Bab Dua Puluh Delapan: Bola Daging Singa Kecap Merah
Kali ini toko daring juga menyediakan ayam. Harganya sangat terjangkau, jadi harus membeli beberapa ekor untuk stok. Kebetulan nanti bisa dikirimkan sedikit untuk Ayah Pei.
Pei Yuezhi membeli lima ekor ayam dan memborong semua daging babi yang tersedia. Kali ini ia membeli daging samcan karena menurutnya bagian ini paling serbaguna untuk diolah menjadi masakan apa pun.
Persediaan tepung terigu sudah mulai menipis dalam beberapa hari ini. Setelah mengecek ruang penyimpanan, ternyata tersisa dua puluh lima kati. Ia pun memutuskan untuk membeli lagi lima puluh kati sebagai cadangan, karena tidak tahu apakah promo diskon berikutnya akan menyertakan tepung, meskipun beberapa kali sebelumnya selalu ada.
Sudah berhari-hari tidak memasak makanan enak, hari ini ia ingin menyiapkan dua hidangan spesial!
Pei Yuezhi mengambil dua kati daging samcan untuk membuat bola daging rebus kecap (liong-zi-tou). Ia memotongnya menjadi potongan kecil, lalu mencincangnya. Ia sangat berhati-hati agar tidak terlalu halus karena tekstur serat dagingnya harus tetap terasa.
Selanjutnya, ia merendam irisan daun bawang dan jahe yang sudah digeprek ke dalam air panas. Ia menambahkan bubuk lada putih, sedikit gula pasir, garam secukupnya, dan satu butir telur ke dalam daging cincang, lalu mengaduknya rata hingga telur terserap sempurna. Kemudian, ia menambahkan tepung pati dan air rendaman daun bawang-jahe tadi, lalu mengaduknya dengan kuat hingga adonan terasa kenyal.
Pei Yuezhi membagi daging menjadi enam bagian. Setiap bagian dibulatkan di telapak tangan sambil dipukul-pukul untuk membuang udara di dalamnya agar bentuknya padat.
Ia memanaskan minyak dalam wajan, lalu menggoreng bola-bola daging tersebut. Setelah dimasukkan ke wajan, ia tidak langsung mengaduknya. Baru setelah bagian bawahnya mengeras, ia membaliknya dengan perlahan. Proses penggorengan hanya berlangsung dua hingga tiga menit, tujuannya hanya untuk mengunci bentuk, bukan untuk mematangkannya.
Setelah itu, bola daging dimasukkan ke dalam panci, ditambahkan daun bawang, irisan jahe, daun salam, bunga lawang, arak kuning, kecap asin, saus tiram, garam, dan gula batu. Ia menambahkan air yang cukup banyak ke dalam panci karena bola daging ini harus direbus dalam waktu lama, sekitar dua jam dengan api kecil. Meskipun sebentar saja sudah matang, hasil rebusan lama akan memberikan cita rasa yang sangat berbeda.
Waktu yang tersisa cukup banyak, bahkan ia bisa beristirahat sejenak di kamar. Ia menugaskan sekelompok anak-anak untuk menjaga api agar tetap kecil, lalu ia pun pergi berbaring di kursi di halaman dengan tenang.
"Punya anak-anak yang bisa membantu itu menyenangkan sekali. Cukup cek pancinya sesekali, jadi bisa istirahat dulu," gumamnya.
"Yue, kamu rupanya sedang bermalas-malasan ya," sapa Liu Yuanyuan yang baru kembali dari halaman depan dan melihat Pei Yuezhi sedang berbaring.
Karena tidak ada panci kosong di rumah, mereka membawa beras ke rumah Liu Yuanyuan untuk ditanak. Melihat Liu Yuanyuan datang, Pei Yuezhi membuka satu matanya, menjawab bahwa ia lelah, lalu tidak berkata apa-apa lagi. Awalnya, Pei Yuezhi berniat memeriksa panci di tengah jalan, tetapi ia malah tertidur tanpa sengaja.
Saat terbangun, ia mencium aroma yang sangat harum. Pei Yuezhi membuka mata dengan bingung dan bergumam, "Kenapa malah ketiduran? Bagaimana dengan panciku!"
Ia segera bangkit dan berlari ke dapur.
"Aduh, harum sekali! Aku menjaga panci ini sampai merasa seperti seorang koki profesional, hihihi!"
Liu Yuanyuan sedang menutup tutup panci saat melihat Pei Yuezhi tiba-tiba muncul. "Kamu mengagetkanku, kenapa datang tidak bersuara?"
"Kamu yang mengagetkanku! Tertawa seperti penjahat begitu!"
"Aku ini membantumu menjaga panci, eh, kamu malah tertidur," goda Liu Yuanyuan dengan manja.
Pei Yuezhi meminta ketiga anak itu untuk bermain di luar, membiarkan dirinya dan Liu Yuanyuan berada di dapur saja. Proses merebus bola daging memang sangat lama, dan selama itu aroma masakan memenuhi ruangan. Liu Yuanyuan terus-menerus mengintip isi panci hingga membuat Pei Yuezhi memukul tangannya pelan.
"Jangan terus dibuka tutup pancinya, nanti aku pukul ya."
