Bab Satu: Kembali ke Bumi
Dulu aku pernah mendengar tentang orang yang menyeberang dari Bumi ke dunia lain, tapi belum pernah mendengar ada yang kembali dari dunia lain ke Bumi. Saat ini, Zhang Zhening hanya bisa tersenyum pahit, karena dialah orang “beruntung” yang mengalami hal itu. Ia hanya samar-samar mengingat, sepertinya dulu sedang tertidur di kelas, lalu jiwanya menyeberang ke sebuah dunia bernama Benua Seni Bela Diri Kuno.
Di sana, Zhang Zhening hidup puluhan tahun. Ia begitu berkuasa, bisa mengendalikan langit dan bumi, dan pada sebuah momen sangat penting, ia merasa bagian belakang kepalanya dipukul, lalu tiba-tiba terbangun. Ia terkejut mendapati dirinya telah kembali dari Benua Seni Bela Diri Kuno ke kelas 3-5 di SMA Negeri 2 pada tahun 2017.
“Zhang Zhening, kalau mau tidur, pulang saja!”
Lu Xiaoxue hampir gila karena marah. Ia adalah wali kelas 3-5, berusia dua puluh enam tahun. Parasnya cantik, namun sifatnya cukup galak. Saat ujian pagi tadi, terjadi kasus kecurangan, membuatnya naik pitam dan langsung masuk ke kelas untuk menyelidiki. Kebetulan ia melihat Zhang Zhening tertidur di meja, jadi spontan menampar bagian belakang kepala Zhang Zhening.
Tak disangka, tamparan itu mengembalikan kesadaran Zhang Zhening dari dunia lain ke sini.
Saat itu, Zhang Zhening sedang bertarung sengit dengan seorang Penguasa Suci di dunia lain, sebuah pertarungan yang bisa menghancurkan langit dan bumi. Tepat ketika ia hendak mengalahkan musuhnya, tiba-tiba merasakan bagian belakang kepalanya dipukul keras.
Zhang Zhening terkejut, mengira ada yang menyerang dari belakang, lalu secara refleks berbalik dan menampar ke samping.
Tamparan itu tepat mengenai dada Lu Xiaoxue, membuat Lu Xiaoxue jatuh terduduk di lantai.
“Zhang! Zhening!”
Lu Xiaoxue menggigit giginya, hampir mengucapkan nama itu dari celah-celah gigi, “Mulai hari ini, jangan pernah menginjakkan kaki di kelas 3-5 lagi!”
Para siswa di sekitar juga terkejut, apa yang terjadi dengan Zhang Zhening? Berani memukul guru? Dan yang dipukul adalah wali kelas yang cantik! Parahnya lagi, bagian yang dipukul adalah dada Lu Xiaoxue... Apa Zhang Zhening sedang tidak waras?
Setelah menampar, Zhang Zhening semakin bingung. Ia memandang sekeliling dengan perasaan asing namun akrab. Apa yang terjadi? Di mana ini? Kenapa ia bisa berada di sini?
Sekejap saja, ia menyadari tempat ini adalah lokasi sebelum jiwanya menyeberang ke dunia lain puluhan tahun lalu.
Apakah ia benar-benar kembali?
“Kamu tidak dengar aku bicara? Keluar!” Lu Xiaoxue merah padam menahan marah, berdiri dari lantai, menatap Zhang Zhening yang masih bengong, semakin kesal di hatinya.
“Tutup mulut!”
Zhang Zhening sudah puluhan tahun hidup di dunia lain, menjadi penguasa besar dengan kekuatan luar biasa dan otoritas tertinggi. Ia terbiasa menjadi orang yang dominan. Otaknya masih linglung, lalu mendengar suara perempuan ribut di sebelahnya, membuatnya jengkel, “Seseorang, bawa keluar, penggal saja!”
Perintah seperti itu sudah berulang kali ia keluarkan di dunia lain, tapi kali ini berbeda.
