Bab 113 Kehidupan Sehari-hari
Gran dan Red meninggalkan kawah gunung berapi, lalu kembali ke luar gurun.
Ia menoleh ke arah gunung berapi. Karena tak melihat para bawahan Bara Membara mengejar mereka, Gran bertanya dengan panik kepada Red, “Apakah mereka akan menepati kesepakatan?”
“Secara teori, seharusnya begitu. Bara Membara akan menepati sumpahnya.” Jarang-jarang Red tidak mencela kerabat sedarah musuh bebuyutannya itu.
“Semoga saja.” Setelah menjauh dari wilayah Bara Membara, naga Gran merasa jauh lebih lega, tetapi masih belum bisa benar-benar tenang. “Mari kita berangkat kembali ke Lembah Naga. Kita lihat siapa yang menyerang tempat itu.”
Red dan Gran berhasil kembali ke Lembah Naga.
Begitu mendekati Lembah Naga, Gran langsung mencium bau darah yang sangat pekat di udara.
“Mereka tidak mengalami luka parah, kan?” tanyanya cemas. Dari Ailun, ia mendengar bahwa tidak ada manusia kadal maupun naga yang tewas di Lembah Naga, tetapi luka-luka tampaknya tak terhindarkan.
Sementara itu, Red menoleh ke berbagai arah lalu berkata kepada Gran, “Sepertinya cap kekuatanku telah terpicu.”
“Oh, begitu. Ngomong-ngomong, Kak Red, bagaimana caramu merasakan kondisi cap kekuatan itu?”
Gran teringat bahwa tubuhnya juga memiliki cap kekuatan milik Red. Red pun dapat merasakan cap kekuatan Bara Membara. Ia ingin tahu bagaimana hal itu bisa dilakukan, sebab mungkin akan berguna di kemudian hari.
“Mungkin dengan merasakan aliran unsur api? Aku sendiri tidak begitu paham.” Red benar-benar berbakat secara alami. Terkadang, ia bahkan tidak mengerti mengapa dirinya mampu melakukan hal-hal tertentu.
“Baiklah...” Gran memahami hal itu. Ia sendiri juga bergantung pada sistem, jadi tidak pantas mengatakan apa-apa.
Saat itu, Naga Hijau dan Ailun menyadari bahwa Gran dan Red telah kembali ke Lembah Naga. Mereka terbang menghampiri untuk menyambut keduanya.
Naga Hijau dan Ailun sama-sama mengalami beberapa luka. Luka-luka itu tidak mengancam nyawa, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk pulih.
Cakar dan tubuh Ailun berlumuran darah naga, dan darah itu bukan miliknya sendiri.
Naga Hijau langsung bertanya, “Bagaimana keadaannya?”
“Seharusnya cukup baik.” Gran tidak berani berbicara terlalu yakin. “Kami telah membuat kesepakatan dengan Bara Membara. Lembah Naga dan wilayahnya akan menikmati perdamaian selama tiga puluh tahun.”
“Hanya tiga puluh tahun?”
Gran tersenyum getir. “Tiga puluh tahun itu sudah lama, tahu...” Bagi Naga Hijau yang telah hidup selama lebih dari seribu tahun, tiga puluh tahun memang sangat singkat. Namun, jika usia Gran di kehidupan sebelumnya dan kehidupan sekarang dijumlahkan, ia bahkan belum mencapai tiga puluh tahun.
“Bagian mananya yang lama?” Naga Hijau benar-benar tidak dapat memahaminya.
Gran merasa ini hanyalah persoalan sudut pandang, jadi ia tidak berniat menjelaskan.
Setelah itu, Naga Hijau membawa Gran melihat mayat para penyerang. Bentuk mayat-mayat itu bermacam-macam.
Sebagian tewas karena organ dalam mereka ditembus benda-benda tajam. Itu adalah hasil perbuatan Naga Hijau.
Gran juga melihat beberapa mayat yang menguar bau daging terbakar. Jelas, semua itu merupakan karya cap kekuatan naga merah. Gran merasa agak gelisah, takut cap kekuatan di tubuhnya sendiri akan meledakkannya hingga menjadi seperti itu.
Ia percaya Red tidak akan mencelakainya, tetapi Red sendiri memang sangat tidak bisa diandalkan.
Gran memeriksa mayat-mayat tersebut. Sesekali ia bahkan ingin menjilati darah naga yang menempel di sana. Ia merasa memakan daging dan darah naga-naga itu pasti akan memberinya banyak poin evolusi.
Bahkan, Gran agak menyesal karena tidak tinggal di Lembah Naga ketika Naga Hijau dan yang lainnya menghadapi para penyerang itu. Jika ia tetap berada di sana, mungkin ia bisa menyelesaikan beberapa tugas dan memperoleh sedikit hadiah.
Namun, Gran juga tahu bahwa berunding dengan Bara Membara jauh lebih penting daripada sekadar mencari keuntungan. Jadi, ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh menyesal.
Setelah selesai menyelidiki mayat-mayat itu, Gran terbang menuju hutan tempat bangsa manusia kadal bersembunyi.
Ia melihat retakan yang sangat tidak wajar di permukaan tanah, lalu berkata, “Apakah ini ulah Seton?”
Naga Hijau berkata dengan nada tidak senang, “Sepertinya begitu. Naga tua itu tidak pernah benar-benar menampakkan diri sejak awal sampai akhir. Ditanya apa pun juga hampir tidak pernah merespons.”
Saat itu, para manusia kadal keluar dari hutan dan berlutut di hadapan Gran dan yang lainnya.
Dengan suara lembut, Gran berkata, “Semuanya, bangunlah. Semuanya sudah beres.”
