Bab Enam Puluh Satu: Dia Telah Datang
Zhang Zhening sangat paham, bahkan Wang Qiang yang terkenal keras kepala pun bisa ditaklukkan olehnya, cukup membuktikan betapa kejam dan brutalnya Wu Peng. Meski ia dan Qiao Na tidak punya dendam mendalam, namun sakit hati Qiao Na padanya sudah memuncak—sekaranglah saatnya meledak. Malam ini, persoalan yang akan dihadapinya jauh lebih rumit dari biasanya; bisa jadi, ia benar-benar akan dilumpuhkan.
Saat utusan kelas tiga datang menyampaikan pesan, kebetulan Kepala Landak juga ada di samping Zhang Zhening. Kepala Landak langsung naik pitam begitu mendengarnya, “Wah, Bang Zhang, tunggu di sini sebentar. Jangan tunggu malam, sekarang juga gue datangi mereka ke kelas tiga buat protes!”
“Bro, tolong istirahat dulu!” Zhang Zhening sudah tak tahu harus berkata apa pada Kepala Landak. Anak ini keras kepala, temperamennya meledak-ledak, disentuh sedikit saja langsung menyala.
“Bang Zhang, jadi gimana sebaiknya menurut lo?” Kepala Landak memang gampang emosi, tapi tetap mendengarkan perkataan Zhang Zhening, kini ia mengepalkan tinju, tampak sangat bersemangat.
Zhang Zhening hanya menghela napas pelan. Ia tahu malam ini pasti berbeda dari biasanya. Sebenarnya ia ingin pergi sendiri agar tidak melibatkan orang lain. Namun ia juga tidak berniat melarang Kepala Landak, sebab tahu betul wataknya; sekalipun dilarang, anak itu pasti bakal nekat ke kelas tiga sendiri.
“Begini saja, jangan cerita ke siapa pun soal ini, apalagi sampai diketahui Weiwei dan Tang Wan. Setelah pelajaran malam selesai, kita berdua pergi bareng.” Hanya itu yang bisa dikatakan Zhang Zhening. Ia tahu, kalau Kepala Landak tidak diajak, bisa-bisa saat itu juga anak itu sudah menyerbu kelas tiga.
Saat pelajaran malam, Zhang Zhening tampak tak fokus, ini pertama kalinya sejak kembali ke masa ini ia merasa cemas karena suatu urusan. Setiap orang pasti punya naluri menghindari bahaya, Zhang Zhening memang bukan pengecut, tapi siapa pun tentu tak ingin menjalani sisa hidup sebagai orang cacat.
Apalagi, urusan ini juga melibatkan Kepala Landak. Jika nanti orang-orang itu benar-benar nekad, akibatnya sungguh tak terduga. Zhang Zhening tiba-tiba merasa sangat tak berdaya; keluarga Fang Yiming sudah tumbang, Huang Boran menghilang, sempat terpikir menelepon Lin Tanxin untuk curhat, tapi akhirnya urung. Soalnya, lawannya kali ini adalah murid-murid Sekolah Tianjiao, dan walaupun Lin Tanxin mampu melindungi diri sendiri, posisinya saat ini masih dalam sorotan—ia sungguh tak ingin menyeret Lin Tanxin ke masalah lagi.
Empat jam pelajaran malam, Zhang Zhening terus melamun, sampai bel pelajaran terakhir berbunyi. Biasanya, setelah pelajaran malam, Zhang Zhening dan tiga saudara angkatnya akan tinggal sebentar untuk belajar lagi. Tapi malam ini ada urusan, jadi ia berbohong sedikit pada Tang Wan, lalu bersama Kepala Landak berjalan menuju pintu belakang sekolah.
Di jalan, Kepala Landak memungut dua batu, lalu menyodorkan satu pada Zhang Zhening, “Bang Zhang, pegang ini buat jaga-jaga, nanti hajar mereka habis-habisan!”
Zhang Zhening sempat ragu. Sejak kembali ke masa ini, ia belum pernah memegang senjata, tapi akhirnya menerima batu itu dan menyimpannya di kantong.
Begitu mereka sampai di gerbang sekolah, tiba-tiba beberapa orang muncul, mengapit mereka berdua, berkata, “Ayo ikut kami sebentar, ada yang mau ketemu.”
Mereka membawa Zhang Zhening dan Kepala Landak ke sebuah gang sepi dekat pintu belakang sekolah. Gang itu sudah masuk wilayah rencana pembongkaran, toko-toko di sekitarnya hampir semuanya tutup, jarang ada orang lewat—tempat sempurna untuk perkelahian.
