Bab Delapan: Kesalahpahaman
Seruan Sang Serba Tahu itu langsung menarik perhatian semua orang di sekitarnya.
Awalnya, kedua orang yang sedang bertarung di arena itu sebenarnya tak mampu saling mengalahkan, ibarat dua tim sepak bola yang kekuatan mereka timpang—tim penyerang memang gencar menyerang dengan berbagai cara, tetapi bola tetap tak masuk ke gawang. Bukankah ini membuat penonton kecewa, bahkan sedikit kesal? Saat semua orang merasa pertandingan ini “tak enak dimakan, tapi sayang kalau dibuang”, tiba-tiba Sang Serba Tahu menjadi pusat perhatian.
Kerumunan pun mulai ramai berdiskusi, “Hei, dengar tidak? Orang itu bilang mau mengumumkan sesuatu ke publik!”
“Aku dengar, tapi entah rahasia apa yang mau dia ungkapkan!”
“Bukan soal rahasia, dia bilang mau membongkar siapa seseorang. Mencari tahu siapa orang itu!”
“Siapa orang itu?”
Langsung saja ada yang imajinasinya liar, “Melihat wajahnya yang penuh kemarahan, jangan-jangan dia melihat ada yang pakai cheat!”
“Cheat? Permainan ini bisa dipasangi cheat?”
“Kalau bukan cheat, apa lagi? Lihat saja ekspresinya, pasti dia kesal karena ada yang curang di depan matanya. Lebih parahnya lagi, si pelaku tidak mau meminjamkan cheat itu padanya, makanya dia balas dendam!”
“Wah, kalau dengar penjelasanmu, memang masuk akal!”
“Ah, jangan dengarkan omong kosongnya. Mana ada cheat. Aku yakin pasti ada yang dapat barang langka, dan dia ada di sana tapi tak kebagian. Sialnya, data karakter di game ini tak bisa dilihat! Jadi sekarang dia mau cari tahu siapa orang itu!”
“Tapi penjelasanmu juga masuk akal. Kira-kira barang langka apa ya?”
“Hehe, tanya aku juga percuma. Itu harus tanya langsung pada dia, dia kan tahu siapa orangnya, pasti tahu juga barangnya apa!”
...
Perhatian semua orang kini sepenuhnya teralihkan ke arah mereka. Mata-mata tajam menatap Sang Serba Tahu, seakan berkata, “Ayo, katakan yang sejujurnya!”
Sang Serba Tahu merasa pusing, melihat semua orang mulai mengerumuninya. Ia ingin meminta bantuan Angin Menderu untuk menjelaskan kepada semuanya, tapi baru sadar, karena tadi ia menoleh ke sana kemari, kini ia malah tak tahu lagi mana yang Angin Menderu. Harus diakui, saat ini penampilan semua orang hanya terbagi dua, “pria” dan “wanita”—mudah dideskripsikan, tapi sulit dikenali satu per satu.
Angin Menderu pun baru pertama kali melihat suasana seheboh ini. Melihat Sang Serba Tahu yang biasanya lancar bicara kini malah kebingungan mencari-cari sesuatu, ia hampir saja tertawa.
Namun, setelah dipikir-pikir, Angin Menderu sadar, posisi sulit Sang Serba Tahu sekarang juga ada andil dari dirinya. Bukan hanya karena dirinya yang memicu keributan, tapi juga soal yang diributkan itu memang berawal dari dirinya.
Menyadari hal ini, Angin Menderu langsung melompat dan menarik Sang Serba Tahu pergi, dalam hati berpikir, “Lebih baik kabur sebelum benar-benar terkepung!”
Padahal, seandainya mereka mau menjelaskan bersama, masalah ini pasti selesai. Kalaupun ada yang tidak percaya, tinggal cek di laman web saja dan semuanya akan jelas. Tetapi aksi Angin Menderu yang langsung loncat dan lari malah membuat kerumunan semakin yakin dengan dugaan mereka.
“Wah, dia mau kabur!”
“Itu siapa anak itu?”
