52 Menjinakkan Naga
Ketika Felix meneleponnya, Jiang Yuechi sedang berdiri di hadapan seorang pria yang tampaknya sedang menghadapi kesulitan dan membutuhkan bantuannya.
"Lengan... sepertinya terluka." Pria itu menundukkan kepala, mengulurkan tangan untuk menarik lengan bajunya. Kancing kemejanya yang setengah terbuka memperlihatkan separuh dada pria yang samar-samar terlihat.
Jelas sekali pria ini rutin berolahraga keras, otot dadanya sangat berkembang. Bentuk tubuhnya termasuk tipe berotot dengan lapisan lemak tipis, otot dada besar yang tampak agak berlebihan, seolah-olah masih bergetar tipis setiap kali ia bergerak.
Jiang Yuechi sangat ingin menyarankannya untuk membeli pakaian dalam khusus olahraga.
Sungguh... tidak senonoh dipandang mata.
Meskipun ia menyukai dada bidang, yang ukurannya sebesar ini justru terasa sangat memuakkan.
Bagas rasanya seperti memakan sepiring penuh daging babi masak kecap berlemak tanpa ada nasi putih sebagai penyeimbang. Perutnya langsung terasa mual.
Namun, ia tetap mempertahankan kesopanan yang sewajarnya dan memberitahunya, "Ada pelayan di atas kapal ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, saya yakin mereka akan dengan senang hati membantu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia berniat untuk pergi, tetapi pria tersebut justru menarik tangannya: "Begini..."
Ketika ia berbalik dengan menunjukkan eksporsi jijik terhadap sentuhan orang lain, pria itu langsung melepaskannya dengan cepat.
Dengan nada yang segan untuk diucapkan: "Maaf, tapi aku... aku sebenarnya adalah salah satu pelayan. Jam sekian ini seharusnya adalah waktu jagaku, tapi aku tidak bisa... rasanya sakit sekali. Bisakah kamu membantuku? Aku tidak bisa menemukan orang lain lagi."
Hm... baiklah kalau begitu.
Jiang Yuechi bertanya kepadanya, "Kenapa bisa sakit?"
"Ditendang. Orang itu ingin memperlakukanku dengan... tapi aku menolaknya secara halus, dan ia malah marah karena malu."
Dia.
Seorang pria.
Orang-orang kaya ini selalu gemar mencari sensasi. Ia pernah melihat sendiri pemandangan di mana seorang wanita berbaring di depan dan seorang pria menindih di belakang dalam waktu bersamaan.
Selama tahun-tahunnya berada di sisi Felix, satu-satunya hal yang belum pernah ia lihat hanyalah hantu.
"Kira-kira apa yang kau harapkan dariku untuk membantumu?" Sebenarnya ia tidak memiliki sifat welas asih yang berlebihan bak seorang santa, tetapi ia juga tidak tega untuk pergi begitu saja. Bagaimanapun, pria itu tampak begitu putus asa.
Jika itu hanya sekadar bantuan kecil yang tidak merepotkan, maka ia akan membantu.
Namun, jika butuh meminjam uang... maka ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sendiri sudah begitu miskin hingga berniat menjual karpet di kamar Felix.
Lagipula pria itu tidak akan menyadarinya, dan sekalipun ia menyadarinya, ia tidak akan peduli dengan keberadaan selembar karpet.
Untunglah pria itu tidak meminjam uang darinya, ia hanya berharap Jiang Yuechi bisa mencarikan tempat peristirahatan sementara untuknya. Ia tidak punya tempat untuk pergi, bahkan tidak bisa turun dari kapal di tengah pelayaran. Mengingat mereka sekarang sedang berada di tengah laut, satu-satunya akibat dari turun kapal adalah tenggelam dan menjadi makanan hiu.
Jiang Yuechi meminta seseorang untuk menyiapkan sebuah kamar istirahat bagi pria itu.
Meskipun ia sendiri hanyalah seorang tamu biasa, fasilitas seperti kamar istirahat bukanlah hal yang krusial, sehingga para pelayan di kapal biasanya akan selalu memenuhi permintaan para tamu tanpa banyak tanya.
Ketika panggilan telepon dari Felix masuk lagi, ia baru saja beranjak pergi. Pria itu bersikeras memberikan informasi kontaknya, berharap ia bisa menghubunginya kembali.
