Kamu ini benar-benar menyia-nyiakan barang!
Kembali ke kamar di lantai dua, saudari ipar bertanya dengan suara heran, "Kakak ipar, urusannya sudah selesai?"
"Hmm, sekarang toko ini resmi milik kita."
"Ah? Apa?" Saudari ipar tertegun sejenak. Baru setengah jam turun ke lantai bawah, urusannya sudah beres?
"Kakak ipar, jangan berbohong padaku ya. Toko sebagus ini, benar-benar diberikan kepada kita begitu saja?"
"Hmm, dia ada urusan yang membutuhkan bantuanku, dan dia juga sudah tidak ingin melanjutkannya lagi, jadi toko ini sekalian diberikan kepada kita."
"Begitu ya... Tapi kalau nanti kita pakai toko ini untuk menjual kain, rasanya tidak akan terlalu menguntungkan. Kakak ipar tidak sedang mempermainkanku, kan?" tanya saudari ipar dengan nada curiga.
"Mana mungkin? Siapa bilang aku mau pakai toko ini untuk menjual kain?"
"Bukankah ini toko kain? Kalau begitu mau jualan apa?"
Qin Yuan tersenyum dan balik bertanya, "Siapa bilang toko kain harus selalu menjual kain? Waktunya sudah hampir tiba, aku sudah memikirkan apa yang akan kita jual. Mari kita kembali."
"Ah? Kita mau pergi sekarang? Memangnya apa yang mau dijual oleh Kakak Ipar?"
Saudari ipar terus mengejar dengan pertanyaan, tetapi Qin Yuan tidak melanjutkan kata-katanya. Ia membawa mereka turun ke lantai bawah untuk bersiap membeli beberapa barang.
Tepat saat hendak melangkah keluar, Qin Yuan melihat beberapa pria berandalan berjalan mendekat dengan penuh ancaman, sambil berteriak lantang, "Wei Lao Si, keluar kau keparat!"
Wei Lao Si, bukankah itu Wei Tao? Mendengar ucapan itu, Qin Yuan menghentikan langkahnya dan berdiri di samping, menghitung dalam hati apa tujuan orang-orang ini mencari Wei Tao.
Sekarang Wei Tao sudah pergi dan toko ini menjadi miliknya. Jika orang-orang ini nekat mengamuk dan merusak toko, kerugiannya tetap akan ditanggung olehnya!
Itulah sebabnya Qin Yuan tidak beranjak.
Melihat situasi tersebut, Huzi tanpa suara maju satu langkah, seolah siap mempertaruhkan nyawanya jika ada yang berani menyakiti Qin Yuan, sementara saudari ipar ditarik ke belakang oleh Qin Yuan.
Pada saat itu, Pengurus Toko Zhang langsung berubah Pucat begitu melihat rombongan tersebut. Saat melihat Qin Yuan masih belum pergi, ia merasa sedikit lega, lalu maju dan berkata, "Aduh, bukankah ini Tuan Muda Xiang? Ada apa Anda datang berkunjung?"
"Tidak usah pura-pura!" Pemimpin berandalan yang dipanggil Tuan Muda Xiang itu mengeluarkan sebuah tongkat kayu, lalu menunjuk ke arah Pengurus Toko Zhang dengan geram, "Di mana bos kalian? Jangan coba-coba bermain trik! Sudah berapa lama kalian menunggak uang perlindungan? Bisakah kalian berbisnis dengan tenang di sini tanpa Tuan Ketiga kita? Apakah bisnis kalian bisa berjalan selancar ini? Jangan banyak omong, cepat serahkan Wei Lao Si! Sudah waktunya membayar uang perlindungan!"
Mendengar nama Tuan Ketiga, Qin Yuan merasa agak familiar, lalu tiba-tiba ia menepuk jidatnya!
Baguslah, preman yang disewa oleh Ma kecil tempo hari sepertinya juga adalah anak buah dari Tuan Ketiga ini.
Sungguh, Qin Yuan sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan mereka lagi di tempat ini. Rupanya bisnis yang digeluti oleh Tuan Ketiga ini cukup beragam!
