Bab 33: Sumpah Persaudaraan
Halaman 1 dari 3
“Kak! Benarkah kamar ini nanti seluruhnya menjadi milikku?”
Ceng Shan bertanya dengan linglung kepada Ceng Fa. Senyumnya mengembang hingga ke telinga, seolah-olah ia masih tak percaya pada pengaturan yang baru saja dibuat oleh kakaknya.
“Kenapa? Tidak berani tidur sendirian?” goda Ceng Fa sambil tersenyum.
“Berani!” jawab adiknya cepat.
Rumah baru mereka di kediaman keluarga Zhao sebenarnya tidak bisa dibilang besar. Namun, dibandingkan rumah tanah yang mereka tempati sebelumnya, tempat ini terasa begitu mewah.
Di halaman kecil yang langsung menghadap pintu masuk, terdapat sebuah kamar di masing-masing sisi. Ceng Fa berencana menjadikannya dapur dan gudang kayu bakar.
Rumah utama memiliki empat ruangan. Ruang tengah yang terletak tepat di bagian depan tentu saja tidak dihitung.
Dari tiga kamar yang tersisa, Ceng Fa bermaksud memberikan satu kamar untuk setiap anggota keluarga mereka.
Hal itu membuat Ceng Shan sangat gembira. Ia menarik telunjuk Ceng Fa dan mengajaknya melihat kamar miliknya.
Dengan sungguh-sungguh, ia mengangguk. “Kamar baruku indah sekali!”
Ceng Fa melongok ke dalam. Kamar itu kosong melompong. Selain debu yang memenuhi lantai, tidak ada apa pun di sana.
Ia benar-benar tidak tahu dari mana adiknya bisa melihat keindahan kamar tersebut.
“Adikmu masih kecil. Lebih baik kamar ini dijadikan ruang bacamu,” ujar Ibu Ceng setelah ragu sejenak. “Sekarang kau adalah juru tulis Tuan Muda. Belajar adalah hal penting. Adikmu tetap tidur bersamaku saja.”
Mendengar itu, Ceng Shan menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa. Bibir mungilnya mengerucut, membuatnya tampak sangat sedih.
Ceng Fa tahu bahwa selama ini Ceng Shan sebenarnya agak tersiksa tidur bersama ibu mereka. Sejak ayah mereka meninggal, Ibu Ceng terlalu banyak bekerja dan tidak tahan begadang. Tidurnya pun ringan. Sementara itu, Ceng Shan memiliki tenaga yang tak ada habisnya dan biasa tidur larut, tetapi ia juga anak yang berbakti serta tahu bagaimana menyayangi ibunya.
Setiap kali sang ibu tertidur, gadis kecil itu tidak berani bergerak sedikit pun karena takut membangunkannya. Bagi anak yang aktif dan lincah seperti dirinya, hal itu sungguh menyiksa.
Itulah sebabnya, sebelum pindah ke rumah baru, keinginan terbesar Ceng Shan adalah memiliki ranjang sendiri.
“Adik memang masih kecil sekarang, tetapi ia toh akan tumbuh besar. Karena kita punya kamar lebih, biarkan ia tidur di sana. Dengan begitu, kelak kita tidak perlu repot memindahkannya lagi,” kata Ceng Fa kepada ibunya.
Kepala adiknya langsung terangkat. Ia menatap Ceng Fa sambil menyeringai lebar.
Melihat Ibu Ceng hendak membantah, Ceng Fa segera melanjutkan, “Aku harus belajar. Di kelas Guru Shen maupun di ruang baca Tuan Muda Ketujuh, aku bisa belajar. Kalau sudah pulang, memangnya aku tidak bisa belajar di ruang tengah?”
“Ini… Kulihat setelah Wang Gui mulai bersekolah, keluarga Pengurus Wang juga menata sebuah ruang baca. Katanya, orang yang belajar seharusnya memiliki ruangan khusus untuk menyimpan buku.”
Ceng Fa mengibaskan tangan sambil tertawa. “Pelajar yang buruk biasanya banyak perlengkapan… Ehm, maksudku, buku yang hanya diletakkan di rak tidak ada gunanya. Yang penting, buku itu tersimpan di dalam kepala.”
