Bab
Kehidupan SMA Li Zian berlangsung dengan penuh tekanan namun juga memuaskan; tiga hari berlalu dalam sekejap. Dunia ini memiliki kurikulum SMA yang hampir sama seperti kehidupan Li Zian sebelumnya, tetap ada pemisahan antara jurusan IPS dan IPA, hanya saja perbedaan utamanya adalah dalam ujian masuk universitas di dunia ini, bahasa Inggris tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib.
Li Zian adalah siswa jurusan IPS, mata pelajaran yang diujikan dalam ujian masuk universitas hanya Bahasa, Matematika, Sejarah, Politik, dan Geografi. Skor maksimal tetap 750 poin, Bahasa mendapat jatah 200 poin, Matematika 150 poin, dan gabungan IPS 400 poin.
Selama beberapa hari di sekolah, awalnya Li Zian sedikit kesulitan mengikuti ritme pelajaran, namun berkat usaha belajarnya, penguasaannya atas materi pelajaran pelan-pelan kembali pulih.
Selain itu, dengan adanya fitur penyimpanan memori dari sistem dalam dirinya, kemampuan ingatannya pun berada pada level luar biasa. Untuk materi yang sudah dipelajari, meski agak berlebihan jika dikatakan sekali baca langsung hafal, namun cukup dua-tiga kali baca saja ia takkan lupa.
Berkat daya ingat yang luar biasa dan dasar akademik yang kuat dari pemilik tubuh sebelumnya, dalam tiga hari di sekolah nilai ulangan harian Li Zian meningkat pesat, hingga akhirnya ia kembali ke standar semula, mantap berada di tiga besar kelas.
Banyak orang pun terheran-heran melihatnya, para guru mata pelajaran pun mulai menaruh perhatian khusus, bahkan kerap melontarkan pujian.
Dengan daya ingat yang begitu hebat, Li Zian merasa cukup puas dengan kehidupan belajarnya, hanya saja ada satu hal yang cukup membuatnya pusing: kejaran dan kerumunan para penggemar di sekolah.
Sejak kabar kembalinya Li Zian ke sekolah tersebar, pada hari pertama ia kembali, baru saja bel pelajaran pertama berbunyi, dalam waktu dua menit saja pintu kelas tiga jurusan IPS sudah dipenuhi oleh begitu banyak siswi dari berbagai angkatan, bahkan separuh lorong tempat kelasnya berada pun penuh sesak.
Akhirnya kejadian ini membuat pimpinan sekolah turun tangan; belasan satpam dikerahkan untuk menertibkan kerumunan.
Namun masalahnya tak berhenti sampai di situ. Setiap kali Li Zian keluar kelas, selalu ada segerombolan siswi yang mengikutinya ke mana pun ia pergi. Kalau ia ke toilet, mereka menunggu di depan pintu toilet laki-laki; kalau ia ke kantin, mereka ikut ke kantin. Bahkan pada hari pertama, beberapa siswi hampir saja berkelahi hanya karena berebut tempat duduk di dekat Li Zian.
Bersamaan dengan itu, semakin banyak kamera diarahkan kepadanya, berbagai aksi foto diam-diam tak bisa ia hindari. Akibatnya, foto-foto Li Zian di dunia maya meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Lama-lama, Li Zian memilih untuk mengabaikan para pencuri foto itu, karena wajahnya memang cukup tampan untuk menahan berbagai sudut dan momen, di mana pun dan kapan pun ia difoto.
Menghadapi berbagai situasi yang disebabkan oleh statusnya sebagai siswa bintang, para pimpinan sekolah merasa waswas sekaligus senang. Setelah tiga hari berturut-turut, akhirnya mereka menemukan jalan keluar; sekolah memberikan beberapa hak istimewa kepada Li Zian.
Setiap pagi, Li Zian boleh datang lima belas menit terlambat, dan pulang lima belas menit lebih awal. Ia juga diizinkan keluar kelas sewaktu pelajaran untuk ke toilet, dan boleh makan siang di kelas.
Dengan memanfaatkan perbedaan waktu seperti itu, kemunculan Li Zian di depan siswa lain bisa dikurangi secara maksimal. Bagaimanapun juga, ini SMA bukan universitas; selama jam pelajaran, para siswa tak mungkin keluar kelas hanya untuk mengejar idola. Akhirnya, demam idola pun bisa sedikit mereda.
Sementara itu, berita kembalinya Li Zian ke sekolah sudah menyebar di internet, diikuti oleh rumor tentang dirinya yang kabarnya tersingkir dari acara “Remaja Kebangsaan”. Awalnya, banyak penggemar Li Zian dan juga penonton acara itu tidak percaya, namun seiring kabar burung yang semakin ramai, dan tidak ada klarifikasi baik dari pihak acara maupun Li Zian, makin banyak orang yang percaya.