"Aku ingin membalas budi padamu, suruh aku melakukan apa saja, aku akan menuruti."
Ucapan itu sudah jelas mengandung makna tersirat.
Pria itu sebenarnya sangat tampan dan memiliki tubuh yang bagus. Namun, Jiang Yuechi sudah tidak mampu lagi memperlakukan orang-orang yang jauh berada di bawah standar Felix dengan selera estetik yang normal.
Bahkan, jaraknya terpaut sangat jauh di bawah standar itu.
Ia berpikir sejenak, lalu berkata dengan nada ragu-ragu, "Meskipun menyalahkan korban adalah hal yang tidak benar, tapi aku sarankan sebaiknya kau merapikan pakaianmu. P... putingmu hampir kelihatan."
"Ah, yang ini ya?" Pria itu terkejut, wajahnya merona merah, buru-buru mengancingkan bajunya, "Ukurannya terlalu besar, aku tidak bisa menyembunyikannya... aku tidak punya barang lain, tapi kalau kamu suka, kamu bisa..."
Jiang Yuechi langsung pergi sebelum pria itu mengucapkan kalimat yang lebih berbahaya.
Uh... ia memang suka dada bidang, tapi bukan berarti ia menyukai dada semua orang.
Ia hanya menyukai milik Felix.
Proporsi sempurna di mana otot dan lemak tubuh berpadu dengan pas.
Ia berbalik untuk pergi, tetapi pria itu buru-buru mengejarnya; "Ngomong-ngomong, aku belum sempat memberitahumu namaku, namaku Jack, apakah boleh..."
Pria itu tidak berani menatap matanya, "Apakah boleh aku tahu siapa namamu?"
Jiang Yuechi berpikir sejenak: "Alice, kamu bisa memanggilku Alice."
"Alice..." Pria itu mengeja nama itu sekali lagi, lalu tersenyum malu-malu, "Nama yang indah."
Jiang Yuechi merasa dirinya seharusnya tidak memiliki prasangka seperti itu, setiap orang terlahir bebas dan tidak seharusnya dibatasi oleh stereotip apa pun.
Namun, ia tidak dapat menerima sikap pria yang terkesan dibuat-buat dan gemulai itu, terlalu ke arah sesama jenis.
"Terima kasih. Aku masih ada urusan, jadi aku pergi dulu."
"Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu."
Pria itu melangkah maju. Di balik kemejanya yang tidak pas di badan, otot-ototnya meregangkan kain hingga tampak ketat. Pakaian itu sendiri tidak terlihat berkualitas tinggi, bahannya lemas dan kerutannya tampak sangat jelas.
"Istirahatlah lebih awal." Mengira latar belakang keluarga pria itu pasti tidak bagus, Jiang Yuechi menghela napas. Rasa senasib sepenanggungan antar orang miskin itu membuat nada bicaranya melunak.
"Jangan khawatir soal waktu, ruangan ini selalu kosong. Pegang saja kuncinya dan kamu bisa datang kapan saja."
"Terima kasih, gadis Tiongkok yang cantik. Kamu sangat baik."
Jiang Yuechi baru saja berbalik dan hendak pergi ketika sosok jangkung di koridor tidak jauh dari sana membuat langkah kakinya terhenti seketika, sementara matanya berbinar terang.
Kemunculan pria itu sangat memanjakan matanya.
Sebagai perbandingan, setelan jas buatan penjahat khusus dengan bahan pilihan itu membingkai dan menampilkan posturnya yang tinggi dan tegap dengan sempurna.
Bahu pria itu lebih lebar dari Jack, kakinya lebih jenjang dari Jack, dan pinggangnya pun lebih ramping dari Jack.
Proporsi tubuhnya luar biasa sempurna.
Jika pria itu terjun ke dunia gelap sebagai pria simpanan, ia tetap akan bisa menjadi orang terkaya di dunia.
Ternyata ia memang sudah terjerat sepenuhnya oleh wajah Felix.
Meskipun begitu jahat, pria itu selalu memancarkan keanggunan dan ketenangan yang membius.
Kata 'pria sejati' sepertinya diciptakan khusus untuknya.
Tentu saja, itu dengan catatan mengabaikan apa yang sedang dilakukannya saat ini.
