Bab Delapan Puluh Delapan: Lubang Raksasa di Langit
Duduk memeluk lutut di atas peralatan olahraga di bawah naungan pepohonan, Zhao Yuqian menundukkan kepala, diam-diam meneteskan air mata, sesekali terisak pelan.
“Siapa nih yang diam-diam menangis di sini?”
Sebuah suara yang tak asing tiba-tiba terdengar di telinga Zhao Yuqian. Ia sedikit memiringkan kepala, mengusap air matanya dengan tangan kanan, namun tak menggubris pemilik suara itu.
“Jangan usap pakai tangan, nanti riasanmu rusak,” kata Fang Zhang sambil menggeleng pelan. Ia berputar ke sisi lain, lalu mengeluarkan selembar tisu dari saku, “Nih, pakai ini saja. Kita cuma punya waktu setengah jam, tak ada waktu buat dandan ulang.”
Mendengar ucapan Fang Zhang, tangan Zhao Yuqian yang tengah mengusap wajahnya terhenti. Ia tak lagi menolaknya, meraih tisu itu dan menggenggamnya erat.
Fang Zhang mengangkat sedikit celananya, lalu duduk di samping Zhao Yuqian.
“Hanya karena salah ambil adegan beberapa kali saja kok sampai menangis begitu? Bayanganmu sebagai dewi di mataku jadi agak berubah, nih. Sudahlah, jangan nangis, nanti kalau kamu terus menangis, aku jadi nggak suka lagi, lho!” goda Fang Zhang sambil tersenyum lebar.
“Siapa juga yang suruh kamu suka sama aku!” Zhao Yuqian menatap Fang Zhang dengan mata yang memerah, wajahnya yang dibasahi air mata terlihat menggemaskan. “Lagi pula, sekarang aku sudah tidak punya citra lagi. Salah tujuh kali berturut-turut, mungkin semua orang di tim sudah menertawakanku diam-diam!”
Ucapannya belum usai, matanya kembali berkaca-kaca.
Melihat Zhao Yuqian hendak menangis lagi, Fang Zhang buru-buru berkata, “Baru juga salah tujuh kali, santai saja. Nanti giliran aku, aku bakal salah sepuluh kali, sekalian pecahin rekormu!”
Zhao Yuqian terdiam sejenak, lalu terkekeh di antara air matanya, “Kamu ada-ada saja! Kalau kamu benar-benar begitu, Kak Zian pasti marah besar!”
“Aku nggak takut! Dulu ada raja yang membakar benteng demi melihat kekasihnya tersenyum, sekarang ada Fang Zhang yang rela salah sepuluh kali demi membuat Dewi Zhao Yuqian tersenyum!” kata Fang Zhang sambil membusungkan dada, berpura-pura gagah.
Mendengar itu, wajah Zhao Yuqian merona, “Bisa nggak kamu sedikit serius...”
“Hehehe...” Fang Zhang tersenyum, mendekat ke arah Zhao Yuqian. “Udah senang, kan? Nggak sedih lagi?”
Zhao Yuqian mengusap sisa air mata di wajahnya, “Sudah jauh lebih baik...”
Melihatnya, Fang Zhang pun tersenyum, “Nah, begitu dong. Lagipula ini bukan masalah besar, jangan terlalu dipikir. Siapa sih aktor yang nggak pernah salah saat syuting? Kakak-kakak di tim kita juga baik-baik, nggak pernah ada yang ngomongin di belakang. Kita masih baru, mereka juga maklum, yang penting kita sudah berusaha maksimal.”
“Tapi... tapi Kak Zian juga pendatang baru, dia bahkan nggak pernah belajar akting secara profesional seperti kita, tapi dia jauh lebih hebat. Dari pagi sampai sekarang, dia belum pernah salah satu kali pun,” lirih Zhao Yuqian.
“Ehm...”
“Dia... jangan samakan dia dengan kita. Dia itu jenius, orang luar biasa. Kita ini orang biasa saja. Kalau kamu jadikan dia sebagai standar, ya kita semua bisa stres sampai depresi,” kata Fang Zhang sambil mengangkat bahu, wajahnya penuh keluhan.
Ucapan Fang Zhang membuat Zhao Yuqian tertawa. Melihat Fang Zhang yang terus berusaha menghiburnya, hati Zhao Yuqian pun terasa hangat.
