36 Menjinakkan Naga
Waktu itu, New York diguyur hujan selama beberapa hari berturut-turut, ditambah lagi dengan maraknya kasus penembakan belakangan ini. Jiang Yuechi merasa keselamatan nyawanya jauh lebih penting, sehingga ia jarang sekali keluar rumah.
Setelah pindah ke luar negeri, seorang senior yang baik hati memasukkannya ke beberapa grup mahasiswa perantau. Di sana, sesekali ada ajakan untuk makan bersama atau penjualan barang-barang bekas. Jiang Yuechi berhasil mendapatkan penanak nasi dan penggoreng udara yang kondisinya hampir seperti baru.
Terkadang, para mahasiswa ini juga mengadakan pesta atau makan bersama. Mereka yang pandai memasak selalu menjadi yang paling populer. Karena pada hari pertama pindahan ia ingin menjalin hubungan baik dengan tetangga, Jiang Yuechi membagikan daging goreng krispi buatannya kepada mereka. Alhasil, semua orang tahu bahwa di kamar 2012 tinggal seorang mahasiswa asal Tiongkok yang sangat pandai memasak. Ia pun menjadi anggota yang tak tergantikan dalam setiap acara kumpul-kumpul.
Jiang Yuechi sudah berada di sini selama lebih dari sebulan dan telah diundang ke tiga pesta. Berkat itu, ia mendapatkan beberapa teman baru. Salah satunya, Zhang Shuqing, memberinya kesan yang mendalam. Ia adalah pria yang pendiam dan memiliki pembawaan diri yang sangat tenang. Jika bukan karena penampilannya yang menonjol, mungkin eksistensinya akan dianggap nol.
Suatu kali di sebuah pesta, Jiang Yuechi terlalu banyak minum. Ia memeluk mikrofon dan bernyanyi lagu kartun selama dua jam berturut-turut. Orang lain merasa terganggu dan pergi, akhirnya hanya Zhang Shuqing yang tinggal untuk membereskan kekacauan itu. Setelah selesai, ia berniat untuk pergi, namun saat melihat Jiang Yuechi yang masih asyik bernyanyi, ia menghela napas pasrah dan akhirnya memutuskan untuk memasakkan sup pereda mabuk untuknya.
Keesokan harinya saat terbangun, Jiang Yuechi merasa berterima kasih sekaligus malu karena kelakuan mabuknya. Ia pun memasak nasi liwet dan meminta bantuan orang lain untuk mengantarkannya kepada Zhang Shuqing. Sore harinya, ia menerima balasan langsung dari pria itu: sup pereda mabuk untuk hari ini.
Jiang Yuechi merasa canggung dan tidak tahu harus berbuat apa. "Itu... soal kejadian kemarin."
"Jangan khawatir, aku sudah tidak ingat," jawabnya sambil melirik ujung lengan sweter Jiang Yuechi yang sedikit robek, lalu berbalik pergi.
Saat Halloween, ia menerima sweter berwarna merah dan biru dengan kartu ucapan selamat hari raya dalam bahasa Mandarin, namun tanpa nama pengirim. Jiang Yuechi ingin membalas budi, tetapi setelah bertanya ke sana kemari, ia tidak menemukan si pengirim dan akhirnya menyerah. Namun, ia tidak memikirkan hal itu terlalu lama.
Ia melihat Bill lagi, kali ini di halaman depan surat kabar. Ayah baptisnya mengucapkan selamat Halloween dalam bahasa Mandarin. Dalam foto itu, Bill sedang digendong oleh seorang wanita yang wajahnya disensor. Tata letak fotonya tampak bermasalah, karena sekilas terlihat jelas bahwa tokoh utamanya adalah wanita yang disensor tersebut. Jiang Yuechi langsung mengenali bahwa wanita itu adalah dirinya sendiri.
Jiang Yuechi tiba-tiba teringat beberapa tahun lalu, saat ia meminta permen Halloween kepada Felix, pria itu tersenyum dan berjanji akan memberikannya. Tak disangka, waktu telah berlalu begitu lama.
Sejak sore, anak-anak di sekitar terus mengetuk pintu untuk meminta permen. Ia memberikan segenggam penuh nougat buatannya sendiri kepada setiap anak. Saat keranjangnya mulai kosong dan ada seseorang yang datang lagi, ia membuka pintu dengan perasaan tidak enak.
"Maaf ya adik kecil, Bibi sudah..."
Ia tertegun lama saat melihat Bill yang memakai riasan hantu di depannya, lalu berjongkok dengan perasaan terkejut. "Kenapa kamu ada di sini?"
Bill memasang wajah lucu. "Trick or treat."
