Terlahir kembali sebagai putra sulung keluarga Xun pada masa Tiga Kerajaan, saudara sepupu Xun Yu, Xun Fei menyaksikan tulang-belulang terpampang di padang, kekuatan bangsa barbar yang mengancam, api
Sebelum mencapai usia dewasa, Sang Pendiri terkenal akan ketampanan dan wibawanya; ia berkarakter gagah berani, sehingga semua orang di kampung memujinya. Ada yang mengatakan ia memiliki sifat mulia para leluhur, dan menjulukinya sebagai Penguasa Muda yang bijaksana. Xu Zi dari Pingyu pun menghela napas dan berkata, “Burung phoenix bertengger di Yinying, ada kebajikan dan bakat suci; bila ia tampil ke depan, dunia akan tenteram.”
— Catatan Sejarah Wei, Jilid Satu, Riwayat Pendiri
Tahun keenam Guanghe, musim semi.
Di jalan utama menuju kota kabupaten Yinying, sebuah kereta berat berjalan pelan diiringi beberapa pelayan berkuda bersenjata pedang.
“Berhenti.”
Perintah dari dalam kereta segera ditaati oleh kusir yang langsung menghentikan laju kudanya.
Seorang pemuda berpakaian hitam, berikat kepala dan bersenjata pedang, turun dari kereta. Ia menghirup harum gandum yang ditiup angin di sepanjang jalan, hatinya terasa sangat lega.
“Masih sepuluh li lagi ke Yinying, bukan?”
Namanya Chen Gong, bergelar Gōngtái, berasal dari Dongjun.
Kali ini, ia pergi dari Dongjun ke Yinying untuk menuntut ilmu.
Pada masa Dinasti Han Timur, budaya menuntut ilmu ke tempat jauh sangat populer. Hal ini karena banyak kitab klasik yang telah hilang dan ilmu pengetahuan tersebar tidak merata; jadi, jika ingin belajar, seseorang mesti berguru langsung pada sarjana atau cendekiawan ternama.
Selain itu, pada akhir Dinasti Han, kebiasaan menilai kepribadian seseorang juga meluas. Jika ingin meraih nama baik dan diangkat sebagai pejabat k