Jiang Yuechi menganggap pria itu bagaikan obat perangsang berjalan, di mana ia selalu terbawa arus pemikirannya tanpa sadar.
Termasuk saat ini, ketika ia sadar kembali, ia sudah berada dalam dekapan pria itu, dengan salah satu kakinya menginjak permukaan meja marmer wastafel.
Di hadapannya terdapat sebuah cermin lantai yang sangat besar. Meja cuci tangan itu terbuat dari satu blok marmer utuh, dengan aliran air yang mengalir turun dengan tenang ke segala arah.
"Ini sama sekali tidak adil, kamar mandi milikmu... bahkan lebih besar dari lima kali kamarku jika digabung." Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin, berniat merapatkan lututnya, tetapi tangan kokoh pria itu membuatnya mustahil untuk bisa melawan.
Suara pria itu terdengar tepat di dekat daun telinganya, diiringi dengan tawa yang begitu santai: "Seluruh kapal ini adalah milikku, memberi kalian tempat tinggal sudah merupakan bentuk keadilanku."
Hm... kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga.
Pria itu berucap dengan senyum tipis, suaranya memiliki tekstur serak yang elegan: "Apa saja yang baru saja dikatakan oleh gigolo kecil itu kepadamu, apakah dia menawarkan bokongnya kepadamu?"
"Tidak... dia hanyalah seorang pelayan biasa," elaknya.
Pria itu tidak menyangkal jawaban tersebut: "Hm, melayani orang lain dengan tubuhnya."
Jiang Yuechi membantah: "Dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang seperti itu."
Felix tetap mempertahankan senyum tipisnya yang tenang: "Begitukah, lantas menurutmu dia orang yang seperti apa?"
Jiang Yuechi mengenang kembali penampilan Jack tadi.
"Kasihan, dan lemah."
Mata pria itu sedikit menyipit, senyum di sudut matanya telah lenyap sejak lama, tetapi lengkungan di sudut bibirnya masih tetap terangkat: "Jadi, kamu merasa kasihan atas nasibnya?"
Rasa kasihan rasanya terlalu berlebihan, ini murni hanya secercah rasa simpati biasa. Bagaimanapun, pria itu memang tampak sangat menyedihkan.
Jika harus dibedah lebih detail, sebagian dari perasaan itu mungkin adalah rasa senasib sepenanggungan antar sesama orang miskin.
Ah, saat ia baru pertama kali datang ke Amerika, kondisinya bahkan jauh lebih menyedihkan daripada pria itu. Bagi dirinya saat itu, bisa tetap bertahan hidup saja sudah merupakan hal yang sangat sulit.
Keheningannya yang sesaat membuat lengkungan di bibir pria di hadapannya itu merata.
Ini bukan kali pertama Alice digoda oleh orang semacam itu. Terakhir kali, ia menolaknya dengan tegas, dan penjelasannya kepada pria itu pun sama sekali tidak mengandung kebohongan.
Lantas, bagaimana dengan kali ini?
Ia ragu-ragu, bahkan ada kilat iba di dalam matanya.
Sebenarnya siapa yang sedang ia kasihi, mengasihani seorang gigolo penjual diri?
Memang apa istimewanya pria itu hingga layak dikasihani?
Kali ini pria itu mendekatinya untuk memastikan, apakah ketertarikan wanita itu padanya benar-benar tinggal menyisakan urusan ranjang saja.
Namun sekarang, ada terlalu banyak hal yang perlu ia pastikan sendiri.
Ia tidak dapat memastikan apa arti dari emosi yang membakar ini. Ini adalah kali pertama ia kehilangan kendali atas situasi secara keseluruhan.
Ia bahkan mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Sialan!
Ia sangat ingin membedah kepala Alice untuk melihat isi di dalamnya, atau mungkin, ia bisa membuatkan janji temu dengan dokter terbaik untuk wanita itu.
Operasi bahkan bisa dilakukan langsung di laboratorium yang didanainya.
Menyingkirkan sifat welas asih wanita itu yang berlebihan.
-
Jiang Yuechi sedang mandi di dalam, sementara Felix duduk di luar sambil bekerja. Pria itu tidak pernah menghindari keberadaannya saat sedang bekerja.
Jiang Yuechi sangat paham bahwa Felix bukan sedang mempercayainya, melainkan mempercayai dirinya sendiri.
