Bab Empat Puluh Sembilan: Babi Hutan Turun Gunung
Setelah seharian mendaki gunung dan mengayunkan cangkul, Gu Jiu mengayuh sepedanya kembali ke kota kabupaten dengan sekujur tubuh yang pegal-pegal. Dengan susah payah ia akhirnya tiba di depan pintu rumahnya, di mana langit sudah dipenuhi oleh semburat senja.
"Kak Jiu, dari mana saja kamu hari ini, kenapa baru pulang sekarang?" Xu Ting keluar dari rumah tetangga sebelah.
Gu Jiu baru saja membuka gembok gerbang ketika mendengar suara Xu Ting. Ia menoleh sekilas ke arahnya, lalu mendorong gerbang dengan kuat dan memasukkan sepedanya ke dalam.
Melihat Gu Jiu tidak menjawab pertanyaannya secara langsung, Xu Ting mengamatinya dan dengan cepat menyadari bahwa sepatu pria itu dipenuhi dengan lumpur kuning.
"Kak Jiu, sepatumu penuh dengan lumpur, apa kamu pergi ke luar kota?"
Gu Jiu memarkir sepedanya, lalu berbalik dan bertanya, "Ada perlu apa kamu mencariku?"
Wajah Xu Ting merona malu dan ia tersenyum tipis, "Tidak ada apa-apa, hanya ingin datang melihatmu."
Kemudian ia melirik ke sekeliling ruangan. "Mana Kamerad Lin Shu? Sudah pulang?"
"Dia sudah pulang. Aku baik-baik saja, hari sudah larut, cepatlah pulang." Usai berkata demikian, Gu Jiu melangkah masuk ke dapur untuk merebus air panas.
Saat berada di gunung tadi, Lin Shu telah berpesan kepadanya bahwa setelah mendaki gunung dan bersepeda, setibanya di rumah ia harus merebus air panas untuk mandi dan tidak boleh menggunakan air dingin, jika tidak, hal itu akan mempengaruhi pembuangan panas tubuh, yang dalam istilah orang tua disebut masuk angin terjebak.
Ia sekarang adalah seorang pria yang sudah memiliki tunangan, jadi ia tentu saja harus menjadi pria yang mendengarkan perkataan tunangannya.
Barulah pada saat itu Xu Ting menyadari bahwa kemeja putih Gu Jiu dipenuhi dengan noda. "Kak Jiu, ke mana saja kamu seharian ini? Kenapa kemejamu penuh dengan noda lumpur atau noda rumput? Kemejamu ini terbuat dari kain Dacron, harganya tidak murah."
Ia tidak berani mengatakan bahwa kemeja itu tampaknya masih terlihat baru sembilan puluh persen, dan ia tidak tahu apakah noda yang menempel di atasnya bisa dibersihkan.
Sebuah kemeja baru disia-siakan begitu saja, apa dia tidak merasa sayang?
Melihat Xu Ting mengikutinya masuk, Gu Jiu mengerutkan kening dan bertanya, "Aku sedang bersiap untuk merebus air dan mandi, apa kamu yakin ingin tinggal di sini?"
"Aku—" Xu Ting bagaimanapun juga adalah seorang gadis muda dengan pengalaman sosial yang masih minim. Ia melirik postur tubuh Gu Jiu yang tinggi dan tegap, dan dalam sekejap wajahnya berubah menjadi merah padam.
Gu Jiu terus menatapnya dengan pandangan seolah-olah akan terus berdiri berhadap-hadapan seperti itu jika dia tidak pergi. Xu Ting tentu saja bukan tandingan pria itu, dan dalam waktu kurang dari satu menit, ia pun kabur terbirit-birit.
"Cih!"
Mendengar suara langkah kaki yang berlari menjauh, Gu Jiu mendengus remeh. Ia menuangkan air panas dari tungku batu bara ke dalam ember, lalu menambahkan sedikit air dingin, dan meletakkan kembali wajan di atas tungku untuk terus memanaskannya.
Sebelum mandi, ia menyempatkan diri untuk mengunci pintu gerbang rumah leluhur dengan selot.
Usai mandi dan mengenakan pakaian bersih, ia sudah tidak berniat untuk memasak lagi. Ia langsung memasak satu mangkuk besar mi telur untuk dirinya sendiri. Setelah kenyang dan puas, ia berbaring di tempat tidur untuk meredakan nyeri ototnya.
Sejak kecil ia tidak pernah melakukan pekerjaan pertanian, dan pendakian gunung serta penggalian obat hari ini sangat menguras tenaganya. Di hadapan Lin Shu, ia selalu menjaga harga diri prianya.
