Bab 14: Kelaparan Hingga Memakan Rumput
Melihat bahwa penguatan membutuhkan konsumsi poin evolusi, Garan pun mengurungkan niatnya. Setidaknya, ia memutuskan untuk menahan diri sampai menjelang evolusi. Bagaimanapun, peningkatan itu baru akan berlaku setelah evolusi, jadi cepat atau lambat hasilnya sama saja. Jika ia menghabiskan poin evolusi sekarang dan ternyata nanti membutuhkannya untuk hal lain, itu pasti akan merepotkan.
Garan merasa bahwa hampir semua hal kini memerlukan poin evolusi: evolusi itu sendiri, pengambilan bakat dari kumpulan bakat, hingga penguatan bakat. Ia hanya berharap kebutuhan itu tidak semakin bertambah. Dulu, ia mengira 576 poin evolusi sudah cukup untuk membuatnya hidup tenang cukup lama, tapi kini ia sadar, jika sedikit saja lengah, semua itu bisa habis dalam sekejap. Ia pun harus benar-benar bijak dalam memutuskan penggunaannya.
Garan mematikan sistem, berniat mencari makan dan mengumpulkan poin evolusi, sekaligus mencari tempat perlindungan. Ia perlu menemukan tempat yang cukup aman sebelum berevolusi, serta menyimpan makanan di dalamnya untuk menghadapi rasa lapar setelah proses evolusi nanti.
Namun, ia merasa sebaiknya ia tidur sejenak di atas pohon sebelum melakukan semua itu. Setelah beristirahat, barulah ia akan melanjutkan usahanya.
Saat terbangun, waktu telah menjelang sore. Ia turun perlahan dari pohon dengan malas, lalu meregangkan tubuhnya yang kaku. Merasakan perutnya yang lapar, ia memutuskan segera mencari makan.
Garan berjalan ke tepi sebuah sungai kecil yang ia temukan saat menjelajahi lingkungan semalam. Di sana, ada ikan dan udang yang berenang. Ia ingin mencoba menangkap beberapa ekor, bukan hanya untuk mengisi perut, tapi juga menambah ragam makanannya, sekaligus mengumpulkan poin evolusi.
Ia memilih tempat dengan air dangkal dan arus yang relatif tenang, merasa di sana tak akan ada ikan besar, tetapi ia juga tak ingin nekat ke arus deras dan terbawa hanyut. Ia memasuki sungai, merasakan airnya yang dingin dan dasar sungai yang berlapis batu kerikil licin akibat arus.
Sambil menatap batu-batu di kakinya, pikirannya melayang. Ia sama sekali tak punya pengalaman menangkap ikan dengan tangan kosong—kalau memancing dengan alat, ia pernah, tapi detailnya sudah samar, apalagi sekarang ia tidak mungkin bisa membuat alat pancing. Namun, ia yakin bisa mencobanya. Toh, dulu ia pun belum pernah menangkap burung dan baru-baru ini berhasil juga, meski kadang burung yang tertangkap pun agak bodoh.
Di sekelilingnya, ikan-ikan kecil sesekali melintas mengikuti arus, namun Garan sama sekali tak berhasil menangkap makhluk-makhluk lincah itu. Dengan kedua cakar, ia menyapu air, tapi hanya bisa melihat ikan dan air lolos di antara celah cakarnya. Saat mencoba menggigit langsung, hanya air sungai bercampur pasir yang masuk ke mulutnya.
Ternyata, menangkap ikan dengan tubuh kadal tidak berjalan semudah bayangannya.
“Ikan-ikan kecil ini bahkan tak cukup untuk mengisi sela gigi. Apa benar aku harus bersusah payah di sini?” pikir Garan.
Namun, ia merasa sebaiknya tetap bertahan. Siapa tahu, jika ia berhasil menangkap banyak, akan muncul misi seperti “jagoan penangkap ikan” atau “kadal besar melahap ikan kecil”.
Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya ia berhasil menangkap seekor ikan kecil. Namun, saat dipegang, ikan itu meloncat dan terlepas dari cakarnya.
...
Garan menatap ikan yang terbawa arus, merasa seolah-olah tengah ditertawakan. Ia semakin enggan menyerah, tak mau mengakui kekalahan pada makhluk-makhluk kecil ini. Kali ini, jika berhasil menangkap ikan, ia akan melemparkan langsung ke darat tanpa basa-basi, tak akan memberi kesempatan untuk kabur.
Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya ia berhasil melempar seekor ikan ke tepi sungai. Ikan kecil itu tergeletak lemas di rumput, berusaha kembali ke air. Namun, Garan tak berminat berbelas kasihan. Ia langsung menggunakan cakarnya yang tajam untuk memutus kepala ikan, mengakhiri hidupnya. Ia bersihkan duri utama, lalu memasukkan daging ikan ke mulut.
Aroma amis langsung tercium, tekstur dagingnya lembut. Sejujurnya, rasanya biasa saja—tidak enak, tapi juga tidak menjijikkan. Ia membuka sistem, menerima tambahan dua poin evolusi, tetapi tidak ada misi “jagoan penangkap ikan”.
Garan menatap matahari yang semakin condong ke barat, merasa waktunya terbuang sia-sia. Ikan sekecil itu bahkan tak cukup untuk mengobati rasa lapar, justru setelah merasakan darah ikan, perutnya semakin keroncongan.
