Bab Empat Puluh Tiga: Mematahkan Ilmu Hitam
Kaisar akhirnya siuman setelah terbebas dari pengaruh ilmu sihir.
“Adikku, apa yang terjadi padaku?” Meskipun sakit kepala Kaisar telah sirna, ia benar-benar tak ingin lagi merasakan pengalaman tadi.
“Kakak, tenanglah dulu. Di antara utusan negeri asing ada seseorang yang menguasai ilmu sihir. Aku akan segera menangkapnya,” ucap Xieo Xuan Yi seraya menggenggam erat tinjunya.
“Pengawal istana, kepung utusan Negeri Tu!” Dengan satu komando, beberapa pengawal istana segera bergegas masuk.
“Bagaimana mungkin?” Sesaat pria tua berjanggut kambing itu terkejut, namun ia cepat menguasai diri.
Xieo Xuan Yi menyerahkan Kaisar kepada Permaisuri, lalu dengan satu tangan bertumpu pada sandaran singgasana naga, ia merebut pedang panjang dari salah satu pengawal istana dan melesat seperti anak panah.
“Trang!” Suara benturan senjata menggema di dalam balairung. Prajurit Negeri Tu bersenjata dua belati itu terdorong mundur tiga langkah, berhasil menangkis serangan Xieo Xuan Yi.
Xieo Xuan Yi tak menyangka serangannya gagal membunuh lawan, ia berbalik, menyerang dengan pedang sekali lagi. Prajurit itu mundur cepat, tersenyum tipis di sudut bibirnya.
Pria tua berjanggut kambing mengibaskan tangan, mendadak ribuan serangga beracun menyerbu masuk ke balairung. Xieo Xuan Yi berada di garis depan, terpaksa melindungi matanya, sementara lengannya disengat berkali-kali.
Para pejabat ketakutan, berlarian menghindari serangga berbisa di lantai dan di udara.
“Su Jing Luo, apakah kau punya cara?” Xieo Xuan Yi berteriak, sambil mundur ke arah Su Jing Luo.
“Aku sedang mencari!” Su Jing Luo gelisah, terus membongkar-bongkar persediaan obat di ruang pengobatan.
“Tak kusangka di negeri kalian masih ada tabib sehebat ini, tapi ilmu sakti Negeri Tu bukanlah sesuatu yang bisa diatasi dengan sekadar pengobatan!”
Salah satu utusan Negeri Tu tertawa sombong, menikmati pemandangan pejabat dan pengawal istana yang kelabakan. Di seluruh balairung, hanya area di sekitar mereka yang aman.
“Ketemu!” Su Jing Luo tampak gembira, ia menghamburkan serbuk obat ke udara. Aroma harum tipis menyebar ke segala penjuru.
Banyak serangga beracun mati seketika, hanya beberapa yang masih menggeliat di lantai.
“Ayo kipas anginkannya, kenapa malah bengong?” Su Jing Luo mendorong Xieo Xuan Yi yang masih tertegun, tawanya jernih seperti lonceng perak.
“Oh.” Xieo Xuan Yi baru tersadar, ia memberi isyarat pada pengawal istana untuk mencari alat pengipas.
“Sial…” Pria tua berjanggut kambing menggeram. Tak disangkanya ilmu sihir yang dibanggakan akhirnya bisa dikalahkan di sini.
“Apa hebatnya ilmu sakti, paling-paling sihir rendahan!” Su Jing Luo berdiri di atas meja, memandang utusan Negeri Tu dari ketinggian.
Sejak dulu, tabib dan dukun adalah dua sisi yang berbeda; satu membawa kejahatan, menindas rakyat, satu lagi membawa kebaikan, menyelamatkan nyawa. Sebagai murid tabib kuno, Su Jing Luo merasa wajib memberantas dukun jahat.
“Benar, pria tua berjanggut kambing itu, Xieo Xuan Yi, dia dukun. Tangkap dia!”
Xieo Xuan Yi mengangguk, kembali menerjang ke depan, sementara Su Jing Luo melompat turun, bersiap mengantisipasi trik sihir berikutnya.
Kali ini tiga prajurit Negeri Tu menghadang, mengepung Xieo Xuan Yi. Ia bertarung sendirian melawan tiga orang, pakaian hitam dan pedang peraknya berpadu, mendominasi lawan.
Ketiga prajurit itu sadar tak mampu menandingi, mereka terus mempersempit formasi, memberi waktu bagi dukun di kelompok mereka.
Beberapa pengawal istana yang hanya terkena sengatan ringan bangkit, berusaha membantu Pangeran Chu.
“Hati-hati! Tutup mata dan tahan napas!” seru Su Jing Luo tiba-tiba, lalu dengan cepat mengambil beberapa pil putih dari ruang pengobatan.
Xieo Xuan Yi tak tahu maksud Su Jing Luo, namun naluri bertarung yang terasah membuatnya segera mundur dan memalingkan tubuh.
