Bab 142: Rapat Dewan Direksi Keluarga Shi
“Shi Ran!” Mata Shi Chuan yang penuh kebaikan dipenuhi kekhawatiran. “Ayah tahu pasti ada sesuatu yang tidak sanggup kautinggalkan dan kau tidak ingin pergi dari sini, tetapi ikutlah bersama Ayah ke luar negeri.”
“Apa?”
“Bisnis Ayah sekarang sudah berjalan cukup baik. Kelak, biarkan saja diserahkan kepada para pengajar. Ayah tidak ingin mengurusnya lagi. Kita pergi ke luar negeri bersama-sama.”
“Maksud Ayah, Ayah ingin meninggalkan Nanhu dan keluarga Shi?”
Mendengar pertanyaan putrinya, ayahnya tersenyum getir.
“Keluarga Shi adalah keluarga besar.” Shi Chuan menatap langit-langit indah yang menghiasi kamar Shi Ran. “Namun, Ayah ingin putri Ayah menjalani kehidupan yang bahagia. Bukan demi keluarga, bukan pula demi orang lain hingga harus mengorbankan diri sendiri. Ayah hanya ingin kau hidup baik-baik demi dirimu sendiri. Segalanya adalah untuk dirimu.”
“Ayah…”
“Pergilah ke luar negeri bersama Ayah, Shi Ran.”
“…”
Shi Ran menatap ayahnya dan menggigit bibirnya perlahan.
Ia belum pernah melihat ayahnya seperti ini. Rasanya seperti saat Song Sichen muncul di kamarnya dan ketahuan olehnya, tetapi kali ini bukan kemarahan yang terpancar, melainkan kekhawatiran.
“Kalau Ayah sampai kehilanganmu juga, Ayah tidak akan sanggup hidup.”
Shi Ran menatap wajah ayahnya. Setelah terlahir kembali, untuk pertama kalinya ia mulai meragukan keputusannya sendiri.
Ia ingin menggenggam tangan ayahnya erat-erat.
Ayahnya khawatir Shi Ran akan kembali berada dalam bahaya. Karena itulah ia ingin menjauh dari orang-orang ini, menjauh dari keluarga Song, hingga muncul dorongan untuk pergi ke luar negeri.
Namun, saat menatap langit-langit yang terpantul di mata ayahnya, Shi Ran teringat pada kenangan yang untuk sementara telah dilupakannya.
Nasib akhir keluarga Shi.
Sensasi ketika ia jatuh dari gedung.
“Ayah, aku ingin menjadi pemimpin keluarga Shi.”
Saat mengucapkan itu, ia sudah menatap ayahnya. Ia dapat melihat dengan jelas pupil Shi Chuan bergetar.
Mungkin takut ayahnya tidak memercayainya, Shi Ran menegaskan sekali lagi, “Aku berniat mewarisi posisi Kakek.”
“Shi Ran, soal itu…”
Shi Chuan membuka bibir, tetapi kemudian kembali menutupnya.
“Ayah juga ingin mewarisi posisi Kakek?”
“Ayah tidak punya niat seperti itu.” Shi Chuan segera menyangkal.
“Bibi juga sama seperti Ayah. Ia tidak berniat mewarisi posisi Kakek.” Sejak hari ia bercerai dan pergi membawa anak kembarnya, bibinya sudah melepaskan posisi tersebut. “Kalau begitu, hanya Paman yang tersisa. Apa Ayah benar-benar tega menyerahkan seluruh bisnis keluarga Shi kepada Paman?”
“…”
Shi Chuan terdiam dalam lamunan.
Ia juga tahu betapa tidak dapat diandalkannya paman Shi Ran. Jika keluarga Shi jatuh ke tangannya, tidak lama kemudian seluruhnya pasti akan habis.
“Karena itu, Ayah, maafkan aku. Aku ingin menjadi pemimpin keluarga Shi dan mewarisi posisi Kakek.”
Shi Ran mengulanginya berkali-kali.
Kali ini, Shi Chuan tidak merasa terkejut.
Ia menatap Shi Ran dengan tatapan sedih selama beberapa saat, lalu pada suatu momen tersenyum lemah.
Sepertinya ia sudah memahami bahwa tidak ada kata-kata apa pun yang mampu menggoyahkan tekad Shi Ran.
“Ternyata putri Ayah sehebat ini. Kau sudah dewasa, tumbuh begitu cepat, sampai-sampai Ayah tidak menyadarinya.” Shi Chuan bergumam lirih. “Kalau itu kau, kau akan menjadi pemimpin yang luar biasa dan memimpin keluarga Shi dengan baik. Ayah mendukung semua keputusan putri Ayah, kecuali soal pernikahan.”
Deg!
Ucapan ayahnya membuat jantung Shi Ran berdebar kencang.
“Menjadi pemimpin yang luar biasa dan memimpin keluarga Shi dengan baik.”
Kalimat itu terdengar lebih manis daripada perkataan apa pun di dunia.
“Terima kasih, Ayah.” Shi Ran tersenyum kepada ayahnya. “Terima kasih karena sudah memercayaiku.”
