Kenyataan dan kenangan, keadilan dan kejahatan, cahaya dan kegelapan—semua pertentangan itu saling bertaut, seperti sebuah simfoni yang mengalun panjang dan dalam. Ia adalah konsultan kriminal yang di
Saat masih kanak-kanak, setiap orang pasti pernah menetapkan impian untuk dirinya sendiri. Namun setelah dewasa, impian itu sering kali terlupakan begitu saja. Tentu saja, bukan berarti mereka dengan sengaja membuang impian itu. Coba pikirkan, siapa yang mau menyerah begitu mudah? Sebenarnya, kebanyakan orang meninggalkan impiannya karena mereka sudah berusaha, tapi setelah berusaha pun hasil baik tak kunjung datang. Akhirnya, mereka pun memilih bertahan dalam kehidupan seadanya, meninggalkan impian di belakang. Hanya setelah mencoba, seseorang tahu betapa sulitnya meraih impian. Padahal, awal dari sebuah impian selalu dipenuhi semangat dan gairah; itulah bagian terindah dalam perjalanan mewujudkan mimpi.
Yuan Jing juga memiliki impian. Sejak kecil, ia ingin menjadi seorang polisi yang menegakkan keadilan. Hari ini, akhirnya ia berhasil mewujudkan impian itu. Namun, semua ini baru permulaan; apakah impian itu bisa bertahan lama, dan apakah ia mampu terus menjalaninya, masih harus dibuktikan oleh waktu.
Singkatnya, hari pertama Yuan Jing melangkahkan kaki ke kantor Tim Kriminal Satu Kepolisian Kota Shenyang, hatinya benar-benar bergejolak dan penuh kegembiraan.
“Halo semuanya, nama saya Yuan Jing. Hari ini hari pertama saya bekerja, mohon bimbingannya ke depan!” Yuan Jing berdiri di pintu kantor, bersuara lantang dengan tatapan penuh keteguhan.
Para polisi yang sedang sibuk di dalam kantor langsung terdiam mendengar suara lantang dari seorang polisi muda berwajah tirus di dekat pintu. Semua mata pun tertuju padanya.
Di sudut kantor, duduk dua