Jiang Yuechi hanya bisa tersenyum dan kembali ke kamar untuk membagikan sisa permennya kepada Bill. Tempat seperti ini bukanlah wilayahnya; rumahnya seharusnya berada di kawasan elit dengan harga properti yang jauh lebih tinggi. Bahkan jika tersesat pun, tidak mungkin sampai ke sini, kecuali jika ruang dan waktu sedang terdistorsi.
Jiang Yuechi bertanya mengapa ia bisa sampai ke sini. Bill membuka bungkus permen dan memasukkan permen kenyal itu ke mulutnya. "Ayah baptis datang untuk berziarah."
Jiang Yuechi baru teringat bahwa ia pernah menemani Felix ke sebuah pemakaman, dan pihak yang meninggal tampaknya dimakamkan di dekat sini. Tidak disangka, pria yang begitu tidak sopan hingga berani bercinta di acara pemakaman orang lain, ternyata masih memiliki niat untuk berziarah. Pandangan Jiang Yuechi terhadap sifat buruk pria itu sedikit berubah.
"Lalu, kamu sendirian?"
Bill mengangguk, mengeluarkan wajahnya dari balik kain putih. "Ayah baptis merasa aku mengganggu."
...Baiklah, ia menarik kembali perubahan pandangannya.
Karena khawatir, Jiang Yuechi menemani Bill sebentar. Dalam waktu setengah jam, permen yang didapat Bill sudah memenuhi keranjang di tangannya. Dengan sangat murah hati, ia membagikan setengahnya kepada Jiang Yuechi. Rasa gemas Jiang Yuechi terhadap anak kecil mencapai puncaknya saat itu. Ia tidak tahan untuk menggoda, "Kamu lucu sekali, kenapa menggemaskan sekali? Boleh Bibi mencium pipimu?"
"Belum selesai?" Suara pria yang dingin terdengar dari seberang jalan, memotong suasana dengan nada tidak sabar. Keduanya menoleh ke arah sumber suara.
Di samping mobil hitam yang terparkir, seorang pria sedang bersandar, tampaknya urusannya sudah selesai. Ia sedang merokok dengan santai sambil menunggu, keningnya sedikit berkerut. Struktur tulang wajahnya yang tegas tampak menonjol di malam hari, dengan tatapan mata yang begitu dalam hingga sulit menebak apa yang ia pikirkan. Mungkin itulah daya tarik utamanya; misteri pria sering kali memicu imajinasi yang tak terbatas.
Namun jelas, Jiang Yuechi sudah tidak memiliki ketertarikan seperti itu padanya. Jiang Yuechi menyadari bahwa tatapan pria itu tertuju pada anak laki-laki di sampingnya, bukan padanya. Bahkan, ia sangat pelit hingga tidak sudi meliriknya sedikit pun.
Jiang Yuechi mengulurkan tangan mengelus kepala Bill. "Pergilah, selamat malam Bill kecil."
Anak itu tampak enggan berpisah dan memeluknya. Saat ia hendak pergi membawa keranjangnya, pria itu berdeham. Bill tampak teringat sesuatu, ia berhenti dan merogoh dasar keranjang, mengeluarkan segenggam permen yang sudah penyok lalu memberikannya kepada Jiang Yuechi. "Selamat Halloween, ini permen untukmu."
Jiang Yuechi merasa tersanjung. "Aku masih dapat permen?"
Ia tersenyum dan menerimanya. "Terima kasih."
Bill menggeleng, lalu melirik ayah baptisnya yang sudah masuk ke dalam mobil di seberang jalan, dan dengan suara imut ia berkata sama-sama.
-
Tidak ada kebetulan yang sempurna di dunia ini. Kecuali jika salah satu pihak memang sengaja merencanakannya. Kalimat ini selalu menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh Jiang Yuechi.
Setelah tiba di Amerika, ia tetap menjalankan kebiasaan baiknya dengan mencari pekerjaan, yakni sebagai pelayan di sebuah klub. Gaji di sini tinggi dan jam kerjanya singkat, hanya saja persyaratan penampilannya cukup ketat. Karena sebelumnya pernah menemani Felix ke tempat seperti ini, ia sangat yakin bahwa tempat ini tidak mewajibkan stafnya melakukan transaksi ilegal, itulah sebabnya ia merasa aman bekerja di sana. Tentu saja, tidak mewajibkan bukan berarti hal itu tidak terjadi.
Jiang Yuechi bersumpah, ia hanya kebetulan lewat di depan ruangan itu, sama sekali bukan karena ingin menguping atau mengintip. Siapa sangka mereka bahkan tidak menutup pintunya. Baru saja ia lewat, terdengar suara wanita yang menjerit penuh gairah dari dalam. "Oh Tuhan, Felix, kamu hebat sekali. Ah, aku mencintaimu, aku selalu