Bab 128: Kawin Lari
Entah karena pukulan yang diterima Shi Ran atau bukan, Shi Guang akhirnya melunak dan menyetujui pernikahan itu.
Setelah itu, ia diizinkan keluar dari kamarnya, meski belum diperbolehkan meninggalkan kediaman keluarga Shi. Selain itu, ia dilarang menemui Shi Ran dan selalu diikuti oleh dua orang pengawal ke mana pun ia pergi.
"Waktunya sudah tiba."
Shi Ran melirik jam lalu bergegas keluar. Tempat yang mereka sepakati adalah hutan kecil tempat mereka pertama kali bertemu.
Bintang-bintang kecil menghiasi langit malam yang gelap. Shi Ran menyalakan senter ponselnya dan mengamati sekeliling dengan waspada.
"Shi Ran."
Song Sichen muncul dari balik kegelapan hutan.
"Song Sichen, apakah perjalanan dinasmu lancar?"
Beberapa waktu lalu, Song Sichen pergi ke luar kota dan mereka tidak bertemu sama sekali. Baru saja ia kembali, Shi Ran langsung memanggilnya keluar.
"Ada apa? Mengapa kita bertemu di sini?"
Song Sichen segera meraih tangan Shi Ran dan bertanya dengan cemas.
"Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu."
Dengan tangan satunya, Song Sichen menyalakan senter ponselnya untuk menerangi area sekitar. Saat ia menatap wajah Shi Ran, ia mendapati sudut bibir gadis itu robek dan ada tiga plester tertempel di lehernya. Keningnya seketika berkerut dalam.
"Bibirmu... lehermu..." Ia melepaskan tangan Shi Ran, lalu membelai pipinya dengan lembut. Ibu jarinya mengusap sudut bibir gadis itu dengan hati-hati, kemudian beralih ke plester di lehernya. Ia melepas plester itu perlahan dan mendapati luka sepanjang dua hingga tiga sentimeter. "Siapa pelakunya? Siapa yang melakukan ini?"
Suara lembut itu kini sarat akan niat membunuh. Tatapan mata Song Sichen tampak berbeda dari biasanya.
"..."
"Siapa yang membuatmu terluka?"
Song Sichen bertanya dengan raut wajah yang kian menyakitkan. Shi Ran menggelengkan kepalanya menanggapi sikap Song Sichen yang seperti itu.
"Aku mencarimu untuk hal lain."
"Kau harus memberitahuku dulu siapa yang melukaimu."
"Siapa yang melukaiku itu tidak penting, yang penting adalah mengapa hal itu bisa terjadi."
Song Sichen tampak tidak puas karena Shi Ran enggan menyebutkan pelakunya. Meski tatapannya masih tajam saat melihat bibir Shi Ran yang bengkak, ia tetap mengangguk patuh.
"Bagaimana bisa terluka?"
"Sebenarnya, beberapa hari yang lalu..."
Shi Ran menceritakan secara ringkas peristiwa yang terjadi belakangan ini kepada Song Sichen, lalu menambahkan, "Karena itulah aku membutuhkanmu, Song Sichen."
"Ah..."
Mendengar perkataan Shi Ran, Song Sichen mengerjapkan mata lalu tersenyum.
"Kenapa tertawa?"
"Karena Shi Ran membutuhkanku."
"Apakah itu sesuatu yang patut ditertawakan?"
"Karena Shi Ran sangat hebat dan bisa menyelesaikan semuanya sendiri, jadi saat kau membutuhkan bantuanku, aku merasa sangat senang."
"Ayo ikut aku."
Shi Ran menarik tangan Song Sichen dan berjalan perlahan keluar dari hutan. Dalam perjalanan, Shi Ran telah memaparkan rencananya, hingga akhirnya mereka sampai di halaman belakang.
"Shi Ran, jika itu dirimu, apakah kau akan melarikan diri dari pernikahan?"
Shi Ran berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak pernah memikirkan pertanyaan itu. Namun, aku hanya akan bersama orang yang kucintai. Jika bukan orang itu, aku akan melawan sampai akhir."
"Apakah aku tidak bisa menjadi orang itu?"
Shi Ran mengangkat tangan dan menepuk puncak kepala Song Sichen dengan lembut sambil tersenyum, "Song Sichen, aku serahkan padamu. Bawa dia keluar dan kirimkan dia pergi dari kediaman keluarga Shi." Ia mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya dan meletakkannya di telapak tangan Song Sichen. "Di dalamnya ada satu juta, cukup untuk mereka hidup dalam waktu yang lama. Menyesal atau tidak, itu urusan mereka di masa depan. Song Sichen, terima kasih."
"Tenang saja, aku pasti akan menyelesaikan tugas ini dengan baik." Song Sichen mengangguk. "Aku akan memastikan jejak mereka dihapus. Selama mereka tidak muncul secara sengaja, tidak akan ada yang bisa menemukan mereka dalam beberapa bulan ke depan."
