Bab 56: Melapor ke Polisi atau Mengatakan yang Sebenarnya
"Oh, maaf, tidak sengaja." Sebelum Fang Lili sempat marah, Shi Ran mengajukan permintaan yang tak bisa ditolak olehnya. "Ini kesalahanku, karena aku yang mengotori bajumu. Ikutlah bersamaku ke butik keluarga Shi, di sana kau boleh memilih satu gaun apa saja sesukamu."
Fang Lili yang tadinya hendak melampiaskan kekesalan langsung tersenyum lebar mendengar ucapan itu.
"Benar-benar boleh memilih apa saja?"
"Tentu saja," jawab Shi Ran tanpa ragu. "Kalau kau takut aku ingkar janji, bagaimana kalau kita semua pergi bersama? Kalau ada di antara kalian yang suka pada pakaian tertentu, aku akan kasih diskon dua puluh persen. Dengan semua orang sebagai saksi, masa aku masih berani berbohong?"
"Kalau begitu, ayo kita pergi bersama. Katanya butik keluarga Shi punya busana kelas atas, harganya bisa sampai puluhan juta."
Ayah Shi Ran memang berbisnis pakaian dengan harga terjangkau, tapi butik milik kakeknya adalah merek mewah. Banyak gaun di dalamnya bernilai ratusan juta, bahkan ada yang sampai miliaran, meski biasanya tidak dipajang untuk dijual begitu saja.
"Kalau begitu, mari kita berangkat." Fang Lili pura-pura tampak enggan namun jelas tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Di dalam hati, ia sudah sangat gembira.
Shi Ran lebih dulu menelpon kakeknya untuk memastikan beliau ada di butik, hanya mengatakan akan datang tanpa menjelaskan tujuannya.
Di dalam butik keluarga Shi.
Begitu masuk, tampak jelas Fang Lili dan teman-temannya mendapatkan sambutan istimewa dari para pegawai butik, semua karena mereka datang bersama Shi Ran.
Fang Lili mondar-mandir di depan deretan pakaian pesta mewah, lalu akhirnya menunjuk satu gaun. "Aku suka yang ini."
Shi Ran melirik ke arah gaun yang dipilih Fang Lili—gaun dengan taburan zamrud kecil, termasuk dalam koleksi eksklusif.
Meski selera menilai orang kurang bagus, rupanya dalam memilih pakaian dia cukup lihai.
Itu adalah gaun termahal yang dipajang di butik.
Shi Ran hanya tersenyum tipis, lalu mundur beberapa langkah tanpa berkata apa-apa, memperhatikan ekspresi puas Fang Lili dengan sedikit rasa jijik di sudut matanya.
"Shi Ran!"
Tepat saat itu, kakek dan ayah Shi Ran turun dari lantai atas.
"Kakek! Ayah!"
Shi Ran berlari menghampiri mereka dengan riang.
Shi Ran tahu kakeknya ada di butik, tapi ternyata ayahnya juga hadir.
"Mengapa Shi Ran datang ke sini?" Tampaknya ayah belum tahu rencana kedatangan Shi Ran, kakek pun tak memberitahunya. Saat ditelepon tadi, mungkin ayah sedang tidak di butik, makanya ia bertanya.
"Sebenarnya aku juga tadinya tidak berniat ke sini, tapi tiba-tiba saja..."
Sambil berbicara, Shi Ran melirik ke belakang. Fang Lili dan teman-temannya tampak gelisah, saling berbisik dan tak tahu harus berbuat apa.
"Mereka itu siapa…?"
Wajah ayah dan kakek Shi Ran menampakkan keheranan.
Saat itu, Fang Lili dan teman-temannya berjalan mendekat dengan hati-hati.
Shi Ran menunjuk Fang Lili, berkata dengan nada santai, "Tadi aku tak sengaja menumpahkan jus ke baju wanita ini, aku merasa tidak enak dan ingin menebusnya dengan mengajaknya ke butik kakek. Kakek, tidak apa-apa, kan?"
"Tentu saja," jawab kakek.
Kakek dan ayah Shi Ran menatap Fang Lili, memperhatikan noda jus di bajunya, lalu pandangan mereka beralih ke kalung di lehernya.
Pertama ayah, menatap kalung itu dengan mata bergetar, seolah tak percaya pada penglihatannya.
Lalu kakek memandang kalung itu dengan serius, keningnya mengerut.
Fang Lili menunduk melihat noda jus di bajunya, lalu berkata dengan sedih, "Padahal aku sangat suka baju ini. Meskipun terkena jus, tidak apa-apa, Nona Shi Ran juga tidak sengaja."