Tak ada seorang pun yang maju untuk menyeret Lu Xiaoxue keluar, malah seluruh kelas tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, bodoh sekali, otaknya pasti ketiban pintu!”
“Haha, terlalu banyak nonton film, mungkin tadi mimpi jadi kaisar, sampai minta bawa keluar dan penggal, kocak banget, hahaha!”
Zhang Zhening hanya merasa kepalanya penuh kabut, lalu menyadari satu fakta: ia telah kembali ke dunia ini. Di sini, ia bukan lagi penguasa agung, melainkan hanya siswa biasa.
Lu Xiaoxue hampir gila karena marah, alisnya menegang, lalu menampar keras lagi bagian belakang kepala Zhang Zhening, “Keluar, keluar!”
Setelah itu, ia mendorong Zhang Zhening keluar kelas dan menyuruhnya berdiri di depan pintu, membentak dengan suara manja, “Dua pelajaran ini, kamu berdiri di luar saja. Senin bawa orang tua kamu ke sekolah, kalau tidak, jangan datang lagi!”
Selesai bicara, ia pergi dengan marah. Bahkan ketika guru matematika datang dan menyapanya, ia tidak menanggapi.
Saat itu adalah dua pelajaran terakhir di Jumat sore, bukan pelajaran bahasa Inggris Lu Xiaoxue, melainkan matematika. Guru matematika melihat Zhang Zhening berdiri di pintu, tidak berkata apa-apa, karena ia memang tidak suka berurusan dengan siswa bodoh seperti Zhang Zhening. Ada atau tidaknya Zhang Zhening di kelas, sama saja baginya.
Kelas terus berlangsung, sementara Zhang Zhening di pintu hanya termenung kebingungan.
Butuh satu pelajaran penuh bagi Zhang Zhening untuk menyusun kembali pikirannya. Ia melihat kalender elektronik di samping papan tulis melalui jendela kelas, lalu sadar bahwa walau jiwanya di dunia lain selama puluhan tahun, di dunia ini hanya berlalu beberapa menit saja.
Ia masih mengenakan pakaian yang baginya telah berlalu puluhan tahun, dan melalui pantulan kaca jendela, ia melihat dirinya bukan lagi penguasa agung berpakaian mewah, melainkan kembali menjadi siswa miskin yang tampangnya biasa saja.
Bagi orang di sini, hanya beberapa menit telah berlalu, namun bagi Zhang Zhening, itu adalah puluhan tahun.
Ingatan tentang dunia ini pun jadi samar, ia butuh waktu lama untuk mengingat identitasnya di sini.
Namanya tetap Zhang Zhening, keluarganya miskin, otaknya kurang cerdas, nilai pelajaran selalu paling rendah di kelas, sifatnya penakut dan sering jadi sasaran bully...
Penguasa agung di dunia lain, siswa cupu di sekolah, dua identitas yang sangat bertolak belakang, dan keduanya dialami Zhang Zhening.
Zhang Zhening tak bisa menahan diri untuk menghela napas, merasa hidupnya benar-benar aneh.
Saat itu, bel akhir pelajaran berbunyi, para siswa berlarian keluar kelas, mengelilingi Zhang Zhening dan menatapnya seperti melihat makhluk aneh.
“Bodoh, kamu benar-benar hebat, berani menyentuh dada wali kelas kita yang cantik, bro, kamu luar biasa, benar-benar gila!”
“Bodoh, kasihan sekali, dulu sudah bodoh, sekarang makin bodoh, kurasa sebentar lagi dia akan masuk rumah sakit jiwa.”
Mereka mengerubungi Zhang Zhening sambil berkomentar ramai.
Lu Xiaoxue memang sangat cantik, tapi terkenal galak. Biasanya siswa di kelas tak berani bicara di hadapannya, tapi sekarang, si cupu nomor satu, si bodoh Zhang Zhening, justru menyentuh dadanya di depan semua orang. Bagi siswa kelas 3-5, itu seperti bom atom meledak.
