Bab Empat Puluh Empat: Tugas
Dua orang itu sebenarnya sudah berteman selama bertahun-tahun, Xia Qing sangat paham seperti apa karakter dan pikiran Yan Xue. Jangan salah sangka dengan wajahnya yang terlihat lembut dan sopan, sebenarnya gadis itu terkenal dengan sifatnya yang mudah marah dan keras kepala, lebih suka dimanjakan daripada dipaksa.
Maka dari itu, Xia Qing segera mengubah sikapnya. Dengan lengan yang tidak terluka, dia merangkul lengan Yan Xue dengan mesra, menyandarkan kepala di bahunya, lalu dengan suara manja yang membuatnya sendiri merinding, ia berkata, “Maaf ya, Xiao Xue! Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri dengan baik, juga kurang memperhatikan lukaku. Tapi aku tahu, tidak peduli bagaimana pun, cinta dan perhatianmu padaku mungkin datang terlambat, tapi pasti tidak akan pernah absen! Aku tidak akan mengecewakan perasaanmu! Aku yakin dengan kasih sayangmu, lenganku pasti akan cepat pulih!”
“Ah, ah, ah! Sudahlah, jangan lebay!” Yan Xue tidak tahan dengan tingkah Xia Qing yang sengaja dibuat-buat itu. Ia segera melepaskan pelukan dan menjauh, “Simpan kemampuan manja itu buat pacar masa depanmu saja! Lagipula, kamu tidak perlu hanya berkata-kata manis, tapi hatimu tidak menganggap dirimu penting! Kalau orang lain sih sudah biasa, tapi kamu sendiri tidak menghargai diri sendiri, padahal orang tua di rumah sangat menyayangimu, memanjakanmu! Lihat Ren Yaya, kapan aku pernah perlu pusing-pusing soal dia! Karena jadi polisi, orang tuanya tiap hari kayak menghitung makanannya sambil nyuruh dia telepon buat lapor aman!”
“Coba pikir sendiri, seberapa sering orang tuamu ingat kalau mereka punya anak perempuan sepertimu? Jadi, dalam kondisi seperti ini, kamu masih santai dan tidak menghargai diri sendiri, itu benar-benar bikin kesal!”
Xia Qing hanya bisa tersenyum pahit, tanpa sadar menyentuh perban di lengannya.
Dulu saat kuliah, sebagai teman sekelas dan satu kamar asrama, tiga temannya sering penasaran dengan kondisi keluarganya. Sebab, di antara empat gadis muda yang merantau jauh dari rumah untuk kuliah, orang tua mana yang tidak khawatir dan tidak bisa sepenuhnya tenang?
Apalagi sekolah polisi yang menerapkan sistem semi-tertutup, walaupun rumahnya di kota yang sama, tidak diperbolehkan pulang-pergi setiap hari, juga orang tua tidak bisa seenaknya datang berkunjung. Jadi, telepon menjadi satu-satunya cara orang tua untuk menunjukkan perhatian dan anak-anak melapor keadaan. Bahkan ada orang tua seperti orang tua Ren Yaya yang sangat khawatir sampai membuat anaknya pusing.
Dari keempat penghuni kamar, Xia Qing adalah satu-satunya yang ponselnya selalu sunyi.
Sampai suatu saat, orang tua Xia Qing yang misterius menjadi bahan obrolan di kamar itu. Karena mereka berteman dekat dan masih muda, tiga temannya tanpa sungkan bertanya apakah orang tua Xia Qing mungkin bekerja di bidang rahasia atau pekerjaan khusus yang identitasnya tidak boleh dibocorkan. Karena sejak awal masuk hingga liburan hampir tak pernah ada kabar.
Xia Qing hanya bisa menjawab dengan pasrah, berulang kali menjelaskan bahwa orang tuanya hanyalah pekerja biasa, hanya saja sangat sibuk dan ambisius dalam karier mereka, tidak ada yang spesial. Awalnya teman-temannya tidak percaya, mengira dia sengaja menyembunyikan sesuatu. Namun seiring waktu dan keakraban, mereka memahami situasi keluarga masing-masing dan tak lagi bertanya, malah lebih perhatian pada Xia Qing.
Xia Qing menyimpan kehangatan dari perhatian teman-temannya itu, meski dia sendiri cukup santai dengan cara hubungan orang tuanya yang sulit dipahami orang lain.
Sejak dulu, menikah bagi pria dan wanita adalah hal yang wajar dan tak terelakkan dalam pandangan tradisional. Ketika sudah usia pernikahan, seseorang harus mencari pasangan dan membangun keluarga. Jika masih sendiri lewat usia itu, akan menjadi bahan pembicaraan dan gosip.