Shi Ran hanya tersenyum tanpa menjawab.
Bodoh!
Dalam hati, ia sudah entah berapa kali menertawakan Fang Lili.
"Kau!" Kakek menunjuk Fang Lili, suaranya dalam dan memerintah, "Mendekatlah."
Tatapan kakek terus tertuju pada kalung di leher Fang Lili.
Fang Lili tampak takut pada kakek, tak berani menatap matanya, menghindari pandangan dan menunduk, tapi akhirnya ia melangkah maju dengan terpaksa.
Kakek bertanya dengan suara tenang, "Cucuku tak sengaja menumpahkan minuman ke bajumu?"
"Benar, tidak sengaja."
"Semua pakaian di butik ini boleh kau pilih satu untuk dibawa pulang, tapi…" Wajah kakek sama sekali tak memperlihatkan emosi, ia hanya berhenti sejenak lalu bertanya, "Bisakah kau dengan jujur menjawab satu pertanyaanku?"
"Pertanyaan seperti apa?"
"Apa hubunganmu dengan menantuku?"
"Apa?"
Suara Fang Lili bergetar ketika bertanya balik.
Pertanyaan itu bagaikan membuka rahasia yang sudah lama ia sembunyikan.
"Aku bertanya sekarang, artinya aku memberimu kesempatan."
"Aku tidak mengerti maksud Anda…"
"Sebaiknya kau pikirkan baik-baik." Kakek menatap wajah Fang Lili, meski nadanya datar, tekanannya terasa sangat kuat. "Apa hubunganmu dengan menantuku?"
Fang Lili benar-benar tertekan oleh aura kakek, tubuhnya bergetar, kakinya seperti ingin segera kabur tapi tidak bisa bergerak.
"Kalung di lehermu itu milik putriku."
Saat mengucapkan ini, kakek melirik Shi Ran.
Ia pun paham mengapa Shi Ran membawa Fang Lili ke sini dan menelpon lebih dulu memberitahu akan datang.
"Tak mungkin! Anda pasti salah lihat!"
Fang Lili menjawab dengan suara gemetar.
"Aku tidak tahu apa penjelasan orang yang memberimu kalung itu, tapi aku yakin kalung ini milik putriku," kata kakek dengan mantap.
Mendengar itu, Fang Lili memegang kalung di lehernya dengan tangan gemetar dan wajah pucat.
Melihat Fang Lili tak menjawab, kakek berkata tanpa ampun, "Kalung ini hilang beberapa waktu lalu. Saat itu rumah kami heboh mencari, kami pikir dicuri seseorang, ternyata ada di tanganmu. Baiklah, mari kita lapor polisi, biar mereka selidiki dari siapa kau dapat kalung ini."
Mendengar kata-kata tentang melapor ke polisi, hati Fang Lili langsung tenggelam.
"……"
"Masih kuberi satu kesempatan lagi, mau diserahkan ke polisi atau kau jujur soal hubunganmu dengan menantuku?"
"Itu… itu…" Fang Lili menggigit bibirnya erat-erat.
Semua orang di Nanhu tahu bahwa kakek Shi Ran adalah orang tua yang sangat berwibawa. Walau tanpa ekspresi, diam saja sudah terasa menakutkan.
Hari ini, auranya sangat nyata.
Shi Ran pun baru kali ini melihat kakeknya seperti itu.
Meski tidak takut kakek, ia tetap mendekat ke pelukan ayahnya.
"Kalung itu, apakah diberikan menantuku padamu?"
Kakek sudah kehilangan kesabaran.
Fang Lili tak menjawab secara lisan, tapi mengangguk sebagai jawaban.
Semua orang paham apa artinya itu.
Ia mengakui bahwa dirinya adalah selingkuhan.
"Shi Chuan."
Kakek menatap Shi Chuan yang ada di samping, wajahnya serius dan matanya penuh amarah.
"Jaga Shi Ran baik-baik dan pulang bersama. Dan kau juga ikut."
Nada dingin itu adalah perintah bagi Fang Lili.
Ia ingin menolak, tapi begitu melihat wajah kakek, ia langsung menunduk dengan hati ciut.
Shi Ran menarik napas dalam-dalam, menggigit bibirnya.
Semoga yang ia lakukan ini tidak salah. Lebih baik sakit sebentar daripada terus-menerus, bibi tidak boleh terus dibohongi.
Shi Ran menggandeng tangan ayahnya, mengikuti di belakang.
Kali ini, ia berharap semuanya akan berbeda dari kehidupan sebelumnya.