Bab 127 Memperoleh Pukulan
"Ayah, kau memanggilku."
Kakek Shi Ran duduk di depan meja kerja dengan wajah kaku, menatap paman Shi Ran yang berdiri di hadapannya. Paman Shi Ran seolah sudah menduga alasan dirinya dipanggil, ia berdiri diam tanpa berniat duduk di kursi.
"Batalkan saja rencana pernikahan Shi Guang dengan keluarga Song."
"Itu tidak bisa dilakukan." Paman Shi Ran berseru dengan penuh emosi.
"Apa kau sekarang berani menentang perintahku?" Sorot mata Kakek Shi Ran berubah tajam dan penuh ancaman.
Namun, sang paman tidak gentar. "Shi Guang adalah putraku."
"Selama aku, pria tua ini, belum mati, bukan giliranmu yang membuat keputusan. Pernikahan dalam keluarga seharusnya mengikuti keinginan orang yang bersangkutan. Shi Guang tidak ingin menikah dan mengurung diri di kamar. Caramu memaksanya hanya akan membuahkan hasil yang berlawanan."
Jika itu adalah pilihan Kakek Shi Ran, maka hal yang menghubungkan keluarga Shi dengan keluarga Song tidak mungkin terjadi. Ia tidak menyetujui pernikahan Shi Guang bukan hanya karena alasan itu saja. Lebih jauh, ia teringat pada Shi Chuan dan ibu Shi Ran. Dulu, perpisahan paksa antara Shi Chuan dan ibu Shi Ran berujung pada tragedi, menyebabkan masa kecil Shi Ran penuh penderitaan dan penyesalan yang mendalam. Hal semacam itu tidak boleh terjadi lagi di keluarga Shi. Oleh karena itu, Kakek Shi Ran dengan tegas menolak pernikahan yang bertentangan dengan kehendak pribadi. Keluarga Shi sudah bukan lagi keluarga yang membutuhkan perjodohan bisnis.
"Ayah, aku hanya membuat pilihan terbaik untuk Shi Guang. Ini adalah kesempatan yang bagus."
"Kesempatan bagus?" Kakek Shi Ran memukul meja dengan keras. "Katakan dengan jelas, apakah ini demi Shi Guang, atau demi dirimu sendiri? Ini kesempatan bagus untukmu, bukan?"
"Itu karena..."
"Apa kau tidak tahu siapa keluarga Song itu? Apa menurutmu ini adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk anakmu sendiri?" Kakek Shi Ran marah melebihi sebelumnya. Paman Shi Ran sering melakukan kesalahan kecil maupun besar, namun ia belum pernah semarah ini.
"Ayah."
"Selama ini aku menutup mata terhadap kekuranganmu karena kau adalah putraku. Namun, meski kau putraku, aku tidak akan membiarkan tindakan mengorbankan anak sendiri demi keuntungan pribadi. Ini peringatan terakhir."
Paman Shi Ran merasa kedinginan di balik punggungnya saat menerima tatapan penuh tekanan itu. Ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk pelan lalu keluar dari ruang kerja.
[Ini adalah peringatan terakhir.]
Kata-kata itu terngiang-ngiang, namun ia tidak berniat untuk mematuhinya.
Sementara itu, Shi Ran diam-diam pergi ke balkon untuk berbicara dengan Shi Guang.
*Brak!*
Dengan suara keras, pintu kamar terbuka lebar.
"Ayah?" Shi Guang membelalakkan mata karena terkejut melihat ayahnya berdiri di ambang pintu.
Shi Ran hendak bersembunyi, namun ia sudah telanjur terlihat saat pintu didorong terbuka. Akhirnya, ia bersikap seolah tidak melakukan kesalahan apa pun dan berdiri dengan tenang di sana.
"Apa yang sedang kau lakukan?" teriak paman Shi Ran dengan murka.
"Ayah!"
Dalam sekejap, pria itu sudah berada di depannya dan menerjang ke arah Shi Ran. Shi Guang yang bereaksi lebih cepat segera menghalangi di depan Shi Ran untuk melindunginya, namun ia dicengkeram kerah bajunya dan didorong hingga jatuh ke lantai.
"Ayah, dengarkan aku dulu." Shi Guang berkata dengan cemas dari lantai. "Ini semua salahku, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Shi Ran. Akulah yang menariknya ke dalam masalah ini."
Saat itu, mata paman Shi Ran memancarkan api kemarahan. Ia menatap Shi Ran tajam, seolah semua ini adalah kesalahan gadis itu.