Namun menemukan pasangan hanyalah langkah pertama. Setelah itu ada urusan punya anak dan melanjutkan keturunan. Meski di zaman sekarang, “melanjutkan keturunan” sudah tidak terlalu penting, “punya anak” masih dipandang oleh banyak orang sebagai kewajiban dalam membentuk keluarga yang “normal”.
Xia Qing masih ingat waktu kecil, tetangga mereka ada pasangan yang sangat modern. Keduanya sudah berusia lebih dari empat puluhan dan memilih tidak punya anak. Saat itu Xia Qing belum tahu istilah “DINK” (Double Income No Kids), dia hanya tahu tetangga dan orang sekitar menganggap pasangan itu aneh, bahkan dijadikan contoh buruk untuk mengajari anak-anak yang sudah menikah tapi belum punya anak.
Orang tua Xia Qing adalah tipe yang sangat tradisional. Bagi mereka, hidup harus berjalan sesuai aturan: menikah saat waktunya, punya anak saat waktunya, seperti menyelesaikan tugas.
Namun masalah muncul ketika sesuatu dianggap tugas yang harus diselesaikan tanpa bisa ditunda. Maka selesainya tugas itu menjadi tujuan utama, sementara apa yang terjadi setelahnya, yang memerlukan waktu dan tenaga untuk merawat dan memperhatikan, jadi tidak penting.
Orang tua Xia Qing sangat ambisius dan pekerja keras. Sejak kecil, Xia Qing diasuh oleh kakek-neneknya di Kota W, sementara orang tuanya bekerja di kota lain sebagai pekerja teladan di bidang masing-masing. Pertemuan dan waktu bersama Xia Qing sangat sedikit.
Jika bukan karena kecelakaan mengerikan saat SMA, mungkin seluruh masa kecil dan remajanya akan dihabiskan di rumah kakek-nenek.
Setelah kejadian itu, untuk menghindari gosip, Xia Qing dibawa orang tuanya ke rumah mereka, tapi waktu bersama tetap sedikit. Setelah mereka yakin Xia Qing sudah baik-baik saja, orang tuanya kembali ke ritme kehidupan mereka yang sibuk, entah piket atau lembur. Saat SMA, Xia Qing harus mengejar ketertinggalan masa pemulihan, menghabiskan hampir seluruh waktunya.
Bagi Xia Qing, rumah orang tua lebih seperti asrama gratis yang menyediakan makan dan tempat tinggal.
Dalam ingatan Xia Qing yang samar tentang orang tuanya, dia tidak merasakan kehangatan di antara mereka. Itu sebabnya dia sangat membenci istilah “saling hormat seperti tamu”. Menurutnya pasangan yang bersikap seperti itu tidak bahagia. Hidup penuh dengan urusan sehari-hari yang sederhana dan manusiawi. Bahkan bertengkar kecil pun lebih baik daripada setiap bertemu seperti bertemu rekan kerja di kantor, saling memberi salam sopan lalu sibuk dengan urusannya masing-masing.
Selain keberatan orang tuanya saat Xia Qing memutuskan masuk sekolah polisi dan menolak dia kembali ke Kota W karena khawatir ada yang mengenal dan gosip lama muncul lagi yang bisa mencoreng nama keluarga, serta mereka tidak menganggap polisi sebagai karier yang menjanjikan, orang tuanya tidak banyak campur tangan dalam keputusan lain Xia Qing.
Dulu Xia Qing sempat bercanda dengan Yan Xue dan teman-teman, ada kata-kata populer yang bilang, ada orang tua yang tidak berusaha sendiri, tapi hanya bertelur dan mengerami telur itu, lalu memaksa anaknya terbang.
Namun di keluarganya, semuanya terbalik. Orang tuanya terbang sekuat tenaga, sementara “telurnya”—Xia Qing, bebas mau terbang atau tidak.
Yan Xue tidak bisa mengerti hal itu. Baginya, orang tua, apapun tujuannya, setidaknya harus punya perasaan terhadap anak. Tidak bisa seperti orang tua Xia Qing yang dingin, seolah-olah cukup memberi makan, pakaian, dan membayar sekolah anak tanpa lebih.
Xia Qing sudah jelaskan ke Yan Xue bahwa orang tua yang penuh perhatian biasanya punya anak sebagai lanjutan cinta mereka, anggota keluarga penting yang mereka sayangi.
Keluarganya adalah pengecualian. Orang tuanya menganggap punya anak sebagai tugas yang harus diselesaikan, setelah itu selesai. Mungkin tujuan mereka menyelesaikan tugas itu agar bisa fokus mengejar puncak karier berikutnya.
