Bab 72 Menjadi Naga Pengabdi
Setelah Gran selesai membicarakan soal urusan pengganti Kepala Lembah, Ston sama sekali tidak bersuara lagi.
Ia teringat pada reaksi Allen tadi.
Ia menduga Ston pun merasa dirinya akan menyerahkan jabatan itu padanya, jadi ia berpura-pura mati.
Gran berseru pada Ston, “Ston, santailah, aku bukan datang untuk menyerahkan jabatan padamu, aku hanya datang untuk bekerja.”
“Benarkah itu?” Barulah Ston mau bersuara.
Sial, ternyata memang karena ini. Tiga naga ini sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab untuk memegang jabatan! Gran mengeluh dalam hati, padahal dirinya sendiri juga tak mau bertanggung jawab.
“Benar.”
Ston bicara lagi, “Aku tidak percaya! Kau harus bersumpah tidak akan pernah membicarakan soal ini lagi.”
Gran merasa naga tua ini benar-benar merepotkan.
Ia pun berkata tenang, “Aku bersumpah, mulai sekarang aku tidak akan pernah membicarakan soal menjadikanmu pengganti Kepala Lembah.”
Lalu dalam hati ia menambahkan: Kalau tidak, aku bukan manusia sekarang.
Barulah Ston percaya, kepalanya pun muncul dari dalam tanah.
Dengan nada serius ia berkata, “Ada urusan apa denganku?”
Namun Gran tidak lupa pada tingkah tidak serius naga tua itu tadi.
“Aku ingin membicarakan soal pengganti Kepala Lembah...”
Mendengar ‘pengganti Kepala Lembah’, kepala Ston jelas-jelas mundur ke belakang.
Gran lalu memperbaiki ucapannya.
“... Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau tetap tinggal di Lembah Naga?”
Ston menghela napas lega, lalu tertawa, “Oh, jadi itu yang kau tanyakan. Aku tinggal di Lembah Naga, tentu saja karena tempat ini cocok untuk beristirahat.”
“Apa yang cocok...” Gran merasa jenis naga kebanyakan gaduh seperti Allen.
Dengan nada rendah, Ston berkata, “Sangat cocok, lingkungan di sini sangat bagus. Selama ada Naga Merah Reed, tidak akan terjadi masalah besar. Meski dia tidak ada, naga yang berisik pun akan segera lenyap, hanya tinggal satu ekor saja.”
“Itu memang benar...” Gran merasa tekanan makin berat. “Jadi kau takkan pergi, kan?”
“Mungkin saja, ngomong-ngomong, kenapa kau menanyakan ini?” Ston penasaran.
Gran menjawab asal, “Membantu mengatasi masalah para naga, agar mereka mau tetap tinggal di Lembah Naga.”
“Oh, jadi sekarang aku juga boleh mengajukan permintaan?” Mata Ston tampak sedikit tersenyum.
Gran menyesal telah menjelaskan pada Ston, andai tidak, ia tak perlu membantunya.
“Pengganti Kepala Lembah, bisakah kau memberiku sedikit daging kemarin? Aku ingin mencicipinya lagi.” Ston berkata sangat sopan, ia merasa daging yang dimasak itu sangat unik.
“Baiklah.” Kebetulan Gran juga ingin makan.
Memasak daging baginya tidaklah sulit, hanya saja butuh tenaga.
Gran meminta Naga Merah membantu menangkap beberapa rusa di Lembah Naga.
Ia mengolah dan memanggang daging rusa itu, lalu memakannya bersama Reed dan Ston.
Gran merasa daging rusa panggang jauh lebih enak daripada daging pterosaurus panggang.
Daging rusa mentah dan matang itu pun mengenyangkan perutnya.
Gran bertanya pada Ston, “Sudah puas?”
“Lumayan. Daging ini tak bisa memuaskan nafsu makanku, tapi cukup untuk menghilangkan keinginan makan enak.” Ston memuji, “Sudah lama aku tak makan senikmat ini, semua berkatmu, Pengganti Kepala Lembah Black, kami memang tak salah memilih naga.”
Gran malah berharap mereka salah pilih naga.
Ston melanjutkan, “Tentu saja aku juga tidak sekadar meminta. Black, karena kau sudah memenuhi permintaanku, kau juga boleh mengajukan permintaan, akan kuusahakan untuk membantumu.”
Gran cukup menyukai sifat Ston yang seperti ini.
Namun untuk saat ini ia belum punya permintaan, kalaupun ada, pasti permintaan yang tak bisa diutarakan.
“Nanti saja kalau begitu.”
“Suka-suka kau, toh hari ini aku akan tetap terjaga.”
Ston memandang langit, perlahan berkata, “Hari ini malam bulan purnama, sudah lama aku tak mengalaminya, aku harus melihat bulan malam ini.”
Naga Merah berkata, “Itu karena kau, tua bangka, selalu tidur.”