Alhasil, beberapa hari ini kolom komentar di halaman media sosial pribadi Li Zian dan akun resmi acara “Remaja Kebangsaan” dipenuhi pertanyaan bernada protes.
“Li Zian tersingkir? Aku tidak percaya! Kalau dia saja bisa tersingkir, lantas dasar apa para peserta lainnya bisa bertahan?”
“Kabar ini benar apa tidak, sih? Kalau Li Zian memang benar-benar tersingkir, buatku tak ada lagi alasan menonton acara ini!”
“Setuju dengan di atas, aku nonton ‘Remaja Kebangsaan’ cuma karena Li Zian, di luar dia tak ada yang membuatku menantikan apapun!”
“Para penggemar, jangan terburu-buru, malam ini kita akan tahu jawabannya. Kalau memang Li Zian kalah karena kurang hebat, kita tak bisa berkata apa-apa. Tapi kalau ini ulah acara yang curang, walaupun kita sedikit, kita harus menuntut keadilan!”
“Setuju dengan yang di atas!”
“Setuju!”
...
Tak terhitung jumlah komentar yang menumpuk bagaikan bubuk mesiu, dan semua itu tertimbun tepat di bawah kaki tim produksi acara “Remaja Kebangsaan”. Kini, tinggal menunggu satu percikan api untuk meledak.
Sebenarnya, tak banyak yang menyangka bahwa hanya dalam waktu sebulan, Li Zian sudah mengumpulkan popularitas sebesar ini. Dan mungkin malam ini, Li Zian akan memberi kejutan pada semua orang.
...
Sabtu malam, SMA Satu Kota Kambing terang benderang.
Bagi siswa kelas sepuluh dan sebelas, malam ini adalah akhir pekan. Namun bagi siswa kelas dua belas, malam ini tak ada bedanya dengan hari-hari lain, kecuali malam ini tidak ada pelajaran tambahan.
Menjelang waktu pulang, guru yang berdiri di depan kelas pun bisa merasakan kegelisahan para siswa di bawahnya.
“Sisa sepuluh menit lagi, silakan belajar mandiri...”
Usai berkata demikian, guru di depan kelas itu menoleh pada Li Zian yang duduk di dekat jendela, mengangguk pelan sebagai tanda Li Zian boleh pulang lebih awal.
Seluruh guru kelas tiga jurusan IPS tahu soal hak istimewa Li Zian dan semuanya mendukung penuh. Meski mereka belum pernah mengalami dikepung murid sendiri, jelas mereka tak ingin mencobanya.
Li Zian membereskan tasnya, menyapa Zhao Yuxian dan teman-teman di sekitarnya, lalu bangkit dan melangkah keluar kelas.
“Li Zian, malam ini episode kelima ‘Remaja Kebangsaan’ akan tayang. Kami semua akan menonton. Apa pun yang terjadi, kami akan selalu mendukungmu. Kau tetap remaja kebangsaan paling hebat di hati kami. Semangat!”
Tepat ketika Li Zian hampir keluar kelas, suara itu tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Semangat!”
Setelah suara kedua, suara ketiga dan keempat pun menyusul, hingga akhirnya seruan semangat itu bergemuruh memenuhi kelas.
Kejadian mendadak ini membuat Li Zian menghentikan langkahnya. Rasa haru menyeruak di dada, hidungnya pun terasa masam.
Sebenarnya Li Zian tahu, sejak ia kembali ke sekolah, banyak teman sekelasnya sudah bisa menebak apa yang terjadi. Bagaimanapun, tak ada siswa di SMA Satu Kota Kambing yang bodoh.
Namun, dalam beberapa hari ini, tak seorang pun menyinggung masalah itu di hadapan Li Zian, seolah-olah mereka sama sekali tidak tahu apa-apa.
Keakraban dan persahabatan itu membuat hati Li Zian selalu terasa hangat.
Li Zian berbalik, bingung harus berbuat apa di hadapan pemandangan itu.
Guru di depan kelas tak menghentikan, malah tersenyum menatap Li Zian, dan turut berkata, “Semangat.”
Li Zian terdiam sejenak, lalu membungkuk dalam-dalam ke arah seluruh kelas.
“Terima kasih, semuanya...”
Tak ada yang menambah kata-kata, hanya tepuk tangan meriah yang menyambut Li Zian.
Di tengah tepuk tangan itu, Li Zian berjalan perlahan keluar kelas.
Namun, kejadian mengharukan itu belum berakhir sampai di situ.
Saat ia berjalan menyusuri tangga utama gedung sekolah, setiap kali melewati kelas, dari dalam akan terdengar seruan semangat yang sama.
Seruan semangat itu berderai-derai, mengiringi langkah Li Zian hingga ia keluar dari gedung tersebut.
Menoleh ke arah gedung sekolah, Li Zian kehilangan kata-kata, matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih...”