Tak ada pilihan lain, ia harus mencari makanan lain untuk mengenyangkan perut.
Namun, nasibnya hari itu kurang baik, ia hanya menemukan beberapa serangga kecil untuk dijadikan camilan. Tanpa sadar, ia kembali ke tepi sungai. Rasa lapar membuatnya mencium harum rumput liar yang tumbuh subur di sana, hingga terlintas di benaknya bahwa rumput itu pasti enak jika dimakan.
Ia teringat beberapa hari lalu, saat kelaparan, ia pun pernah memandangi kulit pohon dengan tatapan serupa, tapi hasilnya kulit pohon sama sekali tidak enak. Namun, ia berpikir kembali.
“Daun-daun rumput ini tampak lembut, meskipun tidak enak, pasti lebih mudah dikunyah daripada kulit pohon.”
Garan pun mulai tergoda, mendekati rumput tinggi itu. Namun, saat hampir menyentuh daun, ia mulai ragu.
“Meski kelihatannya biasa saja, jangan-jangan rumput ini beracun?”
Ia pun hanya memandangi dari dekat cukup lama, sampai akhirnya melihat burung-burung datang dan memakan rumput itu. Barulah ia berani mencoba. Ia mematahkan beberapa helai, memasukkannya ke mulut.
Rasanya manis sekaligus sepat, secara keseluruhan agak hambar, tapi karena itu juga mudah diterima. Tidak terlalu buruk, jadi ia memutuskan untuk makan rumput itu dulu agar perutnya terisi, berharap tidak sampai sakit perut.
Sambil mengunyah rumput, Garan merasa hidupnya semakin menyedihkan setelah berevolusi. Setidaknya, sebelum berevolusi, ia masih bisa kenyang hanya dengan serangga setiap hari.
Ia menggelengkan kepala, berpikir, “Kalau tidak berevolusi, sekarang aku masih harus khawatir jadi mangsa burung mana saja. Dibanding itu, lebih baik sedikit rakus.”
Ia menatap ke langit.
“Dan kalau ingin kembali ke kampung halaman, satu-satunya cara yang terpikir sekarang hanyalah para Naga Leluhur yang disebut Red, mereka punya cara membuka gerbang langit dan pergi ke dunia lain. Untuk itu, aku harus menjadi sangat kuat, bahkan melebihi Red.”
Mengingat hal itu, ia pun merasa sedikit putus asa. Kekuatan dirinya dan Naga Merah Red bagaikan langit dan bumi.
“Kapan aku bisa cukup kuat? Kapan aku bisa pulang? Anak ini sungguh durhaka, bukan hanya tak bisa pulang, bahkan nama orang tua pun tak bisa diingat.”
Garan mulai meragukan apakah kenangan sebagai manusia itu nyata, jangan-jangan ia memang hanya seekor kadal dengan gangguan otak.
“Masa iya? Kalau aku benar-benar seekor kadal, imajinasi seperti ini terlalu hebat.”
Namun, ia tetap yakin bahwa ingatannya nyata, bahwa di kehidupan sebelumnya ia memang seorang manusia.
Sambil mengunyah daun rumput dan melamun, ia makan hingga hampir enek, lalu berhenti. Ia menatap daun-daun rumput dan sungai kecil itu, muncul ide lain di benaknya.
Ia ingat dalam beberapa novel yang pernah dibaca, sering ada benda ajaib di dekat sumber air. Mungkin saja, sumber sungai ini juga menyimpan sesuatu yang luar biasa? Lagi pula, di dunia ini ada naga dan raksasa, benda ajaib di sumber air pun tak aneh. Kalaupun tidak, bisa sekalian memetakan lingkungan.
Ia merasa layak untuk dicoba, lalu berjalan menyusuri sungai ke hulu. Semakin ke atas, ia makin merasa ada sesuatu yang istimewa dalam aliran sungai ini. Bahkan, suara dalam kepalanya mulai terdengar lagi.
Semakin menuju sumber air, pepohonan di sekitarnya semakin rapat dan subur. Garan sadar ia sudah mendekati pusat hutan, ia pun jadi lebih waspada.
Ia ingat, dalam novel, biasanya benda ajaib dijaga bahaya yang sepadan. Tanpa benda itu pun, tempat ini adalah lokasi unggulan, pasti ada makhluk kuat yang mengincarnya.
Tumbuhan di sepanjang sungai semakin unik, daunnya berkilau terkena sinar mentari senja, menunjukkan vitalitas luar biasa.
Garan merasa aroma rumput itu makin menggoda, ia pun menggigit sehelai daun. Begitu digigit, cairan manis harum langsung memenuhi mulutnya.
Rasanya memang berbeda dari rumput sebelumnya. Ia memeriksa sistem dan menemukan bahwa rumput ini memberinya satu poin evolusi—pertama kalinya ia mendapat poin evolusi dari tumbuhan.
Tumbuhan ini jelas istimewa.
Ia pun makan hingga setengah kenyang, menyisakan ruang di perut kalau-kalau nanti menemukan benda ajaib. Jika itu makanan, akan sangat memalukan jika perut sudah penuh.
Garan melanjutkan perjalanan ke hulu. Dari kejauhan, ia melihat sosok putih, segera bersembunyi di balik pepohonan dan mengintip diam-diam.
Yang dilihatnya adalah seekor kuda putih bertanduk tunggal.