“Memangnya kenapa kalau tidur? Siapa pun perlu tidur. Lagipula aku sudah tua, tubuhku lemah, butuh istirahat lebih lama. Tak seperti kalian para naga muda yang penuh energi.” Ston sengaja memakai nada tua dan lelah.
Naga Merah langsung membongkar.
“Omong kosong, naga berdarah Titan seperti kau setelah dewasa memang dasarnya pemalas. Tua dan lemah apanya, kurasa kau masih bisa hidup ribuan, bahkan puluhan ribu tahun lagi.”
Gran langsung tertarik.
“Ngomong-ngomong, Ston, Reed pernah ingin membawa pulang seekor naga setengah berdarah Titan.”
“Benarkah?”
“Benar, tapi ia dibunuh oleh roh pohon.” Naga Merah menceritakan kejadian naga Vyandia pada Ston.
Gran merasa agak gelisah.
Ia khawatir Ston akan marah besar karena kematian sesama naga.
Namun Ston berkata, “Makhluk itu... benar-benar bodoh, rasanya lebih bodoh dari Allen. Berani-beraninya menantang Naga Merah Reed, benar-benar cari mati, kalau aku pasti langsung melarikan diri. Kalau makhluk seperti itu dibawa pulang, mungkin juga tak akan hidup lama.”
Gran bertanya, “Kenapa?”
Ston menjawab terus terang, “Naga setengah itu terdengar sangat berisik, aku atau Allen pasti akan membunuhnya.”
“Begitu ya...” Gran juga tidak bersimpati pada naga Vyandia yang ingin membunuhnya, ia hanya berharap jangan sampai dirinya jadi naga yang dibunuh Ston.
“Naga Merah Reed, kalau kau bisa membawa lebih banyak naga seperti Black ke Lembah Naga, pasti populasi naga di sini akan bertambah.”
Naga Merah menolak, “Itu tidak bisa, naga seperti Black sangat langka. Pernah kulihat satu yang mirip, tapi sayangnya dia menolak datang.”
“Siapa? Bukannya kau biasanya langsung memukul dan membawanya kemari?” Ston mengejek.
Naga Merah menjelaskan, “Dia bukan Allen, kenapa harus diperlakukan seperti itu? Dia itu naga hijau yang pernah kubicarakan padamu sebelumnya, sekarang urusannya sudah selesai.”
Ston pernah mendengar soal Pegunungan Abu-abu, ia terkejut dan berkata, “Titan di kaki gunung itu sudah kalian kalahkan?”
Naga Merah berkata bangga, “Benar, lebih tepatnya aku mengalahkannya sendiri.”
“Kau ternyata sekuat itu?” Ston memang tidak tahu pasti kekuatan Naga Merah, hanya tahu dia sangat kuat.
Naga Merah mengepalkan cakar depannya, ujung kukunya menyala api.
Dengan tenang ia berkata, “Biasa saja, kurasa aku belum mencapai batas.”
“Kau memang monster...” Ston menoleh ke Gran. “Apakah semua anak Naga Pertama sekuat ini?”
“Aku tidak, aku lemah,” Gran buru-buru menyangkal.
Ston curiga, “Kau merendah?”
Gran balik bertanya, “Menurutmu aku terlihat demikian?”
“Terlihat sekali.”
“...”
Gran pun butuh waktu menjelaskan pada Ston bahwa dirinya memang tidak kuat.
Setelah itu, bersama Naga Merah, ia kembali ke gua tempat tinggal mereka.
Gran bertanya, “Kakak Reed, kenapa kau ingin mengumpulkan naga-naga di Lembah Naga?”
Naga Merah menjelaskan, “Itu ide yang sudah ada sejak lama, sekarang aku sendiri nyaris lupa alasannya. Sekarang yang kuingat hanya ingin agar lebih banyak naga terhindar dari bahaya tertentu, agar bisa tetap hidup.”
“Bahaya apa?”
“Aku sudah lupa.”
“Hhh...” Gran mendesah, hatinya terasa sangat tidak nyaman, seperti tertekan. “Terlepas dari bahaya apa pun itu, rasanya Lembah Naga juga tidak membuat lebih banyak naga bertahan hidup, justru beberapa kehilangan nyawanya.”
Naga Merah mengakui, “Memang bertolak belakang dari rencanaku, kupikir para naga itu bisa menjaga diri sendiri. Itulah sebabnya aku membutuhkanmu, Gran. Aku rasa Lembah Naga sangat membutuhkanmu.”
Gran menghela napas, “Aku? Aku biasa saja, apa yang bisa kulakukan pasti bisa dilakukan naga lain juga.”
“Jangan berpikir begitu, Gran. Oh iya, bantuan yang kau sebutkan untuk naga yang punya masalah, termasuk aku juga, kan?”
“Bisa dibilang begitu.”
Mata Naga Merah langsung berbinar-binar.
“Bagus, kalau begitu aku berharap kau mau menemaniku mencari naga-naga yang cocok dibawa ke Lembah Naga.”