“Bodoh, dada wali kelas kita empuk nggak? Enak dipegang nggak?” Seorang siswa berambut seperti landak bertanya dengan bercanda. Ia adalah siswa paling nakal di kelas dan sering membully Zhang Zhening.
Dulu Zhang Zhening selalu menghindarinya, tapi kali ini, Zhang Zhening sangat tenang, menatap si landak dengan pandangan meremehkan, lalu kembali diam tanpa mengatakan apapun.
Sebenarnya ia merasa, kalau di dunia lain, siapa pun yang bicara seperti itu di hadapannya...
“Bodoh, aku tanya!” Si landak merasa Zhang Zhening memandangnya dengan meremehkan, dan tidak menjawab pertanyaannya, langsung marah, mengangkat tangan hendak memukul, “Aku tanya, nggak dengar ya? Dada wali kelas empuk nggak? Kalau nggak jawab, percaya nggak aku gebukin lagi?”
Saat itu, tiba-tiba terdengar suara perempuan dingin dari belakang, “Kalau mau tahu, Senin bawa orang tua kamu ke sekolah, aku akan jawab di depan mereka.”
Si landak terkejut, segera berbalik melihat Lu Xiaoxue yang entah kapan muncul di belakang, “Bu Lu, saya...”
“Keluar, Senin bawa orang tua kamu ke sini, kalau tidak, kamu juga jangan datang lagi!”
Lu Xiaoxue tadi sampai lupa tujuannya datang, ia benar-benar marah sampai lupa bahwa ia datang untuk menyelidiki kasus kecurangan saat ujian pagi tadi. Setelah agak tenang, ia kembali ke kelas saat istirahat dan mendengar percakapan si landak.
Siswa lain segera kembali ke kelas saat melihat Lu Xiaoxue datang, si landak menatap Zhang Zhening dengan penuh dendam lalu kembali ke kelas.
Lu Xiaoxue sempat menyapa guru matematika, mengatakan akan memakai sedikit waktu, lalu berdiri di depan kelas dengan suara dingin, “Ujian pagi tadi, pengawas menemukan secarik kertas yang dipotong dari buku di lorong. Kertas itu milik siapa?”
Ujian kali ini memang hanya ujian biasa, tapi sekolah menanggapinya dengan serius. Pengawas diambil dari kelas lain. Kini kasus kecurangan terjadi di kelas Lu Xiaoxue, membuatnya sangat malu.
Lu Xiaoxue terkenal sebagai orang yang jujur dan sangat kompeten. Walaupun ini kelas pertama yang ia pimpin, prestasi kelasnya selalu terbaik, ia tidak bisa menerima kasus kecurangan di kelasnya.
Melihat semua siswa diam, Lu Xiaoxue mengangkat alis dan menatap Su Weiwei yang duduk di belakang, berkata dingin, “Su Weiwei, menurutmu, kertas itu milik siapa?”
Menurut laporan pengawas, kertas itu ditemukan di lorong belakang sebelah kiri, tepat di samping kaki seorang siswi bernama Su Weiwei.
Su Weiwei adalah salah satu bunga kelas 3-5, penampilannya menawan dan selalu berpakaian modis, bahkan berani memakai stoking jaring hitam yang guru perempuan pun takut memakainya, padahal usianya baru tujuh belas atau delapan belas tahun.
Namun prestasi akademiknya biasa saja, dan sering bergaul dengan siswa nakal, sehingga Lu Xiaoxue tidak terlalu menyukainya.
“Bu, kertas itu bukan milik saya,” ujar Su Weiwei dengan suara gemetar. Biasanya ia sangat percaya diri, tapi di hadapan Lu Xiaoxue ia tidak berani macam-macam.
“Oh? Bukan milikmu, kenapa ada di bawah kakimu?” tanya Lu Xiaoxue dengan tatapan tajam.
Su Weiwei menelan ludah, lalu berkata, “Kertas itu milik Zhang Zhening, kalau tidak percaya, tanya saja dia!”