Bab 35: Merasakan Penderitaan yang Sama
Halaman (1/3)
Di ruang belajar, Zheng Fa membuka sampul kitab *Tubuh Bangau Sakti*. Di telinganya seakan masih terngiang ucapan terakhir Pelatih Xu, yang sulit ditebak emosinya,
“Jangan belajar dariku.”
Sebenarnya, bahkan tanpa mendengar kisah hidup Pelatih Xu, Zheng Fa merasa dirinya tidak akan menyia-nyiakan separuh hidup demi kitab *Tubuh Bangau Sakti* ini.
Sebab, demi memasuki Sekte Keabadian, ia sudah memiliki pilihan yang lebih baik: menjadi ahli jimat.
Bagi Pelatih Xu, *Tubuh Bangau Sakti* adalah satu-satunya kesempatan untuk melampaui batas manusia biasa. Wajar jika ia sulit melepaskannya.
Namun, menurut perkataan Tuan Muda Ketujuh, menjadi ahli jimat juga memberikan kesempatan untuk memasuki Sekte Keabadian.
Alasan terbesar yang membuat Zheng Fa tidak memandang *Tubuh Bangau Sakti* sepenting Pelatih Xu sebenarnya adalah sikap Nyonya. Setelah Zheng Fa hanya menunjukkan sedikit bakat sebagai ahli jimat, bahkan berhasil menguraikan dua jimat primordial paling sederhana, Nyonya langsung menghadiahkan *Tubuh Bangau Sakti* kepadanya. Hal itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa di mata Nyonya, metode menapaki jalan keabadian melalui bela diri ini jauh lebih rendah dibandingkan bakat Zheng Fa sebagai ahli jimat—bahkan lebih rendah daripada dua jimat primordial paling sederhana itu.
Ada pula satu hal lain yang membuat Zheng Fa semakin meragukan jalan menuju keabadian melalui bela diri.
Kalau berlatih *Tubuh Bangau Sakti* saja sudah cukup untuk memasuki Sekte Keabadian, lalu mengapa Tuan Muda Ketujuh bersusah payah meneliti diagram jimat?
Pasti ada sesuatu yang tidak diketahui Pelatih Xu.
Namun, semua pemikiran itu tidak menghalangi ketertarikan Zheng Fa terhadap ilmu bela diri legendaris dari dunia persilatan ini.
Di sampingnya, Tuan Muda Ketujuh ikut mendekatkan kepala dan membaca kitab rahasia *Tubuh Bangau Sakti* bersama Zheng Fa.
Baru membaca dua halaman, Tuan Muda Ketujuh sudah mengernyitkan dahi.
“Orang ini banyak sekali omong kosongnya.”
Zheng Fa mengangguk. Ia belum tahu seberapa hebat ilmu bela diri itu, tetapi ia sudah memahami betapa narsisnya sang penulis.
Kitab *Tubuh Bangau Sakti* terdiri atas empat jilid. Zheng Fa semula mengira semuanya berisi ilmu bela diri, tetapi jilid pertama—yang juga paling tebal—ternyata sepenuhnya merupakan kata pengantar pribadi sang penulis!
Dengan ocehan panjang lebar, orang itu menuliskan seluruh perjalanan hidupnya secara terperinci dalam kata pengantar.
Ia mengaku awalnya adalah seorang pendekar, lalu memasuki Sekte Keabadian, tetapi tetap menyukai ilmu bela diri. Karena itu, ia menciptakan *Tubuh Bangau Sakti* dan berharap generasi setelahnya dapat mengembangkannya lebih jauh.
Sebagian besar isinya hanyalah pujian terhadap dirinya sendiri: betapa tinggi pencapaiannya dalam bela diri, betapa ia dihargai di Sekte Keabadian, serta betapa luar biasanya teknik yang ia ciptakan.
“Jangan-jangan dia menciptakan teknik ini hanya karena ingin orang-orang mendengarkan bualannya?” ujar Tuan Muda Ketujuh sambil mengusap dagu.
Anehnya, Zheng Fa merasa anggapan bahwa orang itu memberikan ilmu bela diri sebagai imbalan karena orang lain mau mendengarkan bualannya cukup masuk akal.
Ia membolak-balik beberapa jilid berikutnya. Di luar dugaan, ilmu bela diri yang tercatat dalam jilid kedua adalah *Posisi Cemara-Bangau*, teknik yang sudah dikuasai Zheng Fa. Jadi, inikah alasan Nyonya menyuruhnya mempelajari *Tubuh Bangau Sakti*?