Di tikungan gang, puluhan orang sudah berkumpul. Dari penampilan mereka, jelas semuanya murid Sekolah Tianjiao. Qiao Na dan pacarnya, begitu melihat Zhang Zhening datang, langsung melambaikan tangan. Puluhan orang itu seketika mengepung mereka.
“Zhang bodoh, coba kamu sombong lagi!” Qiao Na menunjuk hidung Zhang Zhening dengan penuh kebencian.
Ekspresi Zhang Zhening tetap tenang, hanya berkata datar, “Sebenarnya apa salahku padamu, sampai kamu begitu memusuhiku?”
Qiao Na menatap Zhang Zhening dengan kejam, “Kamu selalu menonjolkan diri, selalu membantahku. Setiap lihat kamu aku kesal. Hari ini, aku ingin kamu membayar semua perbuatanmu!”
Di sampingnya, Wu Peng juga berkata dingin, “Zhang Zhening, jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri yang menyinggung pacarku. Hari ini aku tidak akan ribet, cukup lumpuhkan satu kakimu, lalu enyah dari sekolah ini. Selesai urusan.”
“Sialan, Wu Peng, ngapain lo banyak bacot!” Salah satu murid Sekolah Tianjiao maju selangkah, menatap garang pada Zhang Zhening, “Hei bocah, gue murid Tianjiao, mending lo kerja sama, kalau nggak jangan salahin gue kalau tangan gue berat!”
Sambil berkata, tangannya terangkat, menampar ke wajah Zhang Zhening.
“Sialan, mampus lo!” Kepala Landak yang melihat itu langsung mengeluarkan batu dari kantong, dan melemparkannya ke wajah murid Tianjiao itu.
Orang itu tak sempat menghindar, dahinya langsung berdarah deras.
Zhang Zhening pun tak tinggal diam, memanfaatkan kebingungan semua orang, ia maju, menjambak rambut lawannya lalu menghantamkan batu ke kepala orang itu.
Berkali-kali, hingga tujuh atau delapan kali, baru orang-orang di sekitar sadar lalu beramai-ramai menyerbu.
Mereka tadi terkejut karena tak menyangka dua orang ini berani menyerang murid-murid Tianjiao.
Sekolah Tianjiao menjadi legenda di kota ini bukan hanya karena murid-muridnya anak orang kaya, tapi juga karena mereka sangat unggul dalam segala hal—baik belajar maupun bertarung, ditambah latar belakang kuat, sehingga mereka selalu bertindak tanpa takut, sekejam apa pun.
Tak butuh waktu lama, Zhang Zhening dan Kepala Landak sudah terkapar dipukuli puluhan orang. Saat terjatuh, tangan Zhang Zhening meraih ke samping, kebetulan menangkap pacar Qiao Na, lalu menariknya hingga mereka berdua jatuh bersama.
Tongkat kayu dan sepatu kulit menghujani tubuh Zhang Zhening, tapi ia tak peduli, terus menghantamkan batu ke tubuh pacar Qiao Na.
Akhirnya, tenaganya habis, batu di tangannya pun entah ke mana, ia dan Kepala Landak pun tergeletak tak berdaya, menerima tendangan dan pukulan dari segala arah.
“Berhenti!” Saat itu, pacar Qiao Na yang menutupi luka di kepalanya, berteriak dengan penuh kebencian.
Beberapa murid Tianjiao mengangkat tubuh Zhang Zhening dan Kepala Landak, lalu salah satunya bertanya pada Wu Peng, “Wu Peng, mau diapain mereka?”
“Tentu saja lumpuhkan mereka!” Qiao Na langsung menyela sambil menunjuk Zhang Zhening, “Terutama yang ini, aku mau dia seumur hidup di kursi roda!”
Setelah itu, ia menatap penuh dendam pada Zhang Zhening yang berlumuran darah, “Masih berani sombong? Kenapa diam saja sekarang? Dulu kamu pikir Fang Yiming dan yang lain akan selalu membelamu? Sekarang kamu cuma anjing mati, aku bisa berbuat apa saja padamu!”
Lalu, dengan isyarat tangan kepada murid-murid Tianjiao, ia berkata dingin, “Lumpuhkan mereka!”
Namun tak seorang pun bergerak. Semua murid Tianjiao hanya memandang Qiao Na dengan dingin.