Sekalipun ia benar-benar berhasil mendapatkan pegangan kelemahan pria itu, ia tetap tidak akan bisa memberikan ancaman apa pun kepada Felix.
Felix dapat menggunakan metode seperti ini untuk memanipulasi dan mengendalikan kehidupan orang lain, tetapi orang lain tidak akan pernah bisa menggunakan metode yang sama untuk menghadapinya.
Kenapa bisa begitu?
Karena dialah orang yang merancang aturan permainan ini.
Jika ia berkata bahwa dirinya benar, maka dialah yang benar.
Dan segala sesuatu yang dilakukannya pasti adalah hal yang benar.
Pakaian yang dikenakannya telah berganti. Kemeja gelap dipadukan dengan celana panjang hitam, tanpa dasi, hanya mengenakan sebuah jarum kerah berwarna perak. Kancing mansetnya pun berwarna perak, tampak sangat bersahaja, namun tetap memancarkan kesan elegan yang tertahan.
Otot-otot di balik kemejanya berada dalam kondisi rileks, tidak menegang akibat aliran darah yang memompa, sehingga semuanya hanya tampak kokoh dan bertenaga.
Kejadian barusan membuat suasana di antara mereka berdua menjadi agak aneh. Meskipun Felix tidak lagi mengangkat topik itu.
Pria itu selalu tahu batasan dalam banyak hal.
Felix hanya mengangkat pandangannya untuk meliriknya sekilas, lalu dengan cepat mengalihkan kembali perhatiannya ke layar monitor.
Rapat tampaknya sedang berlangsung, dan Jiang Yuechi mendengar suara berat seorang pria terpancar dari komputer.
Ia tidak berniat mencampuri pekerjaan Felix.
Tidak, ia tidak ingin mencampuri urusan Felix sama sekali. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pria itu sangat berbahaya, termasuk diri pria itu sendiri.
Jiang Yuechi berpikir, bukankah dirinya sendiri juga sedang melakukan hal yang sangat berbahaya?
Berkhayal bisa menjinakkan pria berbahaya seperti ini sendiri sudah merupakan sebuah tantangan yang penuh risiko.
Jika ia berhasil, ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya kelak.
Jika ia gagal, ia pun tidak tahu malapetaka apa yang menantinya.
Ia memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai lalu mengenakannya, berniat untuk pergi.
Namun, lengannya justru dicekal oleh seseorang.
"Mau ke mana?" Pria itu memutar pergelangan tangannya perlahan, jemarinya membelai pergelangan tangannya dengan penuhisyarat menggoda.
"Kembali ke kamarku tentu saja." Ia memasang ekspresi sewajarnya.
Felix terdiam sejenak, alisnya sedikit mengernyit sebelum kembali mengendur: "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah kembali ke kamar?"
"Aku juga sibuk." Ia menghela napas, berharap pria itu mengerti bahwa sebagai kalangan kelas bawah masyarakat, waktu mereka tidak pernah benar-benar menjadi milik sendiri, "Aku punya pekerjaan yang harus diselesaikan."
Mendengar itu, Felix melepaskan genggamannya: "Jika yang kau maksud adalah menemani atasmu untuk mencari investor."
Ia mengingatkannya dengan nada 'penuh perhatian', "Saran permintaanku, sebaiknya kau manfaatkan kesempatan ini untuk mengirimkan lamaran kepada orang lain di kapal ini."
"Kenapa?" Ia ragu-ragu sejenak, "Jangan-jangan kamu..."
Rapat itu tampaknya sedang dijeda sementara. Ia meletakkan komputer yang tadinya di pangkuannya ke samping, lalu menyilangkan kaki panjangnya sambil menyalakan sebatang rokok. "Perusahaan itu bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan toilet umum berbayar. Kau pikir aku akan membuang waktu untuk sampah seperti itu?"
Mendengar ucapan itu, hati Jiang Yuechi langsung terasa dingin.
Felix tidak mungkin berbohong soal hal semacam ini. Pantas saja surat lamarannya bisa begitu cepat lolos seleksi, ia tadinya mengira kemampuan dirinyalah yang benar-benar luar biasa.
Baiklah, kemampuannya memang luar biasa. Ia sama sekali tidak meragukan kapasitas dirinya sendiri.
