Bab 30: Tujuan Tercapai
“Nampaknya memang ada keinginan.”
Kepala keluarga mengangguk, lalu menyeka mulutnya dengan serbet.
Fakta bahwa Song Sicheng tiba-tiba mengubah sikapnya begitu mendengar nama Shi Ran, benar-benar di luar dugaan.
Awalnya kukira orang seperti Song Sicheng akan selalu hidup dengan sikap dingin seperti itu. Tapi ternyata ia juga punya keinginan, apa pun itu.
Hari perayaan pun tiba.
“Ya, yang ini.”
Shi Ran berdiri di depan cermin, menggoyangkan tubuhnya perlahan dan tersenyum puas.
“Wah, Nona sungguh menggemaskan!”
“Benar, kan?”
Biasanya, anak-anak seusia Shi Ran akan merasa risih jika orang dewasa menyebut mereka imut.
Tapi, apa pun pendapat mereka, di mata orang dewasa, mereka tetap saja menggemaskan.
Untuk mempromosikan koleksi pakaian terbaru, Shi Ran memilih gaun hijau yang tampak penuh semangat dan berjiwa muda.
“Sempurna.”
Kepangan rambutnya yang rapi dihiasi jepit berbentuk kupu-kupu, membuat bayangan Shi Ran di cermin tampak makin manis.
Di lehernya tergantung permata merah, paduan warna merah dan hijau itu sama sekali tak tampak norak.
Busana dari butik ayahnya yang dipadukan dengan perhiasan Shi Ran, benar-benar menciptakan tampilan pesta yang sempurna.
“Bagaimana, kelihatan mahal tidak?”
“Nona, tahukah Anda berapa harga permata di leher itu? Kurasa malam ini tak ada yang berbusana lebih mewah dari Anda.”
Permata yang dikenakan Shi Ran di leher, jumlahnya di dunia ini tak lebih dari tiga butir.
“Itu sudah cukup.”
Agar gaunnya tak terlihat murah, Shi Ran sengaja menambahkan aksesori mewah.
“Hari ini, Nona benar-benar cantik sekali.”
Pengasuh di sampingnya tak tahan untuk memuji.
“Tak sampai seperti itu. Jangan berlebihan, puji saja secukupnya.”
Shi Ran berdandan seperti ini semata-mata agar semua orang memperhatikan pakaian dari butik ayahnya. Meski bisnisnya sudah lumayan, tapi masih jauh dari kata cukup.
Berbeda dengan anak-anak lain di keluarga Shi, Shi Ran selalu rajin mengikuti berbagai acara. Ini adalah pertama kalinya sejak masuk keluarga Shi, ia keluar rumah untuk menghadiri pesta.
Setelah memeriksa penampilannya sekali lagi di cermin dan memastikan semuanya sempurna, Shi Ran pun keluar dari kamar.
Di ruang tamu, ayah dan kakeknya sedang duduk, menunggu sambil menikmati teh.
“Kakek, Ayah, penampilanku sudah rapi?”
Begitu suara Shi Ran terdengar, keduanya segera mengangkat kepala.
Shi Ran tersenyum dan berputar satu kali di hadapan mereka.
Ayahnya langsung menutup mulut, menahan haru.
Kakek yang duduk di sampingnya mengerutkan dahi, memperlihatkan kerutan yang dalam—pertanda ada sesuatu yang tak biasa.
Shi Ran pun merasa sedikit cemas.
“Ayah? Kakek?”
Dengan hati-hati ia memanggil.
“Shi Ran…”
Ayahnya segera mendekat dan memeluk Shi Ran erat-erat.
Wajahnya tampak antara ingin menangis dan tertawa.
“Putriku, cantik sekali.”
Ini bukan sekadar perasaan Shi Ran.
“Kapan kau tumbuh sebesar ini?”
Nada suara ayahnya mengandung getaran emosi.
Shi Ran menatap mata ayahnya, dan dari sorot yang menyusuri garis wajahnya, ia tahu ayahnya seolah melihat bayang-bayang sang ibu pada dirinya.
Meski Shi Ran sendiri tak ingat, namun bagi sang ayah, wajah itu masih sangat jelas di benak, seperti baru kemarin.
“Kalau sekarang saja sudah begini, bagaimana nanti saat upacara kedewasaan?”
Kakek berjalan mendekat sambil bersedekap, bercanda melihat tingkah ayahnya.
“Nanti di pesta, tetaplah di dekat kakek.”
“Baik, Kakek.”
“Kalau ada orang aneh yang mendekat, abaikan saja.”