Sekarang setelah pulang ke rumah, makan dengan kenyang, ia benar-benar sudah tidak sanggort lagi menahan lelah.
Tim Produksi Xiaohe.
Lin Shu tidur sampai terbangun dengan sendirinya.
Liu Xiaoe dan Lin Xiaojun sedang duduk di serambi mengupas kacang fava, sementara Zhuangzhuang sedang duduk di meja sambil menikmati sarapannya. Anak laki-laki itu melihat Lin Shu keluar dari kamar dengan mata yang masih mengantuk.
"Bibi Kecil, matahari sudah menyinari pantatmu, baru kamu bangun."
Kedua orang yang duduk di serambi menoleh ketika mendengar suara Zhuangzhuang.
Liu Xiaoe memasukkan kacang fava yang sudah dikupas ke dalam baskom. "Sarapan dihangatkan di atas tungku, cuci muka sana lalu ambil sendiri."
Lin Shu tersenyum dan mengangguk. Saat melewati Zhuangzhuang, ia mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambut bocah kecil itu.
Kepala Zhuangzhuang meronta dari bawah telapak tangannya dan berseru dengan nada tidak senang, "Bibi Kecil, kamu sangat menyebalkan."
"Hehehe—" Lin Shu pura-pura tidak mendengar, pergi mencuci muka terlebih dahulu, lalu mengambil sarapannya.
Ia duduk di hadapan Zhuangzhuang dan bertanya kepada Liu Xiaoe yang sedang mengupas kacang fava di serambi, "Ibu, hari ini Ibu tidak pergi bekerja di ladang?"
"Ayahmu dan kakakmu menyuruhku untuk mengurus rumah saja mulai sekarang, jadi aku tidak perlu pergi bekerja di ladang lagi."
Melihat ekspresi wajah Liu Xiaoe yang dihiasi senyuman, Lin Shu tahu bahwa ibunya pasti sangat puas dengan pengaturan seperti itu.
Ini bukanlah karena Liu Xiaoe ingin malas-malasan, melainkan kebahagiaan yang datang dari lubuk hati karena merasa diperhatikan oleh keluarganya.
Terlebih lagi, mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah dan mengurus kebutuhan sehari-hari seluruh anggota keluarga sama sekali tidak lebih ringan daripada bekerja di ladang.
"Mengurus makanan untuk seluruh anggota keluarga, ditambah dua ekor babi, beberapa ekor ayam, dan dua mu tanah garapan pribadi yang harus dirawat, apakah Ibu sanggup mengurusnya sendirian? Menurutku bekerja di ladang justru lebih ringan daripada mengerjakan pekerjaan rumah."
Memasak, menimba air, dan melakukan pekerjaan rumah tangga benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan rumah tangga di zaman modern, bahkan rasanya jauh lebih melelahkan daripada bekerja di ladang.
Saat bekerja di ladang, jika lelah Anda bisa bermalas-malasan sesaat, tetapi dalam pekerjaan rumah tangga, jika Anda bermalas-malasan, pekerjaan rumah tidak akan pernah ada habisnya.
"Pekerjaan di rumah selalu harus ada yang mengerjakannya, kalau bukan aku yang mengerjakan, apa mau menyuruh kakak-kakak iparmu itu yang mengerjakannya? Kalau benar-benar menyuruh mereka yang mengerjakan, omongan orang sekampung bisa menenggelamkan mereka."
Liu Xiaoe berkata sejujurnya. Menantu perempuan mana yang akan berebut mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan membiarkan ibu mertua yang sudah tua berjemur di luar?
Selama ada orang yang berani melakukan hal itu, para perempuan pendendam di desa pasti akan bergosip tentang menantu pemalas dari keluarga anu yang bahkan tidak mau turun ke ladang, dan sepanjang hari hanya tahu malas-malasan serta bersembunyi di rumah untuk menghindari pekerjaan.
"Oh, benar juga, Haiyan datang mencarimu pagi-pagi tadi, katanya ingin mengajakmu ke gunung mencari jamur. Kurasa karena melihatmu belum bangun, dia pergi ke gunung lebih dulu."
"Hmm, aku tahu."
Berbicara tentang Haiyan, Lin Shu ingin tahu apakah perjodohan wanita itu beberapa waktu lalu ada kelanjutannya, dan apakah Bibi Niu kembali menjodohkannya lagi setelah itu.
Zhuangzhuang mengangkat kepalanya dari mangkuk. "Bibi Kecil, apa kemarin waktu pulang kamu membawakan kami permen?"