Pengurus Toko Zhang menunjukkan ekspresi memelas dan berkata dengan pasrah, "Tuan Muda Xiang, bagaimana Anda bisa berkata begitu? Bukankah bulan lalu baru saja dibayar? Kenapa sekarang minta lagi? Lagipula, bos kami baru saja berganti hari ini..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Tuan Muda Xiang memukulkan tongkatnya dengan keras ke atas meja dan berkata dengan suara dingin, "Sudah bayar bulan lalu jadi bulan depan tidak perlu bayar? Apakah karena kemarin sudah makan jadi hari ini tidak perlu makan lagi? Jangan banyak bicara! Ada apa dengan bos kalian? Sudah mati? Kalau belum mati, cepat keluarkan uangnya!"
Pengurus Toko Zhang merasa ingin menangis. Bisakah mereka membiarkannya menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu?!
Ia buru-buru berkata, "Bos kami hari ini baru saja diganti. Tuan Muda Wei sudah memberikan toko ini kepada Cendekiawan Qin. Orang itu adalah Cendekiawan Qin. Tolong katakan sesuatu, kalau tidak mereka akan menghancurkan toko ini..."
Pengurus Toko Zhang meratap. Ia memang menyukai uang, tetapi ia benci menghadapi masalah. Biasanya, setiap kali kelompok orang ini datang menagih uang, ia selalu langsung membayarnya atas instruksi Wei Tao.
Namun, kepemimpinan baru saja berganti hari ini dan ia belum memahami tabiat Cendekiawan Qin, sehingga ia bingung harus berbuat apa. Memberikan uang salah, tidak memberikan uang pun salah.
Oleh karena itu, ia hanya bisa menatap Qin Yuan, menunggu keputusan darinya.
Mendengar perkataan itu, Tuan Muda Xiang mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Pengurus Toko Zhang ke arah Qin Yuan yang berdiri di pintu. Ia menyipitkan matanya, lalu melangkah maju.
"Kamu bos yang baru? Cukup bernali juga rupanya. Toko milik Wei Lao Si ini bernilai sangat mahal, trik apa yang kamu pakai sampai dia mau menyerahkannya kepadamu? Lupakanlah, sudahlah, aku tidak akan bertanya lagi. Kamu pasti mendengar pembicaraan kami tadi, kami datang untuk menagih uang perlindungan. Seluruh jalan ini berada di bawah kendaliku, jadi karena kamu pendatang baru, aku beri keringanan sedikit. Bagaimanapun juga, uang ini harus tetap kamu bayar!"
Tuan Muda Xiang ingin berbicara dengan ramah, tetapi tabiatnya yang mudah emosi membuatnya terdengar sangat ketus.
Qin Yuan menatapnya dengan senyum penuh makna, lalu berkata, "Uangku tidak mudah untuk diambil. Apakah kamu yakin ingin mengambilnya?"
Alis Tuan Muda Xiang berkerut. Ia tidak peduli dengan embel-embel apa pun. Uang apa yang tidak mudah diambil? Omong kosong!
"Jangan banyak bicara! Uang apa yang tidak mudah diambil? Cepat serahkan, aku masih harus kembali untuk menyetorkannya kepada Tuan Ketiga. Hanya bagian kalian saja yang belum!"
"Baik, baik." Qin Yuan mengucapkannya dua kali, lalu bertepuk tangan dan berkata, "Pengurus Toko Zhang, berikan berapa pun yang mereka minta!"
Mendengar itu, Pengurus Toko Zhang langsung lemas. Rupanya Cendekiawan Qin ini juga tidak memiliki latar belakang yang kuat.
Setelah itu, Qin Yuan kembali berkata, "Kembalilah dan sampaikan kepada Tuan Ketiga kalian, namaku Qin Yuan, kita pernah berurusan sebelumnya. Kuharap Tuan Ketiga kalian bisa memberikan perhatian lebih di masa depan."
Qin Yuan tersenyum tipis, lalu memimpin rombongannya pergi.
Memberikan uang bukanlah tanda bahwa ia mengalah atau menunjukkan kelemahan, melainkan karena Qin Yuan memiliki urusan yang jauh lebih penting saat ini. Barang-barang yang harus ia beli terlalu banyak, dan ia juga harus mengatur pengirimannya ke Desa Ximen. Waktu yang dihabiskan untuk bolak-balik tentu tidak sedikit.
Lagipula, uang miliknya tidak semudah itu untuk diambil.
"Kakak ipar!" panggil saudari ipar dengan nada kesal. Kakak iparnya jelas bukan tipe orang seperti ini, kenapa sekarang malah menuruti dan memberi mereka uang?
