Bab Tujuh: Tidak Layak Disebut Sahabat
“Kau maksudkan, kasus ini mungkin dilakukan oleh seseorang yang sudah dikenal oleh korban?” Semakin jauh Wei Renwu menelusuri logika kasus, semakin banyak pula pertanyaan Yuan Jing.
Wei Renwu mengangguk. “Dari bukti yang ada di permukaan, kemungkinan itu sangat besar. Hanya orang yang dikenal korbanlah yang dapat dengan mudah memanfaatkan kelengahan korban untuk melakukan kejahatan. Jadi, benang merah yang harus kita cari adalah apakah ketiga korban mengenal seseorang yang sama.”
Yuan Jing mulai memahami. “Jadi kita harus memverifikasi kemungkinan adanya titik temu itu. Tapi bagaimana caranya?”
“Kalau hanya duduk di sini, jelas kita tidak akan bisa membuktikannya. Kita harus keluar.” Wei Renwu menyingkap selimut.
“Keluar? Ke mana?” Yuan Jing masih kebingungan seperti anak hilang yang tak tahu arah.
Wei Renwu sudah mulai berpakaian. “Tentu saja kita harus kembali ke tempat kejadian perkara. Kau kira kita mau keluar hanya untuk sarapan?”
Namun kenyataannya, Wei Renwu dan Yuan Jing memang sedang sarapan. Awalnya mereka berniat langsung menuju apartemen Yu Bingjie untuk meneliti ulang TKP, tapi di tengah jalan, Wei Renwu tiba-tiba merasa lapar. Wei Renwu memang tipe orang yang makan ketika lapar dan tidur ketika mengantuk. Ia pun meminta Yuan Jing mentraktir sarapan. Baginya, bekerja tanpa perut kenyang sulit untuk berkonsentrasi.
Faktanya, Yuan Jing yang semalaman bekerja juga sudah sangat lapar dan kelelahan. Ia memang butuh sarapan.
Wei Renwu sedang menikmati bubur saat Yuan Jing bertanya, “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”
Wei Renwu meletakkan sendok dan mangkuk. “Silakan.”
Yuan Jing diam sejenak, merangkai kata, lalu membuka suara, “Kau masih begitu muda, dalam keadaan seperti apa kau bisa menjadi dirimu yang sekarang?”
Ekspresi Wei Renwu tetap acuh tak acuh. “Menurutmu, seperti apa aku ini?”
Yuan Jing mengerucutkan bibir. “Dingin dan cerdas, dengan aura yang rasanya tidak seharusnya dimiliki orang seusiamu.”
Wei Renwu tertawa lepas. “Sifat itu bukan pemberian usia. Sama seperti aku pikir kau juga punya sesuatu yang tak sejalan dengan umurmu.”
“Aku juga? Apa yang kau lihat dariku?” Yuan Jing tampak antusias, mengira Wei Renwu akan memujinya.
Wei Renwu malah tertawa lebih keras. “Aku melihat kau lebih bodoh daripada teman-teman sebayamu.”
Kali ini Yuan Jing serasa disiram air dingin dari kepala hingga kaki. Semangat yang tadinya membara langsung padam seketika.
Wei Renwu menghentikan tawanya dan kembali ke sikap dingin. “Sebaiknya kau tak perlu terlalu memusingkan hal di luar kasus. Aku tahu kau ingin lebih mengenalku, tapi menurutku itu tidak akan membantu penyelidikan. Jadi hilangkan saja pikiran itu.”
Yuan Jing tersipu malu. “Aku hanya merasa kita sudah seperti teman, jadi kupikir wajar bila saling mengenal.”
Wei Renwu menanggapinya dingin, “Teman? Tidak, kita belum sampai ke sana. Kita hanya rekan kerja, jadi jangan biarkan hubungan ini jadi rumit. Lebih baik kau tak perlu tahu banyak tentangku. Lakukan saja tugasmu.”
