Bab 73: Aku Salah
“Shi Ran!”
Song Sichen baru saja hendak berbicara ketika sebuah suara memanggil nama Shi Ran, memotong ucapannya.
Itu adalah ayah Shi Ran.
Shi Chuan melangkah mendekati Shi Ran, lalu memeluknya erat.
“Selamat untuk putriku.”
Empat belas tahun.
Di kehidupan sebelumnya, inilah tahun paling kelam dalam hidupnya.
Di seluruh aula pesta, musik lembut masih mengalun.
“Ini pertama kalinya Shi Ran menari di pesta. Mau menari bersama ayah?”
Ayahnya menundukkan badan dengan lembut, lalu mengulurkan tangan di depan Shi Ran.
Ini memang etika umum saat mengajak menari, tapi ketika seorang ayah melakukannya, rasanya berbeda.
Bisa dibilang terlihat lebih berwibawa dan khidmat. Beberapa orang di sekitar bahkan melirik ke arah ayahnya.
“Tentu saja!”
Shi Ran menjawab dengan gembira, lalu meletakkan satu tangannya di tangan ayahnya.
“Sampai jumpa nanti, Song Sichen!”
[Kita belum selesai bicara!]
Walaupun Song Sichen ingin berkata begitu, ia hanya membiarkan Shi Ran melambaikan tangan dan kembali ke lantai dansa bersama ayahnya.
Berbeda dengan tarian pembuka yang mengikuti irama dengan ketat, musik yang diputar kali ini terasa lebih ringan. Mungkin karena itu pula, Shi Ran melihat orang lain menari dengan lebih bebas.
“Tak terasa, Shi Ran sudah tumbuh sebesar ini...”
Ayah Shi Ran tiba-tiba menghentikan ucapannya.
Karena terasa tidak biasa, Shi Ran mendekat dan memperhatikan wajah ayahnya.
“Ayah, apa ayah menangis?”
“Tidak, hanya terharu saja.”
Bagaimana mungkin tidak menangis!
Shi Ran yakin ayahnya sedang menangis!
Ayahnya berkedip-kedip menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya.
Tanpa sadar, orang-orang di sekitar tertawa pelan sambil melirik ayahnya.
Shi Ran ikut tersenyum, ayahnya memang sangat menggemaskan.
Sementara itu, Song Sichen berjalan keluar ke balkon, menghirup udara malam yang dingin, dan menghela napas pelan.
Terlalu banyak orang yang mengajaknya berbicara atau menari, sehingga ia harus bersembunyi di balkon.
Song Sichen bersandar di pagar balkon, menyilangkan tangan.
“Bersembunyi di sini, apa seru?” suara yang muncul disertai tawa lebar, dan ternyata itu Song Yanzhe yang wajahnya sudah merah karena mabuk.
Song Sichen menatap Song Yanzhe dengan pandangan meremehkan.
Saat itu, Song Yanzhe yang sedang bersemangat, berteriak dengan urat leher menegang.
“Kau! Kau memang memandang rendah aku, ya?”
Kemudian, ia dengan kasar mencoba meraih Song Sichen, tapi akhirnya sia-sia.
Bahkan dalam keadaan sadar, itu mustahil, apalagi Song Yanzhe yang sedang mabuk dan berjalan terhuyung-huyung.
“Aduh!” Song Yanzhe hampir kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh dari balik pagar, lalu menelan ludah karena kaget.
Setelah berdiri tegak, ia mendengus, “Nikmatilah selagi bisa! Nanti kau bahkan tak berani bermimpi lagi soal ini.”
Mendengar itu, alis Song Sichen sedikit bergerak.
“Selagi bisa menikmati, nikmatilah?”
Reaksi Song Sichen membuat Song Yanzhe semakin besar kepala.
“Sekarang Shi Ran masih kecil, jadi kau bisa berpura-pura dekat dan menemaninya. Tapi nanti kalau sudah besar, jangan harap!”
Song Sichen tidak menjawab, tapi Song Yanzhe seolah tahu apa yang dipikirkannya, lalu menertawainya.
“Sekalipun Shi Ran anak di luar nikah, dia tetap beda denganmu. Kau itu benar-benar anak haram, tak ada yang mencintaimu, tak ada yang menyukaimu.”
Mulut Song Sichen terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian terkatup rapat, kehilangan kata-kata.