"Tidak, kamu kan baru saja bilang aku menyebalkan."
"Biar kualat, aku tidak akan bilang begitu lagi lain kali. Bibi Kecil, aku paling suka padamu. Kalau begitu, apa kamu masih punya permen?" Zhuangzhuang yang berusia enam tahun telah memahami dengan mendalam prinsip bisa tunduk dan bisa bangkit.
Ketiga orang yang duduk di sana tidak kuasa menahan tawa mendengar ucapannya.
Liu Xiaoe bertanya sambil tersenyum, "Apa hari ini kamu mau pergi ke gunung lagi?"
Lin Shu memperhatikan tatapan penuh harap dari Zhuangzhuang, tetapi ia pura-pura tidak melihatnya. "Di rumah juga tidak ada apa-apa, lebih baik pergi ke gunung jalan-jalan."
Kemarin ia pulang terlalu malam dan lupa membeli permen dari sistem. Permen yang dibelinya sebelumnya telah diserahkan kepada ibunya untuk disimpan. Tinggal di rumah pun tidak ada kegiatan, jadi lebih baik pergi ke gunung untuk mencari uang demi membeli permen susu.
"Baiklah, di dalam lemari mangkuk ada beberapa bakpao di mangkuk besar, bawa sekalian untuk mengganjal perut kalau kamu lapar di gunung." Sambil berkata demikian, Liu Xiaoe bangkit berdiri dan masuk ke kamar tidur, lalu sesaat kemudian keluar membawa beberapa butir permen.
"Masing-masing dua butir, makanlah perlahan-lahan, jangan langsung dihabiskan sekaligus."
Wajah Zhuangzhuang yang tadinya terkulai lemas karena tidak ada permen, seketika langsung ceria dan berseri-seri.
Lin Xiaojun seumuran dengan Zhuangzhuang. Meskipun di luar tampak lebih menjaga gengsi daripada Zhuangzhuang, namun tindakan tidak sabar yang ia tunjukkan saat mengupas permen dan memasukkannya ke dalam mulut membuktikan bahwa ia juga sangat ingin makan permen.
Lin Shu mengisi penuh botol termosnya dengan teh dingin, membungkus bakpao dengan kertas minyak, dan memasukkan alat-alat seperti sabit dan cangkul obat ke dalam keranjang punggung. Yang terpenting adalah memastikan ujung lengan baju dan celananya diikat dengan kencang.
"Siang ini aku tidak pulang untuk makan, nanti sore baru aku pulang."
Saat ia keluar dari rumah, orang-orang di desa pada dasarnya entah sudah pergi ke gunung atau pergi bekerja di ladang, sehingga hampir tidak ada orang yang terlihat di dalam desa.
Namun, di ladang-ladang di luar desa, cukup banyak penduduk desa yang sedang bekerja. Lin Shu tidak ingin terlalu menarik perhatian, jadi ia memilih mendaki gunung melalui jalan kecil di belakang desa.
Di pinggir jalan terdapat banyak rumput ekor sapi. Rumput ekor sapi yang telah direbus dan diolah dinamakan *bianxu*, dan memiliki nilai obat yang sangat tinggi.
Meskipun sekadar rumput liar di pinggir jalan, rumput itu bisa dijual seharga dua sen perbatang di dalam sistem, bahkan lebih mahal satu sen daripada daun pisang air.
Melihat beberapa rumput ekor sapi di pinggir jalan tumbuh dengan subur, Lin Shu berjongkok dan mengggalinya menggunakan cangkul obat. Rumput ekor sapi memiliki daya lentur yang kuat, sehingga justru cukup mudah untuk dicabut dan tidak mudah putus.
Namun, tepat ketika ia sedang asyik menggali, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berlari terburu-buru dari arah gunung.
Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang yang berteriak meminta tolong dengan histeris bagaikan hantu menangis dan serigala melolong.
Lin Shu bangkit berdiri, bahkan mengabaikan rumput ekor sapi yang sedang diggalinya. "Ada apa ini?"
Di tengah-tengah lereng gunung, suara teriakan minta tolong itu diiringi oleh suara goyangan dahan-dahan pohon. Dari posisi Lin Shu berdiri, ia bahkan bisa mendengar lolongan binatang buas.
Tentu saja, teriakan minta tolong itu terdengar sangat memekakkan telinga, dan ditambah lagi berasal dari tengah lereng gunung, suaranya merambat sangat jauh hingga terdengar oleh banyak penduduk desa yang sedang bekerja di ladang tidak jauh dari sana.
*(Masih ada satu bab lagi setelah ini.)*