Ah, baru saja bekerja dan sekarang ia sudah terancam menganggur, bahkan mungkin akan menghadapi situasi di mana gajinya tidak bisa cair.
Lalu bagaimana dengan uang sewa bulanan untuk bulan depan?
Uang di tabungannya sudah tidak banyak lagi.
Ia pergi dengan langkah lunglai. Pekerjaan saja hampir tidak bisa dipertahankan, siapa yang masih punya tenaga untuk memikirkan pria?
Malam harinya ia berbaring di atas tempat tidur namun tidak bisa memejamkan mata. Pantas saja Miranda mengatakan hal-hal itu kepadanya sebelumnya.
Saat suasana hatinya sedang suram, ia bangkit untuk meminum sedikit alkohol.
Minumannya cukup enak, hanya saja kadar alkoholnya cukup tinggi. Kesadarannya mulai mengabur, dan ia kembali mempermasalahkan siapakah yang sebenarnya menjadi ikon utama Disney antara Mickey dan Minnie.
Sangat sulit untuk memilih.
"Mickey sangat tampan, Minnie sangat cantik, siapa yang harus dipilih untuk menjadi yang nomor satu ini." Ia merasa begitu dilema hingga mulai meneteskan air mata.
Seorang pria memeluknya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegang mangkuk, dengan paksa menuangkan sup pereda mabuk ke mulutnya tanpa mempedulikan perjuangannya.
"Berhenti memedulikan tikus-tikus mati itu."
Karena ia terus membangkang dan menguji kesabarannya, nada bicara Felix terdengar sedikit berat.
Jiang Yuechi tertegun sejenak, lalu menundukkan kepala dan mulai menangis.
Felix mengerutkan kening, mengusap pangkal hidungnya dengan sebelah tangan, nadanya terdengar pasrah: "Sudahlah, aku tidak sedang membentakmu, aku hanya ingin kau bisa sedikit tenang."
"Aku tidak bisa tenang, aku sedang menderita sekarang, aku tidak bisa membedakan mana yang lebih cantik antara Mickey dan Minnie." Ia tidak tahu kapan Felix datang, ia sudah mabuk terlalu berat.
Felix menyeka sisa air di sudut bibirnya, mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur dengan satu tangan, dan demi membuatnya diam, ia memberikan jawaban asal: "Mickey."
"Benarkah?" Kepalanya terangkat dari bantal, matanya berbinar-binar menatap pria itu.
Tampak seperti orang bodoh kecil.
"Tapi kurasa Minnie juga sangat cantik," ujarnya.
"Kalau begitu Minnie." Pria itu menekannya kembali untuk berbaring lalu menyelimutinya.
Ia kembali menangis, suaranya terdengar begitu merajuk: "Kamu sama sekali tidak bisa membedakan Mickey dan Minnie, yang satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan."
Kening pria itu semakin berkerut. Jika bukan karena melihatnya sedang mabuk, ia benar-benar berniat membuka jendela lambung kapal dan melemparkannya ke laut: "Untuk apa aku membedakan jenis kelamin dua ekor tikus?"
"Mereka bukan tikus, mereka adalah masa mudaku!" sergahnya dengan suara nyaring.
Felix memujinya dengan nada menyindir: "Masa mudamu benar-benar sangat luas dan patut ditiru."
"Bukan itu saja." Otaknya semakin tumpul setelah mabuk, sehingga ia tidak bisa menangkap nada sindiran dan cemoohan tersebut.
Ia mengira pria itu benar-benar sedang memuji dirinya.
"Masih ada beberapa ekor domba yang bisa bicara di padang rumput hijau, lalu anak yang kepalanya dan telinganya sangat besar, serta... serta spons kuning yang bisa bernyanyi."
Pria itu memberikan komentar: "Gejala yang kau alami terdengar seperti halusinasi akibat overdosis narkoba. Aku sarankan sebaiknya kau tidak usah kembali ke Tiongkok."
"Masih ada lagi, bukan cuma itu." Ia duduk di atas ranjang, merayap mendekati pria itu dengan pantatnya sedikit demi sedikit, lalu melingkarkan lengannya di leher pria itu.
Penampilan Felix sangat kuat dan penuh daya agresi. Kesan pertama yang dipancarkannya selain anggun dan tenang, adalah tipe orang yang tidak boleh disusahkan.
Bukan sekadar tidak boleh disusahkan dari segi penampilan, melainkan auranya.