Walau terasa marah, semua yang dikatakan Song Yanzhe adalah kenyataan.
“Tidak semua orang sepertimu.”
Mata Song Sichen menatap Song Yanzhe lekat-lekat, lalu melangkah mendekat.
“Apa?”
Song Yanzhe yang tadinya terus mengejek, kini merasakan aura mengancam dari Song Sichen, hingga ia mundur selangkah.
Akhirnya, Song Sichen berbisik, “Kalau sekarang aku dorong kau dari sini, masihkah kau sempat berkata seperti itu?”
“Salah, aku salah,”
Bahkan sebelum Song Sichen berkata apa-apa lagi, Song Yanzhe sudah buru-buru mengaku salah.
Entah karena pengaruh alkohol, atau memang benar-benar takut Song Sichen akan melakukannya.
Di matanya, Song Sichen memang mungkin melakukan apa saja.
“Katakan sekali lagi.”
“Aku salah.”
Tatapan Song Sichen menyipit, lalu berkata, “Nikmatilah selagi bisa, siapa tahu nanti semua milikmu akan jadi milikku.”
Setelah berkata demikian, Song Sichen kembali ke aula pesta.
“Dia ke mana? Masa sudah pulang secepat itu?”
Setelah selesai menari dengan ayahnya, Shi Ran mencari-cari Song Sichen lagi, tapi sama sekali tidak melihat sosoknya.
Saat sedang melihat sekeliling, tiba-tiba seseorang menabrak punggungnya.
Shi Ran segera menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berambut hitam yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Maaf...” Anak itu membungkuk, tampak sangat menyesal. “Aku tidak sengaja, sungguh, aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Shi Ran mengangkat tangan dengan ramah.
“Aku datang bersama ayah, ini pertama kalinya aku hadir di pesta ini. Senang bertemu denganmu, namaku Lukas.”
Anak itu tersenyum cerah.
Di bawah cahaya aula pesta, rambut hitamnya berkilau, matanya yang dalam dan senyumnya yang segar membuatnya tampak menawan.
Wajahnya memang gelap, tapi senyum itu terasa menular.
“Senang bertemu denganmu, namaku Shi Ran,” sapa Shi Ran sopan. “Kau dari luar kota?”
“Iya, rumahku di selatan.”
“Itu bagus.”
Saat Shi Ran berbicara, ia melirik ke balkon dan melihat Song Sichen berjalan keluar. Ia langsung mengangkat tangan.
“Song Sichen! Di sini!”
Saat Shi Ran memanggil, Song Sichen langsung melihat ke arahnya.
Namun, ekspresinya tampak berbeda dari biasanya.
Ia hanya menatap Shi Ran, lalu melangkah mendekat, rasanya lebih cepat dari biasanya.
“Shi Ran!”
“Kau ke mana saja?”
“Aku cuma keluar sebentar untuk menghirup udara.”
“Aku bahkan mencari-cari kau tadi.”
“Mencariku?”
Sekilas, wajah Song Sichen tampak sangat bahagia.
Saat mereka saling tersenyum, Kepala Keluarga Song, kakek Shi Ran sekaligus ayah Song Sichen, kebetulan melintas, diikuti seorang pria lain yang ternyata ayah Lukas.
“Tadi kalian menari sangat bagus.”
“Terima kasih atas pujiannya.”
Shi Ran menjawab dengan anggun.
Song Sichen berdiri tanpa ekspresi, hanya mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa.
“Kebetulan kita akan masuk ke dalam, ayo ikut semua.”
Kepala Keluarga Song memberi instruksi sambil berbalik menuju dalam.
Song Sichen tak bergerak. Melihat itu, Kepala Keluarga Song menoleh dan berkata, “Song Sichen, ikut juga.”
Shi Ran menyadari Song Sichen sedang tidak senang, lalu menggenggam tangannya.
“Ayo.”
“Ya.”
Baru setelah itu Song Sichen menjawab dan berjalan bersama Shi Ran mengikuti yang lain.
Saat mereka naik ke lantai atas, Song Sichen merasakan tatapan panas yang mengarah padanya. Ketika menoleh, ia melihat Nyonya Song, yang menatap penuh kebencian.
Tangan wanita itu mencengkeram rok dengan erat, bukan hanya tatapannya, tapi juga giginya yang tampak terkatup kencang.