Qiao Na jadi panik, “Kalian nggak dengar, ya? Aku suruh lumpuhkan mereka!”
Plak!
Sebelum Qiao Na sempat selesai bicara, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya. Seorang murid Tianjiao menunjuknya sambil memaki, “Emang lo siapa? Kita ini bukan preman bayaran keluargamu! Sejak kapan lo boleh perintah-perintah kami?”
“Ini… maaf… maaf…” Qiao Na baru sadar, semua murid Tianjiao di sini bukan anak buahnya, tapi orang-orang yang Wu Peng bujuk dengan susah payah untuk membantu.
“Bro, maaf, pacarku memang suka asal bicara, jangan diambil hati.” Wu Peng pun dengan kepala berdarah, buru-buru menenangkan, “Ngapain bengong? Cepat minta maaf!”
“Maaf, maaf, tadi aku…” Qiao Na mukanya pucat, mengangguk-angguk seperti anak ayam, terus-menerus meminta maaf.
“Cukup!” Murid Tianjiao itu melambaikan tangan, lalu berkata pada Wu Peng, “Wu Peng, hari ini gue bantuin lo karena menghargai lo. Tapi inget, gue bukan anak buah lo. Lain kali kalau ngomong sama kami kayak tadi, lo sendiri yang bakal gue lumpuhkan!”
“Siap, Bang, kita bakal hati-hati, aku ini cuma anak bawang, Bang jangan dimasukin hati.” Wu Peng buru-buru membungkuk, sekalipun dia pun harus merendah di depan murid-murid Tianjiao.
Murid Tianjiao itu mendengus, lalu berkata, “Udah gue bantu, lo bikin ramai-ramai begini, gue kira lawannya siapa, ternyata cuma dua sampah. Lain kali urusan kecil kayak gini jangan ganggu gue lagi.”
“Siap, siap…” Wu Peng cepat-cepat mengiyakan.
“Semua minggir, biar gue yang urus!” Murid Tianjiao yang tadi kepalanya berdarah karena batu Zhang Zhening dan Kepala Landak, dengan marah maju membawa pipa besi, menatap Zhang Zhening dengan tatapan penuh dendam, “Dasar bocah, berani-beraninya lo nyerang gue! Hari ini gue bakal lumpuhkan tangan dan kaki kalian berdua!”
Selesai bicara, ia menggenggam pipa besi, mengangkat tinggi-tinggi, mengarah ke salah satu kaki Zhang Zhening, siap menghantam.
Mata Qiao Na berbinar, menunggu saat Zhang Zhening menjerit kesakitan.
“Semua berhenti!” Tepat saat pipa besi itu hampir mengenai sasaran, tiba-tiba terdengar suara keras dari samping. Seorang remaja dengan wajah tampan namun sorot mata suram perlahan berjalan mendekat.
Begitu mengenali siapa yang datang, murid-murid Tianjiao langsung bungkam, tak berani bicara atau bahkan bernapas keras-keras.
“Tadi siapa yang bilang mau melumpuhkan saudaraku?” Remaja itu bertanya dingin. Meski ia datang sendirian, puluhan murid Tianjiao tak ada yang berani menatapnya apalagi menjawab.
“Aku tanya lagi, siapa yang barusan mau melumpuhkan saudaraku?”
Nada suara remaja itu semakin berat, membuat semua murid Tianjiao gemetar bersamaan.
Namun Qiao Na tak menyadari siapa dia, dengan suara tajam membalas, “Siapa lo? Urusan apa lo ikut campur di sini?”
Plak!
Belum sempat Qiao Na menyelesaikan kalimatnya, wajahnya kembali ditampar keras oleh murid Tianjiao. Setelah itu, murid itu berjalan ke arah remaja tadi, membungkuk dengan sangat hormat, “Kak Huang, maaf, kami tidak tahu dia saudara Anda, dan memang Wu Peng dan perempuan inilah yang memanggil kami.”
Remaja itu menatap dingin Qiao Na dan Wu Peng, tanpa ekspresi, “Benar begitu?”
“Benar…” Qiao Na baru hendak menjawab, tiba-tiba wajahnya pucat pasi, seolah melihat sesuatu yang sangat mengerikan, tanpa sadar mundur beberapa langkah, bahkan bicara pun jadi terbata-bata.
Barusan karena suasana gelap dan jarak agak jauh, ia tidak mengenali siapa remaja itu. Tapi sekarang, setelah melihat jelas, ia benar-benar tak menyangka orang itu muncul di saat seperti ini!