Bab 119: Menjarah Si Kaya
Pada siang hari, Tang Dou dan Yang Deng akhirnya kembali ke Jinling. Mereka kembali membersihkan debu perjalanan di tempat parkir yang sama seperti sebelumnya. Setelah melihat waktu, Tang Dou bersama Yang Deng makan siang seadanya di sebuah kedai makanan di pinggir jalan, lalu baru kembali ke Jalan Barang Antik.
Sejak meninggalkan Jinling bersama Tang Dou untuk menghadiri lelang musim gugur Baode, Yang Deng sudah hampir dua atau tiga bulan tidak pulang. Karena itu, pertemuannya kembali dengan Liu Shuyi, Mengzi, dan yang lainnya berlangsung sangat akrab.
Mendengar kedatangan mereka, tiga pegawai dari toko Zaman Dahulu hingga Kini di seberang jalan juga datang bergantian untuk menyapa “nyonya pemilik”. Dengan wajah penuh semangat, Liu Shuyi menarik Yang Deng ke toko seberang untuk “memeriksa” usaha yang baru mereka perluas. Setelah itu, entah ke mana Yang Deng dibawa Liu Shuyi untuk mengobrol berbisik-bisik.
Dengan wajah lebar penuh senyum, Mengzi menarik Tang Dou ke ruang tamu. Dengan bersemangat ia berkata, “Douzi, coba tebak, berapa banyak uang yang diperoleh toko selama kau pergi?”
Tang Dou tersenyum. “Melihat ekspresimu, aku sudah tahu jumlahnya pasti tidak sedikit.”
Mengzi menyeringai, membuka brankas kecil, lalu mengeluarkan buku pembukuan. Dengan wajah puas ia berkata, “Lebih baik kau lihat sendiri. Selama ini, selain menjual mangkuk topi bermotif dua ikan dari tungku Ding yang dibalik dan memiliki bekas potongan kasar itu, kita juga berhasil menjual sepasang vas cloisonné dari zaman Jingtai, dan masih ada…”
Tang Dou mengangkat tangan, menghentikan Mengzi yang hendak menyerahkan buku pembukuan kepadanya. “Nanti saja buku itu diperlihatkan kepada Yang Deng. Kau cukup memberitahuku jumlah totalnya.”
Mengzi mengacungkan ibu jarinya. “Kalian berdua benar-benar membagi tugas dengan jelas. Ha-ha, akan kuberi tahu jumlah totalnya. Sampai toko tutup kemarin, kedua toko kita telah menjual barang senilai sebelas juta dua ratus enam puluh ribu yuan. Bagaimana? Hasilnya lumayan, bukan?”
Tang Dou tersenyum dan mengangguk. “Memang lumayan.”
Selama beberapa waktu terakhir, barang-barang bermutu tinggi yang dibawa pulang Tang Dou semakin banyak. Bahkan yang bukan barang unggulan pun memiliki kondisi yang sangat baik. Sebagian besar benda itu dibeli langsung oleh Tang Dou menggunakan perak dari toko-toko pada berbagai dinasti. Walaupun tidak semuanya merupakan benda berharga, barang-barang semacam itulah yang paling laris di pasar barang antik dan sangat sesuai dengan gelombang koleksi yang merambah seluruh lapisan masyarakat.
Setelah mengambil alih Paviliun Pengumpul Harta milik Ge Changgui, Tang Dou mendapati bahwa barang-barang lama yang ditinggalkan Ge Changgui hanyalah tiruan dan barang palsu yang tidak bernilai. Benda-benda yang benar-benar berharga telah dijual atau dipindahkan oleh Ge Changgui.
Namun, Tang Dou sama sekali tidak memedulikannya. Sekalipun Ge Changgui masih menyimpan beberapa barang bagus, berapa banyak yang bisa bernilai? Nilainya mungkin bahkan tidak setinggi satu lukisan erotis karya Tang Bohu yang bisa ia ambil dengan mudah.
Dengan tetap berpegang pada prinsip untuk tidak menjual barang palsu, Tang Dou menyingkirkan seluruh barang lama milik Ge Changgui. Ia kemudian pergi ke toko-toko kaligrafi dan lukisan pada zaman Ming, Qing, serta masa Republik Tiongkok untuk membeli sejumlah buku langka dan berharga, juga kaligrafi, lukisan, dan kuplet karya para sastrawan yang tidak terlalu terkenal. Semua itu dipakai untuk mengisi toko tersebut.
Tentu saja, jumlahnya tetap dikendalikan Tang Dou. Jika tidak, kesulitan menjelaskan asal-usul barang sebenarnya masih merupakan masalah kecil. Mengacaukan harga koleksi berupa kaligrafi, lukisan, dan buku langka di pasar barang antiklah yang akan menjadi masalah besar. Lagi pula, untuk benda-benda semacam ini, selama memiliki cukup uang di saku, bukankah ia bisa memperoleh sebanyak apa pun yang diinginkan?