Selama dua hari ini mengikuti sang kakak ipar, ia tidak melihat hal lain selain aksi kakaknya membagi-bagikan uang.
Jika terus begini, sebanyak apa pun harta yang dimiliki pasti akan habis!
"Qiuyue, jangan panik. Sebagai manusia, hal pertama yang harus dipelajari adalah bersabar. Tidak sampai dua hari, uang itu akan kembali. Sekarang kita harus pergi berbelanja. Bukankah kamu dari tadi ingin tahu apa yang akan dijual oleh Kakak Iparmu? Ayo pergi."
Qin Yuan tersenyum menghibur.
Setelah itu, Qin Yuan membawa keduanya berkeliling jalan untuk berbelanja. Semua pembelian dilakukan dengan membayar uang muka terlebih dahulu, dan pelunasannya akan diberikan setelah barang-barang tersebut dikirim kembali ke desa.
Namun, barang-barang yang dibeli oleh Qin Yuan benar-benar membuat orang kebingungan.
Hampir dua ratus pon daging babi, dan ia hanya memilih bagian yang paling berlemak. Ada kapur sirih, natrium karbonat, bahkan kelopak bunga, rempah-rempah, serta bumbu rendaman pun dibeli.
Jiang Qiuyue memerhatikan sambil menghitung dalam hati. Hanya untuk membeli sekian banyak barang ini, tig puluh lebih keping perak harus melayang lagi.
Hatinya terasa sangat sakit melihatnya.
Huzi bahkan merasa jauh lebih sakit, "Kak Yuan, daging babi sebanyak ini akan membusuk..."
"Tenang saja, tidak akan membusuk."
Sekembalinya ke desa, bawaan yang sarat dalam berbagai bungkusan besar dan kecil itu langsung menarik perhatian seluruh penduduk desa.
Ketika melihat Qin Yuan membeli begitu banyak daging, semua orang menatap dengan penuh selera dan iri.
"Jangan hanya dilihat, mari bantu mengangkatnya." Qin Yuan tersenyum seraya meminjam sebuah kuali hitam yang besar, lalu meminta orang-orang memotong seluruh daging babi berlemak itu menjadi bagian-bagian kecil, memasukkannya ke dalam kuali untuk mencairkan minyaknya hingga menghasilkan sepanci penuh minyak babi.
Sisa ampas minyak babi semuanya dibagikan kepada para penduduk desa.
Ampas minyak babi adalah makanan yang luar biasa lezat, rasanya sangat gurih dan renyah. Para penduduk desa yang biasanya jarang menikmati lauk berlemak itu tentu belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Bagian ampas minyak babi yang mereka terima bahkan tidak tega untuk langsung dimakan, melainkan disimpan untuk anak-anak mereka.
Namun, setelah seluruh ampas minyak babi dibagikan, tindakan Qin Yuan berikutnya justru membuat rahang semua orang ternganga saking terkejutnya!
Terlihat Qin Yuan menuangkan air ke dalam kapur sirih yang telah disiapkan lalu mengaduknya, kemudian menyuruh Huzi untuk menambahkan natrium karbonat ke dalamnya.
Semua orang merasa kebingungan. Benda semacam itu bukanlah sesuatu yang bisa dimainkan sembarangan; jika sedikit saja bersentuhan dengan kulit, dampaknya bisa membuat kulit melepuh dan bernanah!
Bahkan sang kepala desa pun bertanya kepada Qin Yuan dengan suara gemetar, "Kamu, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan?"
Qin Yuan tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya sedikit, lalu menuangkan seluruh air yang baru saja diaduk itu ke dalam minyak babi, dan mulai mengaduknya secara merata.
Seluruh orang yang melihatnya sontak menarik napas dingin!
Habislah sudah, Qin Yuan benar-benar sudah gila!
Satu kuali besar minyak babi itu telah disia-siakan begitu saja!
Sepanci minyak babi sebanyak itu sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh warga desa menikmati hidangan lezat selama sebulan penuh.
Namun, pada akhirnya semuanya dihancurkan begitu saja oleh Qin Yuan.
Kepala desa hampir ketakutan setengah mati, air matanya nyaris tewas karena merasa teramat sangat menyayangkan kejadian itu.
"Minyak babi sebagus itu, malah kamu sia-siakan begitu saja!"