Beberapa pengawal istana tak sempat menghindar, mereka menutup mata yang terus mengucur darah di tengah kabut racun, akhirnya tewas seketika, membuat para pejabat ketakutan setengah mati.
“Kalau kau menutup mata, bisa bertarung atau tidak? Aku butuh kau untuk menahan para utusan lainnya,” kata Su Jing Luo, menyelipkan pil ke tangan Xieo Xuan Yi saat ia mendekat.
“Bisa.” Xieo Xuan Yi menjawab singkat, tanpa ragu.
“Kau percaya padaku?” Su Jing Luo menggigit pil putih itu, mengambil jarum emas dari lengan bajunya, lalu menargetkan sang dukun di luar kabut racun.
Kali ini Xieo Xuan Yi tak menjawab, namun Su Jing Luo bisa merasakan ia sudah siap.
Aku juga percaya padamu, batin Su Jing Luo. Ia mengabaikan deru angin pedang di telinganya, berkonsentrasi menentukan posisi, lalu mengangkat jarum emas.
“Trang!” Xieo Xuan Yi mengalihkan pedang prajurit Negeri Tu.
“Kalau begitu, jangan salahkan aku bertindak kejam!” Pria tua berjanggut kambing mengeluarkan tiga jarum beracun, siap dilemparkan.
“Swiw swiww swiww!” Tiga suara tajam membelah udara, masing-masing jarum mengarah ke dahi, tengah hidung, dan tenggorokan Su Jing Luo.
Su Jing Luo menghindar selincahnya, dengan mata terpejam ia mengingat posisi dukun tadi, lalu melemparkan jarum emas secepat kilat.
Pertarungan para ahli hanya butuh sekejap. Su Jing Luo berguling, keluar dari kabut racun, meludahkan pil putih, dan terengah-engah.
Xieo Xuan Yi berhasil menewaskan dua prajurit Negeri Tu, kemudian mundur.
Para pengawal istana masuk dalam jumlah besar, mengepung utusan Negeri Tu rapat-rapat.
“Kau tidak apa-apa?” Xieo Xuan Yi menanyai Su Jing Luo, mengabaikan lengannya yang membengkak akibat racun.
“Syukurlah aku tidak mengecewakan.” Su Jing Luo merasa pusing, hampir jatuh duduk. Beruntung Xieo Xuan Yi gerak cepat dan menopangnya.
Tampak satu jarum beracun menancap di pundak Su Jing Luo, anehnya tak setetes pun darah keluar.
“Tabib istana, ke mana kalian!” Xieo Xuan Yi membentak, segera dua tabib istana datang tergesa-gesa.
“Sudahlah, tidak kena bagian vital, sebentar lagi kuobati sendiri.” Su Jing Luo menaburkan sedikit obat bubuk ke luka, mencabut jarum beracun yang berwarna hijau kehitaman, jelas telah direndam racun selama berhari-hari.
Kabut racun perlahan menghilang, tampak sang dukun memegangi lehernya, wajahnya penuh ketidakpercayaan. Sebatang jarum emas menancap di lehernya, tenggelam hampir sepertiga.
Para pengawal istana segera membekuk dan menahan semua anggota utusan Negeri Tu.
“Tinggalkan dukun itu, ia membawa banyak racun, sangat berbahaya jika tidak ditangani benar,” ujar Xieo Xuan Yi menyampaikan pesan Su Jing Luo.
“Baik.” Para pengawal istana mengangkat hanya jenazah rekan-rekan mereka.
“Buat ramuan sesuai resep ini, bagikan pada para pejabat,” kata Su Jing Luo, menyerahkan resep pada tabib istana.
“Kakanda Kaisar, utusan Negeri Tu memberontak, telah berhasil kami jinakkan berkat kerja sama Su Jing Luo. Hamba mohon Kakanda memberi penghargaan pada Su Jing Luo dan sekalian mengabulkan permohonanku menikahinya.”
Xieo Xuan Yi berlutut satu kaki, memohonkan penghargaan untuk Su Jing Luo.
“Berdirilah adikku, Su Jing Luo berjasa besar menyelamatkan tahta, pasti akan kuhadiahi. Hari ini aku lelah, nanti saja kupanggil lagi, kau juga selidiki asal mula kejadian ini.”
Kaisar benar-benar tak menyangka, Su Jing Luo ternyata memiliki kemampuan sehebat itu, sampai dukun yang membuat para pengawal istana tak berdaya pun bisa dilumpuhkan hanya dengan satu jarum. Hatinya pun jadi was-was.
“Baik.” Xieo Xuan Yi menerima perintah.
“Kalian semua boleh mundur.” Para utusan Negeri Tu telah ditangkap, tapi Kaisar sama sekali tak merasa gembira.
Setelah para pejabat beranjak, Kaisar duduk di singgasana naga, mengenang kejadian barusan, hatinya tetap tak tenang.
“Permaisuri, menurutmu dari mana Su Jing Luo belajar kemampuan sehebat itu?”