Bab 4: Hal Apa yang Dapat Membuat Seorang Pria Tiba-tiba Menjadi Dewasa
Setelah mengantarkan Wu Bingzhong, Ning Weidong kembali dari luar. Ia tak kuasa menahan diri untuk kembali melirik ke rumah Bai Fengyu, dalam hati diam-diam menilai bahwa perempuan itu bukan orang biasa. Suaminya pergi ke Hong Kong, ini jelas bukan perkara remeh; bagaimana caranya urusan itu ditutupi dari komite lingkungan dan kantor kelurahan? Selain itu, orang tua keluarga Ma masih tinggal di situ, bersama anak sulung dan menantu perempuan. Dua kamar di halaman sebenarnya milik pasangan tua keluarga Ma, dan baru setelah si bungsu menikah, mereka pindah ke rumah si sulung. Kini Ma Liang kabur, Bai Fengyu masih bisa tinggal di situ, inilah kehebatan perempuan itu. Dalam ingatannya, ibu Ma bukan sosok yang mudah diajak bicara.
Ning Weidong kembali ke tenda anti gempa, menyalakan tungku arang, lalu duduk di atas ranjang kayu. Tenda itu tak lebih dari enam meter persegi, ranjang kayu yang cukup untuk dua orang mendominasi ruangan. Dindingnya tipis dan ditempeli surat kabar lama yang sudah menguning; di lantai ada tungku pemanas dari besi cor, cerobong besi yang berkarat menembus dinding ke luar. Di sebelah tungku, dindingnya dipasang papan kayu berlapis minyak, ditancapi paku untuk menggantung pakaian, supaya tidak mengotori dinding kapur putih.
Melihat nyala api yang menari di tungku, Ning Weidong merasa sedikit lega. Seandainya ia menyeberang waktu lebih lambat, dan uangnya sudah diberikan ke Bai Fengyu, sekarang ia pasti kelabakan. Mungkin cuma Ning Weiguo dan Wang Yuzhen yang bisa membantunya. Dalam ingatannya, sebelum pergi ke timur laut untuk bertugas, hubungan pemilik tubuh ini dengan Wang Yuzhen cukup baik. Sepulangnya, setelah bertemu Bai Fengyu, Wang Yuzhen berkali-kali mengingatkannya agar menjaga jarak dengan Bai Fengyu, hingga akhirnya timbul konflik. Kalau Wang Yuzhen tahu Bai Fengyu hampir saja mengambil uang tiga ratus yuan darinya, pasti ia bakal naik pitam. Saat itu, keributan tak terelakkan.
Ning Weidong tak takut jika masalah jadi besar, namun ia tak ingin di mata Wang Yuzhen benar-benar dianggap “kurang cerdas” dan “tak layak diandalkan”. Tungku mulai hangat, tak perlu lagi mendekat untuk menghangatkan badan. Ning Weidong melepas sepatu kapasnya, kedua tangan dijadikan bantal di belakang kepala, rebahan di atas ranjang, pikirannya kacau, berlarian seperti kuda liar, kadang tentang kenangan sebelum menyeberang waktu, kadang tentang pengalaman pemilik tubuh ini...
Tanpa disadari, jam mekanik di atas jendela sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sesuai kebiasaan, keluarga kecil Ning Weiguo akan menjenguk kakek nenek Ning Lei, pasti baru pulang setelah makan malam. Ning Weidong tak bisa berharap makanan siap saji, ia harus mencari sendiri makanannya.
Masih tersisa dua buah mantou dari hasil kukusan pagi tadi. Ning Weidong malas memasak lagi, ia berencana memotong mantou itu, memanggangnya di atas tungku, lalu mencelupkannya ke gula merah... Membayangkannya saja sudah membuatnya makin lapar. Ia keluar dari tenda, entah sejak kapan salju mulai turun. Tanah sudah tertutup lapisan putih, tak ada orang lain di halaman, hanya ada jejak kaki menuju pintu rumah Bai Fengyu.
