Bab Tujuh Belas: Setelah Pertarungan di Bawah Hujan (Bagian Kedua)
Cahaya putih telah lenyap, dan Sang Serba Tahu kini berdiri di hadapan Angin Sepoi. Meskipun wajahnya masih sama seperti wajah semua orang di dunia ini, Angin Sepoi tetap saja mampu menangkap guratan-guratan licik, hina, kotor, keji, pelit, dan segala sifat yang bertolak belakang dengan kejujuran pada wajah itu. Seluruh penampilan Sang Serba Tahu pun membuat Angin Sepoi yakin bahwa ia benar-benar terlihat seperti seekor musang licik, dengan tatapan penuh tipu daya.
Tanpa memperlihatkan perasaan apa pun, Angin Sepoi mendekat lalu bertanya, “Tuan, ingin memesan apa?”
Sang Serba Tahu segera menarik Angin Sepoi ke samping dan berkata, “Nak, kemarin aku dan seseorang minum teh di sini. Setelah itu aku pulang duluan, orang itu bagaimana? Seingatku dia tidak punya uang membayar, apa yang terjadi selanjutnya?”
“Oh, aku ingat orang yang kau maksud. Karena tak bisa membayar, dia ditangkap oleh petugas pemerintah,” jawab Angin Sepoi, dengan otot wajah yang sudah mulai berkedut beberapa kali.
“Benarkah? Aku mau lihat apakah dia masih di sini!” gumam Sang Serba Tahu sambil mengirim pesan untuk Angin Sepoi.
Angin Sepoi menghidangkan teh, dan baru saja berniat menghantamkan bangku ke kepala Sang Serba Tahu, tiba-tiba ada notifikasi pesan baru dari sistem. Ia pun membacanya lebih dulu. Pesan dari Sang Serba Tahu: “Kau di mana? Kemarin aku lupa bayar lalu keluar duluan, habis itu sibuk jadi tak sempat masuk lagi. Kau tak apa-apa? Kudengar kau dibawa petugas pemerintah.”
Hati Angin Sepoi terasa hangat. Ternyata anak ini tak sengaja lupa membayar dan masih mengkhawatirkannya. Ia membalas pesan, “Tak masalah. Aku hanya disuruh bekerja di rumah teh oleh petugas selama empat jam. Sekarang aku berdiri tepat di depanmu.”
Sang Serba Tahu mendadak melompat dari bangku, menatap pelayan di depannya. Angin Sepoi tersenyum, “Jangan melongo, memang aku, kau tak kenal lagi?”
“Astaga, kenapa tak bilang dari tadi, pakai acara pura-pura segala!”
Angin Sepoi tentu tak mau mengakui rencana balas dendamnya tadi, jadi ia hanya berkata, “Hanya bercanda, ingin memberimu kejutan.”
“Huh, tinggal satu jam lagi? Kalau begitu, biar aku cari bosnya, aku yang bayar, boleh?”
“Tinggal satu jam lagi, tak usah, lagipula sudah tak bisa.”
Sang Serba Tahu mengiyakan, lalu menarik Angin Sepoi lebih dekat dan berbisik, “Barusan ada orang menantang Pedang Menembus Langit dan mengalahkannya, kau tahu?”
“Ah, pura-pura misterius, semua yang duduk di sini tadi juga menyaksikan Pedang Menembus Langit dikalahkan!”
“Serius? Bagaimana bisa begitu!”
“Soalnya...” Angin Sepoi sengaja memperpanjang nada suaranya, menikmati ekspresi cemas Sang Serba Tahu, “Jalan di depan rumah teh inilah tempat mereka bertarung!”
“Jadi kau juga melihatnya!”
“Tentu saja!”
“Kudengar yang mengalahkan Pedang Menembus Langit itu orang berbaju biru, pakai topeng, dan menggunakan pedang tersembunyi yang diambil dari dalam payung. Saat ia mengayunkannya, langit dan bumi berubah warna, lalu turun hujan deras. Benarkah begitu?”
Mulut Angin Sepoi menganga, lama ia terdiam lalu berkata, “Kau dengar dari siapa semua itu?”
“Di forum situs, benar begitu?”
“Siapa yang menulisnya, keterlaluan sekali. Memang orangnya berbaju biru, tapi sama sekali tak pakai topeng. Pedangnya pun bukan diambil dari payung, dan bukan pula pedang tak kasat mata, hanya saja pedangnya ramping. Hujan deras itu juga omong kosong, waktu orang itu tiba, hujan memang sudah turun sejak tadi.”
“Jadi sebenarnya tak ada yang istimewa?”
“Ada, tentu saja. Orang berbaju biru itu sangat cepat dan serangannya sangat kuat. Hanya dengan satu jurus ia mengalahkan Pedang Menembus Langit, padahal saat itu lawannya baru saja memegang gagang pedang.”
“Kau kan berteman dengan Pedang Menembus Langit? Kenapa kau tampak sangat bersemangat saat dia kalah?” Sang Serba Tahu melirik Angin Sepoi yang bicara dengan penuh semangat, mulai ragu dengan kisahnya.
“Mana ada, aku hanya menggambarkan suasana saat itu di depanmu. Yang membuat bersemangat ya suasana pertarungan itu!”
