Bab Empat Puluh Sembilan: Aib Keluarga
"Apakah Li Yonghui tidak berniat meninggalkan tempat yang disebut sebagai tanah terkutuk itu?" tanya Xia Qing pada Qi Tianhua.
Qi Tianhua menggeleng pelan. "Tidak, dia tidak begitu. Saat aku kembali, Li Yonghui justru sedang membawa beberapa kerabat dekatnya berkeliling desa, mengetuk pintu rumah penduduk satu per satu untuk menenangkan mereka, membujuk agar tidak mudah percaya rumor, tidak menakut-nakuti diri sendiri, dan agar tidak tergesa-gesa meninggalkan tanah kelahiran hanya karena ketakutan."
"Oh? Itu bagus sekali! Aku jadi lebih mudah!" ujar Luo Wei dengan senang saat mendengar hal itu. "Nanti aku akan ikut bersama mereka berkeliling desa untuk menenangkan warga. Aku pastikan Li Yonghui takkan langsung pulang. Xia Qing, kau fokus saja berbicara dengan istrinya!"
Setelah itu, Qi Tianhua kembali ke penginapan untuk beristirahat, sedangkan Xia Qing dan yang lain naik mobil kembali ke Desa Keluarga Li.
Walau mereka hanya pergi setengah hari, saat kembali suasana desa terasa berbeda. Biasanya pada waktu ini, desa terasa tenang namun tetap ada sedikit keramaian. Para ibu rumah tangga biasanya keluar sebelum menyiapkan makan malam, duduk bersama di bawah saung di pinggir jalan, sambil membersihkan sayur dan mengobrol tentang kehidupan sehari-hari.
Namun hari ini, tak satu pun perempuan desa terlihat di bawah saung itu. Jalanan sunyi senyap. Walaupun Desa Keluarga Li memang selalu tenang, keheningan seperti ini justru terasa ganjil.
Xia Qing tak punya waktu memikirkannya. Sesuai rencana, Luo Wei mencari Li Yonghui di desa, sementara Xia Qing dan Ji Yuan langsung menuju rumah Li Yonghui untuk menemui istrinya.
Awalnya Xia Qing khawatir, ia hanya ingin berbicara dengan istri Li Yonghui dan tak ingin ayah Li Yonghui yang licik itu ikut campur. Untungnya, sesampainya di rumah, mereka mendapati istri Li Yonghui sedang berada di halaman. Mengira mereka mencari Li Yonghui dan ayahnya, wanita itu malah memberitahu bahwa suaminya membawa ayahnya pergi ke rumah kerabat. Tidak ada seorang pun di rumah.
Xia Qing agak terkejut, sekaligus merasa senang dengan kejadian ini.
Yang mengejutkan, Li Yonghui tak hanya turun tangan menangani urusan desa, tetapi juga membawa ayahnya yang sudah tua. Ini jelas menandakan satu hal: pengaruh Li Yonghui saja tak cukup menenangkan keresahan warga desa.
Sedangkan keberuntungan yang tak disangka, tanpa kehadiran Li Yonghui dan ayahnya, istrinya jadi lebih leluasa bicara. Membahas soal Li Junliang akan jauh lebih mudah.
"Kami tidak mencari Kepala Desa Li. Kami justru ingin berbicara denganmu," ujar Xia Qing pada istri Li Yonghui.
Istri Li Yonghui tertegun, tak langsung membukakan pintu gerbang untuk mereka. "Mau bicara apa denganku? Aku cuma seorang ibu rumah tangga, lulusan SD saja tidak. Huruf sebesar apapun mungkin tak banyak yang kukenal... Lebih baik kalian bicara dengan orang lain saja, aku tak bisa membantu."
"Hal yang ingin kami bicarakan, sepertinya hanya kaulah yang bisa membantu," kata Xia Qing cepat, melihat wanita itu tampak hendak menghindar masuk rumah. "Aku ingin bicara tentang Li Junliang."
Mendengar nama Li Junliang, istri Li Yonghui yang semula hendak pergi, tiba-tiba terdiam seperti patung. Ia tak menoleh, namun saat berbicara suaranya terdengar parau menahan tangis, "Apa urusan kalian dengan anak saya?"
"Aku yakin Li Junliang bukan meninggal karena kecelakaan. Dia pasti jadi korban kejahatan. Bagaimanapun, kita tak boleh membiarkan pelakunya bebas. Jika arwah Li Junliang tahu, ia pun takkan tenang," kata Xia Qing.
Sebenarnya, ucapan itu tak sepenuhnya sesuai dengan keyakinan Xia Qing yang berpandangan rasional. Baginya, menegakkan keadilan adalah demi hukum, efek jera bagi pelaku kejahatan, dan menghibur keluarga korban. Ia tidak percaya bahwa orang mati masih bisa merasakan apapun.
Namun, Xia Qing tahu, keyakinan istri Li Yonghui pasti berbeda. Sebagai perempuan yang tinggal di desa penuh takhayul, dan seorang ibu, ia pasti masih memelihara sedikit keyakinan spiritual.
Ternyata benar. Begitu Xia Qing menyebut Li Junliang mungkin takkan tenang, istri Li Yonghui langsung berbalik. Matanya sudah penuh air mata, emosi yang selama ini terpendam akhirnya tumpah karena sentuhan kata-kata Xia Qing.