“Sudahlah, jangan marah, Xiao Xue! Aku tahu kamu peduli dan sayang padaku, aku merasakannya!” Xia Qing sempat melamun karena kemarahan Yan Xue, kemudian sadar dan menepuk dadanya dengan tangan yang tidak terluka. “Untung hari ini kamu yang jaga, kalau Yaya yang jaga, dan orang tuanya tahu lenganku dibalut seperti ketupat, pasti teleponnya makin jadi-jadi, membombardir Yaya!”
“Aku malah sayang banget!” Yan Xue menghela napas dramatis, “Kalau malam ini yang jaga Ning Shuyi, asyik banget! Kalau dia lihat lengammu dibalut kayak itu, kita bakal dapat jatah makan enak terus! Orang tua Ning pasti bakal masak sup tulang yang harum dan lezat, buat bantu kamu ‘mengganti bentuk dengan bentuk’, kita juga bisa ikut makan gratis!”
“Omong kosong! Aku cuma cedera otot, bukan patah tulang, ngapain minum sup tulang!” Xia Qing tertawa.
“Kalo gak minum sup tulang, daging betis sapi juga enak kok!” Yan Xue menggoda, melihat kondisi Xia Qing sudah membaik, tentu dia tidak terus-serius.
Mereka tertawa beberapa saat, lalu siap-siap beristirahat. Yan Xue cukup beruntung tidak ada tugas keesokan harinya, sementara Xia Qing masih harus bekerja dan merasa capek setelah seharian.
Saat setengah mengantuk, dia mendengar Yan Xue bertanya bagaimana hubungannya dengan Ji Yuan belakangan ini, dia menjawab seadanya, lalu suara Yan Xue menghilang, mungkin sudah tertidur.
Sebelum terlelap, Xia Qing sempat teringat pada senter yang menyilaukan itu, lalu otaknya diserang rasa kantuk dan mulai bermimpi kacau.
Keesokan pagi saat bangun, Xia Qing mengantuk lalu mengambil ponsel untuk mematikan alarm. Ia melihat ada pesan masuk dari Zhang Ren sekitar jam tiga pagi. Pesan singkat mengajak bertemu jam delapan setengah pagi di sebuah kafe, beserta peta lokasi agar Xia Qing mudah mencari.
Meski sudah lama tinggal di luar, Xia Qing masih cukup familiar dengan Kota W, tapi melihat lokasi kafe itu, dia bingung. Ternyata itu daerah baru yang dikembangkan beberapa tahun terakhir. Dahulu tempat itu kosong dan gersang, sekarang mulai banyak gedung perumahan dan komersial, tapi masih jauh dari pusat kota yang ramai.
Zhang Ren memilih lokasi yang cukup terpencil!
Xia Qing melihat waktu. Dari kantor polisi ke sana membutuhkan waktu sekitar 40-50 menit jika tidak macet. Jika macet, bisa lebih dari satu jam.
Karena masih ada waktu sebelum jam sibuk, lebih baik berangkat segera supaya tiba lebih awal. Kalau terlambat, bisa terjebak macet dan membuat Zhang Ren menunggu.
Sikap Zhang Ren masih sulit ditebak, Xia Qing merasa lebih baik tiba duluan supaya aman, agar tidak terlambat dan menimbulkan masalah.
Dia biasa lari pagi, jadi bangun pagi tidak masalah. Dia mengirim pesan pada Ji Yuan menanyakan apakah dia sudah bangun. Ji Yuan membalas cepat.
Mereka berdua adalah orang yang efisien dan langsung, bertemu di lorong, Xia Qing memberitahu lokasi kafe yang dimaksud Zhang Ren ke Ji Yuan, lalu berangkat bersama.
Meski sudah mendapat petunjuk dan nama kafe, mencari tempatnya ternyata agak sulit. Setelah tiba di kawasan baru sebelum jam sibuk, mereka mencari jalan tapi tidak menemukan kafe yang dimaksud. Di sepanjang jalan hanya ada toko bahan bangunan dan perabot rumah, suasananya jauh dari tempat yang cocok untuk kafe. Banyak gedung baru yang belum selesai dibangun.
“Dia tidak mungkin mempermainkan kita, kan?” Xia Qing mulai khawatir. Mungkin kafenya terlalu kecil atau terlalu baru sehingga tidak ada di peta, jadi dia ragu.
“Ayo turun dan cari lagi,” Ji Yuan tidak mau menyerah, memarkir mobil di pinggir jalan.
Mereka turun dan berkeliling beberapa kali, akhirnya menemukan gang kecil yang menuju ke belakang gedung-gedung. Mereka masuk gang itu dan sampai di bagian dalam yang lebih sepi, dan di sana mereka melihat sebuah kafe yang belum buka.
Akhirnya mereka menemukan tempat yang dicari.