Kini, barang-barang rongsokan yang dulu memenuhi toko Tang Dou semakin jarang terlihat. Sebagian besar barang antik di toko itu telah dibanderol mulai dari puluhan ribu yuan. Setidaknya ada tiga puluh atau empat puluh benda yang harga awalnya mencapai seratus ribu yuan, bahkan ada empat atau lima benda yang harga awalnya melampaui satu juta yuan.
Dengan semakin banyaknya barang unggulan, omzet pun ikut meningkat pesat. Justru karena kualitas barangnya semakin tinggi, nama toko Zaman Dahulu hingga Kini juga kian terkenal di kalangan barang antik Jinling. Banyak kolektor datang karena reputasinya, berharap menemukan benda yang mereka sukai. Bahkan beberapa pedagang yang sudah memiliki pembeli pun datang ke toko itu untuk mengambil barang dan menjualnya kembali. Maka, tidak mengherankan jika omzet mereka terus melonjak.
Mengzi terkekeh dan duduk di samping Tang Dou. Ia meletakkan buku pembukuan di atas meja teh, lalu merangkul bahu Tang Dou. “Douzi, sekarang kita sudah tidak punya benda pusaka untuk menjadi ikon toko. Menurutmu, bukankah sebaiknya kau membawa pulang sebuah benda yang benar-benar bermutu? Kita bisa memanfaatkannya untuk membangun nama.”
Beberapa waktu lalu, toko itu masih memiliki mangkuk topi bermotif dua ikan dari tungku Ding sebagai benda pusaka andalan. Kini, setelah mangkuk tersebut dijual, meskipun masih ada beberapa benda bernilai lebih dari satu juta yuan, semuanya belum cukup layak disebut benda pusaka utama toko.
Benda pusaka utama toko juga terbagi menjadi dua jenis: yang benar-benar pusaka dan yang sekadar disebut pusaka. Pembagian ini bukan menyangkut keaslian bendanya—benda tersebut tentu saja asli. Benda pusaka yang sesungguhnya dipajang untuk mengangkat martabat toko dan tidak akan dijual berapa pun harganya. Sementara itu, benda yang hanya dijadikan pusaka toko tentu menunggu penawaran harga. Meski disebut benda pusaka toko, sebenarnya itu hanyalah daya tarik dagang; selama harganya cocok, benda tersebut dapat berpindah tangan.
Hingga sekarang, toko Tang Dou belum pernah memiliki satu pun benda yang benar-benar layak menjadi pusaka utama. Bahkan tungku Xuande yang sangat berharga pun demikian. Sebelum sempat dipajang, benda itu sudah dikirim ke pelelangan, sehingga tidak bisa dianggap sebagai pusaka toko.
Begitu pula dengan tempat cuci kuas dari tungku Ru pada zaman Song yang tidak utuh itu. Benda tersebut hanya dipajang selama sehari sebelum dibeli Du Deyi, jadi tetap tidak dapat disebut pusaka toko.
Mendengar Mengzi menyinggung hal itu, Tang Dou berpura-pura terkejut. Ia segera menegakkan tubuh. “Kalau kau tidak mengingatkanku, aku hampir lupa. Ketika berada di ibu kota, seseorang meneleponku dan mengatakan ingin menjual sebuah benda. Ia bahkan bersikeras bertemu langsung denganku. Kurasa benda itu pasti sangat berharga. Sebentar lagi aku akan pergi melihatnya. Jika cocok, akan kubawa pulang.”
“Benda apa?” Mengzi langsung tertarik. Wawasannya mengenai barang antik kini ikut meningkat; benda biasa tidak lagi menarik perhatiannya.
Tang Dou terkekeh. “Dia tidak mengatakannya. Aku juga baru akan tahu setelah melihatnya.”
“Cih.” Mengzi mengacungkan jari tengah kepadanya, lalu bersandar dan berkata, “Kau harus memeriksanya baik-baik. Zaman sekarang bahkan ibu kandung pun bisa palsu. Bagaimana kalau kau mengajak Kakak Deng? Penglihatannya dalam menilai barang antik jauh lebih tajam daripada milikmu.”
Tang Dou sama sekali tidak memedulikan ejekan Mengzi dan hanya tertawa kecil.
Kalau Yang Deng ikut pergi, bagaimana mungkin ia bisa menyelinap ke vila di udara untuk mengambil barang?
Yang membuat Tang Dou pusing sekarang bukan dari mana mendapatkan benda pusaka untuk toko, melainkan benda apa yang sebaiknya ia bawa pulang.