"Kalian yakin anak saya memang dibunuh orang? Kalian bisa menangkap pelakunya?" tanya istri Li Yonghui sambil menangis tersedu-sedu, kedua tangannya mencengkeram kisi-kisi pintu gerbang. "Anakku masih muda sudah pergi, itu saja sudah cukup menyedihkan. Jangan biarkan dia pergi dalam ketidakpastian, biar di alam sana ia bisa tenang!"
"Aku belum bisa menjawab pertanyaan itu. Sejauh ini, kami hanya tahu dari cerita Li Yongfu sebelum meninggal. Dia melihat sendiri kejadian Li Junliang tercebur ke air, tapi ada kejanggalan. Sekarang Li Yongfu sudah meninggal, sementara yang lain bersikeras menyebut Li Junliang tewas karena kecelakaan. Kami ingin menyelidiki, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Kecuali ada yang bisa menceritakan, siapa saja yang berhubungan dengan Li Junliang sebelum kejadian itu," Xia Qing menarik napas panjang.
Istri Li Yonghui berdiri di balik pintu, wajahnya tampak gamang, batinnya bergejolak. Xia Qing dan Ji Yuan berdiri menunggu di luar, tenang di luar tapi hati Xia Qing sesungguhnya gelisah. Selama ini ia hanya menduga istri Li Yonghui adalah celah paling mudah untuk membuka tabir keluarga ini. Namun dalam urusan memilih antara menjaga nama baik si mati atau kepentingan yang masih hidup, tak ada jaminan ke mana seseorang akan berpihak.
Akhirnya, istri Li Yonghui tampak mengambil keputusan. Ia membuka gerbang besar rumahnya, mempersilakan Xia Qing dan Ji Yuan masuk, lalu membawa mereka ke sebuah kamar yang dulu tak diperbolehkan mereka kunjungi—kamar tidur Li Junliang semasa hidup.
Kamar Li Junliang tidak besar, isinya berantakan dan sudah berdebu.
"Sebenarnya ayah anakku sudah ingin membersihkan kamar ini, tapi aku tak mengizinkan. Aku tak sanggup menghapus semua kenangan tentang anakku. Melihat barang-barang ini, aku bisa membohongi diriku sendiri bahwa anakku masih hidup, hanya sedang main dan belum mau pulang. Itu sudah cukup membuatku sedikit bahagia," ujar istri Li Yonghui sambil mengusap air mata. "Sekarang aku tahu, semua ini memang sudah digariskan Tuhan! Supaya ada orang yang mau membantu anakku, makanya aku harus menyimpan semua ini!"
"Bolehkah aku melihat-lihat barang-barang di kamar Li Junliang?" tanya Xia Qing.
Istri Li Yonghui buru-buru mengangguk. "Tentu saja, asal jangan dibuat terlalu berantakan. Aku tak berharap apa-apa lagi, asalkan kamar ini tetap seperti dulu, seperti anakku masih di sini."
Xia Qing lalu berkeliling di kamar itu. Memang seperti kata istri Li Yonghui, kamar itu sudah lama tak tersentuh. Tampaknya, bahkan semasa hidupnya, Li Junliang bukan tipe yang rapi. Dari asbak besar yang penuh puntung rokok saja sudah jelas.
"Apakah Li Junliang memang perokok berat?" tanya Xia Qing sambil menghitung, dalam asbak besar itu hampir dua puluh puntung rokok menumpuk.
Istri Li Yonghui berkata dengan mata sembab, "Anakku sebenarnya sangat baik, pintar, cekatan. Tapi setelah bergaul dengan teman-teman yang tidak baik, ia jadi suka keluyuran. Awalnya kami tak sadar, begitu tahu, ia sudah kecanduan berat. Sehari sebungkus rokok pun kurang. Ayahnya sering memarahinya, bilang paru-parunya nanti hitam seperti batu bara! Tapi dia tetap tak mau dengar. Kakeknya sudah tua, tak bisa mengurus lagi. Kalau aku yang bicara, dia malah makin kesal, kadang langsung keluar rumah, atau menyuruhku diam. Katanya, kalau aku terus cerewet, dia takkan pulang lagi."
Ucapan itu membuat hati istri Li Yonghui kembali teriris. Sambil menangis ia berkata, "Dulu aku takut dia benar-benar pergi dan tak kembali, takut dia kedinginan, kelaparan, atau terlantar. Kalau saja aku tahu akhirnya begini, lebih baik dulu aku patahkan kakinya, biar dia tetap di rumah, tak bergaul dengan teman-teman yang menjerumuskannya!"
"Selain merokok, apakah Li Junliang punya kebiasaan buruk lain? Aku rasa Li Yonghui sangat menutupi penyebab kematiannya. Selain takut kasus lama terbongkar, pasti ada hal lain yang ia anggap memalukan, mungkin terkait perilaku Li Junliang. Dia pasti juga minum, kan? Selain rokok dan alkohol, apakah dia pernah menyentuh barang terlarang?"
Istri Li Yonghui memegang ujung bajunya, ragu beberapa saat, lalu berbisik, "Pernah, suatu waktu dia diam-diam entah dari mana membawa pulang sedikit ganja... Tapi ketahuan ayahnya, langsung dihajar dengan ikat pinggang, lalu semuanya dibakar di tungku! Setelah itu, tak pernah lagi bawa barang semacam itu."