Bab 66: Burung Pipit Mengambil Sarang Burung Merpati
Konon setelah acara lelang akan diadakan pula sebuah pertemuan identifikasi barang antik selama tiga hari. Para kolektor yang antusias dan sempat berkerumun di luar ruang tamu VIP akhirnya rela melepaskan rombongan para pakar yang dipimpin oleh Pak Tua Zhou. Beberapa orang bahkan tidak sempat lagi menengok pameran pra-lelang, melainkan buru-buru pulang ke rumah menyiapkan koleksi mereka sendiri, berniat membawanya ke acara identifikasi untuk meminta Pak Tua Zhou dan rekan-rekannya memberikan penilaian. Ada pula yang rumahnya jauh, langsung menelepon keluarga agar segera mengirimkan koleksi mereka dengan segala macam alat transportasi.
Kabar kembalinya Yang Satu Mata ke dunia koleksi menyebar dengan sangat cepat. Hanya dalam waktu makan siang yang disediakan oleh He Bin, ia telah menerima lebih dari seratus telepon yang menanyakan perihal itu, membuat He Bin hampir saja terkena fobia telepon. Bukan hanya He Bin, Pak Tua Zhou sendiri pun menerima beberapa panggilan. Tentu saja, mereka yang bisa langsung menelepon ke ponsel Pak Tua Zhou adalah tokoh-tokoh penting dalam dunia koleksi. Setelah bertukar sapa sejenak, obrolan pun secara alami mengarah pada kabar kembalinya Yang Satu Mata.
Begitu mendapat konfirmasi dari Pak Tua Zhou, para tokoh besar itu langsung bergerak. Ada yang langsung menghubungi He Bin, memberitahukan keikutsertaan mereka dalam lelang dan acara identifikasi barang antik, meminta tempat duduk disiapkan. Ada pula yang langsung membongkar beberapa koleksi yang selama ini masih diragukan keasliannya, berencana mengatur waktu agar Yang Satu Mata membantu menilainya.
Bagi kalangan tertentu, dengan status mereka yang tinggi, mereka merasa kurang pantas untuk hadir di acara identifikasi barang antik yang ramai seperti itu. Biasanya, proses apresiasi, jual-beli, maupun tukar-menukar barang antik dilakukan secara pribadi.
Setelah makan siang dengan susah payah, rombongan itu menikmati satu putaran teh di ruang tamu mewah, lalu saling berjabat tangan dan berpisah. Bagaimanapun, umur mereka sudah lanjut, tidak kuat lagi banyak kegiatan. Terlebih lagi, ada Qin Jie yang kondisi kesehatannya juga perlu diperhatikan.
Mereka kemudian berkendara kembali ke rumah kecil dua lantai milik Pak Tua Zhou yang berada di kawasan peristirahatan di Danau Dian. Pak Tua Zhou dan pasangan Yang Satu Mata masing-masing pergi beristirahat. Hanya Tang Dou dan Yang Deng yang masih muda dan penuh energi, juga tidak terbiasa tidur siang, akhirnya mereka berdua masuk ke perpustakaan Pak Tua Zhou dan menghabiskan waktu seharian membaca buku dengan penuh semangat.
Selepas makan malam, Pak Tua Zhou, Yang Satu Mata, serta Tang Dou dan Yang Deng kembali ke perpustakaan. Dua orang tua itu, dengan cara masing-masing, membimbing Tang Dou dan Yang Deng dalam ilmu barang antik.
Ketika keempatnya masih tenggelam dalam suasana belajar-mengajar yang menyenangkan itu, suara ketukan pintu yang tidak sesuai suasana pun terdengar. Ternyata, itu Zhou Rui lagi.
Zhou Rui masuk sambil tersenyum kepada mereka berempat, lalu berkata kepada Pak Tua Zhou, “Kakek, Ketua Gao datang berkunjung.”
Pak Tua Zhou pun tertawa sembari berdiri, dan berkata pada Yang Satu Mata, “Orang tua Gao ini adalah Ketua Dewan Kota Huangpu, bisa dibilang juga seorang kolektor, punya banyak lukisan dan kaligrafi dari orang terkenal, walaupun keasliannya tidak banyak. Dia ini bukan orang yang mudah datang ke rumah tanpa alasan. Aku kira dia pasti datang karena ingin bertemu denganmu. Kalau nanti dia minta bertemu, kau mau menemuinya atau tidak?”
