Bab 128: Wu Lili Terluka
Halaman (1/3)
Pak Cheng baru terbangun dari tidurnya pada pukul lima sore.
Ia merasa sangat tidak nyaman akibat mabuk. Setelah bangun, ia meminum beberapa gelas air hangat hingga kondisinya membaik. Saat melihat Tan Xiao dan Shen Mo sudah mengemasi barang bawaan mereka, ia pun sadar bahwa mereka tidak berniat untuk tinggal lebih lama di tempat ini.
Pak Cheng berpikir sejenak, lalu mencari Tan Xiao, Shen Mo, dan Bai Youwei untuk berdiskusi, "Lingkungan di tempat Paman Zhao ini cukup baik dan tergolong aman. Bagaimana jika saya tetap tinggal di sini saja..."
Ia memperhatikan ekspresi mereka satu per satu, lalu menjelaskan perlahan, "Usia saya sudah tidak muda lagi. Meskipun saya ingin membantu, saya tidak bisa memungkiri terkadang justru menjadi beban bagi kalian. Jadi, mungkin lebih baik saya tinggal di sini untuk membantu Paman Zhao. Bagaimana menurut kalian?"
Tan Xiao secara naluriah menatap Bai Youwei. Wajah Bai Youwei tampak datar tanpa ekspresi. Tan Xiao kemudian menatap Shen Mo. Ekspresi Shen Mo juga terlihat tenang.
"Keputusan ada di tangan Anda, kami tidak keberatan. Namun, Anda tidak perlu merasa menjadi beban bagi siapa pun. Sepanjang perjalanan ini, Anda sudah banyak membantu dan menjaga kami," ujar Shen Mo.
Tan Xiao mengangguk setuju, "Betul sekali! Sebagai kawan, kita berbagi suka dan duka bersama. Bagaimana bisa ada istilah siapa membebani siapa? Jika begitu, di mana letak kesetiaan kita?"
Hati Cheng Weicai merasa terharu, namun di balik rasa haru itu, ia juga merasa bimbang.
Halaman (2/3)
Ia telah melakukan perjalanan bersama mereka. Meskipun waktu kebersamaan mereka belum lama, mereka telah melalui hidup dan mati bersama, sehingga ikatan persaudaraan mereka tentu sangat dalam. Namun... selama perjalanan di labirin, ia tidak mendapatkan potongan teka-teki. Jika mereka kembali menghadapi permainan, ia khawatir akan menghambat langkah mereka.
Saat sedang ragu, tiba-tiba terdengar keributan dari luar.
Terdengar orang-orang berteriak dan langkah kaki yang berlari kencang di lorong.
Shen Mo membuka pintu dan mereka semua bergegas keluar. Terlihat Zhang Qi sedang menggendong pemandu wisata wanita masuk ke lobi hotel. Rekannya yang berada di sampingnya berteriak panik, "Xiao He! Xiao He, cepat kemari! Lili terluka!"
Seorang wanita paruh baya bergegas keluar dari kamarnya sambil membawa kotak P3K. Dalam beberapa menit, lobi hotel sudah dipenuhi banyak orang.
Mereka mengerumuni pemandu wisata wanita yang terluka itu. Paman Zhao segera datang setelah mendengar keributan dan bertanya kepada wanita paruh baya tersebut, "Ada apa dengan Lili?"
"Kakiku! ... Kakiku sakit sekali! ..." Pemandu wanita itu meringkuk kesakitan sambil memegangi lututnya. Tidak terlihat darah, namun celananya penuh dengan lumpur.
"Belum diketahui dengan pasti," jawab wanita paruh baya itu dengan raut wajah kesulitan. "Rasa sakitnya begitu hebat, kemungkinan besar itu patah tulang. Saya tidak bisa menanganinya, dan di sini juga tidak ada peralatan untuk melakukan pemeriksaan!"
Begitu ia mengatakan hal itu, kerumunan orang seketika berdesah. Semua orang tahu, dalam situasi minim tenaga medis dan obat-obatan seperti sekarang, meskipun patah tulang tidak mengancam nyawa, mobilitasnya di masa depan pasti akan sangat terganggu.
Di tengah kerumunan, tatapan mata Zhang Qi yang mendampingi pemandu wanita itu sempat beradu dengan rombongan Shen Mo, lalu mereka segera memalingkan wajah.
Halaman (3/3)
Paman Zhao mengatur agar pemandu wanita itu dibawa kembali ke kamarnya dan meminta dokter untuk memasang bidai. Dokter wanita ini dulunya bekerja di klinik komunitas dan hanya menangani penyakit ringan seperti sakit kepala atau sakit perut. Ia hanya bisa mencoba menangani cedera pemandu wanita itu sebisanya.
Shen Mo dan Bai Youwei kembali ke kamar mereka.
"Cedera Wu Lili ini kemungkinan besar ada hubungannya dengan Zhang Qi," ujar Bai Youwei dengan nada mengejek, "hanya saja tidak tahu apakah dia bekerja sama secara sukarela atau dijebak oleh Zhang Qi."
Shen Mo tertegun sejenak, "Siapa pemandu yang kau maksud?"
Reaksinya berhasil membuat Bai Youwei merasa puas.
"Benar, kau tidak tahu namanya ya?" Bai Youwei tersenyum manis, "Xiao Wu, Lili, Wu Lili. Semua orang memanggilnya begitu saat di meja makan tadi."
Shen Mo mengernyitkan dahi, lalu berkata, "Dia tidak mengalami patah tulang."
"Bagaimana kau tahu?" Bai Youwei berkedip dengan heran, "Dia terlihat sangat kesakitan."