Karena ia menunjukkan bakat tertentu dalam *Posisi Cemara-Bangau*?
Ia melewati jilid kedua dan menatap jilid ketiga serta keempat.
Jilid keempat berisi suatu teknik bela diri bernama *Tangan Bangau Sakti Menembus Awan*. Menurut isi kitab, kekuatannya sangat besar, tetapi teknik itu bukan inti dari *Tubuh Bangau Sakti*.
Hanya jilid ketiga, yang pada sampulnya tertulis *Sutra Hati Bangau Sakti*, yang merupakan inti sari teknik tersebut.
Namun, ketika Zheng Fa membuka jilid ketiga, tanpa sadar ia langsung mengernyitkan dahi. Tuan Muda Ketujuh di sampingnya juga memasang wajah kebingungan, lalu bergumam,
“Ini gambar makhluk apa?”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Di halaman kitab, tergambar sesosok makhluk tak dikenal yang memiliki kepala dan tubuh manusia, dua sayap tumbuh dari tulang belikatnya, sementara bagian bawah tubuhnya berupa sepasang kaki bangau. Tubuhnya diselimuti bulu, dan ia sedang melakukan berbagai pose yang sama sekali tidak dapat dipahami. Tidak ada penjelasan atau catatan apa pun.
Zheng Fa menatapnya cukup lama, tetapi tetap tidak menemukan petunjuk apa pun. Ia tidak berkecil hati. Ilmu bela diri yang selama dua puluh tahun tidak berhasil dipahami Pelatih Xu, tentu saja wajar jika tidak dapat ia mengerti dalam waktu singkat.
……
Di kediaman kecil Nyonya, Tuan Muda Ketujuh menyingkap tirai dan melangkah masuk dengan langkah lebar.
“Wah? Lihat siapa yang datang?” Wajah Nyonya dihiasi senyum mengejek. “Tamu langka, rupanya!”
Wajah Tuan Muda Ketujuh memerah.
“Datang menjenguk Ibu, bukankah itu sudah seharusnya?”
“Seharusnya? Selama beberapa tahun terakhir, siapa yang terus menghindariku?”
“Aku bukan…”
“Sudahlah. Kau tidak pernah datang tanpa tujuan. Kalau ada urusan, katakan saja.”
“Beberapa hari ini aku ingin mempelajari *Tubuh Bangau Sakti*, tetapi sama sekali tidak mengerti isinya. Ibu tahu rahasianya?”
“Kau ingin mempelajarinya?” Nyonya mengangkat alis, menatap putranya. “Bukankah *Tubuh Bangau Sakti* sudah kuberikan kepada Zheng Fa?”
“Aku ini seorang tuan muda. Kalau aku ingin melihat dan mempelajarinya, memangnya dia bisa melarang?” Tuan Muda Ketujuh memasang wajah angkuh.
“Benarkah?”
“Aku hanya berpikir, si bodoh Zheng Fa itu tidak akan berhasil mempelajarinya bagaimanapun juga. Kalau ada rahasianya dan aku berhasil memahaminya, aku bisa membuatnya kesal sampai mati!” kata Tuan Muda Ketujuh setelah berdeham.
“Begitu rupanya…” Nyonya mengangguk, seolah-olah sudah diyakinkan.
“Ibu? Di mana rahasianya?”
“Rahasia?” Nyonya menepuk dahinya, lalu berkata, “Sepertinya aku pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa pencipta teknik ini pernah berkata: seluruh rahasia untuk menguasai *Tubuh Bangau Sakti* terdapat dalam jilid pertama.”
“Sungguh?”
“Memangnya Ibu akan membohongimu?”
“Ibu, aku masih ada urusan. Aku pergi dulu!”
Tuan Muda Ketujuh langsung berbalik dan berlari pergi. Nyonya menatap punggungnya yang menjauh dengan senyum penuh makna.
……
“Zheng Fa! Ibuku bilang, kalau ingin menguasai *Tubuh Bangau Sakti*, kita harus membaca jilid pertama!”
Tuan Muda Ketujuh menerobos masuk dan berkata dengan penuh semangat.
“Tuan Muda pergi bertanya kepada Nyonya?” Zheng Fa bertanya, agak terkejut.