"Iya, iya, tidak lihat lagi."
Pei Yuezhi melihat keranjang buncis di sampingnya. Ia teringat bahwa Liu Yuanyuan suka buncis tumis kering. Kebetulan minyak bekas menggoreng bola daging tadi masih ada, jadi ia bisa menggunakannya untuk menggoreng buncis. Mereka berdua pun duduk bersama sambil membersihkan buncis dan mengobrol.
"Yue, apa kamu merasa sangat lelah?"
"Kita bekerja bersama, bukankah kamu juga lelah? Kenapa bertanya begitu?"
Liu Yuanyuan meletakkan buncis yang sedang dibersihkannya, menatap Pei Yuezhi dan berkata, "Yue, aku merasa tekananmu sangat besar. Aku tidak ingin kamu terlalu memforsir diri. Akhir-akhir ini, kamu membuatku merasa seperti di kehidupan kita sebelumnya."
"Padahal saat pertama kali kita bertemu, hari-hari kita cukup menyenangkan. Berjualan perlahan, untung stabil, dan hidup pun terasa cukup. Hari-hari itu terasa seperti kembali ke masa lalu saat kita bersama sebelum mulai mengelola restoran."
"Lalu kamu mulai menjadi semakin terburu-buru. Aku tahu kamu orang yang gigih, dan aku tidak bisa melarangmu berusaha, tapi aku melihatmu mulai cemas lagi akhir-akhir ini. Kamu semakin lelah, bukan hanya secara fisik, tapi juga tekanan mental."
"Sebagai sahabatmu, aku tidak ingin melihatmu seperti di kehidupan sebelumnya. Saat itu kamu bahkan jarang pulang ke rumah. Kamu tahu betapa khawatirnya aku saat menerima telepon dari tempat kerjamu?"
Pei Yuezhi terdiam. Ia memang merasa sangat cemas akhir-akhir ini. Ia mengira sudah menyembunyikannya dengan baik, tak disangka Yuanyuan menyadarinya.
"Aku hanya berharap kamu bisa sedikit lebih santai, atau ceritakan beban pikiranmu padaku. Aku sangat bersedia berbagi beban itu. Kamu tidak pernah sendirian. Kita jalani hidup dengan baik bersama-sama, itu jauh lebih penting dari segalanya."
Pei Yuezhi yang awalnya merasa terharu hingga hidungnya terasa perih, akhirnya tertawa mendengar kalimat terakhir itu.
"Aduh, karena hari ini kamu terlihat lebih santai, makanya aku berani bicara begitu. Tadi aku terlihat sangat berwibawa, bukan?" Liu Yuanyuan mengacungkan jempol pada dirinya sendiri.
Pei Yuezhi tertawa terbahak-bahak. "Kamu sangat berwibawa. Semua ucapanmu sudah kutaruh di dalam hati, tapi sekarang, bisakah kamu berhenti bermain-main dan selesaikan membersihkan buncisnya!"
"Iya, iya, tahu!"
Setelah buncis dicuci bersih, dibuang ujungnya, dan dipatahkan menjadi potongan panjang, Liu Yuanyuan bertanya, "Yue, buncis ini mau dimasak apa?"
"Buncis tumis kering, kesukaanmu."
"Benarkah! Kalau begitu aku harus cepat mengerjakannya, yey, kesukaanku!" Liu Yuanyuan mempercepat gerakannya.
Saat hampir selesai, Liu Yuanyuan pergi menyalakan api, sementara Pei Yuezhi menyiapkan bahan lainnya. Bawang putih dicincang, jahe diiris tipis, dan daun bawang dipotong-potong.
Setelah minyak panas, Pei Yuezhi mengeringkan sisa air pada buncis, lalu menggorengnya dengan api besar selama sekitar lima menit hingga kulitnya berkerut dan tampak garing, lalu ia mengangkatnya.
Pei Yuezhi menyisihkan minyak dari wajan, menyisakan sedikit minyak dasar, lalu menumis daun bawang, jahe, dan bawang putih hingga harum. Setelah wangi, ia menambahkan irisan cabai kering, menumisnya sebentar, lalu memasukkan buncis.
Ia menambahkan garam dan penyedap rasa, lalu mengaduknya hingga bumbu meresap sempurna, kemudian menambahkan kecap asin dan minyak lada Sichuan. Karena keduanya tidak suka tergigit butiran lada saat makan, ia menggunakan minyak lada sebagai penggantinya.
Pei Yuezhi juga ingin makan tahu tumis daun bawang, jadi ia membeli sekati tahu di toko daring dan membuat sausnya. Tahu digoreng hingga keemasan, lalu ditumis dengan daun bawang dan saus, dimasak sebentar, dan disiram dengan larutan pati.
Terakhir, ia menumis kentang pedas asam, dan semuanya siap disantap.
Saat itu, bola daging juga sudah matang. Saat tutup panci dibuka, aroma harum memenuhi ruangan, membuat Liu Yuanyuan berebut untuk menyajikan makanan.
Bola daging disajikan ke piring, sisa kuahnya dimasak dengan api besar hingga mengental, diberi sedikit larutan pati, lalu disiramkan ke atas bola daging dan ditaburi daun bawang. Waktunya makan!