"Pasti kau!" serunya dengan gigi terkatup. "Pasti kau yang menghasut kakek, jika tidak, bagaimana mungkin dia tidak menyetujui pernikahan ini?"
Shi Ran tidak berkata apa-apa, ia bahkan tidak tahu bahwa kakek tidak menyetujui pernikahan itu. Namun, jika kakek memang tidak setuju, maka masalah ini akan lebih mudah ditangani.
"Paman, apa kau tidak mengerti? Kakek memang tidak setuju dengan perjodohan dengan keluarga Song. Aku sama sekali tidak pernah bicara pada kakek tentang hal ini. Jangan menganggapku terlalu hebat, aku belum cukup kuat untuk membuat kakek mengubah pendiriannya," ucap Shi Ran dengan tenang, sama sekali tidak gentar menghadapi mata paman yang seolah menyemburkan api.
"Gadis sialan, pasti kau yang bermain di belakang!"
"Kalau kau berpikir begitu, aku tidak punya kata-kata lagi. Terserah apa katamu. Namun, aku menemui Shi Guang hanya karena merasa kasihan melihatnya. Seorang pria dewasa dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicintainya, sungguh menyedihkan!"
"Tutup mulutmu!"
Begitu paman Shi Ran berteriak, ia mengangkat tangan dan menampar wajah Shi Ran dengan keras. Shi Ran tidak menduga tindakan itu, ia tidak sempat menghindar dan menerima tamparan telak. Wajahnya terhempas ke samping, dan ia merasakan amis darah di mulutnya karena giginya merobek bagian dalam pipinya.
"Shi Ran..." Shi Guang berteriak kaget. Shi Ran diam-diam mengusap sudut mulutnya.
"Cih!" Paman Shi Ran meludah.
"Gadis kotor, beraninya kau merusak masa depan putraku, sok tahu sekali kau."
Pria itu belum puas. Ia meraih leher Shi Ran dan mendorongnya ke belakang hingga punggungnya menghantam pagar balkon. Rasanya seperti ia benar-benar ingin mencekik dan mendorongnya jatuh dari balkon.
"Ayah!" Shi Guang segera datang untuk mencegah dan menjelaskan, "Ini tidak ada hubungannya dengan Shi Ran! Aku tidak ingin menikah, aku benar-benar tidak ingin menikah, Ayah, jangan paksa aku lagi!"
Paman Shi Ran melepaskan Shi Ran dengan kasar dan mendorong Shi Guang. Kuku pria itu menggores leher Shi Ran, perih, namun dibandingkan dengan tamparan di wajahnya, rasa sakit itu hanya sepersepuluhnya.
Shi Guang memeluk ayahnya dengan erat. "Lepaskan Shi Ran, ini tidak ada hubungannya dengan dia."
Shi Ran menyentuh lehernya dan melihat noda darah di jarinya, lalu ia mencibir.
"Ayahku saja tidak pernah tega memukulku, tak disangka aku justru babak belur karena keluarga Paman." Shi Ran meludah setetes darah, mengangkat matanya yang penuh tekanan, dan berkata, "Paman, aku ini pemberontak. Aku justru suka melakukan apa yang dilarang orang lain dan membuat hidup orang lain susah."
Matanya sangat mirip dengan mata kakek, terutama saat pria tua itu sedang marah di ruang kerja tadi.
"Shi Ran, kau memang pantas mati! Seharusnya aku membunuhmu saat kau muncul kembali!"
Shi Ran tiba-tiba tertawa keras. "Maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan Paman. Tenang saja, akan masih banyak hal yang tidak berjalan sesuai keinginan Paman ke depannya, jangan terburu-buru."
Setelah mengatakan hal itu dengan nada mengejek, ia melirik Shi Guang sejenak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melewati mereka berdua dan keluar dari kamar.
Begitu melangkah keluar, terdengar suara paman yang sedang membentak dan memaki Shi Guang di dalam kamar. Shi Ran berpapasan dengan Shi Yan yang sedang berjalan ke arah sana.
"Untuk apa kau menemui Shi Guang?" Shi Yan menghalangi jalannya.
"Bukan urusanmu."
"Pasti kau yang menghasutnya untuk tidak menikah. Orang yang penurut seperti dia, bagaimana mungkin menolak pernikahan sebaik ini?"
"Shi Yan, kau juga sama saja."
"Apa maksudmu?"
"Shi Guang yang sekarang adalah dirimu di masa depan."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Shi Ran melenggang pergi dengan wajah dingin, melewati Shi Yan yang masih tertegun di tempatnya.