Bab Seratus Empat Puluh Delapan: Pulang ke Rumah

Pendeta Tao Paling Hebat Sepanjang Sejarah Senja Domba Berlimpah 2323kata 2026-03-31 21:19:56

"Aku dulu dijual ke pegunungan terpencil itu. Alasannya sederhana, semata-mata karena seseorang ingin mencari seorang istri." Yuan Xiaofang menopang dagunya dengan kedua tangan, lalu tersenyum pahit. "Namun, yang tidak kuduga adalah, aku malah jatuh cinta padanya... Bukankah itu terdengar sangat bodoh?"

Li Yun tidak berkata apa-apa, ia hanya mendengarkan dengan tenang segala curahan hati Yuan Xiaofang.

"Awalnya, aku mengira kehidupan seperti mimpi buruk telah menantiku. Ternyata aku salah. Yang menyambutku justru seorang pria jujur berusia tiga puluh tahun. Ia tidak memaksaku melakukan hal-hal di luar kehendakku seperti yang kubayangkan, melainkan merawatku, menyayangiku, bahkan memberitahuku bahwa jika aku merasa tidak bahagia, aku bisa meninggalkan pegunungan itu kapan saja, dan ia sendiri yang akan menanggung biaya perjalananku untuk pulang ke rumah."

"Namun, apa yang sebenarnya menantiku di rumah? Orang tua yang mengagungkan anak laki-laki dan merendahkan anak perempuan. Aku mengatakannya tanpa takut kau tertawakan, bahkan kali ini mereka tidak punya waktu sekadar untuk menjemputku pulang. Alasan mereka sangat sepele, demi mengantar adik laki-lakiku yang tidak suka belajar dan hanya tahu berkelahi serta mendekati perempuan agar bisa tidur di tempat bimbingan belajar. Di mata mereka, aku mungkin hanyalah sebuah beban. Karena aku memiliki rasa minder yang tinggi, aku pun sering menjadi korban perundungan di sekolah. Di mana pun berada, aku tidak pernah memiliki kedudukan apa pun; aku hanyalah sampah di strata terbawah, tidak ada seorang pun yang peduli atau memerhatikan diriku... Sudah tak terhitung berapa kali aku berpikir untuk mengakhiri hidup saja, tetapi aku sangat takut rasa sakit. Dialah yang bagaikan seberkas sinar matahari, memberikan secercah harapan kepadaku."

Yuan Xiaofang tersenyum manis sambil mengoyangkan gelang emas di pergelangan tangannya.

"Ini adalah seluruh miliknya, seluruh yang bisa ia berikan kepadaku... Aku butuh dia, dan dia butuh aku."

"Oleh karena itu, aku harus kembali. Kembali ke pegunungan itu, kembali ke sisinya... Betapa pun sulitnya, aku pasti akan kembali. Kembali ke sisi orang itu, dan tidak akan ada seorang pun yang bisa memisahkan kami."

Pancaran mata Yuan Xiaofang dipenuhi dengan keteguhan yang amat kuat. Menyaksikan Yuan Xiaofang yang seperti itu, Li Yun hanya bertindak sebagai seorang pendengar yang setia. Hingga akhirnya, ia berkata, "Pertapa Yuan, kau tampaknya menyimpan kekecewaan yang begitu besar terhadap Pertapa Wang dan Pertapa Yan."

"Mereka menceraikan dua insan yang saling mencintai... dan memaksa membawaku pulang..." Kemarahan terpendam di hati Yuan Xiaofang memang tidak kecil.

"Namun, pernahkah kau berpikir, dari sudut pandang mereka, pria yang telah membelimu ini juga merupakan bagian dari pelaku kriminal?" Li Yun menatap Yuan Xiaofang lekat-lekat dan berkata dengan tenang, "Tanpa ada pembelian, tidak akan ada perdagangan manusia. Pernahkah kau berpikir, jika yang diculik dan dijual bukanlah dirimu, melainkan seorang gadis dari keluarga yang bahagia dan penuh harapan akan kehidupannya, apakah ia akan mendambakan kehidupan di pegunungan terpencil itu? Apakah ia akan jatuh cinta kepada sang pembeli?"

Yuan Xiaofang terdiam seribu bahasa. Jika dirinya sendiri benar-benar hidup bahagia seperti itu, apakah ia akan tinggal di pegunungan itu tanpa penyesalan sedikit pun...

Ia tidak tahu, sehingga ia tidak mampu menjawabnya...

"Menyelamatkanmu keluar adalah tanggung jawab mereka, tetapi keputusan untuk kembali adalah pilihanmu sendiri." Li Yun bangkit berdiri dan berkata kepada Yuan Xiaofang, "Pertapa ini telah katakan sebelumnya, hak untuk memilih berada di tanganmu sendiri, bukan di tangan orang lain. Kau hanya perlu bertanggung jawab atas pilihan yang kau ambil, itu saja sudah cukup. Selama kau sanggup menanggung segala akibat yang ditimbulkan dari pilihanmu, itu sudah lebih dari cukup."

"Waktu masih panjang, disarankan agar kau memikirkannya sekali lagi, apakah benar-benar ingin kembali ke pegunungan itu..."

Yuan Xiaofang duduk terpaku di dalam paviliun itu, merasakan cangkir teh di hadapannya berangsur-angsur menjadi dingin.

Meskipun cangkir teh itu dingin, hatinya justru terasa hangat.

......

