Bab 21: Hutan di Puncak Gunung
Guli membawa Geland meninggalkan mata air, menapaki lereng gunung, hingga tiba di sebuah hutan kecil di puncak bukit. Geland merasakan bahwa tumbuhan di hutan ini tampak begitu istimewa, seolah-olah... memiliki jiwa tersendiri?
“Apakah tanduk yang patah disimpan di sini?”
Guli tidak menjawab pertanyaannya.
Dengan mata terpejam, Guli melantunkan kata-kata lirih yang tak dapat dipahami Geland. Ia menduga Guli sedang berbincang dengan roh-roh peri, sebab tempat ini pun tampak cocok sebagai hunian mereka.
Geland menunggu Guli selesai berdoa, lalu bertanya, “Apakah di sini juga ada peri?”
“Tidak ada, aku hanya sedang berbincang dengan sahabat lama,” jawab Guli.
“Sahabat lama?” Geland memandang sekeliling, namun tak melihat unicorn lain.
Tiba-tiba sebuah pemahaman muncul di benaknya. Ia teringat Guli pernah berkata bahwa tempat ini tak cocok untuk unicorn kecil. Apakah maksudnya memang itu?
“Tempat ini... jangan-jangan makam bangsa unicorn?”
“Benar.”
Pantas saja tumbuhan di sini terasa hidup, rupanya ini memang kuburan...
Geland tidak terlalu alergi pada hal-hal berbau arwah, hanya merasa agak canggung. Siapa sangka bangsa unicorn justru memilih tempat seindah ini sebagai pemakaman.
“Kalian bisa mendengar suara para arwah unicorn?”
“Tidak, kami hanya berharap mereka bisa mendengar kami.”
“Begitu ya...” Jika unicorn mampu mendengar suara arwah, Geland pasti akan sangat kagum pada mereka.
“Jadi, pecahan tanduk yang akan kau berikan padaku, itu peninggalan leluhurmu?”
“Tanduk yang utuh adalah lambang kehormatan seekor unicorn, sedangkan pecahan tanduk... itu hanya benda yang dulu pernah kuperintahkan untuk disimpan di sini, sekadar persediaan saja.” Dulu Guli juga menggunakan energi yang tersimpan dalam pecahan tanduk itu untuk berbagai keperluan, namun belakangan ia kehilangan minat.
“Begitu. Lalu, bagaimana cara mengambilnya?” Geland memandang sekitar, tidak menemukan wadah atau tempat penyimpanan.
“Pecahan-pecahan itu dulu kubenamkan di dalam tanah.”
“...Dalam tanah?” Geland agak terkejut.
Apa aku tidak salah dengar? Apakah aku akan diminta menggali kuburan para leluhur unicorn?
Sebenarnya Geland tidak terlalu keberatan, hanya khawatir Guli nanti menuduhnya menghina arwah leluhur, lalu menjadikan itu alasan untuk membunuhnya.
“Tidakkah kau khawatir aku keliru dan justru membongkar tulang belulang leluhurmu?”
Guli menanggapi dengan tenang, “Setelah unicorn mati, tubuhnya menyatu dengan alam dan hanya meninggalkan tanduk. Tak ada tulang belulang unicorn di makam ini, hanya tanduk-tanduk mereka.”
“Tanduk-tanduk itu pun akan terus melepaskan energinya ke dalam tanah, hingga akhirnya kembali menjadi bagian dari alam dan lenyap. Dengan begitu, unicorn yang telah tiada pun dapat beristirahat dengan tenang.”
Geland menatap hamparan rumput di bawah kakinya. Menurut Guli, di bawah tanah ini terkubur banyak tanduk unicorn yang utuh.
Jika dibilang Geland tidak tergoda, jelas bohong, tapi ia memilih menahan diri agar tidak menyinggung perasaan bangsa unicorn. Lagipula, ia bukan makhluk yang gemar menodai makam orang mati, bukan seperti naga batu.
“Jadi, di mana kalian menyimpan pecahan-pecahan itu? Jangan sampai salah gali dan mengganggu ketenangan para leluhurmu.”
“Benar, kau cukup berhati-hati,” puji Guli dengan puas, membuat Geland sedikit canggung. Sebenarnya ia hanya khawatir unicorn akan menggunakan alasan itu untuk mencelakainya.
Guli mengajak Geland berkeliling di antara pepohonan, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah batu besar.
“Pecahan tanduk itu terkubur di samping batu ini. Silakan gali sendiri.”
“Mengapa kau tidak membantuku?” Geland kembali curiga, khawatir Guli menjebaknya dengan sesuatu yang berbahaya di dalam tanah.
“Cakar milikmu jelas lebih handal untuk menggali daripada kuku-ku.”
“Baiklah, aku yang lebih muda harus hormat pada yang tua, biar aku yang kerja.” Geland menghela napas.
Guli tertawa senang, “Benar, kau jauh lebih berbakti daripada anak-anak muda di bangsaku.”
Geland malas menanggapi apakah itu pujian atau sindiran, dan mulai menggali tanah.