Haruskah ia mengambil kaligrafi karya Tang Bohu, Su Dongpo, dan tokoh-tokoh lainnya? Ataukah membawa pulang mangkuk bermotif awan dan burung jenjang dengan lekukan pinggang dari masa Chenghua Dinasti Ming?
Bukankah itu agak terlalu mencolok? Kalau begitu, lebih baik…
Sudahlah. Ia akan melihat bendanya terlebih dahulu setelah kembali ke vila di udara, baru kemudian mengambil keputusan.
Tang Dou merangkul bahu Mengzi dan bertanya sambil terkekeh, “Kak Mengzi, apakah kau sudah berhasil mendapatkan restu calon mertua? Kapan kau dan Shuyi akan melangsungkan pernikahan?”
Pertanyaan itu tepat menyentuh hal yang paling disukai Mengzi. Ia segera menjadi bersemangat.
“Douzi, aku dan Shuyi sudah membicarakannya. Kami berencana mengadakan pernikahan pada Hari Tahun Baru. Kuberi tahu, kau seharusnya melihat ekspresi ayah mertuaku ketika melihat rumah mewahku…”
Mengzi mulai membual dengan penuh semangat. Apartemen bertingkat kecil yang sebenarnya ia miliki berubah menjadi “rumah mewah” ketika keluar dari mulutnya. Tentu saja, bagi rakyat biasa, apartemen bertingkat kecil seluas lebih dari seratus delapan puluh meter persegi memang sudah bisa disebut rumah mewah.
Tang Dou mendengarkan sambil tertawa. Di dunia ini, selain keluarga Yang Deng dan Tuan Zhou, mungkin Mengzi adalah orang terdekatnya. Setelah bertahun-tahun bersama, Tang Dou sudah lama menganggap Mengzi seperti kakaknya sendiri. Karena itu, ketika Mengzi merasa bahagia, ia pun ikut merasa bahagia.
Entah sudah berapa lama Mengzi berbicara, Yang Deng dan Liu Shuyi akhirnya masuk sambil bergandengan tangan.
Saat itu Mengzi sedang bercerita bahwa ia telah membuat calon mertuanya mabuk di meja makan sampai lelaki itu memanggilnya saudara. Begitu melihat Liu Shuyi, ia segera menutup mulut. Namun, jelas sekali Liu Shuyi sudah mendengar bagian tersebut. Ia menatap Mengzi dengan galak, membuat Mengzi mengecilkan lehernya dengan perasaan bersalah.
Tang Dou tertawa terbahak-bahak. “Kak Mengzi, Shuyi, kalau masih ada yang kurang untuk pernikahan kalian, katakan saja kepadaku. Aku dan Yang Deng akan membantu menyiapkannya.”
“Tidak kurang. Tidak ada yang kurang.” Liu Shuyi menolak dengan agak panik sambil melambaikan tangan. Tang Dou sudah mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membantu mereka menyelesaikan masalah rumah pernikahan. Apa pun urusan yang tersisa, mereka masih sanggup mengatasinya sendiri.
Mengzi merangkul bahu Tang Dou, lalu berkata kepada Liu Shuyi sambil tertawa, “Untuk apa sungkan kepada anak ini? Anggap saja kita sedang menumbangkan orang kaya untuk membantu orang miskin.”
Mengzi tahu bahwa Tang Dou telah mengirim tungku Xuande ke pelelangan. Belakangan ini, ia juga melihat perkembangan lelang tungku tersebut di internet dan sudah mengetahui kira-kira berapa kekayaan Tang Dou sekarang.
Tentu saja, itu bukan berarti Mengzi akan benar-benar menempel pada Tang Dou demi mengambil keuntungan. Mengzi memiliki prinsipnya sendiri. Ucapannya tentang menumbangkan orang kaya itu hanyalah candaan.
Tang Dou tertawa kecil dan berdiri. Ia berkata kepada Mengzi, “Kalau begitu, baiklah. Kak Mengzi, cocokkan pembukuan dengan Yang Deng. Aku akan menemui penjual itu untuk melihat bendanya. Malam nanti kita semua pergi makan bersama.”
Tang Dou takut Yang Deng ikut pergi melihat benda tersebut, jadi ia lebih dahulu memberinya pekerjaan.
Benar saja, Yang Deng menanyakan benda apa yang hendak dilihat Tang Dou. Tang Dou kembali menggunakan alasan yang tadi ia pakai untuk mengelabui Mengzi. Yang Deng hanya bisa mengingatkannya agar memeriksa dengan teliti. Jika masih ragu, jangan terburu-buru melakukan transaksi.
Tang Dou tentu saja menyetujuinya dengan penuh keyakinan.