“Jadi, jurus yang cepat dan kuat itulah kuncinya. Tulisan di forum itu siapa yang buat, benar-benar ngawur!”
“Forum itu bilang apa lagi?”
“Kebanyakan menebak asal-usul orang berbaju biru itu! Kalian yang menyaksikan tahu siapa dia?”
“Tidak, yang kami tahu hanya nama pedangnya: Pedang Hujan Deras!”
“Pedang Hujan Deras, Pedang Hujan Deras…” Sang Serba Tahu bergumam beberapa kali, seperti tengah merenung, lalu berkata, “Sudahlah, aku cuma naik sebentar untuk memastikan kau tak apa-apa. Kalau begitu, aku turun dulu. Nanti malam kau masuk, kita bertemu lagi!”
Setelah berkata demikian, cahaya putih kembali berkedip. Sang Serba Tahu yang tadi berdiri di situ, seketika menghilang.
Angin Sepoi dalam hati bertanya-tanya, "Kau sebenarnya ingin mencari tahu atau menengokku sih?" Menatap tempat Sang Serba Tahu menghilang, ia tiba-tiba kesal dan berteriak, “Dasar bocah, pesan teh lalu kabur tanpa bayar!” Namun setelah berpikir, ternyata Sang Serba Tahu tadi tidak benar-benar memesan teh. “Jangan-jangan aku yang harus membayar?” Melihat tak ada yang memperhatikan, ia buru-buru menuangkan teh yang sudah dituangkan tadi kembali ke dalam teko.
Sementara Angin Sepoi menghabiskan sisa satu jam di rumah teh, forum resmi di situs utama hampir saja tumbang karena membludaknya pengunjung. Semua orang membicarakan duel sore tadi.
“Siapa orang berbaju biru itu?”, “Bagaimana dia bisa secepat dan sekuat itu?”, “Ilmu apa yang digunakan orang berbaju biru?”, “Apakah ada keistimewaan pada Pedang Hujan Deras?” Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi topik hangat.
Ada juga yang mencoba menghubungi pihak resmi untuk meminta penjelasan, namun jawabannya selalu sama: itu adalah privasi pemain, kami tidak akan memberikan petunjuk apa pun. Satu-satunya hal yang dikonfirmasi pihak resmi adalah bahwa pemain tersebut sepenuhnya sesuai dengan pengaturan sistem, tidak menggunakan bug atau program ilegal.
Di antara para pemain, banyak juga yang memuji Pedang Menembus Langit. Mereka menilai dia berjiwa besar karena mengakui kekalahan tanpa malu, dan setelah itu tetap tenang di rumah teh, tidak seperti kebanyakan orang yang akan murung. Menurut mereka, dia benar-benar menunjukkan kelas seorang ahli.
Ada pula yang berpendapat bahwa kekalahan Pedang Menembus Langit disebabkan oleh kurangnya informasi tentang lawan—tak menyangka lawannya bisa secepat itu, jika saja ia lebih waspada, belum tentu ia kalah.
Sebagian lain merasa bahwa kunci kemenangan duel itu adalah siapa yang menyerang lebih dulu. Orang berbaju biru memanfaatkan keunggulan kecepatan dan serangannya, sehingga lawan tak sempat membalas. Jika saja Pedang Menembus Langit lebih dulu menyerang, orang berbaju biru yang bertubuh lemah itu pasti akan langsung tumbang dalam sekali serang.
Secara keseluruhan, mayoritas berpihak pada Pedang Menembus Langit. Kemunculan misterius sang berbaju biru, serangan mendadak, dan kepergiannya yang tanpa jejak, membuatnya tampak seperti tokoh antagonis menurut banyak orang.
Tentu saja ada pula yang sangat mengagumi orang berbaju biru, kebanyakan dari kalangan muda dan pemain perempuan. Mereka menilai aksinya sangat keren dan penuh karakter. Bahkan beberapa pemain perempuan menganggapnya romantis, sampai-sampai mengutip puisi: “Aku pergi dengan pelan, seperti datangku yang pun pelan.”
Sebagian pemain lain khawatir, apakah orang berbaju biru akan menimbulkan kekacauan di dunia persilatan. Dengan kekuatan yang ia miliki saat ini, hanya segelintir yang mampu bertahan dari satu serangannya.
Pendapat beragam bermunculan.
Namun satu hal yang dirasakan semua orang, semenjak uji coba terbuka selama setengah bulan terakhir, dunia persilatan yang tadinya tenang kini mulai bergejolak karena kehadiran satu orang ini.
Dunia persilatan yang penuh pertarungan, konflik, dan intrik. Sebuah dunia perebutan kekuasaan dan tipu daya. Dunia luar biasa semacam inilah yang dicari sebagian besar pemain dalam permainan ini. Hidup di zaman damai, banyak yang percaya “kekacauan melahirkan pahlawan.” Dunia persilatan tampaknya, oleh kemunculan satu orang ini, telah mulai memasuki babak baru, penuh gejolak dan pertarungan terbuka maupun tersembunyi. Apakah ini membawa keberuntungan atau bencana, tak ada yang tahu.