Ia menggali dengan sangat hati-hati, selalu waspada kalau-kalau ada bahaya tersembunyi di bawah.
Sejak tubuhku membesar karena evolusi, aku jarang menggali lubang, hingga kemampuanku jadi tumpul. Entah nanti, saat evolusi kedua, aku harus mencari tempat perlindungan seperti apa. Lubang yang terakhir aku gali terlalu sempit, hampir saja aku terkubur hidup-hidup. Kali ini harus cari tempat yang lebih luas dan aman.
Memikirkan itu, Geland sempat menghentikan aktivitasnya. Guli yang mengawasi bertanya, “Sudah ketemu?”
“Belum.” Geland melirik Guli, lalu mendapat ide dan kembali menggali.
Setelah sepuluh menit kerja keras, ia akhirnya menemukan apa yang dicari: beberapa pecahan kristal berkilau yang masih berlumur tanah—pecahan tanduk unicorn.
Sambil terengah, Geland mengomel, “Kalau tahu kuku tidak pandai menggali, mengapa kau kubur sedalam ini?”
Namun Guli tampaknya tidak mendengarkan. Ia hanya menatap pecahan-pecahan itu sambil berbisik, “Tak kusangka masih ada sebanyak ini. Kukira hanya tersisa empat atau lima.”
“Hah? Sebelum berangkat kau kira cuma ada empat-lima? Hanya mau memberiku sedikit itu? Sudahlah, tak apa. Yang penting semua pecahan ini milikku, kan?”
“Menurut perjanjian, memang begitu.”
“Baik, akan kukonsumsi di sini saja.” Geland mengambil satu pecahan, membersihkan tanahnya, dan hendak memasukkannya ke mulut.
“Makan?” Guli terkejut.
“Membawa pulang ke perkampunganmu merepotkan, tak ada kantong, masa harus kupungut satu-satu dengan cakar?”
Geland langsung memasukkan pecahan itu ke mulutnya.
Guli hanya bisa melongo melihat Geland mengulum pecahan tanduk hingga larut, lalu menelannya.
Tubuh Geland langsung bergetar, wajahnya menampakkan ekspresi bahagia.
“Luar biasa, benda ini sungguh hebat.”
Melihat Guli terpana, Geland baru sadar diri dan mencoba mengingat bagaimana ekspresinya barusan.
Kenapa rasanya aku seperti memakan sesuatu yang agak meragukan... Tanduk unicorn bukannya beracun, kan? Sejauh ini efeknya hanya membuat tubuhku lebih bertenaga.
“Kau benar-benar memakannya begitu saja?!”
“Kenapa? Tanduk unicorn beracun, ya?” Geland heran melihat reaksi Guli.
“Kukira kau akan memanfaatkannya untuk mantera naga, bukan langsung ditelan begitu. Tubuhmu kuat menahan itu?”
“Kurasa tidak masalah...” Geland jadi agak ragu, khawatir tubuhnya bermasalah karena makan sesuatu yang aneh.
Obat penguat saja bisa berbahaya, apalagi benda seperti tanduk unicorn yang efeknya sulit ditebak.
“Mungkin karena kau anak naga purba? Ya, memang, sebagai keturunan naga agung, melakukan hal seperti ini bukanlah hal aneh. Pantas saja aku tak sanggup menandingimu. Baiklah, kalau itu bisa membuatmu lebih kuat, bukan hanya pecahan di sini, aku akan bantu mengumpulkan seluruh pecahan tanduk milik bangsa kami untukmu.”
“Hah?” Geland agak tertegun.
Apakah aku baru saja dapat rejeki nomplok?
“Ini tak masalah? Aku bukan bagian dari bangsamu.”
Guli menjawab tegas, “Tak masalah, aku hanya berharap kau bisa menjadi sekutu paling dapat diandalkan bagi bangsaku.”
“Begitu, akan kupikirkan dulu. Sekarang biar kuhabiskan pecahan ini.” Geland enggan buru-buru menerima tawaran Guli, siapa tahu ada jebakan.
“Sudah lama aku tidak bertemu naga seperti dirimu, sangat berhati-hati. Bagus, sekutu yang seperti inilah yang paling bisa diandalkan.” Guli tampak semakin puas.
Geland merasa sedikit tak nyaman.
Apa naga di dunia ini semua bodoh, ya? Kenapa aku jadi merasa aneh sendiri...
Ia memutuskan mengabaikan Guli dan melanjutkan mengunyah pecahan tanduk, namun karena khawatir tubuhnya bermasalah jika makan terlalu banyak, ia hanya menambah dua pecahan lagi, lalu berniat membawa sisanya ke permukiman unicorn.
Guli meminta Geland meletakkan pecahan itu di punggungnya, lalu mereka turun gunung perlahan.
Saat kembali ke permukiman, matahari hampir tenggelam.
Geland meletakkan pecahan itu di dalam gua milik Guli, lalu berkata padanya, “Guli, bisakah aku menumpang di guamu untuk sementara waktu?”