Bab 36 Apa yang kauinginkan?
Wei Tao menatap Qin Yuan dalam diam.
Baginya, dia sudah menjelaskan tujuannya dengan gamblang, namun Qin Yuan jelas tidak menelan mentah-mentah penjelasannya.
"Aku..."
Kata-kata itu tertahan di ujung lidah. Dia mengerutkan bibir, namun tak ada satu pun yang berhasil terucap.
Qin Yuan menatapnya datar.
"Coba pikirkan kembali apa tujuan sebenarnya kau datang menemuiku. Aku hanya ingin mendengar kejujuranmu."
Seorang idealis memang baik, tetapi betapapun idealnya seseorang, ia tetap harus makan dan mengisi perutnya. Ideal hanyalah sebuah keinginan, namun pada kenyataannya, ada niat pribadi yang tersembunyi di baliknya. Hanya saja, dia mengemasnya dengan kata-kata yang terdengar mulia.
Qin Yuan hanya ingin mendengar satu kalimat jujur darinya. Dia tidak ingin mendengar basa-basi.
Kejujuran...
Wei Tao terdiam sejenak. Berbagai bayangan melintas di benaknya.
Mengingat saat ia mengajak rekan bisnisnya bergabung ke dalam asosiasi dagang namun justru dicemooh. Mengingat fitnah yang disebarkan rekan-rekannya di belakang, serta wajah menyebalkan Zhang Jinxiang. Juga hinaan, cacian, dan gosip yang menerpanya.
Terlalu banyak.
Saat dia kembali menatap Qin Yuan, hatinya tiba-tiba tersentak. Dia seolah memahami apa yang dimaksud Qin Yuan.
Dengan senyum getir yang tersungging di bibirnya, dia merasa malu karena ternyata dirinya tidak setajam Qin Yuan dalam melihat situasi.
"Aku ingin membalas dendam pada orang-orang itu. Aku ingin mereka tahu bahwa mereka salah, dan bahwa keserakahan telah menghancurkan mereka sendiri."
Wei Tao seolah menahan napas, lalu mengucapkannya sekaligus tanpa jeda. Namun entah mengapa, rasa lega yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menyeruak di dadanya.
Qin Yuan tersenyum puas.
"Nah, begitu seharusnya. Untuk apa membuang waktu dengan kata-kata muluk?"
Dengan membiarkannya mengungkapkannya sendiri, saat terdiam pun dia akan berpikir jernih dan memahami apa yang sebenarnya dia inginkan, sehingga dia tidak akan lagi tertipu oleh kata-kata manisnya sendiri.
Saat seseorang sudah nekat, bahkan dirinya sendiri pun bisa ia tipu. Qin Yuan membuatnya menyadari hal itu, yang mana baik bagi kedua belah pihak.
"Jika kau ingin balas dendam, jangan gunakan dalih kebenaran. Dengan begitu, kerja sama kita tidak akan menemui kendala di kemudian hari."
"Aku mengerti. Tawaranmu kuterima. Ada hal lain lagi?"
Mendengar itu, Wei Tao merasa seolah dipermainkan. Dia sudah mengungkapkan isi hatinya yang terdalam, namun Qin Yuan hanya menanggapinya dengan pernyataan menerima? Apa bedanya jika dia mengatakannya atau tidak?
"Kau mempermainkanku?" tanya Wei Tao tiba-tiba dengan nada kesal.
Qin Yuan meliriknya sekilas, lalu berkata dengan tenang, "Apa aku mempermainkanmu? Memangnya apa yang ingin kau dengar dariku?"
"Kau... bukankah kau seharusnya memberikan tanggapan atau mengatakan sesuatu? Hanya diam saja..."
Kemarahan Wei Tao seketika meredup, seolah dia sudah terbiasa dengan hal itu.
Qin Yuan menangkap seluruh ekspresinya dan berkata santai, "Kalau begitu, sekarang aku berjanji padamu. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Setelah kau memindahkan aset-asetmu kepadaku, hasil yang ingin kau lihat akan terwujud."
Hanya dari perjumpaan singkat ini, Qin Yuan sudah bisa membaca watak Wei Tao.
Bagaimana ya mengatakannya? Dia seperti seseorang yang terlalu dilindungi, naif akan dunia luar, namun ingin berjuang sendiri. Sayangnya, segala usahanya selalu gagal, tetapi dia menolak untuk menyerah. Tidak bisa dikatakan dia tidak memiliki pencapaian, namun pencapaiannya pun tidak terlalu istimewa.
Sejauh ini, dia tampak tidak memiliki niat buruk. Dia adalah rekan kerja yang bisa diajak bekerja sama. Namun, tentu saja tidak akan ada kerja sama yang mendalam, sekadar saling memanfaatkan saja.
Qin Yuan menginginkan asetnya, dan dia membutuhkan bantuan Qin Yuan untuk balas dendam. Transaksi ini sangat adil.
Wei Tao kini tidak bisa berkata apa-apa. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa mengimbangi Qin Yuan, dan dia telah membuka kartunya terlalu cepat, sehingga kini dia hanya bisa dikendalikan oleh Qin Yuan.
"Alat tenun, tenaga kerja, jalur transportasi, toko-toko, dan lainnya. Dalam dua hari akan kuserahkan padamu. Kapan kau bisa melenyapkan mereka semua?" tanya Wei Tao sambil menghela napas.
