Bab 21: Memberi Pujian untuk Si Kembar
“Hai, bocah liar.”
Tiba-tiba terdengar suara yang menyebalkan dari samping. Sudah cukup lama dia tak berulah, sepertinya saat ini dia sedang mencari gara-gara! Apakah menurutnya pukulan terakhir itu terlalu ringan?
“Hai, kau tidak dengar aku bicara ya?”
Saat Shiran tidak menjawab, Shiyan pun membentak lebih keras dengan suara yang lebih galak. Tapi kalau hanya seekor anjing yang menggonggong, apakah manusia akan membalas?
Shiran tetap berkonsentrasi mengambil yogurt di atas meja, seolah-olah tak mendengar suara itu.
“Anak perempuan itu sungguh...”
Shiyan tampak kesal sambil celingukan, lalu merobek sebutir anggur hijau dan melemparkannya ke arah Shiran. Sebutir anggur hijau mendarat di wajah Shiran, lalu jatuh ke atas taplak meja putih.
Shiran menarik napas dalam-dalam, menggertakkan gigi. Menahan diri jelas bukan wataknya. Di kehidupan lalu, ia sudah cukup menahan perasaan, tapi di kehidupan ini, ia tak akan menahan lagi.
Shiran memungut anggur di lantai dan hendak melemparkannya kembali ke arah Shiyan, namun sebelum sempat ia melakukannya, sesuatu tiba-tiba meluncur ke wajah Shiyan.
Plak!
Sepotong roti yang dioles mentega menempel di wajah Shiyan, lalu perlahan-lahan melorot ke bawah.
“Hahaha...”
Shiran tak kuasa menahan tawa, lalu menoleh ke arah Chang'an yang tampak begitu puas.
Shiran diam-diam mengacungkan jempol, memuji aksi Chang'an yang luar biasa.
“Apa-apaan ini sekarang?”
Shiyan yang mencabut roti dari wajahnya tampak sangat marah, namun belum sempat berkata apa-apa, sepotong roti lain kembali melayang, kali ini mendarat di wajah satunya. Tentu saja, itu ulah Changping.
“Kalian berdua...” Shiyan mengelap minyak di wajahnya dengan serbet, merasa dirinya diperlakukan tidak adil. “Kalian berdua tahu tidak apa yang sedang kalian lakukan?”
“Bukankah tadi kau yang duluan melempar buah ke Shiran?”
“Jadi kami kira kita akan main lempar-lempar makanan.”
Si kembar berkata sambil tersenyum licik. Walau membuang makanan itu memalukan, tapi bisa membalas Shiyan seperti ini rasanya sungguh memuaskan.
“Huh!” Shiyan melemparkan serbet di tangannya, lalu dengan bangga berkata, “Kakek sudah memintaku belajar berkuda, dan teman sekelasnya adalah Song Yanzhe. Kalian pasti iri, kan?”
Oh! Mulai lagi.
Shiran teringat, di kehidupan lalu pun pada waktu inilah Shiyan dan Song Yanzhe mulai belajar berkuda bersama, dan hubungan mereka jadi dekat sejak saat itu. Hanya saja, Song Yanzhe tak pernah benar-benar menganggap Shiyan teman, ia hanya memanfaatkannya demi urusan bisnis, bahkan mungkin lebih banyak membawa pengaruh buruk pada Shiyan.
Bahkan jika Song Yanzhe tak membawa pengaruh buruk, keluarga Shi tetap saja akan hancur di tangan Shiyan. Sejak kecil, watak Shiyan memang sudah buruk. Mungkin tanpa Song Yanzhe, Shiyan takkan sampai kecanduan judi.
“Tidak iri.”
“Sama sekali tidak iri.”
“Kenapa harus iri bisa bermain bersama orang yang kasar dan berwatak buruk?”
“Orang itu juga sering berlaku tidak adil pada Shiran.”
Keduanya menjawab dengan nada enggan dan sinis. Mereka sudah tahu seperti apa watak Song Yanzhe.
“Huh, pembohong. Kalian pasti iri!”
Sepertinya dia memang sudah sering membual di sekolah.
“Bocah liar, kau...” Shiyan mengacungkan garpu ke arah Shiran, “Mulai sekarang sebaiknya kau menurut padaku, jadilah sejinak domba dan ikuti semua perintahku.”
Shiran menatapnya dingin.
Orang bodoh ini bicara apa, sudah gila rupanya!
Shiran ingin membalas seperti itu, tapi ia hanya diam, menatap Shiyan tanpa ekspresi seperti menatap orang idiot.
Ia mengambil sepotong roti di atas meja, memasukkannya ke mulut, lalu dengan suara keras berkata, “Rotinya enak sekali. Makan dengan mulut lebih enak daripada dengan wajah.”