“Tapi…”
“Ibu, dia bahkan sudah belajar sampai ke Menara Asap dan Hujan, sampai-sampai posisi ayahnya sebagai pengurus pun hilang. Kalau kita mau menirunya, tirulah hal-hal yang baik.”
“Benar juga!”
Berkat Wang Gui, Ibu Ceng kini menjadi sangat mudah diyakinkan…
Halaman 2 dari 3
Ceng Shan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan bersorak, “Ibu! Aku mau menata kamarku sendiri!”
“Kalau begitu, bersihkan sendiri,” kata Ibu Ceng sambil tersenyum melihat putrinya begitu gembira.
“Aku akan menyapu sendiri! Kamar Kakak juga akan kusapu, kamar Ibu juga!”
Ibu dan anak itu tertawa riang. Kepala mereka berdempetan saat mulai berbisik-bisik membicarakan bagaimana sebaiknya perabot yang dikirim Pengurus Gao ditata. Ceng Fa menatap posisi matahari, lalu berkata kepada mereka, “Ibu, kalian bicarakan dulu. Aku harus pergi berlatih bela diri di tempat Pelatih Xu.”
Ibu Ceng melambaikan tangan tanpa menoleh sedikit pun kepada Ceng Fa. Ia sepenuhnya larut dalam kegembiraan menata rumah baru, membuat Ceng Fa merasakan kepahitan seperti anak yang kehilangan kasih sayang ibunya.
…
Di sebuah ruangan di tempat latihan, Pelatih Xu mengelus-elus beberapa kitab tebal di hadapannya sembari menghela napas panjang.
Wajahnya yang kasar dan gagah justru dipenuhi kesedihan yang begitu lembut.
Murid kecil Pelatih Xu, yang juga merupakan keponakan dari garis keluarga yang sama, datang dan melihat ekspresi gurunya. Ia tak kuasa menahan diri untuk bertanya dengan cemas, “Paman Besar, ada apa?”
“Ah, Nyonya mengirimkan kitab Tubuh Bangau Spiritual. Itu berarti aku harus mengajarkannya kepada bocah Ceng Fa.”
“Tubuh Bangau Spiritual!” Keponakan Pelatih Xu berseru kaget. Ia memandang buku di tangan pamannya. Benar saja, di sampulnya tertulis tiga kata besar: Tubuh Bangau Spiritual.
Tatapannya seketika terpaku. “Paman Besar, bolehkah aku melihatnya?”
“Kau mau mati? Aku sudah mengabdi kepada keluarga Zhao selama dua puluh tahun sebelum akhirnya mendapatkan penghargaan dari Nyonya dan diizinkan mempelajari Tubuh Bangau Spiritual ini. Sayangnya…”
“Paman baru mendapatkan hak itu setelah dua puluh tahun,” ujar keponakannya dengan suara sedikit dipelankan. “Bukankah Nyonya agak pilih kasih?”
“Diam! Nyali kalian semakin besar saja. Memangnya kau berhak menggunjing Nyonya?”
Pelatih Xu menepuk kepala keponakannya dengan keras.
Keponakannya mengusap kepala sambil meringis. “Aku hanya merasa tidak adil karena melihat Paman menghela napas seperti itu!”
Wajah Pelatih Xu tampak sedikit membaik. Ia berkata, “Bukan karena itu. Aku… Bukankah sebelumnya aku ingin menerima Ceng Fa sebagai murid?”
“Sekarang sudah tidak bisa!” Keponakannya langsung mengerti.
“Benar. Sekarang dia telah memperoleh perhatian Nyonya. Mana mungkin aku punya muka setebal itu? Apa yang akan dipikirkan Nyonya tentangku?” Pelatih Xu mengangguk. “Hanya saja, seharusnya sejak awal aku sudah membicarakan soal menerima murid dengannya.”
“Kalau Paman mengatakannya lebih awal, sekarang dia pasti sudah menjadi adik seperguruanku!”
“Meski akhirnya dia tidak jadi berguru kepadaku, jika aku mengatakannya lebih awal, setidaknya kita bisa menjalin hubungan baik!”
Pelatih Xu tampak sangat menyesal. Ia tidak menyadari bahwa keponakannya memutar bola mata, lalu diam-diam berjalan keluar dari tempat latihan.