Ning Weidong melirik sebentar. Sejak pagi mereka berpisah, Bai Fengyu tak datang mengganggu, entah apa yang ia pikirkan. Ning Weidong mengalihkan pandangan, tiba-tiba merasa ada seseorang mengawasinya. Entah hanya perasaan, sejak menyeberang waktu tubuhnya terasa lebih kuat dan indra perasanya pun lebih tajam. Saat itu, seolah firasat muncul, ia menoleh dan melihat di samping jendela kamar barat, ada setengah wajah yang mengintip. Di luar langit mendung, di dalam rumah remang, hanya bisa melihat samar-samar. Orang itu terkejut dan segera menarik wajahnya. Ning Weidong mengerutkan kening, sepertinya bukan Bai Fengyu. Bai Fengyu menikah tanpa anak, setelah Ma Liang kabur, hanya tinggal dia seorang, tapi kini ada orang lain di rumah!
Orang itu sudah menarik wajahnya, tak muncul lagi, Ning Weidong pun mengalihkan perhatian. Ia masuk ke dapur, dua mantou yang tersisa masih tergeletak di samping kompor, tertutup kain kukusan. Setelah seharian, permukaannya sudah mengeras, begitu ditekan terasa keras sekali. Ia mengambil pisau, memotong masing-masing jadi empat irisan, lalu mencari stoples gula merah di rak mangkuk. Saat itu gula di dalam negeri masih barang langka. Gula merah mudah menggumpal, Ning Weidong mengambil mangkuk, menggunakan sendok untuk mengorek sedikit, hingga dasar mangkuk terisi. Ia kembali ke tenda, menata irisan mantou di atas tutup tungku, tak lama kemudian aroma hangus gandum pun semerbak.
Ning Weidong sudah sangat lapar, ia segera membalikkan irisan dengan sumpit. Setelah cukup matang, ia mencicipi satu irisan tanpa tambahan apa pun. Tak disangka, mantou dua jenis tepung yang dipanggang ternyata cukup enak, dikunyah beberapa kali, lalu ia mencoba yang dicelupkan ke gula...
Dua mantou habis, ditemani gula merah ia minum setengah mangkuk air panas, tubuh Ning Weidong pun terasa tenang. Di luar salju masih turun, belum pukul lima sudah gelap. Diperkirakan keluarga Ning Weiguo akan segera pulang, Ning Weidong menyalakan tungku di rumah utama lebih dulu. Saat hendak kembali ke tenda, terdengar suara di luar.
Keluar, ia melihat pasangan Ning Weiguo memarkir sepeda di bawah jendela tenda. Ning Lei buru-buru membuka topi rajut yang menutupi wajah, napasnya membentuk lapisan es di sekitar mulut, lembab dan dingin, sangat tidak nyaman.
“Kakak, Kakak Ipar,” Ning Weidong menyapa dengan ramah, “Kupikir kalian pasti segera pulang, tungku di rumah sudah kutyalakan tadi.” Pasangan Ning Weiguo terdiam, pemilik tubuh sebelumnya tak pernah menyalakan tungku untuk mereka lebih dulu. Ada apa hari ini? Perubahan yang tiba-tiba membuat keduanya agak canggung.
Setelah masuk rumah dan melihat tungku sudah menyala dengan ceret air di atasnya, jelas itu disiapkan untuk mereka. Pasangan itu saling memandang, keduanya melihat kebingungan di mata masing-masing.
“Weiguo, adikmu ini...” Wang Yuzhen menggantungkan syal rajut di gantungan, nada suaranya penuh kekhawatiran. Ning Weiguo menggantungkan mantel yang baru dilepas, “Jangan berpikir macam-macam, Weidong juga sudah waktunya dewasa.” Wang Yuzhen menggigit bibir, tetap saja menebak-nebak. Ia mendecak, mengerutkan kening, “Tidak benar, sejak pagi sudah terasa ada yang ganjil, kau pikir... jangan-jangan si bungsu dengan si Bai itu, mereka tidur bersama?”
“Ah, kau ngomong apa sih.” Ning Weiguo hanya bisa tertawa kecut. Wang Yuzhen justru semakin yakin, seolah mengerti segalanya, “Coba kau pikir, apa yang bisa membuat seorang pria tiba-tiba jadi dewasa?” Ning Weiguo pun ikut ragu, tapi ia berkata, “Jangan sembarangan bicara, Bai Fengyu itu meski kau tidak suka, tak sepatutnya dibuat bahan bercanda, bisa jadi bahan omongan orang!” “Kan ini cuma bicara di rumah denganmu~” Wang Yuzhen menjawab santai.