Dalam hal berpakaian, ia sangat bersahaja dan tidak menyukai merek-merek terkenal yang dipenuhi logo.
Pakaiannya dirancang khusus oleh desainer pribadi dan dipotong pas badan.
Kesan low-profile khas *old money* itu meredam gayanya yang arogan.
Ia sebenarnya adalah orang yang sangat berpendidikan dan lembut, setidaknya dari segi pembawaan. Latar belakang keluarga bangsawan yang besar membuatnya memiliki segalanya sejak lahir. Sungguh sangat tidak adil.
Ia jelas-jelas sudah memiliki segalanya, namun tetap saja begitu serakah. Ambisinya bahkan begitu besar hingga mampu meratakan seluruh Laut Karang.
Namun sekarang, sosok superior yang memiliki aura kuat dan berdiri di puncak, yang tidak pernah memandang siapa pun dengan sebelah mata, justru ditarik dasinya oleh seorang wanita yang kekuatannya bahkan tidak lebih besar dari kelinci, ditarik mendekat ke hadapannya.
Mata pria itu sedikit menyipit. Mengingat tindakan lancang wanita itu, secercah bahaya melintas di dasar matanya.
Hingga kening wanita itu menyentuh keningnya. Napasnya bagaikan sehelai bulu, menyentuh pipi dan bibirnya dengan lembut.
Sekaligus menjerat jantung pria itu.
Jujur saja, aroma yang menguar dari tubuh wanita itu tidak sedap. Entah dengan siapa ia menghabiskan waktu tadi, bau bir murah dan parfum murahan tercampur menjadi satu. Bagi Felix yang mengidap gangguan kebersihan akut, jika ini terjadi sebelumnya, wanita itu pasti sudah dibuangnya turun dari tempat tidur karena merasa jijik.
"Masih ada..." ucapnya mabuk hingga tubuhnya lemas bagaikan genangan lumpur, "Satu lagi bule bermata biru."
Tangan yang melingkar di pinggangnya melunak, garis wajahnya yang tegas dan tajam pun ikut merata. Meskipun sudut bibirnya masih menyunggingkan senyuman penuh teka-teki: "Di Amerika, orang bermata biru jumlahnya tidak terhitung. Pria brengsek yang kau kasihani tadi siang juga bermata biru."
Ia ternyata benar-benar peduli, menyebut pria lain sebagai pria brengsek. Lantas bagaimana dengan dirinya sendiri?
Dia sendiri jelas-jelas juga sangat menggoda.
Apakah kemeja itu sengaja dibiarkan terbuka, mengekspresikan bagian atas tubuhnya yang bidang?
Otot-ototnya begitu kokoh. Keuntungan pria kulit putih blasteran tampaknya adalah warna kulit mereka, dan fakta bahwa mereka tidak memiliki bau badan.
Ada aroma dupa yang sangat lembut di tubuhnya. Aroma yang membuat orang merasa mengantuk, membuat siapapun hanya ingin berbaring dengan tenang di dalam pelukannya dan membenamkan wajah di balik otot dada yang lembut itu.
"Tapi, orang yang bermata biru dan sekaligus aku sukai hanya ada satu." Matanya sudah tidak sanggup terbuka lebar, bicaranya pun mulai pelo.
Jika bukan karena tangan Felix yang menopang pinggangnya dari belakang, wanita itu mungkin sudah merosot turun bagaikan genangan air.
"Aku tidak peduli apa kata orang lain tentang dirimu..."
Pria itu mengingatkannya dengan suara datar: "Hanya kamu satu-satunya yang pernah memarahiku."
Ia mengabaikannya seolah tidak mendengar: "Tapi di dalam hatiku, kaulah bule terbaik."
Mata pria itu menyipit, tangannya meraba bagian bokong wanita itu, seolah-olah jika ia memberikan jawaban yang salah, hukumannya akan jatuh tanpa ragu bersamaan dengan tepukan tangannya: "Kenapa harus menggunakan kata keterangan khusus? Maksudmu di dalam hatimu masih ada orang Tiongkok terbaik, orang Prancis terbaik, dan orang Italia terbaik?"