"Tergantung suasana hatiku. Pergilah bersiap-siap dulu," jawab Qin Yuan acuh tak acuh, lalu berbalik hendak pergi.
Wei Tao sempat ingin menahan Qin Yuan untuk meminta jawaban pasti, namun pada akhirnya tangannya bahkan tidak terulur. Dia hanya bisa berdiri terpaku melihat Qin Yuan pergi.
Di dalam hatinya, dia sangat membenci ketidakberdayaannya sendiri. Namun, pada akhirnya dia menghibur dirinya sendiri bahwa Qin Yuan pasti mampu menyelesaikan urusan itu.
Setelah itu, dia pergi dengan diam-diam.
Sementara itu, meskipun berjalan menjauh, Qin Yuan terus mengamati Wei Tao dari sudut matanya. Melihat sikapnya, Qin Yuan menggelengkan kepala.
*Aduh, pria ini benar-benar agak menyedihkan.*
Meskipun benar bahwa musuh dari musuh adalah teman, tindakannya ini bisa dibilang gila sekaligus tidak kompeten. Sulit membayangkan dua sifat itu muncul bersamaan. Untung saja dia bertemu dengan Qin Yuan. Jika bertemu orang lain, dia pasti sudah habis dimangsa tanpa sisa.
Qin Yuan bisa memahami motivasinya, dan tindakan yang dia ambil pun bisa dimengerti, namun mengenai kepribadiannya, sulit untuk dinilai.
Aset yang dia berikan memang sedang dibutuhkan Qin Yuan saat ini. Terutama toko-tokunya. Yang lain hanyalah pelengkap, ada atau tidak pun tidak masalah. Namun dengan adanya toko, Qin Yuan bisa mulai menjalankan usaha.
Dia memiliki lima toko yang tersebar di Kota Qingzhou. Tidak banyak, tetapi letaknya sangat strategis. Jika dihitung dengan uang, nilainya tidak akan kurang dari dua puluh ribu tael perak.
Namun, dia memberikannya begitu saja kepada Qin Yuan dengan harapan bisa membalas dendam lewat tangan Qin Yuan. Ini menunjukkan bahwa keluarga Wei benar-benar tidak kekurangan uang. Masalah ini mungkin tidak ingin dia selesaikan dengan bantuan kekuatan keluarganya karena gengsi.
Manusia memang sangat rumit. Mengapa dia tidak belajar dari pemuda dari Toko Kain keluarga Ma sebelumnya? Lihat betapa jujurnya dia. Dia bahkan menjebak ayahnya sendiri sampai ke titik penghabisan.
Saat itu, kepala desa melihat Qin Yuan berjalan mendekat dan bertanya, "Ada urusan apa dia mencarimu? Dia tidak mengancammu, kan?"
Kepala desa tadi sempat khawatir. Bagaimanapun, pakaian pria itu tampak seperti orang kaya, bagaimana jika dia menindas warga desa? Namun, dia tidak tahu bahwa pria itu sama sekali tidak punya kemampuan untuk menindas Qin Yuan. Sebaliknya, dia justru dikendalikan sepenuhnya oleh Qin Yuan.
"Tidak," jawab Qin Yuan singkat.
"Lalu untuk apa dia mencarimu?"
"Hanya mengobrol sedikit soal alat tenun."
"Dia mengincar alat tenun kita? Itu tidak boleh! Aku harus menemuinya!" Kepala desa langsung marah besar.
Sekarang seluruh warga desa menggantungkan hidup pada alat tenun itu. Jika diincar oleh orang luar, bagaimana nasib mereka ke depannya? Tidak boleh, sama sekali tidak boleh!
Sambil berkata demikian, kepala desa dengan marah berniat kembali ke desa untuk memanggil orang-orang guna menghadang dan memperingatkan pria itu.
Qin Yuan segera menahan kepala desa dan menjelaskan, "Tidak, dia hanya ingin membicarakan kerja sama. Tenang saja, dia tidak akan membawa masalah bagi desa kita."
Kepala desa masih merasa ragu.
Setelah meyakinkan kepala desa untuk pergi, Qin Yuan tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mencari Er Gou. Saat ini, Er Gou sedang bertugas sebagai instruktur untuk melatih warga desa.
Melihat Qin Yuan di depan pintu, dia segera berhenti bicara, meminta maaf kepada warga, lalu keluar.
"Kak Qin, Anda mencari saya?" tanya Er Gou dengan antusias.
"Ada sedikit urusan. Kau kenal Wei Tao dari keluarga Wei?"
"Dia?" Er Gou menggaruk kepalanya. "Kenal, dia itu pengecut. Orang yang bahkan tidak bisa bicara tegas. Ada apa, Kak Qin? Dia mengganggumu? Perlu saya bantu beri dia pelajaran?"
Qin Yuan melirik Er Gou. Dia ingin memberi pelajaran pada Wei Tao? Sepertinya Er Gou sudah lama menyimpan kekesalan padanya. Bahkan Er Gou saja menganggapnya pengecut, artinya amarah yang terpendam di hatinya sudah cukup lama.
Setelah mendapat konfirmasi, Qin Yuan berpikir sejenak dan merasa kerja sama ini tidak akan menemui masalah. Wei Tao benar-benar menyimpan dendam, jadi dia tidak akan berkhianat.
Itu hal yang bagus.