Terdengar tawa geli dari si kembar di kedua sisi.
Shiyan yang marah hendak melemparkan garpu ke arah Shiran, tapi saat itu pintu aula terbuka, dan kakek masuk ke dalam.
Shiyan langsung jadi penurut.
Kakek melirik cucu-cucunya yang duduk mengelilingi meja, lalu berjalan langsung ke meja besar. Para orang dewasa yang duduk pun berdiri menyambut kakek.
Barulah pesta keluarga dimulai.
“Melihat kalian berkumpul begini, hatiku sungguh senang.”
Kakek tersenyum berkata.
Begitu kakek duduk, makanan pun segera dihidangkan dari dapur, sangat mewah, hampir seperti jamuan lengkap istana.
Aroma yang menggugah selera sudah memenuhi ruang pesta.
“Saya ingin bersulang untukmu, Ayah,” Paman, sambil membawa sebotol anggur merah, berdiri lebih dulu, seolah ingin menegaskan kekuasaannya, seperti ingin membuat orang lupa kalau keluarga ini masih punya anak sulung. “Terima kasih telah mengizinkan Shiyan belajar berkuda bersama anak sulung keluarga Song di sekolah yang sama.”
Anak sulung!
Pada saat seperti ini, ia sengaja menekankan hal itu, seakan ingin menonjolkan status Shiyan sebagai cucu tertua.
Kakek mengangguk puas dan menerima gelas pertama dari paman.
Setelah menaruh gelas, kakek dengan tegas berkata, “Jangan sampai Shiyan membuat kesalahan di kelas, kalian harus benar-benar mengingatkannya.”
“Baik, Ayah,” jawab paman dengan nada riang. “Makan bersama seperti ini rasanya makanan hari ini jadi lebih enak, ya, Ayah?”
“Memang.”
“Semoga ke depannya kita bisa sering berkumpul seperti ini! Oh ya, akhir-akhir ini rasanya jarang bertemu dengan Kakak, katanya sedang sibuk.”
Ayah Shiran yang duduk tenang di samping, mendadak terkejut saat namanya disebut.
“Saya?”
“Akhir-akhir ini wajah Kakak hampir tidak pernah kelihatan!”
“Ah, maaf, saya memang sedang sibuk kerja.”
Ayah Shiran menunduk menjawab.
“Katanya sedang merintis usaha sendiri, haha!” Saat paman mengucapkan itu, nada suaranya jelas-jelas mengejek.
Mendengar itu, bibir tante yang duduk di sebelah paman pun tersungging senyum mengejek.
“Katanya mau buka toko, usaha apa kali ini?”
Bahkan paman dari pihak ibu pun ikut bertanya pada ayah Shiran.
Walaupun nada bicaranya mengandung ejekan, dan membuat siapa pun yang mendengarnya tercekat, ayah Shiran menjawab dengan tenang.
“Seperti yang kalian dengar, saya ingin membuka toko kecil.”
“Tanpa dukungan dari keluarga?”
“Ya, kali ini saya ingin melakukannya dengan usaha sendiri.”
Paman mendengus dingin, “Kau bilang ingin mengandalkan diri sendiri, tapi malah mempermalukan keluarga Shi. Orang-orang di luar sana bilang keluarga kita begitu miskin sampai kakak harus buka toko. Saat aku bernegosiasi bisnis, semua bertanya apakah keluarga Shi akan bangkrut. Kakak, saat melakukan sesuatu, pikirkan dulu akibatnya.”
“Kalau kurang dana, kami bisa meminjamkan,” sahut paman dari pihak ibu.
Mendengar percakapan mereka, Shiran menggenggam erat garpu di tangannya, hendak berdiri membela ayahnya.
Namun sebelum sempat bicara, ia mendengar ayahnya berkata, “Soal dana tidak masalah, saya baik-baik saja. Setidaknya, saya ingin berusaha dengan kemampuan sendiri, berharap bisa meraih sesuatu dengan tangan saya sendiri.”
“Keluarga Shi bergerak di bidang merek mewah, sementara kau memilih jalur rakyat jelata. Inikah yang kau sebut pencapaian, Kakak?”
“Itu tidak bertentangan.”
Awalnya makan malam keluarga berjalan baik-baik saja, tapi sejak pembicaraan soal pekerjaan, suasana pun berubah aneh.
Bahkan terasa seperti ada bara api yang menyala.
Shiran mengepalkan kedua tangan, memperhatikan percakapan mereka dengan seksama. Jika ayahnya dipermalukan, dia pasti akan maju membela.
Kakek yang masih makan dengan tenang menyesap anggur merah, menaruh gelas, lalu mengelap mulutnya dengan serbet sebelum akhirnya bicara.