Jika sebelumnya ejekan Wei Renwu seperti air dingin yang memadamkan semangat Yuan Jing, maka sekarang kata-kata itu serupa api yang membakar habis dirinya hingga abu.
Walau ia tak bisa mengenal lebih jauh Wei Renwu, setidaknya Yuan Jing kini paham satu hal: Wei Renwu bukan orang yang mudah didekati. Ia akhirnya mengerti mengapa Zhang Desheng menggunakan kata ‘menyesuaikan diri’ saat membahas Wei Renwu. Memang, menyesuaikan diri dengan Wei Renwu bukan perkara mudah.
Setelah sarapan, Wei Renwu dan Yuan Jing tiba di rumah kontrakan Yu Bingjie. Ini adalah kali pertama Wei Renwu datang ke tempat itu. Walau kasus sudah beberapa hari berlalu, ia belum pernah melihat langsung TKP. Bukan karena ia malas, tapi karena Zhang Desheng memang sengaja tak membiarkannya menyentuh inti kasus. Wei Renwu hanya diberi potongan-potongan kecil informasi yang harus ia satukan sendiri. Pada kasus ketiga inilah, karena Zhang Desheng benar-benar tak mampu menanganinya, ia akhirnya memperbolehkan Wei Renwu masuk ke lokasi.
Dengan status Yuan Jing sebagai polisi kriminal, barulah Wei Renwu dapat masuk secara legal ke rumah kontrakan Yu Bingjie, melewati garis polisi.
Rumah kontrakan Yu Bingjie sederhana, berada di gedung tua yang hampir digusur. Satu kamar tidur dan satu ruang tamu, untung fasilitasnya lumayan lengkap.
Jasad Yu Bingjie sudah tidak ada di sana. Lagipula, tak mungkin ada yang membiarkan mayat tergeletak di kamar terlalu lama. Kalau pun ada, baunya pasti tak tertahankan.
Yuan Jing dan Wei Renwu berdiri di ruang tamu, memandangi kamar yang berantakan, telinga mereka diisi ocehan si ibu pemilik kontrakan, “Itu Yu Bingjie, anak perempuan kok tak bisa rapi-rapi, tak ada tampangnya perempuan. Dulu aku sudah malas menyewakan kamar ke dia, sekarang lihat, meninggal di sini, rumahku jadi tak laku sama sekali.”
“Orang sudah meninggal, tak bisakah kau berhenti membicarakan keburukannya?” Yuan Jing tak tahan mendengar sindiran pedas sang pemilik terhadap korban.
Si ibu melirik tajam pada Yuan Jing. “Kematian dia bukan urusanku, bukan anakku juga. Tapi karena dia, rumahku jadi tak laku. Tentu saja aku kesal.”
“Sudahlah, bisakah kau keluar sebentar? Kami masih harus bekerja. Kalau kau ganggu, aku pastikan rumahmu takkan laku selamanya,” kata Wei Renwu mengusir dengan nada tegas.
Ternyata ancaman itu manjur. Si ibu pergi dengan wajah kesal. “Silakan, periksa saja. Kalau sudah selesai, panggil aku.”
“Sekarang kita bisa menyelidiki dengan tenang. Tapi mayatnya sudah tak di sini, kita tak bisa merekonstruksi kejadian, dan siapa tahu seberapa rusak TKP-nya,” ujar Yuan Jing setelah ibu pemilik keluar.
“Tak masalah, mayatnya sudah tak perlu dilihat lagi. Proses kematiannya kemungkinan besar mirip dengan korban ketiga, Xu Donghai. Yang kita cari sekarang adalah detail-detail kecil yang mungkin terlewatkan polisi.” Wei Renwu mengeluarkan rokoknya.
“Dari mana kita mulai?” Yuan Jing melirik ke sana kemari, tak tahu harus mulai dari mana.
Wei Renwu tak langsung menjawab, malah bertanya, “Bayangkan jika kau adalah ‘Sang Penyesal’. Setelah menggorok leher Yu Bingjie dengan pisau, apa yang akan kau lakukan?”