Ayahnya mengusap rambut Shi Ran dengan lembut, persis seperti ketika ia masih kecil. Sentuhan itu akrab dan hangat.
Rapat Dewan Direksi Keluarga Shi.
Ruang rapat dipenuhi orang-orang yang sudah lama tidak berkumpul.
Inilah rapat dewan pertama yang diselenggarakan tahun ini. Seluruh pimpinan dan direktur perusahaan di bawah keluarga Shi hadir di dalam ruang rapat.
Meskipun semua orang duduk bersama, suasana di ruangan itu tetap hening.
Kakek Shi Ran memandang para direktur yang duduk mengelilingi meja panjang, lalu membuka suara.
“Terima kasih karena telah datang kemari di tengah kesibukan kalian.”
Kakek Shi Ran mengamati wajah-wajah yang dikenalnya itu perlahan, mulai dari para pemimpin muda hingga para direktur lanjut usia dengan wajah penuh keriput.
Mereka semua adalah orang-orang yang telah membangun keluarga Shi.
Berkat merekalah keluarga Shi dapat mencapai kejayaannya saat ini.
Kakek Shi Ran berkata dengan suara lantang, “Hari ini aku ingin mengumumkan hal yang berkaitan dengan pewaris keluarga. Karena itu, kalian semua kupanggil ke sini.”
Begitu mendengar bahwa akan ada penerus, para direktur langsung ramai berbisik.
“Apakah Ketua berniat mengundurkan diri dan menyerahkan keluarga Shi kepada generasi muda?”
“Bukankah terlalu dini untuk mengatakan begitu?” Kakek Shi Ran balik bertanya sambil tersenyum. “Aku juga sudah seharusnya beristirahat. Sejak dirawat di rumah sakit karena sakit sebelumnya, kondisi tubuhku tidak lagi seperti dahulu. Sudah waktunya aku mundur dan menyerahkannya kepada generasi muda.”
Wajah orang-orang yang hadir tampak muram.
Sulit membayangkan seperti apa keluarga Shi jika Kakek Shi Ran tidak lagi duduk di posisi itu.
Tidak ada satu pun kursi yang kosong.
“Kalian ini, kapan aku pernah mengatakan akan langsung mengundurkan diri sekarang? Kenapa wajah kalian seperti sedang menghadiri pemakaman?” Kakek Shi Ran terkekeh, tampak sangat senang.
Semua orang kembali terdiam dalam pikiran masing-masing.
Saat itulah penanggung jawab bank bertanya untuk memecah kesunyian, “Bagaimana dengan Tuan Muda Sulung?”
Peristiwa cek palsu di bank waktu itu membuatnya memandang Shi Chuan dengan cara berbeda. Bagaimanapun juga, Shi Chuan memiliki kemampuan dan rasa tanggung jawab.
Beberapa orang mengangguk setuju.
“Bagaimana dengan Nona Sulung?”
Kali ini, seseorang mengajukan pendapat yang berbeda.
“Nona Sulung pernah mengelola perusahaan sejak lama dan melakukannya dengan baik. Setelah kembali ke dalam negeri, ia juga memegang jabatan penting di perusahaan. Kemampuannya diakui semua orang, dan tidak ada aturan yang mengatakan seorang perempuan tidak mungkin menjadi ketua.”
“Bagaimana dengan yang lainnya?”
Menanggapi pertanyaan Kakek Shi Ran, salah seorang pria berdiri dan berkata, “Salah satu dari kedua orang itu bisa menjadi pilihan. Tuan Muda Sulung memiliki perusahaan sendiri dan mengelolanya dengan sangat baik. Nona Sulung cukup memahami urusan perusahaan, dan jajaran manajemen juga mengakui kemampuannya. Jika Ketua memilih salah satu dari mereka, kami tidak keberatan.”
Tidak seorang pun menyebut paman Shi Ran.
Semua orang tahu betul seperti apa kemampuannya. Tidak ada yang ingin ia menjadi ketua.
Jika hari itu tiba, keluarga Shi benar-benar akan berakhir.
“Semua yang kalian katakan memang benar. Namun, orang tua sepertiku ini memiliki kandidat lain.”
Begitu ucapan Kakek Shi Ran terdengar, ruang rapat seketika meledak. Semua orang mulai berdiskusi dengan gaduh.
“Siapa?”
“Jangan-jangan Tuan Muda Kedua?”
“Jangan sampai!”
“Atau putra sulung Tuan Muda Kedua?”
“Kalau begitu, tamatlah kita!”
Suara-suara yang gaduh bercampur menjadi satu. Meskipun tidak semuanya terdengar jelas, sikap semua orang jelas menunjukkan penolakan.
“Tenanglah sebentar.”
Kakek Shi Ran mengangkat tangan untuk menghentikan perdebatan mereka. Ruang rapat segera kembali sunyi.
“Orang yang ingin kusebutkan adalah satu-satunya cucu perempuanku, Shi Ran.”
“Shi Ran?”
“Gadis yang baru berusia dua puluh tahun itu?”
“Apa maksudnya? Keluarga Shi akan diserahkan kepada seorang anak kecil?”
Suara-suara mereka dipenuhi kebingungan.
Tidak!
Mungkin lebih tepat jika disebut keraguan!