…
Ketika Ceng Fa tiba di pintu tempat latihan, ia melihat seorang pemuda sedang berjongkok di sana seperti tengah menunggu seseorang. Wajah pemuda itu terasa agak familiar. Sepertinya ia adalah salah satu orang yang berdiri di sisi Pelatih Xu pada pertemuan sebelumnya.
Ceng Fa menghentikan langkah, memberi hormat tipis kepadanya, lalu bersiap masuk.
Pemuda itu tiba-tiba melompat berdiri. Dengan wajah penuh kegembiraan, ia berkata hangat, “Saudara Ceng!”
“Hm?” Ceng Fa kembali menghentikan langkah dan menatapnya dengan bingung. “Siapakah Anda?”
“Kita pernah bertemu sebelumnya! Pelatih Xu adalah paman besarku.”
“Saudara Xu, ada urusan apa mencariku?”
“Tidak ada urusan besar!”
Pemuda itu maju dan dengan penuh semangat menarik lengan Ceng Fa. “Meskipun pertemuan kita sebelumnya berlangsung singkat, sejak saat itu aku merasa kita seperti sahabat lama yang baru bertemu. Kali ini kita bahkan kebetulan berjumpa lagi di sini. Sungguh takdir yang luar biasa!”
Ceng Fa melirik dua cekungan dangkal di tanah yang terbentuk akibat pemuda itu berjongkok. Ia sedikit memundurkan kepala untuk menghindari percikan ludah yang keluar bersama semangat lawan bicaranya.
“Memang sungguh suatu kehormatan.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mengangkat sumpah persaudaraan?”
Belum selesai kalimat itu diucapkan, Ceng Fa melihat pemuda tersebut mengeluarkan sebuah tempat dupa dari lokasi ia tadi berjongkok. Tiga batang dupa ditancapkan di atasnya, sementara tiga utas asap putih mengepul perlahan ke udara.
“Ini… bukankah agak terburu-buru?”
“Orang bijak berkata, pertemuan singkat pun dapat melahirkan persahabatan mendalam. Begitulah perasaanku saat bertemu dengan Saudara Ceng.”
Karena pemuda itu begitu bersemangat dan tidak pantas menolak orang yang datang dengan senyum tulus, Ceng Fa hanya bisa berkata dengan halus, “Soal mengangkat sumpah persaudaraan, rasanya tidak perlu. Bagaimana kalau dalam keseharian kita cukup saling memanggil sebagai saudara?”
“Begitu…” Melihat Ceng Fa tampaknya tidak terlalu bersedia, keponakan Pelatih Xu itu juga merasa tidak pantas memaksa. Ia hanya bisa mengangguk dengan berat, lalu berkata penuh ketulusan, “Ingatlah, di dalam hatiku aku sudah menganggapmu sebagai adik sendiri, Adik Ceng!”
“Saudara Xu, aku masih ada urusan. Aku pergi dulu!”
Ceng Fa segera melarikan diri.
Pemuda itu masih berdiri di tempat sambil berteriak, “Lain kali kita berbincang lagi tentang kasih sayang persaudaraan kita!”
…
Ceng Fa memasuki tempat latihan dan menemukan ruangan Pelatih Xu.
Ia melihat Pelatih Xu berdiri di dalam ruangan dengan tangan di belakang punggung. Tatapan sang pelatih yang biasanya setajam mata harimau kini berkaca-kaca, wajahnya penuh perasaan, seolah-olah sedang memandang seorang sahabat lama.
“Pelatih?” tanya Ceng Fa dengan hati-hati.
“Ceng Kecil, tahukah kau hari apa ini?”
“Memangnya hari apa?”
“Ketika masih kecil, aku memiliki seorang adik kandung. Hubungan kami sangat dekat, tetapi sayangnya ia meninggal muda. Hari ini adalah hari peringatannya…”
Ceng Fa berkata dengan suara rendah, “Pelatih, turut berduka.”
Pelatih Xu mengusap wajahnya, lalu berkata, “Terus terang, sejak pertama kali melihatmu, aku sudah merasa kau sangat mirip dengan adikku yang meninggal muda itu.”
“…”
“Mari kita mengangkat sumpah persaudaraan!”
“Tunggu dulu. Kenapa kalimat ini terdengar begitu familiar?”
Ceng Fa menatap meja dupa di belakang Pelatih Xu, lalu mengernyitkan dahi.
Halaman 3 dari 3