek poster itu dengan cekatan, meremasnya menjadi gumpalan, lalu membuangnya. Ia sudah bisa melakukan hal itu dengan raut wajah yang mati rasa.
Usai melakukan semua itu, ia menoleh ke belakang.
Dikuti oleh begitu banyak... begitu banyak boneka, pemandangan itu sungguh luar biasa.
Chen Hui bertanya kepada Bai Youwei, "Mereka sepertinya tidak menyerang kita lagi, tapi mengapa mereka terus mengikuti kita?"
"Karena mereka juga ingin keluar..." Bai Youwei mencoret-coret kertas, menyisihkan rute yang tidak mungkin, "Labirin ini menjebak kita, sekaligus menjebak mereka."
Suaranya terhenti sejenak, ia mendongak lalu melanjutkan, "Mereka sebenarnya adalah kita juga, bentuk lain dari diri kita. Jadi, jika ingin keluar, kita harus merencanakan jalan yang bisa membawa mereka menuju pintu keluar."
"Aku mengerti." Chen Hui mengangguk, "Melalui pantulan dan pembiasan cermin, kita membuat boneka di dalam cermin bergeser posisinya, itulah sebabnya pintu yang memiliki cermin adalah pintu keluar yang sebenarnya."
Bai Youwei tidak mengiyakan atau menolak, ia kembali mencoret jalur di kertasnya lalu meluncurkan kursi rodanya ke depan.
Chen Hui menyusul dan bertanya, "Kapan kau menyadarinya?"
"Tadi pagi."
"Tadi pagi?"
Halaman (2/3)
"Ya." Bai Youwei mengangguk, "Tadi pagi kita pergi ke pintu keluar dan memastikan bahwa cermin di sisi pintu tidak memantulkan bayangan kita. Bukan hanya itu, cermin di bagian luar lorong pintu keluar juga tidak memantulkan bayangan. Kemudian, saat berjalan kembali, aku mencoba memutar balik logika tersebut dan mendapati bahwa di sepanjang jalan kembali, ada cermin yang bisa memantulkan bayangan, namun ada pula yang tidak. Jika pintu keluarnya sudah benar, maka satu-satunya masalah terletak pada jalur yang kita tempuh."
Ia berhenti sejenak, menatap ke depan, lalu melanjutkan, "Nanti saat sampai di pintu keluar, jika cermin bisa memantulkan bayangan kita dengan lancar, itu berarti cara kita saat ini sudah benar."
"Bagaimana jika masih tidak muncul?" tanya Zhang Tianyang.
Bai Youwei tertegun sejenak, lalu menatapnya dan berkata:
"Kalau begitu, tunggu saja ajal menjemput."
Zhang Tianyang: "..."
Tan Xiao merangkul bahunya dengan penuh simpati, matanya berkata tanpa suara: Tetaplah semangat!
Guru Cheng di sampingnya menghela napas, "Sejak zaman dahulu, orang-orang memuja labirin, menganggap bahwa seluruh kehidupan manusia ibarat sebuah labirin. Hanya melalui perjalanan pencarian yang penuh liku-liku, seseorang bisa mengucapkan selamat tinggal pada kemunafikan dan dosa, serta menemukan jati diri yang sesungguhnya. Jika dilihat dari sudut pandang itu, permainan labirin ini sebenarnya dari awal sudah mengingatkan kita untuk menghadapi sisi terang dan gelap diri sendiri dengan benar, agar tidak ditelan oleh iblis dalam hati."
"Ini hanyalah permainan yang merasa paling benar sendiri, mana mungkin ada filosofi agung yang sehebat itu?" Bai Youwei mencibir, "Kalaupun ada, itu hanyalah cara labirin ini untuk memoles dirinya sendiri agar terlihat hebat."
Ia berjalan sendirian di barisan paling depan, nada bicaranya yang dingin mengandung penghinaan, "...Lagipula, apakah harus mengucapkan selamat tinggal pada kemunafikan dan dosa, atau apakah harus menemukan jati diri yang sesungguhnya, itu semua urusanku sendiri, bukan urusannya!"
Mendengar hal itu, perasaan mereka menjadi rumit.
Mereka kembali menoleh ke belakang, menatap boneka-boneka tersebut.
Boneka-boneka itu memiliki wajah yang sama dengan mereka, mengikuti dari jarak yang tidak terlalu jauh maupun dekat, ada yang menangis, tertawa, marah, atau merajuk, seolah-olah mereka tidak akan pernah bisa terlepas darinya...
Halaman (3/3)
Mereka adalah boneka itu, dan boneka itu adalah mereka.
Di dalam labirin ini, mereka tak lebih dari sekadar boneka yang dipermainkan oleh aturan permainan.
"Sudah sampai."
Gadis di atas kursi roda di depan berhenti, lalu tersenyum tanpa kehangatan, "Kita sudah sampai."
Semua orang melangkah maju dengan ragu, berbelok, dan melihat pintu yang menuju ke arah keluar.
Mereka juga melihat cermin di kedua sisi pintu.
Cermin itu memantulkan bayangan mereka—kali ini, mereka adalah sosok yang nyata, manusia yang hidup dengan darah dan daging.
Shen Mo seolah merasakan sesuatu, ia tiba-tiba berbalik.
Yang lain pun ikut menoleh ke belakang.
Boneka-boneka yang tadi mengikuti mereka dan memenuhi seluruh lorong, semuanya telah lenyap.