"Apakah kamu sedang cemburu? Kalau aku benar-benar menyukai begitu banyak orang, aku pasti tidak akan membiarkanmu tahu, kamu terlalu pencemburu." Dalam kondisi mabuk, keberanian seseorang menjadi berlipat ganda, berbicara tanpa memikirkan akibat, "Tidak ada orang lain, hanya ada kamu seorang. Felix, aku sebenarnya tidak begitu suka orang asing. Aku tidak suka mata biru, nama inggris yang sulit diucapkan, keju biru, maupun pai apel. Aku juga tidak punya kesan yang bagus terhadap negara ini. Tapi, kecuali kamu."
"Kamu begitu baik, Mickey dan Minnie pun tidak ada apa-apanya dibanding kamu." Ia tampaknya sama sekali tidak takut pada pria itu, bahkan tidak takut pada tangan di pinggangnya yang siap menghukum, dan dengan lancang menggesekkan tubuhnya ke depan.
"Pukul saja kalau mau, aku sedang mabuk, besok pagi bangun tidur aku pasti akan melupakan semua yang terjadi hari ini."
Ia begitu penurut, begitu manis.
Meronta-ronta secara serampangan di dalam genggaman telapak tangannya. Pria itu menarik tangannya ke belakang, tetapi wanita itu justru semakin menjadi-jadi dan menempelkan diri.
Hingga pada akhirnya ia benar-benar menduduki bagian atas telapak tangan pria itu.
Sepasang mata yang terbius kabut itu memancarkan kelembutan bagaikan air.
Ketika seorang wanita mabuk sedikit saja, aktingnya bisa membuatmu menangis.
Hm... Pria pintar sekalipun rupanya bisa tertipu.
Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa ia memang rela ditipu atas kemauannya sendiri.
Kenapa tidak? Jika bisa mendatangkan kenikmatan dan kebahagiaan, tertipu sesekali juga merupakan sebuah bumbu hubungan.
Begitu seseorang mulai membohongi diri sendiri, itu adalah awal dari kejatuhannya.
Apa bedanya dengan bunuh diri secara perlahan.
Terutama ketika orang pintar mulai membohongi diri sendiri. Menyadari hal tersebut, Jiang Yuechi merasa darah di dalam tubuhnya mulai mendidih, sementara debar jantungnya terpacu tanpa alasan.
Ia berdoa di dalam hati semoga pria bernama Jack itu tidak harus menanggung akibat yang terlalu buruk.
Meskipun Felix tidak akan sudi memandangnya sebelah mata, ia juga tidak akan melepaskannya begitu saja.
Ia tidak bisa memohon belas kasihan secara terang-terangan, karena hal itu justru akan membuat situasi semakin runyam.
Namun, ia akan mencari cara. Bagaimanapun, ia tidak bisa menerima jika ada orang yang mengalami nasib buruk karenanya.
Musuhnya adalah Felix, betapa menyedikannya ketujuh kata itu.
Pria itu melontarkan kata-kata peringatan dan ancaman dengan mulut yang tidak sejalan dengan isi hatinya.
"Jika kamu berani mengotori pakaianku dengan muntahanmu, aku pasti akan menggunakan pakaian yang kotor olehmu ini untuk mengikatmu dan melemparkanmu ke laut."
Namun, tindakannya justru sangat jujur dengan melepas jas yang dikenakannya.
Bahan jas luar relatif kaku dan berisiko menggores kulitnya yang lembut.
"Angkat pantatmu lebih tinggi," perintah pria itu dengan suara datar di belakangnya.
Ia menoleh ke belakang dengan ekspresi polos tanpa dosa: "Untuk apa mengangkat pantat."
Pria itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya menjawab: "Aku mau mendobrak pintu belakangmu."
Ia menunjukkan ekspresi kesulitan, namun tetap patuh berbaring di atas ranjang dengan bokong yang terangkat tinggi, "Kalau begitu... pelan-pelan ya, aku baru pertama kali untuk urusan ini. Meskipun yang pertama di bagian depanku juga kamu yang ambil."
Ngomong-ngomong soal itu, ia masih merasa sedikit sedih: "Waktu itu kamu sama sekali tidak lembut, dan tidak punya teknik sama sekali, rasanya sakit sekali."
Rasa merajuknya saat ini berhasil melunakkan sedikit bagian dari hati pria itu yang sedingin es.
"Aku juga baru pertama kali, aku juga tidak punya pengalaman."