"Ya."
Shi Ran mengangguk, ia percaya pada kemampuan kerja Song Sichen.
Ia kembali ke kamarnya, duduk di balkon, dan menatap bintang-bintang di langit. Ia teringat kembali pertanyaan Song Sichen tentang apakah ia akan melarikan diri dari pernikahan.
Pernikahannya kelak tidak akan pernah menjadi pernikahan bisnis. Untuk urusan bisnis, ia akan mengandalkan kemampuannya sendiri, sedangkan untuk pendamping hidup, ia haruslah orang yang memang ingin ia nikahi.
"Song Sichen... Song Sichen..."
Shi Ran menatap langit malam sambil mengulang-ulang nama pria itu.
Setelah merasa cukup waktu bagi mereka untuk meninggalkan Nanhu, Shi Ran beranjak menuju ruang kerja kakeknya. Saat membuka pintu, ia melihat kakeknya masih duduk di meja kerja sambil memeriksa dokumen. Padahal, hari sudah lewat pukul sepuluh malam.
"Kakek."
Shi Ran menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Shi Ran." Kakek mendongak, dan saat melihat Shi Ran, ia melambaikan tangan lalu meletakkan dokumen di tangannya. "Mengapa belum tidur selarut ini?"
"Kakek, aku melakukan kesalahan, dan aku datang untuk mengakuinya."
Shi Ran menggigit bibirnya lalu melangkah mendekati kakeknya.
Apakah Shi Ran benar-benar melakukan kesalahan? Ia hanya ingin sepasang kekasih bisa bersatu.
"Katakan."
"Aku tahu Kak Shi Guang tidak ingin bersama orang yang tidak ia cintai, jadi aku membantunya melarikan diri."
"..."
Mendengar itu, ekspresi kakek tidak berubah, dan ia pun tidak berkata apa-apa. Sejujurnya, melakukan tindakan tanpa izin terlebih dahulu memang berisiko, karena ia tidak yakin kakek akan mendukung cara ini, meski ia tahu kakek juga tidak setuju jika Shi Guang menikahi keponakan Nyonya Song.
"Aku memberi Kak Shi Guang satu juta, seharusnya itu cukup untuk bertahan hidup. Kakek, aku tahu ini bukan cara yang baik, tapi hanya itu yang bisa terpikirkan olehku. Aku tidak ingin Kak Shi Guang mengalami penyesalan seumur hidup seperti Ayah. Kakek, maafkan aku karena tidak mendengarkanmu. Jika harus dihukum, aku siap menerimanya."
"Apakah wajahmu itu dipukul oleh pamanmu?"
Pertanyaan kakek di luar dugaan Shi Ran. Ia tertegun sejenak sebelum mengangguk.
"Jika kau tidak melakukan hal ini, Kakek pun tidak akan membiarkan Shi Guang terlibat dengan keluarga Song."
"Terima kasih, Kakek."
"Shi Ran, kau benar-benar gadis paling cerdas yang pernah Kakek temui."
Mendengar ucapan kakek, Shi Ran perlahan berjalan ke sisi kakeknya dan memijat bahunya dengan lembut.
"Kakek, aku membantu Kak Shi Guang melarikan diri, Paman pasti sangat marah. Bolehkah aku meminta bantuan Kakek untuk mencegah Paman mengirim orang mencari Kak Shi Guang?"
Kakek tiba-tiba tersenyum ramah, "Tanpa kau minta pun, Kakek akan melakukan hal itu."
Shi Ran merasa sangat lega.
"Kak Shi Guang melarikan diri dari pernikahan, keluarga Song pasti tidak akan melepaskan keluarga Shi begitu saja. Meskipun sebelumnya kita selalu bersaing di balik layar, kali ini, kemungkinan besar kita akan menghadapi pembalasan dari keluarga Song." Shi Ran sudah memikirkan hal ini sebelumnya. Ia memiliki strategi sendiri dan setelah menimbang masak-masak, ia merasa hal ini tidaklah buruk. "Dengan begini, kita akan berhadapan langsung dengan keluarga Song."
"Paling buruk, kita keluar dari Nanhu. Keluarga Shi bisa membangun masa depan di mana pun."
Shi Ran tahu kakeknya tidak berbohong. Namun, siapa yang sanggup melepaskan industri sebesar ini? Itu adalah buah kerja keras kakek selama puluhan tahun hingga mencapai posisi sekarang. Tentu saja, siapa pun akan merasa berat jika harus melepaskannya. Begitu pula dengan Shi Ran.
"Kakek, tenang saja. Kita tidak akan meninggalkan Nanhu. Aku akan menjaga keluarga Shi, dan tidak ada seorang pun yang bisa merebutnya."
"Tentu saja, cucu kesayanganku memang yang paling hebat!"
Kakek berkata sambil tertawa, dengan nada seolah bercanda, tidak menganggap serius perkataan Shi Ran.