“Ngomong-ngomong, di mana Seton?” Gran bertanya kepada tetua manusia kadal.
Tetua itu menjawab dalam bahasa kaumnya, “Tuan Seton melindungi kami, lalu kembali tidur di dalam tanah.”
“Oh, begitu.” Perasaan Gran tetap tenang. Ia berteriak ke arah tanah, “Seton, kau mendengarku, bukan? Cepat keluar, atau—”
Sebelum Gran menyelesaikan ucapannya, Seton sudah muncul dari celah tanah. Ia tampak sama sekali tidak terluka dan berkata dengan nada sangat gembira, “Kalian sudah kembali.”
Gran sampai tidak tahu harus berkata apa, lalu bertanya, “Seton, saat tidur panjang, kau memang harus selalu berada di bawah tanah? Rasanya cepat atau lambat Lembah Naga akan kau lubangi sampai penuh.”
“Mana mungkin. Aku tidak seaktif itu,” bantah Seton.
Gran tersenyum. “Bagaimanapun juga, terima kasih telah melindungi bangsa manusia kadal. Dan terima kasih kepada kalian semua, karena telah membuatku dapat berunding tanpa perlu mengkhawatirkan keadaan di belakangku.” Ia mengucapkan terima kasih kepada semua rekannya dengan tulus.
Seton memejamkan mata dan berkata, “Kita saling membantu. Sumbangsihmu juga pantas mendapatkan gelar Penjabat Penguasa Lembah.”
“Benar sekali. Kau bahkan melakukannya lebih baik dariku.” Red tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu Gran, hampir membuat Gran kehilangan keseimbangan.
Gran merasa sedikit malu, tetapi tidak membantah.
Kemudian Gran memberitahukan hasil perundingan kepada Seton dan bangsa manusia kadal. Ia memberi tahu mereka bahwa Lembah Naga akan menikmati masa damai untuk sementara waktu.
Selama beberapa hari berikutnya, Gran menjalani kehidupan yang tenang. Ia menggunakan seluruh waktunya untuk membantu Naga Hijau mengajari bangsa manusia kadal, sekaligus berlatih menggunakan bakat-bakatnya.
Mempelajari bahasa naga merupakan proses yang panjang. Kemajuan bangsa manusia kadal dalam hal itu sangat lambat, tetapi dalam bidang lain mereka menunjukkan hasil yang baik. Mereka sudah mampu membuat kapak batu yang lumayan.
Penyelidikan terhadap Benih Bintang dan bakat Mantra Bahasa Naga nyaris tidak mengalami kemajuan. Gran memang dapat mengumpulkan cahaya bintang dan memadatkannya menjadi gumpalan cahaya sebesar ujung jarinya, tetapi ia masih belum menemukan cara menggunakan energi tersebut.
Naga Putih mengutus bawahannya untuk membawa pergi Kristal Api. Gran tidak mengizinkan mereka memasuki Lembah Naga, jadi ia membawa Kristal Api ke luar lembah.
...
Adapun naga-naga lainnya, Red dan Seton tetap menjalani kehidupan malas mereka. Sementara itu, Gran memberi Ailun sebuah tugas. Selama beberapa hari berturut-turut, Ailun bolak-balik antara wilayah Bara Membara dan Lembah Naga untuk menyelidiki gerak-gerik mereka.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa wilayah Bara Membara cukup tenang dan tidak memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang Lembah Naga lagi.
Pada saat itu, Gran menerima utusan yang dikirim Kael. Dari utusan tersebut, ia mengetahui bahwa Bara Membara tampaknya benar-benar tidak berniat melanjutkan serangan terhadap Lembah Naga. Ia juga mengetahui cara Bara Membara menangani naga abu-abu, dan merasakan betapa kejam serta tanpa belas kasihnya naga itu.
Namun, Gran tidak terlalu memedulikannya. Ia lebih memperhatikan bahwa kepentingan Naga Putih telah dirugikan, dan hal itu membuat suasana hatinya gembira selama beberapa hari.
Beberapa hari kemudian, karena Lembah Naga tidak lagi berada dalam bahaya, Naga Hijau memutuskan untuk kembali ke Pegunungan Kelabu demi menemui anak-anaknya.
Gran tidak mencegahnya. Ia merasa Naga Hijau telah banyak membantunya dan tidak seharusnya terus menuntut lebih banyak. Ia hanya merasa sayang karena tidak sempat membuat Naga Hijau menyelesaikan pelajaran bahasa naga bagi bangsa manusia kadal.
Naga Hijau berjanji akan kembali untuk menyelesaikan hal itu di kemudian hari, lalu meninggalkan Lembah Naga.
Beberapa hari berlalu.
Gran menikmati kedamaian setiap hari, sementara sisik-sisiknya pun semakin banyak yang rontok.
Red sesekali meninggalkan Lembah Naga untuk terus mencari anggota baru yang dapat bergabung dengan mereka.
Setelah semuanya kembali tenang, Gran mulai berencana mengembalikan bangsa manusia kadal untuk hidup di luar Lembah Naga. Ia pun mulai mencarikan tempat tinggal yang lebih sesuai dan tersembunyi bagi mereka.
Gran sedang sendirian di sebuah hutan di luar Lembah Naga. Menurutnya, hutan ini sangat cocok untuk bangsa manusia kadal.
Tiba-tiba,
Gran merasakan sesuatu yang sangat tidak beres.
Suara angin, kicauan burung, dan suara dedaunan yang tertiup angin lenyap dalam sekejap.
Kemudian, cahaya menyilaukan menyelimutinya.