Yang Satu Mata tersenyum tipis, “Kalau kau tidak bisa mengelak, terserah kau saja. Tapi kalau barang yang dibawa adalah lukisan atau kaligrafi, jangan paksa aku yang buta ini.”
Lukisan dan kaligrafi memang berbeda dengan barang antik lainnya, sejak dulu merupakan kategori barang antik dengan tingkat pemalsuan tertinggi. Bahkan beberapa pelukis dan kaligrafer besar yang kini terkenal, dulunya juga hidup dari meniru karya para pendahulu. Bisa dibilang, di antara karya-karya yang beredar di dunia, ada banyak tiruan yang bahkan lebih mirip aslinya daripada aslinya sendiri. Orang yang sudah ahli pun kadang bisa terkecoh. Jika meminta Yang Satu Mata menilai lukisan dan kaligrafi, itu sama saja dengan sengaja mempersulitnya.
Pak Tua Zhou pun tertawa lepas. Ia tahu Yang Satu Mata mengatakan itu demi menjaga perasaannya, walaupun secara tersirat, ia juga tidak ingin bertemu tamu asing.
Pak Tua Zhou berkata beberapa kata basa-basi lalu keluar dari perpustakaan.
Setengah jam kemudian, Pak Tua Zhou kembali ke perpustakaan dengan gelengan kepala dan senyum pahit. Ketua Gao memang datang untuk meminta penilaian barang, barang yang dibawa adalah sebuah batu tinta Chengni. Barangnya asli, merupakan tiruan batu tinta Xiwen dari Istana Deshou pada masa Qianlong. Terlepas dari nilainya, barang ini sebenarnya tidak terlalu sulit untuk diidentifikasi, karena pada bagian kepala batu tinta sudah tertulis: “Tiruan batu tinta Xiwen dari Istana Deshou zaman Song.” Pada bagian belakang batu tinta juga terukir tulisan kaligrafi resmi: “Hasil bumi kuno, bintang-bintang di ujung tinta. Jenis langka untuk dikoleksi, mengusir debu dan dingin. Pegunungan lain bisa diasah, seperti bejana yang menampung. Sekadar mengandung makna, mengambil dari Deshou.” Bertanda tangan: “Tulisan tangan Kaisar Qianlong.” Bahkan kotak kayu cendana ungu tempat batu tinta itu juga berlabel tulisan tangan Kaisar Qianlong, sama seperti pada batu tintanya.
Selama barang itu dapat dipastikan asli, sebenarnya tidak ada lagi yang perlu diteliti lebih jauh. Pak Tua Zhou hanya melihat sekilas lalu memberikan kepastian pada Ketua Gao, “Tenang saja, barang ini memang peninggalan Kaisar Qianlong. Kalau sekarang dijual, mungkin bisa laku sekitar tiga puluh juta.”
Baru saja kembali ke perpustakaan dan hendak melanjutkan sesi bimbingan barang antik kepada dua anak muda itu, tak lama kemudian Zhou Rui kembali mengetuk pintu, memberitahu bahwa ada tamu lagi, kali ini juga seorang pejabat tinggi yang datang.
Pak Tua Zhou merasa pusing. Biasanya, rumah kecilnya itu jarang sekali kedatangan tamu. Selain beberapa murid seperti Gao Mingde yang kadang mampir, dalam sebulan pun bisa jadi tidak ada tamu satu pun. Tapi kali ini, dalam satu malam datang dua tamu penting yang tidak bisa diabaikan.
Yang Satu Mata tertawa menggoda Pak Tua Zhou, “Makanya aku bilang, kau ini sudah terlalu sibuk untuk bisa tenang belajar. Setiap hari sibuk menerima tamu, tidak capek? Sepertinya tempat ini sudah tidak cocok buat kita lama-lama, lebih baik besok kita pindah ke hotel saja, supaya kau lebih leluasa melakukan hal-hal rahasia.”
Pak Tua Zhou melotot, “Kau ini dapat untung masih saja banyak tingkah. Berani taruhan, siapa yang datang malam ini, buat siapa? Kau pikir rumahku ini siapa saja bisa seenaknya datang? Hanya tiga atau lima orang saja, tinggal kuusir selesai.”
Yang Satu Mata mengibaskan tangan, “Tahu, tahu, kau ini orang penting, mantan pejabat tinggi. Tapi tak perlu setiap saat pamer, cepat sana, jangan ganggu kami bertiga belajar.”
Pak Tua Zhou cemberut, memandang kesal pada Yang Satu Mata yang memang suka mengusik, tapi sayangnya Yang Satu Mata tidak bisa melihat ekspresinya.
