Bab 136: Tenggelam (Bagian Kedua)
Bailan merasa bahwa kristal berbentuk rombus berwarna biru redup dengan ukuran setengah meter itu adalah benda yang ingin digunakan oleh para monster laut untuk memicu bencana laut. Ia harus merebut benda itu.
Kristal tersebut diletakkan tepat di dekat kepala seekor monster laut berbentuk ular yang ukurannya begitu masif bagaikan sebuah gunung kecil. Bailan merasakan aura yang sangat mengerikan dari monster laut raksasa ini, dan ia merasa ini adalah monster laut terkuat yang pernah ia lihat.
Monster laut berbentuk ular ini memiliki tubuh gemuk raksasa sepanjang ratusan meter, dengan tekstur kulit yang sangat mirip seperti bebatuan. Di bagian kepalanya terdapat ratusan celah menyerupai mata, tetapi semuanya telah mengalami degenerasi hingga tidak bisa digunakan lagi.
[Apakah ini penguasa Laut Abdimulia? Penguasa di antara sekumpulan monster laut raksasa yang sangat mengerikan.]
Setiap monster laut raksasa merupakan makhluk yang sulit untuk dihadapi oleh Bailan, namun monster berwujud ular ini jauh lebih kuat satu tingkat daripada monster laut raksasa lainnya.
Makhluk paling kuat yang pernah Bailan lihat adalah Qiyan, anak dari Naga Api Lelakuh. Monster laut ular ini tampaknya bahkan lebih kuat daripada Qiyan, dan Bailan bahkan meragukan apakah makhluk ini memiliki kekuatan yang bisa menyaingi Naga Lelakuh.
Bailan merasa dirinya akan tewas dalam satu serangan saja oleh monster laut ular ini, namun ia harus merebut kristal itu dari makhluk semacam itu.
[Apakah aku bisa melakukannya?... Meskipun tidak bisa, aku tetap harus melakukannya. Aku hanya punya kesempatan ini.] Ia menyemangati dirinya sendiri di dalam hati.
Yang membuat Bailan merasa cemas adalah monster laut ular ini sama sekali tidak melancarkan serangan kepadanya. Selain itu, karena ia mendekati monster laut ular ini, monster-monster laut lainnya tampak mengurungkan niat untuk menyerangnya, seolah-olah mereka merasa takut kepada sang monster ular.
Bailan sedikit tidak memahami situasi ini. Monster laut ular itu jelas-jelas sedang sadar, tetapi mengapa ia tidak menyerang?
Ia merasa monster laut ular ini mungkin meremehkan dirinya.
[Diremehkan pun tidak apa-apa, aku sama sekali tidak ingin diserang olehnya.] Bailan tidak marah karena direndahkan, ia justru memanfaatkan kesempatan ini untuk mengamati monster laut ular tersebut.
Mengandalkan cahaya dari kristal itu, Bailan melihat beberapa batuan aneh di sekitar monster laut ular. Batuan-batuan ini sangat kuno, mirip seperti reruntuhan roh pohon bawah laut yang pernah ia lihat sebelumnya, hanya saja batuan di sini jauh lebih hancur dan purba.
Batuan-batuan ini tampak tidak memiliki nilai guna, sehingga Bailan memilih untuk mengabaikan benda-benda tersebut dan memikirkan cara dengan mengandalkan kemampuannya sendiri.
Semakin lama ia tinggal di sini, semakin besar pula dampak buruknya bagi tubuhnya. Jika terus begini, bahkan tanpa serangan dari monster laut lain pun, ia akan kehabisan tenaga hingga tewas secara perlahan.
Bailan akhirnya memutuskan untuk bertaruh sekuat tenaga, menggunakan kekuatan terbesarnya untuk menjatuhkan kristal itu.
Ia memejamkan kedua matanya, mulai memusatkan konsentrasi, dan menggunakan Mantra Bahasa Naga.