"Apa? Kau akhirnya sadar dan ingin pulang ke rumah? Bagus sekali kalau begitu." Wang Qing melangkah masuk ke dalam kawasan Taoisme itu dan langsung mendengar kabar baik yang begitu melegakan. Hatinya merasa sangat lapang, sekaligus diam-diam mengagumi sang ketua Tao yang sungguh luar biasa; kurang dari sehari saja ia sudah berhasil menaklukkan gadis yang bahkan tidak mampu ditangani oleh seorang dokter spesialis kejiwaan berpengalaman.

Yuan Xiaofang tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya membungkuk hormat kepada Li Yun dalam-dalam, lalu dengan patuh masuk ke dalam mobil polisi.

"Terima kasih banyak, Ketua Tao..."

"Tidak apa-apa, Pertapa ini hanya membantunya membuat pilihannya sendiri," jawab Li Yun diiringi senyuman tipis.

"Benar, membuatnya memilih untuk pulang sungguh membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Jika tadi benar-benar sudah tidak ada jalan lain, kami berencana langsung mendatangi rumahnya setelah urusan ini selesai," ucap Wang Qing sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Setelah berbasa-basi sejenak, Wang Qing dan Yuan Xiaofang menuruni gunung. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam dengan beberapa kali berganti kendaraan, mereka tiba di tempat tinggal keluarga Yuan, sebuah kota kecil di perbatasan daerah tersebut. Setibanya di depan sebuah rumah tinggal mandiri, Yuan Xiaofang berdiri di ambang pintu, menatap bagian dalam rumah yang tampak benderang diterangi cahaya lampu.

*Ding-dong—*

Wang Qing yang mendampinginya lantas menekan bel pintu.

Tanpa menunggu lama, seorang perempuan datang membukakan pintu. Melalui celah pintu, terlihat anggota keluarga tersebut sedang asyik menonton program televisi dengan gembira.

Orang yang duduk tepat di tengah sofa adalah adik laki-laki Yuan Xiaofang.

Sebelum sempat Wang Qing membuka suara, perempuan paruh baya itu langsung mengerutkan kening dan berkata dengan dialek lokalnya.

"Kenapa kau si anak pembawa sial ini baru pulang... Bukankah di gunung itu jauh lebih baik?"

"Jaga cara bicaramu, ada petugas polisi di sini." Ayah Yuan Xiaofang ikut keluar menyusul, lalu mengangguk-angguk sambil membungkuk sopan menyampaikan ucapan terima kasih.

Wang Qing tidak mengerti bahasa daerah setempat. Meskipun merasa ada sesuatu yang janggal, ia tetap berkata,

"Ini adalah anak perempuan kalian. Tugas saya sudah selesai, telah mengantarkannya pulang dengan selamat. Nanti, pihak kepolisian sektor akan menghubungi kalian untuk membuat beberapa catatan keterangan, mohon kerja samanya nanti."

"Terima kasih, terima kasih, terima kasih banyak kepada bapak polisi yang telah mengantarkannya pulang." Ayah Yuan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Dari dalam rumah, terdengar suara adik laki-laki Yuan Xiaofang yang berseru tidak sabaran, "Ibu! Kenapa hidanganku belum siap juga!"

"Iya, iya, sebentar sayangku..."

Ibu Yuan Xiaofang segera bergegas masuk ke dalam rumah, memperlakukan anak kandungnya sendiri seolah-olah tidak lebih dari udara kosong.

Menyaksikan semua pemandangan di hadapannya ini, Yuan Xiaofang tidak mengucapkan sepatah kata pun; ia hanya tersenyum hambar dalam diam.

Selepas kepergian Wang Qing, sikap ayah Yuan berubah drastis secara tiba-tiba. Ia mengerutkan kening menatap Yuan Xiaofang dan berkata,

"Sudahlah kalau sudah pulang. Di dalam penanak nasi masih ada sedikit sisa nasi, panaskan sendiri sana lalu makanlah."

"Ayah... sudahlah, urusi saja hidanganku!"

"Iya, iya, segera datang, anak kesayanganku..."

Yuan Xiaofang sama sekali tidak bersuara. Ia berjalan menuju kamar tidurnya yang dulu, meraraba debu yang menempel di dinding, lalu memandangi meja belajar kecil miliknya... Barang-barang di atasnya sama sekali tidak tersentuh oleh siapapun, karena memang tidak pernah ada satu pun orang di rumah ini yang peduli padanya.

Pada saat itu, Yuan Xiaofang melangkah menuju depan televisi, berdiri tepat di tengah sehingga menghalangi pandangan ketiga orang tersebut ke layar kaca.

"Apa-apaan sih... minggir sana..." gerutu adik laki-laki Yuan Xiaofang dengan nada kesal, sama sekali tidak mempedulikan kakak kandungnya yang sempat menghilang entah ke mana dan kini tiba-tiba muncul kembali di rumah. Seluruh isi kepalanya kini dipenuhi oleh acara televisi di hadapannya.

Yuan Xiaofang tampak mengabaikannya begitu saja. Ia langsung berlutut di lantai, lalu membenturkan kepalanya ke lantai sebanyak tiga kali sebagai bentuk penghormatan kepada kedua orang tuanya. Ketika ia bangkit berdiri, dahinya tampak kemerahan akibat benturan tersebut. Dengan tatapan penuh keteguhan, ia berkata,

"Terima kasih atas asuhan dan jasa kalian yang telah membesarkanku... Kurasa kita tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk saling bertemu lagi setelah hari ini."

Tanpa memedulikan ekspresi terperanjat di wajah kedua orang tuanya, Yuan Xiaofang melangkah keluar dari pintu rumah itu dengan tekad yang bulat, meninggalkan sebuah kalimat terakhir.

"Aku hendak pulang, kembali ke rumahku yang sesungguhnya."