Tang Dou dan Yang Deng saling melirik, menahan tawa. Kedua orang tua itu, bila sudah bersama, memang tak pernah akur, selalu saja saling menggoda setiap ada kesempatan. Orang bilang, makin tua makin seperti anak-anak, mungkin memang benar, semakin bertambah usia, orang memang makin polos dan kekanak-kanakan.
“Sudah menempati sarang orang lain, masih juga bangga,” dengus Pak Tua Zhou, lalu bergegas keluar.
Malam pun berlalu tanpa kejadian berarti. Tang Dou terus membaca “Atlas Keramik Ternama Dinasti Xiang Edisi Anotasi” hingga menjelang pagi, sampai akhirnya tak kuat menahan kantuk dan tertidur. Tapi baru beberapa jam tidur, ia sudah ditarik lagi dari selimut oleh Pak Tua Zhou. Tak ada pilihan lain, tamu datang lagi, dan kali ini mereka menyebut nama Tang Dou secara khusus.
Setelah mandi air dingin dan benar-benar segar, Tang Dou dengan hati-hati menyimpan kembali buku “Atlas Keramik Ternama Dinasti Xiang Edisi Anotasi,” lalu buru-buru turun ke bawah.
Karena kaki Qin Jie kurang sehat, Pak Tua Zhou menempatkan keluarga mereka di dua kamar di lantai bawah, sedangkan Tang Dou ditempatkan di kamar di lantai dua, mungkin kamar itu biasanya digunakan anak dan menantunya bila berkunjung. Ya sudahlah, tak perlu dipikirkan.
Baru turun tangga, Tang Dou melihat He Bin yang sedang duduk di sofa, mengobrol dengan Pak Tua Zhou dan Yang Satu Mata. Tang Dou segera tersenyum dan meminta maaf.
He Bin berdiri sambil tertawa, “Saudara, hari ini aku lagi santai. Bagaimana kalau kau temani aku main golf satu ronde?”
Tang Dou tersenyum lebar dan menjabat tangan He Bin, lalu bertanya, “Bukankah besok sudah hari lelang musim gugur, kenapa kau masih sempat santai?”
Besok adalah hari pembukaan Lelang Musim Gugur Baode International. Sebagai bos besar, He Bin seharusnya sangat sibuk. Tapi ia malah masih punya waktu untuk main golf. Tang Dou pun heran.
He Bin tertawa lepas dan menepuk pundak Tang Dou, “Saudara bodoh, kalau usahamu sudah sampai di tingkat tertentu, kau akan sadar jadi bos itu sebenarnya santai sekali. Paling cuma jadi ‘tiga pendamping’: menemani makan, ngobrol, dan main. Semua pekerjaan sudah ada yang mengurus, dan mereka pun harus hati-hati menjaga suasana hatimu. Sudahlah, tak usah bahas itu. Di klub golf aku sudah booking waktu, kalau terlambat nanti harus antri lagi.”
Tang Dou tersenyum canggung, “Kak Bin, jujur saja, aku cuma pernah lihat golf di televisi. Pegang stik saja belum pernah. Mending kau cari teman lain saja.”
“Apa-apaan, semua orang pasti punya pengalaman pertama, serahkan saja pengalaman pertamamu padaku, pasti beres. Orang lain yang ingin menemaniku malah belum tentu aku mau ajak,” kata He Bin.
Tang Dou merasa geli, pagi-pagi sudah ada laki-laki yang ingin “mengambil” pengalaman pertamanya. Ucapan ini membuatnya geli dan agak canggung.
Tang Dou menoleh ke arah Pak Tua Zhou dan yang lain. Pak Tua Zhou tersenyum dan melambaikan tangan, “Pergi saja, sekalian refreshing. Jangan tiap hari cuma baca buku saja.”
Sebenarnya, Pak Tua Zhou ingin mendorong Tang Dou agar memperluas relasi. Dengan cita-citanya mendirikan museum pribadi, menjalin hubungan dengan He Bin jelas bukan hal buruk.
Tang Dou tersenyum lebar, mengangguk, lalu menoleh ke arah Yang Deng.
Yang Deng tersenyum dan berkata, “Sebentar lagi aku mau menemani Mama jalan-jalan.”
Tang Dou pun tersenyum, lalu berpamitan kepada Pak Tua Zhou dan yang lain, kemudian berjalan keluar bersama He Bin.