Apa yang dilakukan Bailan ini adalah perjudian nyawa. Ia bertaruh bahwa monster laut ular itu tidak akan menyerangnya, dan bertaruh bahwa monster laut lainnya akan merasa gentar pada si ular sehingga tidak berani menyerang... Jika taruhannya meleset, artinya adalah kematian.
Ia mulai merapal Mantra Bahasa Naga. Bailan merasakan darah naga di dalam tubuhnya bergejolak, dan sebuah bayangan semu muncul di dalam benaknya.
Pada mulanya, hanya permukaan tubuh Bailan saja yang memancarkan cahaya.
Kemudian, aliran air di sekitar Bailan mulai mengalami perubahan, bergejolak tanpa henti seolah-olah merespons bahasa naganya.
Bailan merasakan bayangan semu di dalam kepalanya menjadi semakin nyata, namun hingga akhir ia tetap tidak dapat melihat secara jelas wujud dari bayangan tersebut.
Rapalan Mantra Bahasa Naga telah selesai.
Bailan membuka kedua matanya. Auranya telah berubah sepenuhnya. Seandainya Geran berada di sini, ia pasti akan merasa bahwa Bailan adalah ras naga yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Misterius sekaligus anggun, sama sekali tidak tampak seperti makhluk dari dunia ini.
Pada saat inilah, monster laut ular itu akhirnya menunjukkan reaksi. Ia mengangkat kepalanya yang besar dan menerkam ke arah Bailan.
Gerakannya langsung menimbulkan gelombang lumpur dan pasir yang masif di dasar Laut Abdimulia. Kekuatan dari serangan kilat ini mampu meremukkan Bailan dalam sekejap.
Menanggapi terjangan monster laut ular itu, sebuah peluru air yang tampak sangat bersahaja meluncur membalas.
Sifat bersahaja itu hanya bertahan sesaat. Begitu peluru air tersebut bersentuhan dengan monster laut ular, peluru air itu berpencar dan berubah menjadi bilah-bilah air yang tak terhitung jumlahnya. Bilah-bilah air itu mengiris kulit luar monster laut ular dan langsung memukulnya mundur.
Bailan sama sekali tidak percaya bahwa ini adalah kekuatannya sendiri; ia tidak pernah bisa melakukan hal semacam ini sebelumnya.
Namun, ia langsung menyadari apa yang harus ia lakukan sekarang. Memanfaatkan momen saat monster laut ular itu terdorong mundur, ia menyambar kristal biru redup tersebut dan langsung kabur menuju permukaan laut dengan kecepatan penuh.
Tindakan ini benar-benar memicu kemarahan seluruh monster laut raksasa. Bahkan monster-monster laut raksasa yang tadi sedang tidur pun ikut terbangun dan melancarkan serangan ke arah Bailan.
Entah dari mana Bailan mendapatkan kelincahan itu, ia berhasil menghindari satu demi satu serangan tersebut.
Para monster laut mengeluarkan raungan. Raungan yang mengerikan ini membuat telinga Bailan tuli seketika, rasa sakitnya bahkan membuat kesadarannya menjadi kabur.
Meskipun demikian, Bailan tetap berlari mati-matian menuju permukaan laut.
Ia sangat tahu bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan. Jika ia gagal, maka kematian yang menjemput... dan bencana laut pun tidak akan bisa dicegah.
Namun pada saat ini, pendengaran Bailan hilang sepenuhnya, sementara rasa arah dan penciumannya menjadi kacau balau.
...Bailan kehilangan arah.
Di permukaan laut,
Geran merasa sangat ketakutan.
Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam Laut Abdimulia, tetapi pusaran air yang sangat besar tiba-tiba muncul di permukaan laut, menampilkan pemandangan yang berbahaya sekaligus tidak wajar.
"Apakah Bailan gagal?" Geran memandangi pusaran air itu dengan cemas, merasa bahwa dirinya mungkin sudah harus melarikan diri. Sirip air di punggungnya juga tidak menyisakan banyak durasi lagi. Jika ia kabur sekarang, ia mungkin masih bisa mencapai pulau karang yang agak jauh.