"Aku selalu penasaran, kenapa kamu bisa menjaga keperjakaanmu sampai usia dua puluh empat tahun. Aku kira kehidupan pribadi kalian orang-orang kaya itu sangat berantakan."
"Tidak semua orang kaya berantakan, ada juga yang tidak." Felix hampir menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Alice selagi mabuk, meskipun terkadang ia juga menunjukkan ekspresi tidak sabaran.
Karena wanita dalam keadaan mabuk hampir tidak ada bedanya dengan anak kecil.
Matanya jernih, jalan pikirannya sederhana.
Termasuk saat ini, ketika wanita itu dengan polosnya bertanya: "Jadi, kehidupan pribadimu sama sekali tidak berantakan, kan?"
Dengan sangat jujur ia menjawab: "Aku sangat berantakan."
"......Baiklah kalau begitu." Ia menghela napas, "Aku selalu ingin mencari pria yang bersih, nenekku juga berharap aku bisa mendapatkan suami dengan kehidupan pribadi yang sederhana."
Ia tampak sangat menyesal, mengangkat tangan dan mengetuk tiang ranjang, memperagakan gestur memadamkan lampu.
"Sekarang seharusnya disandingkan dengan efek khusus pemadaman lampu dan latar musik lagu sedih, karena kamu sudah *out*."
Jalan pikirannya melompat-lompat hingga Felix sama sekali tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan.
Jiang Yuechi berkata: "Kamu itu bule, kamu sama sekali tidak tahu betapa bagusnya acara kencan buta. Kamu sudah aku *pass*. Nenek tidak salah, kalau mau menikah, kita tetap harus mencari pria dengan kehidupan pribadi yang bersih, telaten, dan berbakti pada rumah tangga. Pria yang tidak bisa menjaga diri sendiri itu bagaikan kubis busuk, kamu sudah tidak berharga lagi."
Pria itu akhirnya mengerti apa maksud ucapannya. Untuk mencegahnya merangkak ke sana kemari dan jatuh, ia menahan pinggang wanita itu dengan sebelah tangan: "Nenekmu itu sebelah kakinya sudah hampir masuk ke dalam liang kubur, apa yang bisa dipercaya dari ucapannya. Kehidupan pribadi itu bukan hanya soal seks."
"Tapi seks itu tercakup di dalam kehidupan pribadi."
"Miliku sangat bersih, kamu sudah merasakannya, bahkan pernah mencicipinya."
Ujarnya: "Itu hanya karena dibersihkan dengan bersih saja, siapa yang tahu selain aku, masih ada siapa lagi..."
"Hanya kamu." Ia menekan pelipisnya sendiri, merasa pusing karena terus diserang omelannya.
Keberanian wanita itu berguling-guling di dalam rendaman alkohol, membesar hingga melampaui batas: "Aku tidak percaya."
"Begitukah." Dengan tanpa ekspresi ia membuka sabuk pinggangnya, menggenggam tangan wanita itu dan menuntunnya ke atas, "Kalau begitu, periksa sendiri."
Wanita itu meronta untuk melepaskan diri: "Kamu mengidap germofobia, seluruh tubuhmu sangat bersih, sama sekali tidak akan bisa mendeteksi apa pun."
Pria itu mengerutkan kening, suaranya menegang dengan volume yang meningkat drastis: "Perlu kubawakan laporan hasil pemeriksaanku untuk kau baca?!"
Jiang Yuechi bersikeras menganggapnya sedang marah karena malu: "Laporan pemeriksaan hanya bisa membuktikan bahwa tubuhmu sehat."
Felix benar-benar dibuat tertawa kesal olehnya sekarang: "Kalau begitu coba katakan, bagaimana caranya kau ingin aku membuktikan bahwa bagian bawahku itu bersih?"
Ia berpikir sejenak, lalu mengucapkan kalimat itu dengan tatapan mata yang sangat tulus.
"Barang yang tidak dipakai secara berlebihan pasti berfungsi dengan baik, jika ia bisa... mengendalikan waktu keluarnya, itu berarti ia bersih."
Setelah memberikan pengantar yang begitu panjang, ternyata wanita itu sedang menunggunya di titik ini.
Ia menyunggingkan senyuman tipis penuh pengertian, lalu bertanya secara terang-terangan: "Jadi, kamu ingin bermain *control ejaculation* denganku?"