“Kami hanya mengobrol santai. Kebetulan pembicaraannya sampai ke sana.” Tuan Muda Ketujuh melambaikan tangan. “Cepat keluarkan jilid pertama. Kita pelajari baik-baik.”
Zheng Fa melirik Tuan Muda Ketujuh, lalu mengeluarkan jilid pertama *Tubuh Bangau Sakti*.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Gao Yuan berdiri jauh-jauh. Ia sengaja tidak ikut melihat *Tubuh Bangau Sakti*, tetapi matanya tetap mengarah ke sana dengan penuh rasa ingin tahu.
Zheng Fa dan Tuan Muda Ketujuh membaca jilid pertama dengan teliti dari awal hingga akhir. Keduanya sama-sama mengernyitkan dahi.
Ini hanyalah sebuah autobiografi biasa. Bahkan karena penulisnya berasal dari kalangan pendekar dan tampaknya tidak pernah mengenyam pendidikan yang layak, alurnya terasa klise dan membosankan.
“Jangan-jangan ada pesan rahasia?” tebak Tuan Muda Ketujuh.
Zheng Fa menggeleng.
“Bukan tidak mungkin. Namun, kalau memang pesan rahasia, setidaknya kita harus mengetahui polanya.”
Mendengar itu, Tuan Muda Ketujuh juga tidak menyerah. Ia menarik Zheng Fa dan membolak-balik kitab tersebut berkali-kali, berusaha menemukan suatu pola.
Setelah sekian lama, Tuan Muda Ketujuh membanting kitab itu dengan marah dan mulai menyerang pribadi sang penulis *Tubuh Bangau Sakti*.
“Buku macam apa ini! Bahkan cerita picisan kelas rendahan pun lebih bagus!”
“Aku hampir muntah membacanya!”
“Orang ini benar-benar tidak punya kesibukan lain! Katanya mendaki Gunung Seribu, mengamati seribu bulu, lalu memperoleh ilmu warisan tiada tara. Kalau punya waktu sebanyak itu, kenapa tidak belajar sedikit? Belajar bagaimana cara menulis buku!”
Zheng Fa menggelengkan kepala dan merapikan kitab yang tergeletak di atas meja. Namun, dalam hati ia juga terpaksa mengakui bahwa dari kitab ini benar-benar tidak terlihat sedikit pun petunjuk tentang cara berlatih.
Di samping mereka, Gao Yuan melihat raut wajah keduanya yang agak muram. Tanpa sadar, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.
Tuan Muda Ketujuh melihat ekspresinya dan bertanya,
“Apa yang kau tertawakan?”
“Tidak ada apa-apa.” Gao Yuan menggeleng.
“Jangan-jangan kau merasa senang karena bahkan aku, sang tuan muda, dan Zheng Fa, yang lebih berbakat darimu, tidak dapat memahaminya?”
Wajah Gao Yuan memerah. Dengan suara kecil, ia mengakui dengan jujur,
“Latihanku juga sedang tidak berjalan lancar akhir-akhir ini. Sekarang kelihatannya, kita semua kurang lebih sama…”
Zheng Fa cukup memahami Gao Yuan. Gao Yuan adalah tipe orang yang suka membandingkan diri dengan orang lain, mudah terpengaruh, dan juga sangat mudah cemas.
Bahkan Zheng Fa yakin Gao Yuan tidak memiliki niat buruk terhadapnya. Menyebutnya iri pun rasanya terlalu berlebihan.
Namun, menurut pengamatan Zheng Fa, ketika seseorang gagal dalam ujian, tidak ada penghiburan yang lebih ampuh daripada melihat lembar jawaban sahabatnya yang juga tidak lulus.
“Kurang lebih sama?” Tuan Muda Ketujuh melirik Gao Yuan. “Kau sudah menguasai *Posisi Cemara-Bangau*?”
“Masih sedikit lagi.”
“Kalau begitu, kau belum berhasil menguasai *Posisi Cemara-Bangau*, sedangkan dia belum berhasil menguasai *Tubuh Bangau Sakti*. Itu sama saja seperti satu orang gagal menjadi sarjana tingkat pemula, sementara yang lain gagal menjadi juara ujian kekaisaran.” Wajah Tuan Muda Ketujuh menunjukkan kebingungan yang tulus sekaligus menusuk hati. “Kau dan dia… benar-benar merasa senasib?”
Senyum perlahan menghilang dari wajah Gao Yuan, lalu muncul di wajah Tuan Muda Ketujuh yang menyebalkan itu.
Halaman (3/3)