“Siap.”
Shi Ran mengangguk refleks, meski merasa aneh juga.
“Kalau ada yang mengganggu, tinggal tendang saja. Urusan setelahnya serahkan pada kakek.”
Terdengar bisikan lirih.
“Ayah, aku dengar itu. Masa bicara begitu?”
Ayah Shi Ran tampak sedikit keberatan dengan komentar itu.
“Mau bagaimana lagi, cucuku memang terlalu imut.”
Shi Ran tersenyum, yakin penampilannya hari ini memang tidak ada masalah.
Mobil pun tiba di depan lokasi pesta.
“Ingat pesan kakek. Kalau ada yang mengganggu, tendang saja.”
“Kalau ada pemuda usil, panggil Ayah.”
Kini, ayahnya pun ikut-ikutan.
Untung saja, percakapan mereka terputus ketika pintu mobil terbuka.
Kakek turun lebih dulu, lalu ayah, dan akhirnya Shi Ran turun dengan didampingi ayahnya.
Begitu kakinya menjejak tanah, udara malam yang sejuk menyambut, diiringi alunan musik manis dari dalam aula pesta.
Sebenarnya, ini pertama kalinya Shi Ran menghadiri pesta sebesar ini.
Tak heran ia merasa gugup.
Satu tangan menggenggam tangan ayah, tangan lainnya menggandeng kakek.
Hanya itu.
Tak ada pengumuman besar-besaran atas kedatangan mereka, mereka hanya melangkah pelan menuju aula. Namun setiap langkah yang mereka ambil, suasana di sekitar perlahan berubah.
Satu per satu, orang-orang mulai melirik ke arah mereka, seolah ada desas-desus yang beredar.
Begitu tiba di depan pintu aula, seluruh perhatian tertuju pada mereka bertiga.
Keluarga Shi, hingga kini masih dikenal sebagai keluarga terkaya di Danau Selatan.
Aula pesta hening, hingga suara bisik-bisik pun terdengar jelas.
Namun, anehnya, meski semua mata memandang, hampir tak ada yang benar-benar berani mendekat.
Kakek tampak sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, bahkan dengan santai memandang sekeliling. Siapa pun yang berani bertatapan dengan kakek, segera menunduk atau mengalihkan pandangan.
Reaksi mereka persis seperti berhadapan dengan binatang buas.
Shi Ran, bersama kakek dan ayahnya, benar-benar menjadi pusat perhatian.
“Itu putri bungsu keluarga Shi, kan?”
“Manis sekali.”
“Mirip sekali dengan ayahnya!”
“Anak tunggal, ya?”
“Kudengar, dia yang akan mewarisi keluarga.”
Sepintas terdengar bisik-bisik saat mereka lewat.
“Usianya kira-kira belasan, sudah anggun begitu.”
“Seumuran anakku.”
“Nanti entah akan dijodohkan dengan siapa.”
“Pakainnya juga sangat indah!”
Shi Ran tersenyum tipis mendengar semua itu.
Tujuannya tercapai!
Dia memang tak ingin menjadi pusat perhatian, namun ingin orang-orang memperhatikan gaun yang ia kenakan.
Ia ingin lebih banyak orang membeli dari butik ayahnya, bukan hanya mereka yang mencari pakaian murah, tapi juga para orang kaya yang biasanya tak peduli harga.
Harga yang tak mahal bukan berarti kualitasnya buruk.
Berdiri di sisi ayah, Shi Ran merasa sangat bahagia.
“Bintang pesta malam ini sudah datang.”
Tiba-tiba seseorang berkata, semua mata beralih ke arah pintu masuk.
Tampak Nyonya Song masuk dengan senyum ramah nan anggun.
Kakek Shi membalas salamnya secara formal.
“Sudah lama tak bertemu, sekarang sudah tumbuh besar.”
Nyonya Song melirik Shi Ran dengan senyum lembut, namun Shi Ran tak mampu membalas senyum itu.
Nyonya Song kemudian menatap kakeknya dan berkata, “Kudengar keluarga Shi selalu menjodohkan anak sejak dini. Tiga tahun lagi Shi Ran pun sudah cukup umur. Kebetulan usia Song Yanzhe juga sebaya, pasti akan cocok jika dijodohkan!”
Shi Ran memahami maksud Nyonya Song, ia menginginkan perjodohan.
Ingin menjodohkan Shi Ran dengan Song Yanzhe.
Padahal, hubungan antara Shi Ran dan Song Yanzhe tak pernah benar-benar akur.