Tidak ada tanda-tanda Bailan akan kembali.
"Urusan ini memang sejak awal penuh dengan marabahaya... Gagal pun adalah hal yang wajar," ucap Geran dengan nada patah semangat. Walau begitu, setelah berinteraksi selama sekian hari, di lubuk hatinya Geran tetap menganggap Bailan sebagai seorang sahabat baik.
Nasi sudah menjadi bubur, Geran hanya bisa memilih untuk berbalik dan pergi. Namun, ketika ia benar-benar hendak melangkah pergi, ia justru tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
"Ada apa ini, aku sampai dibuat ketakutan seperti ini? Nyaliku ternyata sangat kecil ya."
Meskipun berkata demikian, Geran sangat memahami di dalam hatinya bahwa ia tidak sanggup meninggalkan Bailan yang telah menyusup ke dasar Laut Abdimulia begitu saja.
"Anggap saja ini demi meyakinkan diriku sendiri, biarkan aku melakukan sesuatu lagi."
Geran sangat sadar bahwa Bailan telah menyelamatkannya berkali-kali. Sekarang mungkin adalah saat baginya untuk menyelamatkan Bailan dan membalas budi.
"Lampu pemandu, ya?" Ia terbang ke bagian dasar pusaran air dan mengulurkan cakar depannya ke dalam.
Geran mengubah seluruh energi cahaya bintang yang ia simpan menjadi kekuatan penerangan. Sebuah gumpalan cahaya pun muncul di dalam cakar depannya.
"Ini tidak akan cukup untuk menerangi, kan?"
Tanpa disadari, Geran membentangkan kedua sayapnya, dan sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya terpancar dari sayap tersebut.
Saat ini sudah mendekati waktu pergantian siang dan malam, di mana gugusan bintang menjadi sangat redup. Namun, pada saat ini, Geran justru merasa bahwa energi cahaya bintang tersebut jauh lebih kuat daripada waktu-waktu sebelumnya.
Gumpalan cahaya itu membesar, berubah menjadi bulatan cahaya dengan diameter lebih dari sepuluh meter.
Bulatan cahaya ini sama sekali tidak memiliki fungsi lain selain memancarkan cahaya.
"Apakah ini benar-benar akan berguna?" Geran merasa sangat ragu, tetapi ia tidak menghentikan tindakannya. Pada saat ini, banyak air laut yang terciprat ke sirip airnya.
Air laut di Laut Abdimulia ini sedang melarutkan kekuatan pada sirip airnya. Tanpa ia sadari, sirip air itu pun lenyap.
Geran merosot tenggelam ke dalam air laut, sensasi dingin langsung menyelimutinya. Kendati demikian, Geran tetap tidak menghentikan pancaran cahayanya.
[Apakah aku sudah gila? Aku pasti sudah gila sejak tiba di dasar pusaran air ini, bukan?]
Geran berpikir demikian, tetapi di lubuk hatinya sama sekali tidak ada rasa penyesalan. Ia merasa situasi ini sangat tidak biasa.
[Apakah otakku sedang dikendalikan oleh sesuatu yang brengsek?]
Ia jatuh ke dalam Laut Abdimulia dan terus merosot turun. Geran tidak menyangka dirinya akan mati dengan cara seperti ini... hanya karena sesaat kehilangan akal sehat dan bertindak gegabah.
Tepat pada saat itu, Geran merasakan hawa dingin dari air laut Laut Abdimulia digantikan oleh sesuatu yang lain. Sebagai gantinya, muncul sebuah perasaan yang terasa begitu akrab.
Bailan menggunakan mantra bola air untuk membawa Geran keluar dari permukaan laut. Saat meninggalkan permukaan laut, ia berkata kepada Geran dengan suara yang terdengar lelah, "Terima kasih atas cahayamu... Ayo pergi, misi kita sudah selesai."
Bailan melilitkan ekornya dengan erat pada kristal biru redup tersebut, berhasil membawa kristal itu keluar.