Yuan Jing berpikir sejenak sebelum menjawab, “Aku harus memastikan korban benar-benar mati, baru menunggu tubuhnya kaku, lalu membentuk pose penyesalan untuknya.”
Wei Renwu mengangguk. “Benar, tapi saat menunggu, takkan kau lakukan hal lain?”
“Apa maksudmu?” Yuan Jing tak benar-benar paham arah pertanyaan Wei Renwu. “Main game di ponsel, misalnya?”
Wei Renwu mengisap rokok dalam-dalam. “Benar, menunggu memang membosankan, main ponsel pun masuk akal, tapi menurutku pelaku tak akan santai main ponsel dengan darah korban masih menempel di tubuh.”
“Maksudmu?”
Wei Renwu menjelaskan, “Saat korban mengalami pendarahan hebat, hampir pasti darahnya menempel di tangan atau tubuh pelaku. Saat keluar dari kamar ini, mana mungkin pelaku pergi dalam keadaan penuh darah? Ia pasti membersihkan diri dulu agar tak dicurigai.”
Yuan Jing hanya mengangguk.
“Jika aku adalah ‘Sang Penyesal’, aku akan mencari sabun cuci atau semacamnya,” ujar Wei Renwu, lalu langsung masuk ke dapur, diikuti Yuan Jing.
Fokus Wei Renwu tertuju pada wastafel. Dapur itu kecil, tapi punya dua wastafel. Di wastafel kiri menumpuk piring dan sendok berminyak, bahkan Yuan Jing bisa mencium bau apek yang tidak sedap, membuktikan bahwa Yu Bingjie memang malas membersihkan kamar. Sesaat, Yuan Jing jadi sedikit memahami keluhan si ibu pemilik.
Namun perhatian Wei Renwu justru ke wastafel kanan. Selain berdebu, wastafel kanan jauh lebih bersih daripada yang kiri, setidaknya tak tampak noda minyak.
Sudut bibir Wei Renwu terangkat, “Jelas sekali, dugaanku benar.”
Yuan Jing ikut melihat wastafel itu. “Bagaimana kau tahu dugaannya benar?”
Wei Renwu menatapnya geli, seperti melihat sesuatu yang aneh. “Apa kau tak lihat? Sudah jelas begitu!”
Yuan Jing malu, karena ia memang tak menemukan keanehan apa pun. Ia tak ingin berpura-pura paham, jadi ia jujur, “Benar-benar tak tahu.”
Wei Renwu tertawa keras, suaranya penuh ejekan. “Lihat lagi, wastafelnya sangat bersih, kan?”
Yuan Jing mengangguk, jelas ia pun melihat itu.
“Jika wastafel itu sangat bersih, berarti sebelumnya pernah dipakai. Tapi tumpukan piring kotor tetap ada di wastafel sebelah. Untuk apa wastafel yang bersih ini dipakai?” jelas Wei Renwu. Artinya, wastafel itu bukan untuk mencuci piring, melainkan untuk membersihkan darah di tubuh pelaku. Orang bodoh pun pasti paham maksudnya, dan meski Yuan Jing agak kaku, ia bukan orang bodoh. Ia pun akhirnya mengerti.
Wei Renwu mulai mengacak-acak lemari di bawah wastafel dan menemukan sebotol sabun cair yang sudah terpakai seperempatnya. “Botolnya bersih, seperti baru dibeli, tapi sudah habis seperempat. Seorang wanita yang malas mencuci piring sampai menumpuk, tapi sabunnya cepat habis. Jelas, bukan Yu Bingjie yang menghabiskannya.”
Wei Renwu melemparkan botol itu pada Yuan Jing. “Simpan, ini mungkin jadi bukti penting.”
Wei Renwu melanjutkan pengecekan di dapur. Tiba-tiba ia mengambil sebilah pisau dapur dari rak dan tampak seperti menemukan harta karun, sangat bersemangat. “Hei, Yuan Jing, sepertinya aku telah menemukan senjata pembunuhnya.”