“Sepertinya teman sekomplotan. Dari tadi aku lihat mereka berdua bisik-bisik!”
“Jangan biarkan mereka lolos, kejar!”
“Siapa tahu barang langka itu ada pada anak itu!”
Sang Serba Tahu sendiri tidak menyadari bahwa aksi kabur barusan malah membuat dirinya semakin dicurigai. Dalam hati ia justru kagum, “Anak ini benar-benar setia kawan!”
Keduanya berlari menerobos kerumunan, diiringi makian bermacam-macam logat dari seluruh penjuru negeri.
“Kamu ini sedang apa sih!”
“Mau mati, ya?”
“Apa-apaan sih!”
...
Orang-orang yang mengejar mereka berteriak-teriak, “Jangan biarkan mereka lari! Mereka bawa barang langka!”
“Barang langka? Barang apa itu?”
“Kejar saja, nanti juga tahu! Cepat!”
Namun masih ada yang berpikir jernih, “Kejar-kejar, buat apa? Sampai ketemu juga bukan punya kita!”
“Oh, jadi bukan mereka yang bawa barang, tapi mereka tahu di mana barang itu!”
“Apa? Mereka tahu di mana barang langka itu? Wah, cepat kejar!”
Pikiran yang awalnya jernih seketika jadi kalap.
Adegan kejar-kejaran ini pasti membuat malu film aksi mana pun—sayangnya, di film biasanya pemeran utama pria menarik tangan wanita melarikan diri dari kejaran musuh, penuh ketegangan sekaligus romantis. Di sini? Yang ada hanya usaha mati-matian untuk menyelamatkan diri.
Keduanya benar-benar berlari sekencang mungkin. Jelas, Sang Serba Tahu pun sudah berlatih banyak, kecekatan pun sudah cukup tinggi.
Namun tetap saja, perbedaan level tidak bisa dihindari. Beberapa pemain hebat mulai mengejar mereka dengan cepat.
Angin Menderu merasa, di saat genting begini, ia harus mengucapkan sesuatu yang menunjukkan jiwa kepahlawanannya. Ia menoleh dan bertanya pada Sang Serba Tahu, “Tadi kenapa kamu tidak langsung lari? Malah celingukan cari-cari?”
Sang Serba Tahu menoleh sambil menjawab, “Maksudmu yang mana? Dari tadi lari terus, ada beberapa titik memang langkahku kurang pas!”
“Bukan, maksudku bukan sekarang. Waktu tadi semua orang langsung mengerumuni kamu setelah dengar teriakanmu!”
“Waktu itu? Ya, aku sedang cari kamu!”
“Aku? Kan aku berdiri di situ terus?”
“Aku tahu kamu di situ, tapi semua orang kan sekarang mirip, aku sudah tak bisa membedakan lagi!”
“Terus, kamu cari aku untuk apa?”
“Mau ajak kamu jelaskan segalanya pada mereka!”
“Ya ampun! Kenapa tidak bilang dari tadi? Kita sudah lari sejauh ini, mending balik saja dan jelaskan sekarang!”
“Eh... masih bisa? Lihat saja tatapan orang di belakang kita. Seperti melihat harta karun negara saja!”
“Tenang, pasti bisa. Ini cuma salah paham, hanya salah paham!”
“Tapi, memperbaiki salah paham itu kadang sama saja seperti seorang cendekiawan berdebat dengan tentara, tetap tidak mudah!”
“Mana ada! Kamu pikir mereka itu semua orang bodoh, otot doang? Aku yakin mereka semua berpendidikan tinggi. Kalau tidak kuliah, paling tidak wajib belajar sembilan tahun sudah selesai!”
“Iya juga sih. Jadi, berhenti saja dan jelaskan pada mereka?”
“Mau tidak mau harus berhenti. Aku sudah kehabisan napas!”
Akhirnya, mereka berhenti berlari, keluar lagi dari kerumunan, dan bersiap menunggu orang-orang yang mengejar mereka, untuk memberikan penjelasan.