“Fang Zhang, terima kasih...” ucap Zhao Yuqian tulus menatap Fang Zhang.
Fang Zhang merasa senang, namun tetap bercanda, “Apa? Suka sama aku? Akhirnya kamu mau juga menerima aku?”
Zhao Yuqian mengedipkan mata, lalu menendang kaki Fang Zhang, “Pergi sana!”
“Apa? Mau dicium?”
“Mati aja sana!”
“Nikahin aku?”
“Pergi!!!”
...
Syuting sore itu berjalan lancar. Selain Zhao Yuqian yang sempat salah sekali, adegan lainnya bisa selesai dalam maksimal tiga kali pengambilan. Berkat dorongan semangat dari Fang Zhang, Zhao Yuqian pun segera pulih, bahkan berhasil menyelesaikan sisa adegan dengan sempurna, seolah mendapat kekuatan tambahan, membuatnya menuai banyak pujian dan kembali percaya diri.
Pukul delapan malam, seluruh kru menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke hotel dengan bus.
Sesampainya di hotel, Li Zian mengumpulkan para kepala departemen untuk rapat, sedangkan kru lainnya kembali ke kamar masing-masing. Proses syuting yang efisien membuat semua orang cukup kelelahan.
Usai rapat, Li Zian kembali ke kamarnya. Namun, saat ia hendak melepaskan pakaian untuk mandi, pintu kamarnya diketuk.
“Siapa?” tanya Li Zian.
“Tante kecilmu!”
Mendengar suara agak ketus dari luar, Li Zian refleks mengecilkan kepala, namun tetap melangkah cepat ke pintu dan membukakan pintu untuk Han Qian.
Han Qian masuk dengan membawa kandang kucing di tangan kiri dan laptop di tangan kanan, menatap Li Zian tanpa ekspresi.
“Hehe, Tante, ada apa? Silakan masuk!” Li Zian tersenyum ramah, segera mengambil kandang kucing dari tangannya dan mempersilakan duduk.
Han Qian melirik Li Zian yang tersenyum menyanjung, lalu berjalan ke ruang tamu dan duduk.
“Tante, mau minum apa? Minuman dingin, mungkin?”
“Tidak!”
“Atau air putih?”
“Tidak!”
Li Zian berdeham pelan, lalu duduk diam-diam di hadapan Han Qian.
“Tante, soal novel ‘Sungai Duka Mengalir Melawan Arus’, memang sebelumnya aku nggak bilang ke Tante. Aku kira cuma perlu periksa laporan penjualan sebentar saja, ternyata...”
“Cuma periksa sebentar?!” Han Qian hampir saja hidungnya kembang-kempis karena kesal.
Pagi tadi sebelum berangkat, Li Zian bilang padanya bahwa ia pernah menulis novel saat di ibu kota, dan karena belum sempat memeriksa laporan penjualan dari Penerbit Huaxing, ia meminta Han Qian membantunya memeriksa.
Han Qian sempat terkejut, tapi mengira itu bukan urusan besar. Toh, Li Zian bilang hanya ‘iseng menulis’, jadi pasti penjualannya tidak banyak, maka ia mengiyakan begitu saja.
Namun, begitu ia menghubungi pihak penerbit dan mendapat hampir seribu laporan penjualan, Han Qian langsung terdiam.
Ini yang disebut ‘iseng menulis’?!
Novel yang ‘iseng ditulis’ bisa laku lebih dari lima belas juta eksemplar?!
Kalau dia serius menulis, jangan-jangan bisa menembus langit!
Mengingat ia sudah hampir seharian penuh memeriksa laporan penjualan itu, dan baru sanggup membaca sepersepuluhnya saja, Han Qian jadi semakin kesal.
“Kamu kira tante ini dewi, ya? Kamu tahu nggak berapa banyak laporan penjualan novelmu? Kalau tiap hari tante nggak ngapa-ngapain pun, butuh hampir sepuluh hari buat selesai, apalagi selain itu harus mengurus urusanmu yang lain!”
“Kamu... kamu itu benar-benar bikin repot!”
Li Zian tersenyum kecut, dalam hati ia juga merasa bersalah. Ia memang menduga laporan penjualan dari Penerbit Huaxing bakal banyak, tapi tidak menyangka sebanyak itu.
Kalau dipikir-pikir, memang ia sudah keterlaluan...